Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Prolog


__ADS_3

Super Blue Blood Moon, istilah itu masih sangat lekat didalam ingatanku. Rasanya baru kemarin aku menyaksikan bulan yang berukuran besar dengan warna merah darah itu. Akan tetapi setelah kuhitung-hitung, aku sudah menjalani waktuku hampir selama empat tahun setelah kejadiannya.


Pada tanggal 31 Januari itu, aku bersama keempat sahabatku tengah berkumpul diatap rumah. Menyaksikan sebuah fenomena gerhana bulan langka yang menurut media baru terjadi lagi semenjak kehadirannya pada 38 tahun yang lalu. Itupun di belahan bumi bagian eurosia timur. Sedangkan di Indonesia sendiri, gerhana bulan ini terakhir kali terlihat pada 157 tahun yang lalu.


“Hey lihat! Bulannya sudah mulai terkena gerhana!” Kata salah seorang temanku yang paling cantik.


“Wah iya, bagus banget.” Temanku yang lain menanggapi.


“Menurutku, kita sangat beruntung bisa menyaksikan gerhana bulan ini secara langsung. Bahkan nenek buyut kita aja gak punya kesempatan untuk melihat ini.” Kata satu lagi temanku yang ramutnya di kucir dua.


Kami memang sudah sering menghabiskan waktu bersama baik itu didalam maupun diluar sekolah. Aku masih ingat, waktu itu adalah awal semester ganjil kami sebagai murid SMA kelas Dua Belas. Tidak terasa hanya tinggal satu tahun lagi kami akan menghabiskan masa kanak-kanak kami dan menuju dunia kedewasaan yang sepertinya akan sangat membosankan. Karena ketika kita sudah menjadi dewasa, kita akan selalu disibukan dengan pekerjaan dan kepentingan masing-masing. Tidak akan ada lagi kebersamaan, kekonyolan, serta permainan yang dapat membuat semua tertawa lepas.


“Eh, lo ngapain mojok aja disini? Ngak gabung sama yang lain?” Temanku yang bertubuh jangkung dan bergaya rambut agak Mohawk menegurku yang sedang duduk di bibir pintu atap. Dia baru saja datang dari toko swalayan. Membawa berbagai macam snack dan minuman.


“Ngak, gue lebih suka disini.”


Ya, dari pada menyaksikan gerhana bulan itu, aku lebih senang memandangi dia. Seseorang yang paling cantik dan sangat kucintai melebihi apapun. Bahkan melebihi diriku sendiri.

__ADS_1


“Hey, kalian berdua! Cepet kesini, sebentar lagi bulannya merah sempurna.” Suaranya yang tinggi dan lembut itu berbicara kepadaku yang mana ketika aku mendengarnya, dadaku selalu terasa sesak.


Aku pun bangkit untuk bergabung bersama ketiga orang gadis yang sedang duduk di atas tikar ditengah atap. Kami berlima kemudian bersama-sama menyaksikan fenomena alam langka yang sedang tersaji dihadapan kami.


“Kalian tau tidak? Katanya gerhana bulan pada Hari Wiwitan nanti juga bakal jadi gerhana bulan yang unik seperti sekarang ini.” Kata Si Tercantik.


“Hmm, iya seperti tahun ini akan jadi tahun yang sangat istimewa.” Sahut Si Kuncir Dua.


Bagi kebanyakan kepercayaan yang ada di berbagai peradaban zaman lampau, seperti yunani juga mesir kuno, gerhana bulan selalu diidentikan dengan sebuah pertanda buruk juga mala petaka. Karena menurut sebagian besar kepercayaan zaman dulu, jika gerhana bulan terjadi, maka kekuatan iblis sedang menyelimuti bulan yang tidak lain adalah lambang dari keagungan para dewa-dewi. Akan tetapi berbeda dengan kepercayaan yang ada disini, di Pulau Lembari. Disini gerhana bulan dianggap sebagai sebuah bentuk kekuasaan sang pencipta dimana pada saat itulah dimulainya penciptaan ruang dan waktu.


Pulau Lembari sendiri merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Dengan populasi penduduk yang cukup padat dan beragam dari berbagai penjuru Indonesia. Menjadikan Pulau Lembari ini sebagai pulau berpenduduk paling majemuk yang ada di Nusantara.


“Woi lihat, bulannya beneran jadi merah banget! Mirip darah!” Kata Si Jangkung.


“Wah beneran!” Ucapku. “Oh akhirnya gue ngerti sekarang kenapa saat cewek menstruasi disebut dengan datang bulan.”


Sontak ketiga temanku yang perempuan mendelik kearah ku dengan cara pandang mereka masing-masing. Salah satunya memandangku dengan jijik sedangkan satunya lagi memandang dingin kepadaku. Sedangkan dia, menoleh kepadaku sambil menahan tawanya.

__ADS_1


“Hihi, kamu…” Ucapnya.


“Menjijikan.” Potong teman perempuanku yang lainnya.


“Mulai lagi dah si tolol ini.” Si Kuncir Dua pun ikut menanggapi. Dia mengucapkannya sambil mengunyah kue mochi kesukaannya. “Mau sampai kapan lo tetep jadi orang tolol, huh? Sekarang kita udah kelas 3!”


Aku menjawab dengan mengangkat pundak dan memasang tampang tidak bersalah. Mau bagaimana lagi, aku memang selalu seperti itu. Mengucapkan apapun yang terlintas di benakku begitu saja.


Diwaktu yang bersamaan kudengar pintu atap rumahku terbuka. Ternyata disana terdapat adik perempuanku yang sepertinya baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan jalan sempoyongan sambil mengusap-usap matanya dia berjalan menghampiri kami, lalu tanpa berbicara dia duduk di pangkuan Si Kuncir Dua.


“Eh, Ami?”


Adikku pun tersenyum kearahnya, lalu menyandarkan punggungnya seolah menjadikan Si Kuncir Dua sebagai sebuah kursi sandar yang nyaman. Hmm, kelihatannya memang akan sangat nyaman jika bersandar disana. Terlihat dari kepala Ami yang menyisip perlahan saat disandarkan.


“Bulannya…” Ucap adikku. “Menyeramkan.”


Untuk sesaat kami terdiam setelah mendengarkan perkataan adikku itu. Sebelum akhirnya aku dan Si Jangkung memulai lagi pembicaraan dengan berbagai lawakan konyol kami.

__ADS_1


Jujur, sebenarnya hal pertama yang terbesit di benakku ketika aku melihat Bulan Super Biru Darah malam itu, adalah perasaan yang sama seperti yang telah diucapkan adikku. Waktu itu bulan benar-benar terlihat asing dan misterius bagiku. Memberikan kesan janggal dalam diriku yang aku sendiripun tidak tau mengapa. Ya, waktu itu aku belum tau mengapa.


__ADS_2