Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 16: Before The Rain (Part III)


__ADS_3

Dua minggu setelah kejadian itu, kami naik satu tingkat dari kelas sepuluh menjadi kelas sebelas. Kuingat hari itu merupakan hari pengumumun pembagian kelas di sekolah kami. Para siswa memenuhi berbagai spot yang terdapat papan pengumuman untuk mengetahui di kelas mana mereka berada.


Aku, Mira dan Dian memutuskan untuk pergi melihat papan pengumunan bersama-sama. Kami bertiga memilih jurusan sosial sebagai program penjuruan kami ketika naik kelas sebelas. Sebernarnya, hanya Mira saja yang bisa dikatakan “memilih” jurusan sosial sebagai program penjuruannya. Karena bagiku dan Dian juga Ronny kami bertiga hanya menerima nasib.


Ketika kutanyakan alasannya kepada Mira mengapa dia memilih jurusan sosial, dia menjawab. “Mungkin karena aku suka bersosialisasi”. Begitu katanya.


Kami bertiga berdiri didepan papan pengumuman yang berada didekat ruang guru dan mulai mencari nama kami disana. Tidak sulit untuk menemukannya, karena hanya ada 3 kelas yang tersedia untuk jurusan sosial. Aku senang sekali ketika mengetahui bahwa aku dan Mira berada dikelas yang sama. Tidak pernah aku sesenang itu ketika membaca tulisan namaku sebelumnya.


“Mir, kita satu kelas!.” Dian terlihat girang. Dia melompat-lompat kecil sambil menggenggam kedua tangan Mira.


“Haha iya, Di.” Mira pun terlihat senang.


“Ya nampaknya gue terpaksa harus bergaul sama kalian lagi taun depan.” Begitulah yang kukatakan.


“Cih.” Dian menunjukan wajah mengkerut seperti sponge yang diperas. “Mir, nanti kita duduknya jauh-jauh dari dia ya. Aku gak mau kamu jadi korban bully dia lagi. Satu tahun udah lebih dari cukup!”


“Eh, gue gak pernah nge-bully Mira ya. Orang Mira nya aja ga pernah marah kok.”


“Huh? Itu karena Mira orangnya terlalu baik. Dia terlalu baik buat kamu!”


Terdapat rasa perih yang menggelitik ketika kudengar apa yang diucapkan Dian.


“Hmm… jadi lo ngerasa kurang diperhatiin gitu? Kalo emang lo mau dijailin juga, ya tinggal bilang aja Di.”


“Najis!”


Aku tertawa melihat reaksi Dian yang selalu saja menganggapku seperti kuman yang dapat membahayakan hidupnya dan Mira. Meskipun begitu, sebenarnya aku tidak pernah berpikir kalau Dian benar-benar membenciku. Kurasa ya, mungkin itulah caranya untuk membuat Mira lebih terhibur. Dengan cara menimpakan kejutekannya kepadaku.


Ditengah perdebatanku dengan Dian, kurasakan Mira menarik-narik ujung lengan bajuku. Nah beginilah cara dia untuk mendapatkan perhatianku disaat ada hal yang ingin dia utarakan.


Kulihat wajah Mira yang berbinar menatapku sambil menunjuk papan pengumuman yang ada didepan kami. Melihanya seperti itu aku jadi teringat Ami saat kujanjikan akan dibelikan eskrim. Ya aku tau dia senang karena kami semua berada di kelas yang sama. Tapi kupikir ekspresinya waktu itu terbilang berlebihan dan sesaat kemudian aku pun tau alasannya. Setelah memperhatikan baik-baik kemana arah jari Mira menunjuk.


“Alan Lingga Prawira” Dian mendiktekan nama yang tengah ditunjuk Mira. “Siapa? Kenalan kamu, Mir?”


“Bu, bukan siapa-siapa.”


“Eits, hayoo ngaku siapa itu?” Dian merayu Mira dengan mencolek-colek pinggangnya. “Gebetan?” Bisiknya.


Mira terdiam tidak bisa menjawab.


Melihat reaksi Mira, Dian pun menyeringai. Seketika saja dia menarik tangan Mira lalu berlari membawanya pergi meninggalkanku sendirian.

__ADS_1


Disaat kucoba menghentikan mereka berdua, seorang siswa mendekatkan dirinya ke papan pengumuman. Membuat langkahku menjadi terhadang. Dia terlihat sedang mengamati daftar nama siswa yang ada di kelasku. Spontan saja perhatianku pun jadi teralih kepadanya.


“Apa?”


Kulihat Laras mendelik kepadaku dengan tatapan dinginnya. Jika sudah seperti ini aku harus segera menemukan pembicaraan agar tidak dianggap sedang menatapinya.


“Lo ada di kelas ini juga, Ras?”


“Kenapa emang?”


“Ya berarti kita satu kelas.”


“Oh.”


***


Selama kelas sebelas adalah waktu dimana Mira dan yang lainnya menjadi sangat sering berkunjung kerumahku di akhir pekan. Kali ini Laras sudah mulai bergabung kedalam kelompok. Tiba-tiba saja dia jadi sangat akrab dengan Mira dan Dian setelah kami semua berada di kelas yang sama.


Dan semenjak kelas sebelas pula lah aku dan Mira memulai percakapan rahasia diantara kami. Hampir disetiap ada moment-moment “penting” yang menyangkut hubungannya dengan Alan, selalu dilaporkan Mira kepadaku.


Walaupun menurutku tidak ada satupun yang terbilang penting. Bukan karena aku cemburu atau tidak peduli. Tetapi memang semua yang disampaikan Mira adalah hal-hal yang sepele seperti, moment dimana mereka mengangguk satu sama lain untuk pertama kalinya, atau tentang pertemuan mereka yang tidak sengaja di ruang guru, sampai kejadian dimana mereka bertemu pandang saat upacara bendera. Semuanya tidak ada yang istimewa.


Namun aku tetap mengakuinya bahwa moment-moment itulah yang dianggap berharga olehnya. Jauh lebih berharga dibandingkan dengan kebersamaan yang dia habiskan bersamaku.


Jika sepulang sekolah, maka lokasi yang biasa kami gunakan adalah taman kota yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Bundaran Lima. Disanalah hampir setiap hari Mira mentraktirku jus jambu kesukaannya. Lalu mengenai konser jazz kecil-kecilan itu, perlu kau tau, bahwa akulah yang sebenarnya mengajukan Mira untuk pertama kalinya tampil bersama band itu. Bukan Dian.


Dian? Mana tau dia kalau ayahnya Mira adalah seorang composer terkenal yang darinya lah Mira mendapatkan bakat bermusiknya yang luar biasa. Aku tau karena memang akulah yang selama ini menjadi tempatnya berbagi rahasia.


Sedangkan jika Mira ingin mengobrol di pagi hari sebelum pelajaran dimulai, maka tempat yang biasa kami gunakan adalah balkon lantai 2 disamping sekre Club IT dekat tangga kosong yang jarang digunakan siswa di pagi hari. Ya, tempat itu juga lah yang digunakan Mira mengutarakan “pengakuan cintanya” kepadaku sebelumnya.


Mungkin, setelah aku menyebutkan tangga kosong itu, kau jadi teringat kalau beberapa waktu yang lalu Alan pernah satu kali menemukan Mira yang sedang berdiri mematung tanpa bergeming sedikit pun disana. Sendirian.


Ah, akupun tidak tau pastinya mengapa Mira melakukan itu. Dalam beberapa kesempatan setelah tubuhku terbaring di rumah sakit, Mira terkadang melakukan hal itu saat pagi hari sebelum bel masuk berbunyi. Sesampainya dia di sekolah, alih-alih masuk kedalam kelas, Mira malah berjalan menuju tangga kosong itu lalu berdiam diri disana sampai bel tanda masuk berbunyi.


Mungkin, alam bawah sadarnya lah yang membawanya kesana. Memerintahkannya untuk melaporkan setiap perkembangan cintanya dengan Alan kepada seseorang yang bahkan dia sendiri pun tidak dapat mengingatnya.


Baiklah, akan kubeberkan hal apa yang sebenarnya terjadi sebelum Alan menemukan Mira diatas balkon lantai 2 didekat tangga kosong waktu itu. Disaat Mira berdiri diam sendirian diatas sana, dia berbicara sendiri dengan pandangan hampa menatap lantai keramik yang ada didepannya. Seolah-olah dia sedang bercerita kepada seseorang.


“Tau tidak, kemarin… dia meminta… nomerku.”


“Dia bilang, Mir… kamu punya... obeng?”

__ADS_1


“Hihi, kupikir selama… ini dia… orangnya serius…”


“Tapi ternyata…”


“Dia orang… yang menyenangkan.”


Sampai disitu Mira kembali terdiam. Cukup lama dia diam saja sambil melihat kebawah tanpa sekali pun berkedip. Sampai akhirnya dia kembali berbicara untuk terakhir kalinya.


“Maaf… kan… aku…”


Seandainya saja aku dapat melihat rupaku kala itu. Pastilah kudapati diriku sedang menangis.


***


"Wow." Ronny kembali terperanga setelah aku selesai bercerita. Kini kami sudah berada tepat didepan rumah Ronny.


"Jadi sampe sekarang Mira masih suka dateng ke samping sekre itu, buat ceritain perkembangan cinta dia sama Alan ke elo?"


"Ya mungkin." Jawabku singkat.


"Ta, tapi kenapa lo..." Kulihat Ronny mulai berwajah sendu. Inilah pertama kalinya kulihat dia berekspresi seperti itu.


"Ugh, jadi ini yang yang terjadi selama gue kelas satu sampe kelas dua." Gumamnya. "Pantes aja gue kok rasanya banyak banget ingatan yang kabur selama dua tahun itu."


"Oh sebentar, gue inget! Kebun bunga itu... ugh rumah kaca... terus atap rumah lo... bulan warna merah?" Tiba-tiba saja Ronny berbicara secara acak.


"Gaaah..."


Selanjutnya kulihat dia sudah ambruk. Dia nampak seperti sangat kesakitan dengan nafasnya yang tersengal dan keringat dingin yang mulai mengendap. Melihat itu, akupun menjadi panik.


"Eh Ron, lo kenapa? Oi! Ja, jangan pingsan disini, Ron! Elo tau kan gue ngak bisa ngebantu lo sama sekali dengan wujud gue seperti ini!"


Aku lekas melihat kesekeliling, tapi tidak kutemukan seorangpun disana. Aku pun terbang lebih tinggi tapi disekitar rumah Ronny sama sekali tidak ada siapapun. Akhirnya kuputuskan untuk menekan bel rumah Ronny. Tapi tentu hanya tembus, begitu saja. Kutekan bel itu terus menerus dengan cepat, karena kini kulihat Ronny mulai kejang-kejang seperti orang ayan.


"Guh!" Kupusatkan perhatianku sepenuhnya kepada bel itu sambil terus mencoba menekannya. Hingga akhirnya...


"Ting-tong!" Aku berhasil.


Tidak lama berselang Ayahnya Ronny datang membukakan pintu. Aku pun senang sekali. Akan tetapi disaat aku kembali menengok Ronny, kulihat dia sudah bangkit dan terkulai lemas bersandar pada pagar rumahnya.


"Ngapain kamu disitu, Ron?" Tanya Ayahnya.

__ADS_1


Ronny tidak menjawab. Dia hanya berjalan masuk begitu saja kedalam rumah tanpa menoleh sedikitpun kearahku.


__ADS_2