Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 7: Heavy Rain


__ADS_3

Kondisi cuaca yang mendung sejak siang, kini telah memberikan tanda-tanda akan segera turun hujan. Tetesan demi tetes air mulai berjatuhan ke tanah dan dalam sekejap saja hujan pun turun. Lalu deras.


Alan dan Mira yang masih berada di Tanjakan Teduh lekas membereskan barang-barang bawaan mereka dan berlarian mencari tempat untuk bernaung. Seperti sudah insting, mereka berlari menuju sebuah gazebo yang berada disudut taman itu yang sepertinya cukup nyaman dijadikan tempat berteduh.


“Aduh jadi basah deh.” Kata Mira


“Wah, kalo hujannya deras begini, kayaknya bakalan lama.”  Sahut Alan sambil memandangi langit.


Alan mengibas-ngibaskan sweaternya yang terkena hujan. Lalu, disaat dia menengok kearah Mira, ditemukannya dress putih Mira yang basah akibat hujan sehingga membuatnya lepek dan transparan. Memperlihatkan sebagian lekuk dan sudut yang ada di tubuhnya. Melihat itu, wajah Alan pun merona lalu cepat-cepat dia berpaling.


Sore itu Tanjakan Teduh sedang sangat sepi. Hanya ada satu atau dua mobil yang melintas di bawah tebing. Tidak seperti Bunderan Lima yang terletak di tengah jalan besar yang memiliki berbagai kedai dan toko di pinggiran jalannya, taman yang ada Tanjakan Teduh hanyalah taman bunga kecil diatas tebing yang jarang sekali di kunjungi orang karena letaknya yang jauh dari pemukiman. Sehingga walaupun sedang akhir pekan seperti ini, jarang sekali ada orang yang datang kesana.


Cukup lama mereka hanya diam saja disana memandang hujan yang kian deras. Sampai akhirnya Alan mendekati Mira dan tanpa berbicara dia menyelimuti punggung Mira dengan sweaternya. Mungkin sedari tadi dia menunggu sweaternya agak mengering sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukan ini.


“Biar gak dingin.” Kata Alan.


Mira mendongak dan tertegun untuk beberapa detik. Kemudian dia tersenyum.


“Makasih… Lah, tapi kamu gimana? Nanti kedinginan.” Lanjut Mira.


“Ngak apa-apa Mir, kaosku gak basah kok.”


Alan duduk disebelah Mira sembari merapihkan barang bawaan mereka di sudut Gazebo kemudian dia memeriksa ponselnya.


“Eh Lan, kamu inget ngak? Waktu masih kelas sepuluh, kita beberapa kali pernah kejebak hujan juga disini sepulang sekolah. Ah, tapi kayaknya kamu ngak akan inge…”


“Aku inget kok.” Alan pun tersenyum. “Tiga kali kalau tidak salah.”


“Oh.”


Mira terlihat mendekap sweater yang menyelimuti punggunya.


“Ya tapi, karena dulu kita belum saling kenal, jadinya kita ngak saling nyapa.”


“Iya, hihi.” Mira tertawa geli. “Eh, tapi pernah kok satu kali. Waktu kamu nawarin payung kamu ke aku. Ya walaupun itu ngak bisa dihitung nyapa juga sih, orang kamunya gak ngomong apa-apa.”


“Memangnya kamu ngomong, Mir?”

__ADS_1


“Ngak sih, cuma geleng-geleng doang, hihi. Lagian gak mungkin dong waktu itu aku ninggalin kamu sendirian disini. Jadi ya terpaksa aku tolak. Awalnya aku kira kamu bakal ninggalin aku setelah itu, tapi kamu malah ikutan nungguin hujan berhenti disini.”


“Haha, malah ngeganggu ya jadinya?”


“Eh, bukan gitu, aku malah seneng kok kamu temenin waktu itu.” Mira tersipu kemudian membenamkan wajahnya semakin dalam.


“Juga waktu-waktu sebelum itu dan setelahnya. Rasanya… nyaman kalau ada kamu.” Lanjutnya.


Mendengar apa yang dikatakan Mira, membuat Alan menghentikan jarinya yang tengah memainkan ponsel. Dia pun terdiam dan Mira pun demikian, hanya terdiam. Mereka seperti masuk kedalam dunianya sendiri ditemani diam yang seakan menjadi teman baik bagi mereka. Tidak terganggu oleh apapun yang ada disekitar. Suara hujan, angin yang berhembus, udara yang dingin, semuanya tak ada yang bisa mengganggu.


“Emm Alan, boleh pinjem HP nya?”


Alan tidak menjawab dan hanya menyerahkan ponselnya begitu saja.


“Foto ya.”


Mira mendekatkan dirinya sambil mengarahkan ponsel didepan mereka. Meski sempat terlihat ketegangan di wajahnya,  Alan pun akhirnya dapat mengendalikan diri. Kemudian mereka pun berfoto bersama. Wajah Mira terlihat sangat manis di frame. Sedangkan Alan, biasa saja.


“Bagus. Kirim ke aku ya fotonya.”


“Ya.” Jawab Alan.


“Mira, sebenarnya sejak saat itu, sejak saat kita menunggu hujan disini, aku…”


Tertahan.


“Aku...”


Alan tertegun. Tidak dapat melanjutkan apa yang hendak dikatakannya. Mulutnya terbuka namun tak ada kata yang terucap. Mungkin kau mengira bahwa dia sedang merasa ragu atau takut akan hasil akhir yang mungkin tidak sesuai dengan harapannya. Namun yang membuat Alan tertegun bukan itu. Karena serahusnya, saat ini Alan telah siap dengan semua konsikuensi yang akan diterimanya.


Yang menghentikannya bukanlah rasa sesak di dada seperti biasanya. Melainkan lebih kepada perasaan terkejut, heran, bahkan ngeri.


Karena saat itu, dihadapannya berdiri seorang gadis yang tengah menggunakan payung besar berwarna hitam. Dibawah derai hujan yang teramat deras. Sedang menatap tajam kearahnya. Dingin.


“Laras?” Alan berucap tanpa kembali mengkatupkan mulutnya.


Tanpa bicara Laras menyodorkan dua buah payung hitam yang tidak kalah besarnya dengan payung yang sedang dia pakai. Kedua payung tersebut masih terlipat rapih, belum terpakai.

__ADS_1


“Kalian bisa pulang sekarang.” Ucapnya singkat.


“Laras ka, kamu…”


Crash!


Suara petir yang menyambar membuat Mira terpekik lalu memegangi bahu Alan. Laras hanya diam tak bereaksi ketika menyaksikan hal itu. Sedangkan Alan masih saja terpaku tidak dapat berkata-kata. Jangankan untuk menggapai payung yang disodorkan Laras, berkedip saja dia tidak.


Laras memang selalu terlihat aneh dan misterius, tapi kali ini, sudah benar-benar diluar nalar. Jikalau aku jadi Alan, pastilah saat itu akan timbul berbagai pertanyaan di kepalaku seperti. Kenapa Laras bisa ada disini? Apa dia sedari tadi mengikutiku? Tapi kenapa dia bisa membawa tiga buah payung sekalius? Apakah dia tau kalau hari ini akan turun hujan? Dan apakah dia pun sudah tau kalau hari ini aku akan bertemu dengan Mira? Tapi… kenapa?


“Kenapa… kamu bisa ada disini… Ras?” Akhirnya Alan bisa berucap.


“Gue gak sengaja liat lo naik kesini tadi sore.” Ujarnya tenang. “Dan karena gue tau hari ini bakal turun hujan, gue bawain payung ini buat kalian.”


Tentu saja penjelasan Laras malah membuat Alan menjadi tambah bingung dan ngeri. Terlihat dari tangannya yang masih tertahan untuk menggapai kedua payung yang disodorkan kearahnya. Laras akhirnya meletakan kedua payung itu di samping Alan kemudian berbicara lirih.


“Sebaiknya kalian cepetan pulang, sebentar lagi gelap.”


Setelah itu Laras tidak langsung pergi, melainkan hanya diam saja disana seakan menunggu Alan dan Mira untuk pergi terlebih dahulu. Jeda beberapa saat, Mira pun akhirnya berbicara kepadanya, memecah keheningan yang tengah mengambang.


“Anu, Laras, kenapa kamu ngak ikut kami aja disini? Kita tunggu dulu hujannya agak reda.” Ujarnya. “Pakaianmu… basah semua.”


Memang benar, pakaian yang digunakan Laras terlihat lembab dan basah di beberapa bagian. Meskipun payung yang digunakannya tebilang besar, tetap saja tidak dapat melindungi dia seluruhnya dari hujan angin yang deras kala itu.


Laras hanya tertunduk. Tidak membalas perkataan Mira kepadanya. Ekspresi di wajahnya tidak terlihat karena hujan dan karena hari pun sudah beranjak gelap.


Lampu-lampu taman yang ada di sekitar satu persatu mulai menyala dengan sendirinya. Laras masih saja diam disana tidak bergeming.


“Percuma.” Suara Laras sangat pelan, nyaris tak terdengar. “Pada akhirnya kalian akan tetap kayak gini kan? Bermesraan, terus akhirnya jadian? Ga peduli sekeras apapun gue berusaha, sebanyak apapun gue mencoba, hasilnya bakal tetap sama.”


Alan dan Mira hanya bisa diam, tidak mengerti apa yang sebenarnya dibicarakan Laras. Dan memang suaranya tidak terlalu jelas terdengar karena teredam suara hujan.


“Kenapa… Kenapa selalu sia-sia!” Laras pun berteriak.


Kini Alan dapat melihat raut wajah Laras yang sedari tadi tertunduk. Wajahnya kini terangkat memandang tajam kearahnya. Dia menangis.


“La, Laras…” Mira mencoba mendekati Laras yang masih berdiri diluar gazebo. Tanggannya mencoba menggapai gadis itu, mencoba untuk menenangkannya.

__ADS_1


Akan tetapi Laras menepisnya dengan kuat sehingga tangan Mira terhempas. Terlihat kesedihan yang mendalam di wajahnya saat mereka bertemu pandang.


Mira menarik kembali tangannya lalu mengepalkannya di depan dada. Matanya mulai berkaca-kaca dan sepertinya tidak lama lagi diapun akan ikut menangis. Laras berjalan pergi menjauh dari mereka berdua menelusuri hujan yang kian menderas. Lalu hilang.


__ADS_2