Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 30: Laras's Reason (Part III)


__ADS_3

Ketika aku sampai di pintu masuk selatan candi utama, Laras sudah menyambutku disana dengan senyumnya yang merekah. Dengan menggunakan pakaian adat khas abdi dalem penjaga candi, dia berdiri di serambi pada undakan tangga paling atas, tepat di depan bibir pintu masuk candi. Ditempatnya selalu berdiri saat menyambut kedatanganku


“Syukurlah, sesuai janji lo, akhirnya lo datang juga, Aji.” Wajah Laras berbinar ketika mengetahui kedatanganku.


“Gue,” ucapku. “Baru aja kepikiran. Ras, apa lo ngak pernah ngerasa jengah menunggu gue disana? Disetiap Hari Wiwitan yang sudah kita lewati sampai sekarang, apa lo gak punya kerjaan yang lebih penting selain berdiri doang disana, huh?”


Kupikir, saat itu aku akan menyaksikan kembali Laras yang terperanga setelah mendengar pertanyaanku seperti disaat dia berada di kamarku dua hari yang lalu. Akan tetapi yang kudapati darinya adalah jawaban tenang yang malahan membuat diriku sendiri yang menjadi tidak nyaman.


“Ya enggak lah bodoh. Gue cuma nunggu lo disini disaat gue tau pasti kalau lo bakal datang kesini.”


Dia pun menuruni satu persatu anak tangga di depan pintu masuk candi utama itu. Membuatnya menjadi semakin mendekat ke arahku. Sambil sedikit terkekeh dia melanjutkan perkataannya.


“Lo pikir gue gak punya kerjaan yang lebih penting? Ketimbang nungguin lo disini? Pfft, asal lo tau ya, di Hari Wiwitan, gue selalu sibuk dengan urusan sangat penting yang mesti gue lakukan.” Dia mengigit bibir bawahnya sambil terus berjalan turun. “Dan... lo tau urusan penting apa itu, Aji?”


Setelah dia sudah berada tepat di hadapanku, dia pun mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik.


“Gue menguntit elo.”


Kulihat seringai puas di wajahnya, lalu dengan sendirinya aku mundur dua langkah kebelakang seolah seluruh syaraf di tubuhku memberiku peringatan bahwa aku harus menjauh darinya.


“Oh Aji, kenapa lo jadi takut begitu? Udah bukan rahasia lagi kalau gue tau semuuua tentang lo. Gue tau semua perbuatan lo bahkan gue juga bisa menebak dengan pasti hal apa yang bakal lo lakukan.”


Kulihat dia menaruh telunjuknya di bawah dagu lalu mendongak ke langit.


“Hmm, lagi pula… selain gue menguntit lo di Hari Wiwitan, gue juga menguntit lo disaat lo pikir lo sedang sendirian. Ah sial! Bukannya itu berarti setiap hari? Ahahaha.” Dia pun terbahak seolah sangat menikmati waktunya.


“Lo…” Ujarku sambil kembali melangkah mundur. “Sakit.”.


Laras pun mendadak diam dan seketika itu juga dia memasang raut wajah dinginnya. Disaat bersamaan, dua orang wanita paruh baya yang juga mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakai Laras terlihat melintasi serambi candi sambil membawa tumpukan makanan diatas nampan bertingkat.


Keduanya membungkuk kecil kepada Laras dan menyapanya dengan sebutan gelar yang selama ini disematkan kepadanya oleh para abdi dalem. Laras tidak pernah suka dengan hal-hal formal seperti ini, setidaknya begitulah yang selalu dia tampakan di depanku. Dia pun hanya membalasnya dengan anggukan alakadarnya dan senyum yang sangat jelas terpaksa.


Kemudian Laras berjalan melewatiku sambil memberikan isyarat mata agar aku mengikutinya. Seketika itu pun aku menjawab instuksinya dengan berkata.


“Nggeh, Gusti Raden Ajeng.”


Mendengar aku menirukan kedua abdi dalem candi yang melintas di serambi tadi, Laras pun menjadi sangat gusar. Dia menghentakan langkah kakinya ketika berjalan, sampai-sampai membuat sepanjang perjalanan kami diisi dengan suara riuh dari hentakan terompah kayunya yang beradu dengan jalanan batu setapak.


Akhirnya kami pun sampai di candi kecil tak beratap yang selalu kami jadikan tempat untuk melakukan ritual mengembalikan alur waktu. Laras menyuruhku masuk terlebih dahulu sedangkan dia memegangi pagar teralis di pintu masuk candi dan hendak menutupnya kembali.


Dia berkata. “Ada yang gue perlu urusin, lo tunggu disini!”


“Apa!? Eh Ras, lo udah janji bakal ngasih tau gue soal alasan lo melakukan…”


“Karena hari gak ada kematian Mira yang membuat seisi candi heboh, gue perlu mengatur banyak hal supaya ngak ada yang mencari gue sampai gerhana bulan datang.”


Aku pun terkejut dengan apa yang dikatakannya. Sedangkan dia hanya menatap sinis ke arahku yang sedang tergagap.


“Apa? Udah gue bilang kan gue selalu menguntit elo.” Dia pun terkekeh. “Ya bisa dibilang, hari ini adalah tindakan terbaik lo selama ini, Aji. Lo boleh bangga sama diri lo sekarang.”


Sambil tetap tersenyum sinis, Laras pun menutup pagar teralis di pintu masuk candi itu lalu menggemboknya dari luar. Sedangkan aku hanya bisa termenung. Setelah mendengar ucapan Laras itu, aku pun langsung teringat Mira. Berapa lama lagi waktu yang tersisa sampai takdirnya datang?


***


Pukul 21.31 malam ketika aku memeriksa jam tangan yang sedang kugunakan. Lekas saja aku pun menghubungi nomer ponsel Mira sambil berharap dengan sangat agar tidak mendapat jawaban dari sebrang sana.


Ya, kuharap aku tidak mendapat jawaban. Karena hal inilah yang menjadi alasanku berhenti dulu di jembatan Sungai Kalawar tadi untuk mengeluarkan ponsel Mira dari dalam tasnya, membuatnya dalam mode senyap, lalu meletakannya kembali di saku celana Mira.

__ADS_1


Tujuannya? Apalagi kalau bukan untuk memastikan bahwa Mira tetap tertidur pulas disaat takdirnya datang menjemput.


Sudah tujuh kali aku menghubungi ponsel Mira namun tetap tidak ada jawaban dan disaat kutengok jam yang ada di ponselku, waktu pun sudah beranjak menjadi pukul 22.11 malam. Aku pun memutuskan untuk kembali menghubunginya untuk terakhir kalinya.


Setelah mengatur nafas sambil terus menerus memanjatkan doa dalam hati, akhirnya kutekan tombol panggil yang ada di ponselku.


Satu persatu dering nada panggil menggema di telingaku dan setelah sekian detik berlalu akhirnya nada panggil itu pun berakhir. Berganti menjadi pemberitahuan bahwa nomor yang kutuju tidak menjawab. Aku menghembuskan nafas lega seraya tersenyum, memanjatkan rasa syukur setulus yang kubisa. Sebelum kemudian…


Boom!


Suara dentuman kembang api yang datang silih berganti mengejutkanku. Membuatku menjadi mendongak menyaksikan langit malam yang dipenuhi serpihan kilat yang terberai.


Untuk pertama kalinya aku merasakan suatu percikan kebahagian dimana akhirnya jerih payahku dapat membuahkan hasil. Harapanku telah terkabul. Aku pun bersandar pada tembok batu di belakangku lalu menikmati cahaya kembang api sambil membayangkan seandainya saja Mira dapat bersamaku saat itu.


Namun, disaat tanpa sadar kuturunkan kembali pandanganku… betapa terkejutnya aku. Karena kutemukan ponsel yang tengah berada di tanganku berdering! Terdapat sebuah panggilan masuk disana. Tidak lain, melainkan dari ponsel Mira.


“Ngak… ngak mungkin!”


Aku masih sempat melihat jam yg ada di sudut atas ponsel berganti menjadi pukul 22.13 dan saat itu pula lah kurasakan seluruh persendian yang ada di tubuhku seolah lepas semua.


Ponselku terjatuh ke lantai dan masih saja memperlihatkan panggilan masuk dari Mira. Disana terpampang fotonya yang sedang membalikan badan. Menoleh kepadaku dari bangkunya yang berada tepat di depan bangkuku saat kami masih kelas sepuluh.


Aku terus memandanginnya namun panggilan itu tidak kunjung usai!


Dengan kengerian yang menyelimuti perasaanku, aku berharap ponselku segera berhenti berdering, dan... disaat akhirnya dia benar-benar berhenti, aku pun tersadar akan sebuah kenyataan. Bahwa waktu yang kuhabiskan dalam perjalanan waktuku kali ini pun, semuanya, hanyalah kegagalan yang percuma.


Bahkan hanya untuk membuat Mira tidak menderita diakhir waktunya saja aku tidak diizinkan.


Seketika saja aku berteriak, melolong, meratap. Kualihkan pandanganku ke segala arah, tak tau harus berbuat apa.


Lalu ketika pandanganku sampai ke arah pintu masuk candi, kutemukan Laras yang tengah berdiri disana sambil menutupi mulutnya. Apakah dia sudah ada disana sedari tadi dan memperhatikan semua yang kulakukan? Entahlah. Aku tidak peduli.


“Apa yang elo tangisi, huh?” Ujarku masih terisak. “Bukannya ini yang lo mau?”


Untuk sesaat Laras terdiam, namun akhirnya dia kembali menangis bahkan lebih kencang lagi. Buruk sekali.


“Sudahlah Laras, sudah cukup.” Ucapku sambil melepaskan tangannya yang memeluk. “Kita sudahi saja semua ini…”


“Ngak!” Seketika dia memelukku lagi dengan sangat erat. “Kita harus kembali mengulang alur waktu!”


“Lo mau apa lagi, huh? Apa melihat Mira menderita selama ini belum cukup buat lo!?”


Kupaksakan untuk melepaskan diri darinya tapi dia pun tidak menyerah begitu saja. Terus saja dia mencoba untuk melingkarkan tangannya di tubuhku. Sampai ketika kukerahkan seluruh sisa tenaga yang kumiliki, barulah akhirnya dia terhempas.


“Persetan Laras! Gue udah muak dengan semua ini! Gue ngak akan pernah kembali lagi untuk… untuk melihat Mira…” Kututupi wajahku dan mulai melanjutkan tangisan.


“Aji… apa lo pikir… hiks, gue senang melihat Mira seperti ini?”


“Terus apa?!  Elo sedih sekarang, huh? Iya? Kalau gitu kenapa elo ngak coba aja bunuh diri lo sendiri supaya bisa merasakan apa yang dirasakan Mira! Omong kosong Laras elo ngak pernah…”


Plak! Dia pun menamparku dengan sangat keras.


“Kenapa… lo bicara seperti itu…”


Entah karena menyesal telah menamparku, kini kulihat Laras seperti sangat ketakutan. Sambil bergetar, dipeganginya tangan yang baru saja mendarat di wajahku itu.


“Tarik lagi ucapan lo, Aji! Sekarang juga!” Lalu akhirnya dia pun hilang kendali.

__ADS_1


Dengan suaranya yang terisak dia terus membentak sambil memukuli dadaku dengan kedua tangannya. Sudah kucoba berulang kali menghentikannya dengan berbicara dan menahan tangannya, namun tidak berhasil.


“Inilah alasannya kenapa gue terus mengulang alur waktu! Elo ngak boleh… Hiks. Elo ngak boleh bicara begitu!”


“Laras, stop! Hey!”


“Ngak! Elo harus tarik dulu ucapan lo sekarang! Sebelum hal itu menjadi kenyataan!”


“Tunggu, apa!?”


Saat itu juga matanya yang berkaca menatapku pilu. Ditutupinya mulutnya dan sambil terus menggeleng dia pun mundur perlahan. Seperti sangat menyesal dengan yang baru saja dia ucapkan, Laras pun menatapku dengan wajah bersalah.


"Apa maksudnya Laras? Hal apa yang bakal jadi kenyataan?"


Dia sama sekali tidak menjawabku dan hanya terdiam mengigit kuku jempolnya sambil terus berwajah cemas. Lama sekali dia terdiam, hingga aku akhirnya mendekat lalu memaksanya untuk bicara.


“Gue ngak punya pilihan…” Ucapnya lirih. “Kalau gue ngak terus mengulang alur waktu, bukan hanya Mira saja yang mati. TAPI JUGA ELO!”


Aku pun tercengang. Tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


“Puas lo sekarang, huh?! Ini kan yang selama ini ingin lo dengar? Tentang alasan gue mengulang waktu? Semua ini gue lakukan buat lo, Aji! Semuanya!”


Dia pun terduduk kemudian menenggelamkan wajahnya kedalam telapak tangan. Menangis sejadi-jadinya. Aku hanya bisa menyaksikannya saja seperti itu karena tidak tau harus berbuat apa. Setelah mencoba untuk lebih tenang, Laras pun melanjutkan berbicara dengan nafasnya yang masih tersengal.


“Waktu itu… disaat kita semua melihat gerhana bulan diatas loteng rumah lo, gue melihat primbon lo, Aji. Itulah sebabnya kenapa gue melakukan semua ini.”


Kutengok wajahnya yang berlinang air mata. Belum pernah kulihat dia sehancur ini sebelumnya.


“Disana untuk pertama kalinya gue tau kalau garis kehidupan Mira tidak lama lagi akan berakhir. Tentu saja gue sedih, Aji! Gue sedih! Tapi mau bagaimana lagi, gue ngak bisa berbuat apa-apa untuk kehidupan yang sudah ditakdirkan berakhir. Tapi… disaat gue lihat garis kehidupan lo... garis itu berbeda, Aji. Garis kehidupan lo itu terputus… bukan berakhir…”


“Ma, maksudnya?”


Dia pun membuang muka. “Itu artinya… lo sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hidup lo.”


Aku pun terhenyak, tak tau harus berkata apa. Aku memang sangat, sangat mencintai Mira. Akan tetapi belum pernah terbayang dalam pikiranku untuk mengakhiri hidupku karena kepergiannya. Sama seperti belum pernah terbayangkannya bagaimana aku akan melanjutkan hidup disaat tidak lagi dapat kutemui Mira didalamnya. Ah, memikirkan hal itu membuatku terbesit kalau mungkin saja yang dikatakan Laras itu benar. Mungkin saja, seandainya kutemui masa dimana Mira telah benar-benar pergi… mungkin saja aku akan…


“Gue sadar.” Lanjutnya. “Setiap kali Mira harus menghadapi takdirnya yang berulang-ulang, disetiap rasa sakit yang dia rasakan saat meregang nyawa… disetiap nafas terakhir yang dia hembuskan… hiks,  gue sadar kalau itu semua adalah tumpukan dosa besar yang suatu saat nanti mesti gue bayar.”


Dia pun kembali tersedu.


“Tapi mau bagaimana lagi, gue harus memilih… Apa lo tau dimana tempat manusia yang mengakhiri hidupnya sendiri akan berakhir? Itulah seburuk-buruknya tempat kembali, Aji.”


“Ta, tapi… kenapa lo ngak ngasih tau gue soal ini sejak awal?”


“Percaya atau enggak, gue udah pernah melakukan itu, Aji.” Dia menatap mataku. “Sudah berapa kali kita mengulang kembali alur waktu?”


“Empat.” Jawabku.


“Bukan, sekarang adalah perjalanan waktu kita yang ke-enam.”


Aku kembali terhenyak mendengar ucapannya.


“Di dua perjalanan waktu sebelumnya, yang lo sama sekali ngak bisa mengingatnya, gue membeberkan semua alasan gue sejak awal perjalanan dan lo tau hal apa yang lo perbuat?”


Aku pun menggeleng sambil tetap tercengang.


“Lo mengakhiri hidup lo bahkan sebelum Mira sampai kepada takdirnya. Semenjak itu, gue menganggap kalau membeberkan alasannya sejak awal hanya akan memberikan ide jalan pintas yang sebenarnya belum pernah lo pikirkan sebelumnya.”

__ADS_1


Mendengar itu, tubuhku menjadi lemas dan begitu saja ambruk bersimpuh menerawang lantai batu yang ada dihadapanku. Aku tidak pernah menyangka bahwa semua yang sudah dilakukannya selama ini, semuanya adalah demi kepentinganku. Dan tentu saja, aku pun tidak pernah menyangka jikalau aku sampai pernah berani mengakhiri hidupku sendiri.


__ADS_2