Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 11: Eclipse (Part II)


__ADS_3

Setelah Laras menelponku, aku pun segera bergegas kembali ke Candi Nitehake. Dia mengatakan akan menungguku di depan pintu masuk candi utama sebelah selatan yang kutau bahwa pintu itu merupakan pintu masuk candi yang tidak boleh dilewati oleh para pengunjung. Hanya petugas dan kerabat abdi dalem penjaga candi saja yang bisa melewati akses pintu selatan.


Tanpa pikir panjang aku pun segera meluncur kesana menggunakan sepeda motor matic-ku yang biasa kugunakan untuk mengantar pesanan bunga.


Selama perjalanan pikiranku dipenuhi dengan berbagai macam hal. Dari apa yang dikatakan Laras, Mira terjatuh ke dalam jurang yang terletak di pelataran timur candi yang merupakan jalan berbatu yang jarang dilewati oleh pengunjung. Dan ketika kupikirkan kembali, area itu terletak hanya beberapa meter saja dari tempat kami berpisah.


Tiba-tiba aku pun diliputi rasa takut yang sangat. Perasaan bersalah dan ngeri sekejap merasukiku. Aku tak henti-hentinya berdoa agar Mira baik-baik saja. Karena baru saja tadi dia masih berbicara kepadaku. Dia masih terlihat ceria dengan senyumnya yang hangat ketika kami bertemu.


Saat itu aku masih berpikir bahwa semuanya hanyalah sekedar lelucon yang dibuat Laras untukku dengan tujuan agar aku berbaikan dengan Mira. “Ya, ini pasti lelucon yang Laras dan yang lainnya persiapkan untukku.” Terus-menerus kukatakan itu sepanjang perjalanan.


Sesampainya di Candi Nitehake, aku melihat beberapa orang berkerumun di sekitaran gerbang masuk. Disana terdapat pula dua buah mobil polisi yang lampu sirine-nya menyala tanpa suara.


Sebelum otakku mulai mencerna tentang apa yang sedang terjadi, aku pun segera menghalanginya. Segera aku memarkirkan matic-ku di depan gerbang untuk kemudian berlari secepat mungkin menembus kerumunan orang yang ada disana. Lalu ketika aku sampai didalam area candi, kutemukan lagi hal yang tidak biasa lainnya.


Didalam suasananya sudah sangat sepi. Padahal seharusnya masih banyak sekali pengunjung pada jam-jam seperti ini. Bahkan hingga esok hari, seharusnya Candi Nitehake masih dipenuhi oleh pengunjung yang berdiam untuk menikmati gerhana bulan. Kusempatkan melihat jam yang ada di ponselku. Waktu menunjukan pukul 01.10 malam. Melihat kejanggalan itu aku pun mempercepat lariku.


Didepan pintu masuk candi utama bagian selatan, aku melihat Laras yang menggunakan pakaian adat khas abdi dalem penjaga candi. Dia berdiri di undakan tangga paling atas sambil mengigiti kuku jempolnya. Wajahnya terlihat sangat serius dan waspada.


“Laras.” Panggilku.


Laras pun menoleh lalu memberikan tanda kepadaku agar tidak bersuara. Dia kemudian berjalan menghampiriku sambil membawa sesuatu benda yang sedari tadi berada disampingnya. Benda itu berukuran sebesar buah labu dan dibungkus dengan kain sutra berwarna perak dengan motif batik. Dilihat dari cara Laras membawanya, nampaknya benda itu cukup berat. Dia terlihat kepayahan sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri seperti takut kalau-kalau ada orang yang melihat.


“Ikut gue Aji, kita gunakan ini!” Katanya sambil berbisik.


Laras membuka buntalan kain yang menutupi benda yang dibawanya. Didalamnya tedapat sebuah arca yang berbentuk bulat dengan permukaan cekung dibagian atasnya, seperti mangkuk. Didalam cekungan itu terdapat ukiran melingkar yang jika diperhatikan ukiran tersebut membentuk lingkaran seperti sebuah jam dinding. Lalu pada bagian pusat cekungan itu terdapat sebuah pasak yang diikat dengan simpul tali berwarna emas.


Setelah kuingat-ingat benda tersebut merupakan benda yang dibawa oleh Arca Besar Nitehake yang terletak di altar candi utama. Seharusnya benda itu diletakan di pangkuan Arca Besar Nitehake, tapi mengapa Laras membawanya?


“Tunggu, ini apa? Mira, dimana Mira? Lo tadi bilang dia terjatuh ke dalam jurang? Itu cuma bercanda kan?” Tanyaku sambil sedikit menguncangkan tubuhnya.


“Dengar Aji, sekarang Mira sudah mati. Semua yang gue jelaskan di telepon tadi, semuanya benar-benar terjadi.”


“Apa?”


“Ya, Mira terjatuh kedalam jurang yang ada disana.” Laras menunjuk ke sebelah kanannya.


Mataku terbelalak, menengok perlahan ke arah yang ditunjuk Laras. Hanya ada tembok batu disana, yang merupakan bagian dari benteng candi utama. Tapi aku tau pasti, jika berjalan lurus terus kesana maka akan kutemui pelataran yang memiliki jurang yang cukup dalam.


“Ngak mungkin, tadi gue masih bareng dia dan…”


“Menurut saksi mata yang sempat melihat Mira terjatuh, kejadiannya antara jam sepuluh sampai jam sepuluh lewat lima tadi.”


Seperti membaca pikiranku, Laras mengabarkan kapan Mira terjatuh kedalam jurang. Dan benar! Waktunya hanya beberapa saat saja setelah kami berpisah.


“Ha, haha… Lo becanda kan, Ras? Lo tau kan, gue paling ngak suka sama bercandaan kayak...”


“Liat sekeliling lo.” Potongnya. “Hari ini Festival Kebudayaan Ngawiwitan dihentikan. Penyebabnya, karena terjadi kecelakan di pelataran timur candi yang merenggut nyawa seorang gadis. Lo pikir ini bercanda?”


Seketika kurasakan mual di perutku. Kini satu hal telah menjadi pasti. Bahwa apa yang dikatakan Laras sebelumnya kepadaku bukanlah sebuah lelucon. Alam pikirku bekerja keras mencerna sesuatu yang seperti mimpi ini. Menerima semua ucapan Laras bahwa Mira yang selama ini kukenal telah pergi, meninggalkanku, selamanya.


Wajah Mira yang memandangiku dengan pandangan kosong sebelum kami berpisah seketika menghantui pikiranku. Akankah itu menjadi caranya memandangku untuk terakhir kalinya? Jika saja aku menahannya untuk terus berbincang denganku tadi, akankah semua ini tidak terjadi?

__ADS_1


“Mira… Miraaa!”


Dengan sendirinya kakiku melangkah berbalik. Hanya satu hal yang ingin kulakukan saat itu. Bertemu Mira. Walaupun hanya bertemu jasadnya yang sudah tidak bernyawa, untuk terakhir kalinya, aku harus melihatnya.


“Tunggu, Aji.” Laras menghentikanku yang hendak berlari dengan menarik tanganku. “Lo pengen ketemu Mira lagi kan?”


Dengan bingung aku menoleh kearahnya. “Apakah jasad Mira saat ini ada didalam candi?” Besitku dalam hati.


Kemudian Laras membawaku ke sebuah candi kecil yang berada di pojokan tembok luar candi utama. Terdapat ruang kecil disana, mungkin hanya hanya setengah dari besarnya ruangan kelas. Candi kecil itu memiliki permukaan lantai yang jauh lebih rendah dari permukaan tanah sehingga bentuknya menjadi menceruk kebawah. Sedangkan atapnya sendiri, tidak ada. Bagian atapnya langsung tembus ke langit.


Setelah kami berdua sudah didalam, Laras meletakan arca yang sedari tadi dibawanya diatas lantai batu yang ada disana dan menyuruhku untuk duduk bersila didekat arca itu. Kemudian dia menengok keluar candi untuk memastikan tidak ada siapapun disekitar. Setelah yakin tidak ada seorang pun disana, Laras pun duduk besimpuh di depanku sambil memegangi arca yang diletakan diantara kami berdua.


“Kita akan kembali ke masa lalu.”


“Huh?”


“Arca ini dapat membawa kita kembali ke waktu dimana terjadi gerhana bulan sebelumnya.” Laras melanjutkan.


Mendengar apa yang dikatakannya membuatku berpikir kembali bahwa semua ini hanyalah rangkaian lelucon konyol yang tengah dia mainkan. Beban perasaanku menjadi sedikit terangkat dan harapan yang sudah sirna sejak tadi kini muncul kembali. Akan tetapi setelah melihat betapa serius ekspresi wajah Laras, aku pun menjadi ragu.


“Kembali ke masa lalu?” Tanyaku lagi untuk memastikan.


“Ya! Sekarang pinjem tangan lo.”


Laras melepaskan peniti yg ada di lipatan pakaian tradisionalnya lalu menusukannya ke jari jempolku sehingga mengeluarkan darah. Kemudian, dia mengoleskan jempolku yang berdarah itu ke ukiran yang terdapat pada arca secara melingkar melawan arah jarum jam. Bibirnya terus-menerus melafalkan sesuatu semacam mantra yang tidak dapat kudengar dengan jelas. Setelah itu dia pun melakukan hal yang sama pada dirinya. Menusuk jempolnya lalu mengoleskannya.


“Sekarang kita tunggu seluruh bagian bulan sampai pada ‘umbra’.” Katanya sambil memandangin bulan yang kian tertutup bayangan gerhana.


“Jam 01.58.” Jawabku


“Masih ada 30 menit sampai gerhana total. Masih sempat.” Ucapnya sambil meraih kedua tanganku. “Sekarang tutup mata lo, kita mulai ritualnya.”


“Tunggu. Ras, ini kita ngapain? Lo pikir kita punya waktu untuk hal konyol macam gini?!” Tanyaku sambil beranjak. “Dimana Mira? Lo tadi bilang mau membawa gue ketemu dia, kan?!”


Laras hanya menjawabku dengan tatapan “es” nya yang sudah sangat kukenal itu. Jika sudah begini tidak ada lagi yang dapat kulakuan selain mengikuti perintahnya. Aku pun terpaksa duduk kembali.


“Kalau lo mau ketemu Mira lagi, sebaiknya lo ikutin perintah gue!” Ucapnya. “Sekarang tutup mata lo!”


Laras kembali meraih kedua telapak tanganku lalu meletakannya diatas kedua telapak tanganya. Kemudian dia memejamkan matanya dan mulai melafalkan ajian-ajian yang kuanggap seperti doa. Tidak ada satupun kata yang dapat kumengerti dari apa yang digumamkannya.


“Tutup mata lo bego! Gue ga bisa fokus kalo lo liatin kayak gitu!” Tanganya memaksa mataku untuk terpejam.


Cukup lama kami berdua hanya duduk saja disana dengan mata terpejam. Sesekali kuintip Laras yang tengah berkonsentrasi didepanku. Kulihat dirinya yang tidak seperti biasanya. Rambutnya yang selalu dikuncir dua kini dibiarkan tergerai. Bibirnya yang tipis bergerak-gerak melafal sesuatu yang tidak dapat kumengerti. Kulitnya terlihat mengkilap bermandikan cahaya rembulan, memberikan kesan yang berbeda dari Laras yang selama ini kukenal cuek dan ganas.


Setelah beberapa saat berlalu, Laras memerintahkanku untuk membuka mata. Dan saat aku membuka mata, kudapati arca yang ada di depanku mengeluarkan cahaya hijau gelap pada setiap ukirannya seperti warna batu zamrud. Sontak aku pun terkejut sekali.


“I, ini…”


“Persiapanya sudah selesai. Bulan juga keliatannya lagi merah-merahnya sekarang.” Laras mendongak keatas melihat ke arah bulan yang tengah mengalami gerhana total.


“Aji, sebelum kita kembali ke masa lalu, gue mau kasih tau lo beberapa hal.” Wajah Laras terlihat serius. “Kita akan kembali ke hari dimana terjadi gerhana bulan sebelumnya."

__ADS_1


“Itu berarti… waktu kita kumpul di loteng buat liat gerhana waktu itu?”


“Ya, tepatnya enam bulan yang lalu, tanggal 31 Januari.” Ujarnya. “Satu hal yang perlu lo camkan baik-baik, Aji. Kita kembali bukan untuk menyelamatkan Mira, tapi hanya untuk melihatnya lagi.”


“Maksudnya?”


“Ada tiga hal yang gak bisa kita rubah. Rezeki, jodoh, dan kematian. Jadi anggap saja ini sebagai kesempatan kedua lo buat memperbaiki hubungan lo dengan Mira.”


“Jadi, Mira akan tetap meninggal hari ini?” Tanyaku.


“Ya, kita ngak bisa merubahnya. Itu sudah menjadi batas akhir waktunya.”


Aku terdiam mendengar penjelasan yang diberikan Laras. Jadi Mira sudah benar-benar pergi meninggalkan dunia ini? Memikirkan hal itu membuatku tersadar akan perasaanku yang sedari tadi menghantui. Semua yang kualami sehari itu, aku masih belum bisa mempercainya sebagai sebuah kenyataan. Semunya hanya seperti mimpi. Namun ketika alam sadarku mencoba menerimanya sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi, seketika itu juga kurasakan rasa pahit yang pekat di dalam hatiku.


“Aji.” Suara Laras membuyarkan lamunanku. “Saat perjalanan kita kembali ke masa lalu nanti, gue pengen lo keluarin semua perasan lo yang mengganjal saat ini. Bayar tuntas semua penyesalan dan rasa bersalah lo ke Mira yang sekarang lo rasakan. Jangan sampai ada satupun yang tersisa!”


Laras menunggu respon dariku sejenak sebelum melanjutkan. Kemudian dia meletakan kedua tangannya di pundakku.


“Intinya, tujuan akhir kita adalah ngebuat lo bisa merelakan kepergian Mira dengan enam bulan waktu yang tesisa nanti. Ngerti maksud gue, Aji?”


Aku hanya diam memikirkan berbagai macam hal yang ada di benak ku saat itu. Tak bergeming.


“Jawab Aji!”


Wajah laras terlihat sangat serius. Maksudku sedari tadi dia memang nampak serius. Tapi kali ini dia seolah ingin menegaskan seberapa penting ucapannya itu.


“Ya.” Jawabku singkat.


“Baiklah, kalau lo udah mengerti, kita kembali ke masa lalu sekarang.” Lanjutnya.


Laras kemudian meletakan tangan kananku di atas arca. Lalu dia kembali mambaca beberapa ajian serta menyuruhku untuk mengulangi apa yang diucapkanya. Setelah itu, sekali lagi Laras melihat kearah bulan yang berwarna merah diatas kami, lalu berkata.


“Ketika kita kembali nanti, jangan pernah bicara tentang hal ini pada siapa pun kecuali gue dan kalau lo ada masalah apapun nanti, selalu ingat ada gue yang bakal bantuin lo.”


Aku pun menjawabnya dengan anggukan.


“Sekarang, lo perhatiin pusaran yang ada di tengah arca dan saat gue kasih aba-aba, kita tarik tali ini bersamaan.”


Laras mengarahkan ujung tali berwarna emas yang tersimpul pada pasak ditengah arca kepadaku agar aku pun ikut memegangnya.


“Lo siap? Kita tarik bersamaan di hitungan ke-tiga.”


“Ya.”


Kemudian setelah mengatur nafasnya, Laras pun mulai menghitung.


“Tiga… dua…”


“Satu!”


Secara bersamaan kami menarik tali itu dengan sekuat tenaga. Cahaya hijau pada arca berkerlap-kerlip dengan sangat terang sampai akhirnya menutupi semua pandanganku. Darah di sekujur tubuhku terasa mengalir dengan sangat derasnya. Seluruh pori-pori di kulitku tebuka, memberikan perasaan merinding yang teramat sangat.

__ADS_1


Kurasakan tubuhku bergetar hebat lalu seakan ditarik masuk ke dalam arca yang ada di depanku. Dunia seolah beputar membentuk sebuah pusaran menuju titik pusat cahaya. Yang dapat kulihat hanyalah gemerlap cahaya warna hijau, biru, dan jinga yang abstrak. Kemudian kudengar suara melengking yang memekakan telinga dan dalam sekejap saja semua menjadi putih.


__ADS_2