Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 14: Before The Rain (Part I)


__ADS_3

"Ami, Kak Mira itu siapa?" Tanya Laras yang kini bejongkok didepan Ami sambil memegangi kedua bahunya.


"Hmm? Kak Mira ya Kak Mira. Hihi, aneh deh. Emang nya ada temen kakak yang namanya Mira lagi selain Kak Mira?"


Laras menggeleng kecil dengan bibirnya yang tergagap.


"Kenapa kak? Ada yang salah ya sama ucapan Ami? "


"Ng, ngak kok. Gak apa-apa" Jawab Laras sambil memaksakan senyum di bibirnya. "Oh iya, ngomong-ngomong soal Kak Mira. Emm menurut Ami, dia gimana orangnya?"


"Kak Mira baik... Oh iya, yang pasti dia suka banget sama bunga! Kalau lagi main ke rumah, pasti aja yang ditanyain ke Ami selalu tentang bunga. Dia paling suka sama bunga Buttercup. Setiap main ke rumah, Kak Mira pasti nyempetin buat beli bunga itu."


Laras pun tertegun. Kemudian kembali bertanya. "Ami masih inget, kapan pertama kali Kak Mira main kerumah?"


"Kalau ngak salah waktu Mas Aji masih kelas satu. Oh iya waktu itu Kak Laras masih belum sering dateng ke rumah."


"Terus, kapan terakhir kali dia main ke rumah? Sudah berapa kali dia datang?" Tanya Laras sambil sedikit mengguncangkan tubuh Ami.


Melihat Laras seperti itu, Ami pun menjadi sedikit ciut. "Ami gak tau sih pastinya berapa kali Kak Mira main kerumah, tapi ya sering. Hmm kalau kapan terakhir dia main kerumah... Oh iya waktu itu Kak Mira ulang tahun. Kak Laras ikut juga kan? Waktu itu..."


Seketika saja pandangan Ami menjadi kosong. Lalu perlahan matanya meredup.


"Waktu itu..."


Dug! Dan akhirnya diapun tak sadarkan diri di pangkuan Laras.


"Ami? Hey Ami?! Kamu ngak apa-apa? Ami!"


Laras menepuk-nepuk Ami untuk menyadarkannya. Akan tetapi Ami tetap terpejam.

__ADS_1


"Ami!!!"


Dengan cepat Laras terperanjat dan langsung menekan tombol untuk memanggil perawat. Dia masih berusaha menyadarkan Ami. Dengan sangat panik dan bulir air mata yang mulai bermunculan. Hingga akhirnya perawat datang dan segera memberi Ami penanganan.


Hanya sebentar saja Ami tidak sadarkan diri. Akan tetapi setelah dia kembali tersadar, dia seperti orang linglung yang tidak ingat sama sekali tentang apapun yang baru saja dia lakukan.


***


Keesokan paginya tanpa kusangka aku menemukan Ronny yang sedang menaiki tangga Rumah Sakit disaat aku berkeliaran tanpa arah tujuan. Aku jadi teringat, karena sekarang Sabtu, maka jam besuk sudah dibuka sejak jam 9 pagi. Melihat Ronny celingukan disana, akupun segera menghampirinya.


"Ron, ngapain lo dateng kesini?"


Ronny pun terkejut seraya mendongak. Melihat kearahku yang saat ini berada tepat diatas kepalanya.


"Oi, Aji!" Dia menjadi sumringah. "Hehe, gue dateng kesini ya buat ngejenguk..."


"Ikut gue sekarang juga!"


"Udah ngak usah banyak nanya!"


Disaat kami sudah diluar, aku segera menyuruhnya untuk kembali pulang dengan menggunakan Bis. Tentu saja dia menolak. Tetapi setelah kuberitau kalau aku juga akan ikut bersamanya akhirnya diapun setuju.


Tidak lama berselang Bis kami pun datang. Ronny naik kedalam lalu duduk di kursi paling belakang. Sedangkan aku masuk dengan menggunakan caraku sendiri. Ya tinggal tembus saja.


"Inget Ron," ucapku. "Jangan sampe lo dateng tiba-tiba lagi kayak gini!"


Dia melihat keadaan sekitar sebelum akhirnya berbisik untuk menimpali. "Kenapa emangnya?"


Aku menunggu Bis melaju sebelum akhirnya menjawab. "Ron, kalau sampai Laras tau lo dateng lagi ke rumah sakit buat ngejenguk gue, terus dia jadi curiga, wah bakalan ancur dah!"

__ADS_1


"Apanya yang ancur?"


"Semuanya!"


Ronny pun terlihat bingung. Tentu saja. Karena aku belum menyampaikan alasanku yang sebenarnya kenapa aku sampai menceritakan semua ini kepadanya.


"Oke biar lebih gampang, gue tanya dulu deh. Kenapa lo dateng lagi hari ini?" Itulah yang kutanyakan. Tapi sebenarnya aku sudah bisa menebak kalau dia datang untuk mendengarkan lagi ceritaku.


"Mm sebenernya habis lo cerita panjang lebar kemaren, gue jadi bener-bener kepikiran. Rasanya gue jadi kayak tersadar kalau ada banyak banget hal yang udah gue lupakan. Rasanya ada empty space gitu bro, di rongga dada gue."


Duh! Ini bocah kalau lagi kumat terkadang menggunakan kosa kata yang tidak pas dengan kapasitasnya.


"Nah makanya, gue dateng lagi buat ngedenger cerita lo secara komprehensif. Elo kan belum cerita soal kenapa lo bisa jadi kayak sekarang ini. Terus soal pesan aneh yang Laras kirim. Semalaman gue ngak bisa tidur gara-gara penasaran!"


"Oh iya, juga soal Mira..." Ronny berhenti sejenak. "Waktu dia jatoh ke jurang itu, apa dia..."


"Itu murni kecelakaan!"


"Huh? Ya iya dong itu emang kecelakan. Masa iya dia sengaja lompat gitu? Kedalem jur... ang...?" Ronny pun terperanga. "Tunggu! Jangan bilang dia..."


"Ngak Ron, gue berani sumpah itu beneran murni kecelakaan. Oke-oke sorry, gue pikir lo tadi bakal bertanya... Ah lupakan." Aku pun segera mengubah topik. "Gini deh. Gue bakal lanjutin cerita gue dan setelah itu, kita bisa ngebahas semuanya dengan lebih jelas."


"O, oke." Jawabnya.


"Ah gue punya ide! Mulai sekarang, setiap kali bercerita gue bakal ngasih judul buat cerita gue. Biar lo bisa menangkap cerita gue dengan lebih sistematis dan... apa lo bilang tadi? Komprehensif?"


Kulihat dia menganguk diiringi senyum konyolnya yang menahan tawa.


"Nah Ron, cerita gue kali ini, gue kasih judul..." Lanjutku.

__ADS_1


"Sebelum Hujan."


__ADS_2