
Kondisi ruang kelas yang masih lengang dan hening di awal pagi memang sangat nyaman dijadikan tempat berdiam diri sebelum pelajaran dimulai. Cahaya mentari di bulan Juni yang hangat serta udara sejuk di pagi hari merupakan kombinasi yang tepat sebagai pemberi semangat untuk menjalani satu lagi hari menuntut ilmu. Dipojok ruang kelas dekat jendela, di bangku nomor dua paling belakang, seorang siswa sedang santai membaca buku cerita kecil di tempat duduknya. Sesekali dia mengamati sekitar lalu mengecek jam tangannya.
“Masih 30 menit” gumamnya.
Satu persatu siswa lain pun berdatangan dan beberapa diantaranya menyapa siswa itu dengan mengucapkan selamat pagi disaat mereka melewatinya.
“Selamat pagi Alan.”
“Pagi.” Alan pun membalas disertai senyumnya yang ramah.
Alan adalah anak yang pendiam. Dia tidak akan bicara terkecuali dia perlu. Namun tidak akan sulit untuk mengetahui bahwa dia adalah anak yang baik dan sopan hanya dari sekali lihat. Wajahnya yang calm serta gaya rambut sasaknya yang disisir kedepan memberikan kesan ramah tapi stylish. Matanya yang tajam dibawah alisnya yang tipis memberinya kesan tegas tapi tidak menyeramkan.
Tidak lama kemudian, akhirnya yang dinanti pun tiba. Didepan pintu masuk kelas terlihat dua orang wanita muda yang masuk kedalam lalu berjalan menghampiri Alan. Mereka berdua adalah Mira dan Dian.
“Pagi Alan, wah seperti biasa ya pagi-pagi gini udah standby di kelas. Rajin deh kamu. Padahal kan anak cowok sukanya mepet-mepet kalo masalah waktu.”
Sambil duduk di bangku yang terletak didepan bangku Alan, Dian melanjutkan. “Aku penasaran deh, kenapa kamu selalu dateng pagi-pagi gini?”
“Oh aku tau! Pasti kamu sengaja dateng pagi biar bisa ngeliatin kami lewat kan?” Dia menjawab pertanyaannya sendiri. “Hmm hayo ngaku!”
“Haha bisa aja kamu, Di. Ngapain juga aku ngeliatain kamu lewat?”
“Kalau aku mungkin ga diliatin, tapi kalo Mira?”
Dian melirik kearah Mira, menunggu respon darinya. Akan tetapi Mira hanya memandangi Dian saja tanpa bicara. Atau mungkin memandangi bangku yang sedang diduduki Dian. Bangku itu sudah sangat lama kosong, tidak ada yang menempatinya. Karena siswa yang seharusnya duduk disana sedang... menjalani perawatan di rumah sakit.
“Kenapa ngeliatin aku gitu, Mir?”
“Hmm?” Mira memiringkan kepala. Seperti burung kakak tua yang ditawari jagung.
“Tuh kan, kamu kebiasaan deh tiba-tiba ngelamun sendiri. Kenapa? Kamu mau duduk disini? Atau mau sekalian aja pindah bangku kesini? Bangku ini kan kosong, gak ada yang nempatin. Jadi kamu bisa tambah deket sama...”
“Ah, halo Alan, selamat pagi.” Sapa Mira kepada Alan tanpa memperdulikan Dian.
“Pa, pagi Mira.”
“Hee… Alan kamu kenapa? Mukamu merah begitu, kamu mendadak demam, iya?” Dian yang menyadari gelagat kikuk Alan tentu tidak akan melewakannya begitu saja.
Wajah Alan pun kian matang sehingga Dian terus-menerus menggodanya dengan menepuk-nepuk bahunya. Sedangkan Alan hanya bisa diam saja sambil tersipu dan menundukan wajah. Melihat apa yang sedang terjadi dihadapannya, akhirnya Mira pun angkat bicara.
“Di, kayaknya gajadi deh aku kasih liat PR buat hari ini”.
__ADS_1
“Eh kenapa Mir?”
Mira sekali lagi tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum tipis kearah Dian.
“O, oke kalau gitu aku pergi ke bangku ku sekarang.” Kata Dian sambil beranjak. “Buat nyalin PR mu… Boleh kan?”
Awalnya Mira terlihat enggan. Tapi setelah Dian terus menerus merayunya dengan berbagai bualan manis, akhirnya Mira pun menjadi tertawa lalu menyerahkan buku catatannya secara suka rela. Segera setelah itu, Dian pun pergi menuju bangkunya untuk menyalin pekerjaan rumah itu dan meninggalkan Alan berdua saja dengan Mira.
“Hmm, Alan kamu lagi baca apa?”
“Oh, ini kumpulan cerpen, Mir.”
“Seru?”
“I, iya… lumayan.” Alan kembali kikuk karena Mira mendekatkan wajahnya saat bertanya.
“Oh iya, ini novel yang kupinjam kemarin.” Ucap Mira sambil mengeluarkan buku novel dari dalam tasnya. “Aku suka banget sama jalan ceritanya, apalagi endingnya… bikin aku nangis.”
“Haha, bagus kan? Apa kubilang, ini tuh salah satu list novel terbaikku.”
“Iya bagus banget, Lan! Hmm tapi masih tetep jauh lebih bagus novel yang kamu kasih ke aku waktu aku ulang tahun kemarin. Hihi.”
“Ya kalau novel yang itu, lain cerita. Itu novel terbaik yang yang pernah kubaca dan untung saja waktu itu… aku masih sempat memberikannya buat kamu.”
***
Hari ulang tahun Mira jatuh pada tanggal 11 April, kurang lebih dua bulan yang lalu. Pada pagi hari itu, di SMA Tunas Bangsa tempat mereka bersekolah, para murid terlihat berkerumun di lorong dekat Loby Sekolah. Mengitari Mira yang menjadi pusat dari keramaian. Satu-persatu siswa-siswi yang ada disana bergantian menyalaminya dan mengucapkan ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Beberapa bahkan ada pula yang sampai memberikan bingkisan kado.
Sedangkan Alan di satu sisi, dia hanya bisa memantau dari kejauhan. Beberapa kali dia terlihat mengatup-atupkan bibirnya sambil bernafas panjang. Nampaknya dia juga berkeinginan untuk bergabung bersama keramain. Akan tetapi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dia adalah anak yang pendiam. Dia tidak terbiasa dengan keramaian seperti itu.
Tidak lama berselang seseorang merangkulnya dari belakang mengejutkan dirinya yang tengah mempersiapkan diri melawan ketakutannya.
“Hey, Alan!”
“Eh, Ron, selamat pagi.” Jawabnya.
Ronny adalah teman sekelas Alan yang bangkunya bersebelahan. Berbeda dengan Alan, Ronny adalah anak yang culas dan gemar melakukan hal-hal bodoh seperti kebanyakan anak SMA pada umumnya. Jika bicara tentang pelajaran, maka Alan adalah murid peringkat terdepan sedangkan Ronny adalah juru kunci. Ronny tidak bodoh sebenarnya, hanya saja dia bodoh sekali.
“Uagh, rame bener! Ada ribut-ribut apaan nih?”
“Hari ini Mira ulang tahun.”
__ADS_1
“Oh pantesan… Lah terus lo ngapain diem doang disini? Bukannya ngikut nimbrungin Mira.” Ronny kemudian berbisik. “Nanti dia diambil orang loh.”
Alan termenung sebentar memandang kearah kerumunan yang ada disana. Lalu dia pun tersenyum dan bergumam. “Gak mungkin.”
“Huh, lo bilang apa Lan?”
“Bukan, bukan apa-apa.”
Alan dan Ronny pun memutuskan untuk pergi menuju ruang kelas. Sambil berlalu, Alan tidak henti-hentinya memandangi Mira yang tengah sibuk meladeni kerumunan murid disekelilingnya. Lalu disaat jarak diantara mereka sudah cukup dekat, tanpa sengaja pandangan mereka berdua bertemu. Seketika itu juga Alan mengalihkan pandangan dan segera mempercepat langkahnya meninggalkan Ronny yang masih jauh dibelakang.
Waktu itu Alan masih belum pernah satu kalipun berbicara dengan Mira. Padahal sebenarnya mereka sudah berada di kelas yang sama semenjak kelas sebelas. Jadi bisa dibilang mentalnya pada saat dua bulan yang lalu itu belum sekuat sekarang. Waktu itu dia belum cukup kuat untuk sekedar menghadapi tatapan mata langsung dari Mira.
Setelah sesi pertama usai, maka dimulailah waku jam istirahat. Semenjak bel tanda istirahat berbunyi, Alan masih saja duduk di bangkunya menunggu saat yang tepat untuk memberikan hadiah ulang tahunnya kepada Mira. Sedari tadi dia hanya memegangi buku novel itu di kolong meja sambil sesekali mencuri pandang kearah Mira yang sudah sekian lama masih saja disibukan oleh siswa-siswi yang berkerumun. Pastilah Alan merasa sangat gelisah kala itu sampai-sampai dia belum sempat menyentuh sama sekali bekal makan siangnya yang ada diatas meja.
“Oi Lan, itu makan siang lo gak akan dimakan? Sebentar lagi masuk loh.” Kata Ronny yang baru saja kembali dari kantin sekolah. “Nanti kalo Laras tau, bakalan ngamuk doi!”
“Iya nanti kumakan.”
Wajah Alan kian gelisah karena dia menyadari bahwa waktu jam istirahat tidak lama lagi akan habis. Akhirnya, setelah untuk kesekian kalinya dia mengatur nafas, Alan pun mengambil langkah untuk menghampiri Mira yang berada di tengah-tengah kerumunan. Namun sesampainya dia di bangku Mira yang jaraknya hanya enam langkah saja dari bangkunya, bel tanda masuk pun berbunyi.
“Oke Mir, nanti ngobrolnya kita lanjutin lagi.” Kata salah seorang murid yang ada disana.
“Iya, makasih ya temen-temen semuanya.”
“Awas loh Mir, kamu udah janji bakal ikut kita karoke hari ini.”
“Iya, iya aku ikut.”
Mira menjawab satu persatu siswa-siswi yang kini mulai berangsur pergi meninggalkan kerumunan. Sedangkan Alan yang masih belum bisa memberikan hadiahnya kala itu, mulai terlihat ragu dengan tekad yang telah dia buat. Dia pun mulai berjalan mundur mengikuti kerumunan yang kian terberai meninggalkan bangku Mira.
Namun, sepertinya takdir berbicara lain. Disaat Alan sudah benar-benar berencana untuk pergi dan membalikan badannya, secara tidak sengaja salah seorang murid menyenggol buku yang sedang dia pegang sehingga buku itu terjatuh ke lantai. Mira yang menyadarinya langsung bergerak untuk memungut buku yang tergeletak disamping bangkunya itu dan ternyata… Alan pun melakukan hal yang sama.
“Eh?”
Mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa saat kemudian. Lalu kalimat selanjutnya yang terucap dari mulut Alan adalah.
“U, untung masih sempat.”
Seakan mengerti apa yang dimaksud Alan, Mira pun menjawab pria yang baru pertama kali itu dia berbicara dengannya.
“Iya, untung saja masih sempat.” Mira tersenyum.
__ADS_1
Kuakui senyuman Mira memang terlampau manis. Seringkali, seperti kala itu, aku dibuat kaku saat melihatnya. Waktu itu, dari bangku tempatku duduk aku hanya bisa termenung iri menyaksikan dirinya yang tersenyum kepada Alan.
Dia memang sangat mudah untuk tersenyum dan menurutku senyumannya itu sedikit menggoda tapi juga murni dan kekanakan. Layaknya setangkai Buttercup.