
Tiga minggu menjelang Hari Wiwitan, para siswa terlihat makin sibuk dengan persiapan parade festival kebudayaan. Lapangan tengah sekolah sudah seperti pasar tumpah setiap harinya. Dipenuhi siswa-siswi dengan berbagai kegiatannya masing-masing.
Sore itu, Jumat tanggal 6 Juli, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alan bersama Mira, Dian dan juga Ronny tengah bersiap pulang menuju gerbang sekolah.
Disaat mereka sudah sampai didepan gerbang, alih-alih langsung keluar, mereka malah berbelok ke kanan menuju lapangan parkir. Melintasi pos dimana Pak Paryo, satpam sekolah biasa berjaga.
Alan berjalan paling depan diikuti ketiga temannya. Mereka lalu berkumpul di kursi panjang di bawah pohon beringin yang ada di sudut lapangan parkir.
“Nah, Alan jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” Ujar Dian.
“Sebelumya aku pengen kalian janji dulu untuk menjaga ini sebagai rahasia kita berempat.”
Melihat wajah Alan yang tidak main-main, bahkan nyaris seram, Dian dan Mira pun saling bertatapan. Kemudian Dian mengangguk dan menjawab. “Iya aku janji.”
“Ron?”
Sedari tadi Ronny terus saja memfokuskan pandangannya kesini. Aku tidak yakin apa yang sebenarnya sedang dia lihat. Apakah burung-burung pipit yang hinggap di ranting disampingku ini, ataukah cicak yang sedang menempel di batang pohon? Entahlah.
“Oii, Ron!”
“Oh iya, kenapa?”
“Huuf, kamu bisa janji kan gak akan bilang ke siapapun tentang apa yang bakal kubicarakan?”
“Ooh, okay!” Diapun mengacungkan jempolnya.
“Baiklah. Sebenarnya yang mau kubicarakan sekarang adalah… tentang Laras.”
Alan berhenti cukup lama sebelum melanjutkan. Beberapa kali dia memperhatikan keadaan disekitar.
“Jangan bilang siapa-siapa ya, tapi menurutku dia datang dari masa depan.”
Senyap.
“Pffft!” Akhirnya Ronny pun terbahak. “Buahaha, gile lu Ndro!”
“Ron, aku seriu…”
“Hahaha! Jangan bilang, karena nama Laras ada di pesan aneh itu, haha! Kamu jadi mikir dia datang dari masa depan?” Ujar Dian sambil tersengal dan memegangi perutnya.
“Mir, kamu denger kan, Mir? Ahaha, si Alan ini kamu kasih apa sampai jadi kayak gini?”
Akan tetapi Mira tidak menanggapi. Dia malah tertunduk dan mulai memasang wajah sedih.
“Eh? Mira kamu ngangep omongan si Alan ini serius?”
Mira masih tidak menjawab. Dia benar-benar hanya diam tertunduk lesu. Setelah memejamkan matanya untuk beberapa saat, akhirnya Mira pun berbicara.
“Aku ngak tau percisnya gimana, tapi setiap kali aku melihat Laras, rasanya selalu ada perasaan aneh yang mengganjal.”
“Hmm? Aneh bagaimana?”
“Setiap melihatnya aku selalu merasa… sedih.”
Melihat wajah sendu Mira, Dian dan Ronny pun menjadi berubah serius. Mereka berdua memandang Mira dengan heran. Menunggu apa yang hedak dia katakan selanjutnya.
“Soal dia datang dari masa depan, aku belum berfikir sampai sana sih. Tapi kemarin, hari sabtu lalu… sebenernya aku sama Alan…”
“Mira, biar aku yang lanjutkan.” Potong Alan disertai pandangan heran Dian dan Ronny yang kini berpindah kepadanya. “Jadi kejadiannya seperti ini…”
Alan pun bercerita tentang semua yang terjadi pada hari dimana insiden hujan angin, seminggu yang lalu itu. Mulai dari bagaimana Laras dan Mira mengajukan tempat yang sama untuk bertemu, lalu tentang Laras yang menahannya berlama-lama di rumahnya, sampai dimana Laras muncul secara tiba-tiba dengan membawa tiga buah payung ditengah hujan yang teramat deras.
“Tunggu.” Ucap Dian. “Jadi, sabtu lalu kalian… Nge-date!? Astagaah!”
__ADS_1
“Please Dian, bukan itu poinnya!”
“Haha, iya-iya. Hmm, tapi memang beneran aneh sih itu si Laras. Oh iya, seminggu ini kan dia jadi jarang masuk. Jadi alasannya gara-gara kejadian ini toh.”
“Apa gue bilang...” Ujar Ronny sambil kembali pada pose Socrates-nya. “Sekarang lo percaya kan, kalau pesan itu adalah teka-teki yang gue persiapkan?”
Alan dan Dian langsung mendelik Ronny. Memerintahkannya untuk segera menghentikan tingkah bodoh yang sedang dia lakukan.
“So, sorry…” Ucap Ronny.
“Nah, itulah sebabnya aku mau minta bantuan kalian untuk menyelidiki hal ini.” Alan melanjutkan.
“Tapi gimana caranya?” Tanya Dian.
Mereka pun terdiam memikirkan bagaimana cara untuk menyelidiki Laras.
Sejak kejadian di Tanjakan Teduh seminggu yang lalu, Laras menjadi sering tidak masuk. Hanya dua kali saja dia hadir di kelas selama seminggu ini. Itupun karena pada kedua hari tersebut terdapat ulangan Sosiologi dan Matematika.
Disaat mereka tengah memutar otak, dari arah pos satpam, terdengar Pak Paryo berseru kepada mereka. Dia memberitaukan bahwasanya mereka diperintahkan untuk menghubungi Bu Susi —Wali Kelas mereka terlebih dahulu— sebelum pulang.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali kedalam sekolah untuk menemui Bu Susi di Ruang Guru. Mira dan Dian sudah beranjak terlebih dahulu dan disaat Ronny hendak mengikuti, Alan menepuk pundaknya lalu berbisik pelan.
“Ron, kalau ada sesuatu janggal yang kamu temukan, beri tau aku.”
Mendengar itu Ronny pun jadi berbinar. “Siap bos! Serahkan sama gue!”
***
Bu Susi memberi isyarat kepada Alan dan yang lainnya untuk masuk kedalam Ruang Guru ketika mereka sampai disana. Kemudian mempersilahkan mereka duduk didepan mejanya.
“Maaf ya ibu mengganggu perjalanan pulang kalian.” Kata Bu Susi “Jadi gini, Ibu pengen tanya sama kalian, apa kalian tau kabar mengenai Laras? Sudah satu minggu ini dia sering absen tanpa memberi keterangan.”
Mereka berempat saling bertatapan, lalu Dian menjawab dengan menggelengkan kepala.
“Begitu ya. Ibu jadi khawatir, belum pernah Laras absen sebelumnya apalagi sampai beberapa hari seperti ini.” Bu Susi lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Mereka berempat saling bertatapan lagi lalu menganguk satu sama lain.
“Iya bu boleh.” Jawab Mira.
“Gini loh Mir, Rencananya Ibu mau pergi kerumah Laras hari ini. Tapi kemungkinan Laras sedang tidak ada dirumah.” Terang Bu Susi. “Nah selagi ibu pergi ke rumah Laras, Ibu minta tolong, kalau kalian ada waktu sekarang sebelum kalian pulang, bisa ngak kalian mampir dulu ke rumah sakit buat menjenguk Aji?”
“Siapa tau Laras ada disana. Soalnya waktu Ibu menjenguk Aji kemarin, Ibunya Aji bilang. Katanya Laras selalu menjenguk Aji setiap hari.”
“Jadi, sekalian menjenguk Aji, kemungkinan kalian juga bisa bertemu Laras disana.”
Tanpa menunggu persetujuan dari yang lain Mira pun menjawab. “Baik Bu.”
“Makasih ya.” Sahut Bu Susi sambil tersenyum. “Nah sekarang Ibu minta kontak kalian, seandainya nanti kalian ketemu Laras disana tolong beri tau Ibu ya?”
Alan dan kawan-kawan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit ber-empat. Walaupun pada awalnya Ronny bersikukuh untuk tidak ikut, akan tetapi setelah dipaksa, akhirnya dia pun menurut. Kini mereka tengah menunggu bis di halte yang letaknya tidak jauh dari gerbang masuk sekolah untuk kemudian pergi menuju rumah sakit.
“Aji itu yang tempat duduknya didepan bangkumu kan, Alan?” kata Dian.
“Iya.”
“Aku belum pernah liat orangnya. Kalo kamu, Mir?” Lanjut Dian.
“Aji… Aku inget-inget lupa yang mana orangnya.”
“Eh, Bukannya kita satu kelas ya waktu kelas sepuluh?” Sahut Ronny.
“Hmm? Masa sih?”
__ADS_1
“Dari yang gue inget sih gitu. Eh tapi, iya gitu?” Lanjutnya. “Lo pernah liat orangnya, Lan?”
“Pernah satu kali, waktu awal-awal kelas sebelas. Tapi gak inget juga gimana rupa nya.”
Bis kota yang mereka tunggu pun tiba. Kemudian satu-persatu mereka menaiki bis itu lalu duduk di kursinya masing-masing,
“Eh kita ga perlu bawa apa-apa nih?” Tanya Dian.
“Kayaknya ga perlu. Dari yang kudengar katanya dia lagi coma. Jadi mau bawa apapun pecuma saja.” Alan menjawab.
“Be, bener juga sih. Seandainya beli buah-buahan atau makanan juga malah jadi aneh nantinya”
“Kita nanti mampir dulu ke toko bunga.” Potong Mira. “Kita bawa Anyelir.”
Sesampainya di rumah sakit, mereka berempat menanyakan kepada receptionist dimana letak kamar yang hendak mereka tuju. Lalu setelah mereka mengetahui letaknya mereka pun pergi kesana dengan menggunakan lift. Ditangan Mira terdapat rangkain Bunga Anyelir yang tadi sempat mereka beli dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Akhirnya mereka berempat pun sampai didepan kamar yang mereka tuju, kamar 307. Entah mengapa suasana tegang begitu terasa disaat mereka berdiri didepan pintu masuk. Mira mengetuk pintu itu dengan pelan, lalu membukanya dengan perlahan pula.
“Permisi.”
Mereka berempat masuk kedalam ruangan. Didalamnya terdapat seorang perawat yang kelihatanya baru selesai memeriksa pasien yang ada disana dan menyambut kedatangan mereka.
“Oh? Kalian pasti teman-temannya Aji. Silahkan-silahkan.” Ucapnya ramah. “Jarang-jarang loh ada yang nengok kesini selain Laras, iya kan Ji?”
“Tuh katanya, Aji bilang, makasih ya udah repot-repot datang kesini.”
“Nah, silahkan temen-temen, diajak ngobrol ya Aji-nya. Walaupun kondisi Aji gak sadarkan diri tapi sebenarnya dia masih bisa merasakan apa yang ada di sekitarnya.”
Mereka ber-empat melangkah mendekati ranjang rumah sakit yang terletak di pojok ruangan.
Terlihat seorang anak yang seumuran dengan mereka sedang terbaring disana. Tubuhnya terhubung dengan banyak kabel dan selang. Berbagai peralatan medis menyambung dengan tubuhnya yang kurus, memonitor setiap perkembannya dan menopang hidupnya.
“Ha, halo Aji perkenalkan namaku Dian…” Sapa Dian. “Kami datang untuk menjenguk mu.”
Hening. Tentu saja tidak akan ada jawaban.
Dian lalu mencolek Mira yang berdiri di sampingnya. Seakan memberi tanda padanya untuk ikut membantu. Namun tidak ada reaksi. Dian pun mencolek lagi.
“Mir.” Bisiknya.
Tetap tidak ada reaksi.
“Mi, Mira kamu kenapa?”
Saat Dian menoleh didapatinya Mira tengah meneteskan air mata. Satu demi satu air mata jatuh membasahi pipinya. Wajahnya tidak berekspresi dan pandangannya pun kosong. Namun air mata terus saja mengalir keluar dari matanya. Seperti tersadar Mira terlihat mengedip-ngedipkan mata.
“Eh? Loh kok?”
Sambil memegangi bunga anyelir yang dibawanya, Mira mengelapi pipinya dengan ujung pakaiannya. Tetapi air mata terus saja keluar tak henti-hentinya membanjiri wajahnya.
“Kenapa tiba-tiba, Aku…”
Mira mulai terisak, air matanya yang terus-menerus keluar tak dapat lagi terbendung. Entah darimana kesedihan datang merasuki dirinya. Wajahnya memerah, matanya yang besar bagaikan sumber mata air deras yang tak ada habisnya mengeluarkan air mata. Bukankan sudah kukatakan berulang kali, menangis sangat tidak cocok untuk wajahmu, Mira.
Dian yang ada disampingnya mengusap-usap punggung Mira sambil memberikan tissue kepadanya. Sesekali dia memeluk Mira dan membisikan sesuatu agar Mira kembali tenang.
Alan dan Ronny hanya bisa saling menantap dengan wajah bingung. Kemudian Ronny menelisik sebuah papan yang terletak di sisi ranjang yang ada didepanya.
Terdapat sebuah nama disana. Sebuah nama yang tidak asing. Nama yang sering kali aku dengar. Ya, nama itu adalah namaku.
“Oh iya! Aji… Rizky Triaji! Dia absennya diatas nama gue waktu kelas satu!” Dan akhirnya Ronny pun teringat.
Ronny kemudian secara perlahan menoleh kebelakang menatap tepat kearah dimana aku berada. Maksudku bukan kearah dimana ragaku sedang terbaring, tapi kearah... ya kearahku. Aku sampai tidak tega menggambarkan bagaimana ekspresinya saat memandangku kali ini. Wajahnya benar-benar tidak karuan.
__ADS_1
Sesaat kemudian terdengar pintu kamar terbuka. Laras masuk dan sangat terkejut dengan apa yang ditemukannya. Seketika dikeluarkannya raut wajah itu, raut wajah yang sudah sangat kukenal. Raut wajah dingin sedingin es. Kemudian, hanya ada satu kata yang terdengar setelahnya.
“Keluar!”