
Begitulah yang terjadi pada Hari Wiwitan. Sebuah hari sakral dimana semuanya bermula. Karena pada hari itu merupakan titik awal dimulainya perjalanan waktuku kembali ke masa lalu bersama Laras.
Masih teringat jelas didalam ingatanku ketika aku terbangun di kamar tidurku dengan perasaan yang tidak menentu. Suara dari jam weaker disamping kasur membuat kamarku menjadi gaduh dan tidak nyaman. Aku pun segera mematikannya lalu meringkuk kembali kedalam selimut. Tapi kemudian terpampang sosok Laras yang kulitnya mengkilap dibawah sinar rembulan tadi malam. Mataku langsung terbuka dan sontak tubuhku pun terbangun. Kali ini benar-benar bangun. Aku berdiri disamping kasurku dengan nafas yang terengah-engah seperti orang linglung.
“Apa semua itu cuma mimpi?” Pikirku.
Kulihat bayangan diriku di cermin yang berada disamping kasur. Pakaian yang kupakai jelas berbeda dengan apa yg kupakai sebelumnya. Bahkan panjang rambutku pun berbeda. Lalu cepat-cepat kuambil ponselku yang berada diatas meja belajar dan kuperhatikan tanggal yang tertera disana. 31 Januari.
Benarkah aku telah kembali ke masa lalu? Aku pun berlari keluar kamar untuk memastikannya. Lalu kudapati adikku yang sedang sarapan di meja makan menyapaku dengan hangat.
“Oi kebluk! Akhirnya bangun juga.”
Ya seperti itulah adik perempuanku, imut dan menggemaskan. Saat ini dia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Mungkin kau jadi teringat, Laras pernah sekali menyebutkan namanya. Ya, tepat sekali! Namanya Ami.
Kualihkan pandanganku kearah televisi yang menyala di ruang keluarga. Disana terdapat siaran berita pagi dari TV nasinoal yang tengah membahas fenomena gerhana bulan yang terjadi semalam. Dikatakannya bahwa gerhana bulan semalam merupakan gerhana bulan total yang langka terjadi dan baru terjadi lagi semenjak kemunculannya pada 38 tahun yang lalu. Gernaha bulan itu disebut dengan fenomena “Super Blue Blood Moon”.
Tunggu, aku pernah mendengar istilah itu sebelumnya —tentu saja dari siaran berita pagi seperti ini. —Siaran itu pun melanjutkan penjelasannya, disana dikatakan bahwa nanti pada tanggal 28 Juli, juga akan terjadi fenomena gerhana bulan yang tidak kalah langka dan istimewanya dengan yang terjadi semalam. Bahkan disebutkan bahwa gerhana pada tanggal 28 Juli nanti akan menjadi gerhana paling istimewa abad ini. Karena proses gerhana bulan berlangsung bersamaan dengan posisi parihelik Mars, sebuah peristiwa yang terjadi setiap 25.000 tahun sekali.
Jika kau pernah mengalami sesuatu yang dirasa pernah dialami sebelumnya, tentu kau akan bekata, “Ah Déjà vu”. Akan tetapi dalam kasus-ku kala itu, aku bahkan tidak bisa berfikir bahwa apa yang tengah terjadi dihadapanku adalah sebuah kenyataan. Karena dengan semua hal yang sudah kualami bersama Laras malam itu, aku merasa seperti seluruh dunia sedang memainkan sandiwara besar dan mencoba mengelabuiku.
Aku pun terhenyak, menyaksikan berita pagi yang narasinya serta pembawaannya pernah kusaksikan sebelumnya. Akan tetapi meskipun sebuah bukti kuat telah terpampang didepan mataku, aku perlu sesuatu yang lain yang dapat meyakinkanku dengan pasti.
Segera saja aku belari menuju pintu atap rumahku. Lalu, sambil berhambur membuka pintu atap, aku pun terkejut dengan apa yang kutemukan. Disana kulihat Ami sedang bermain kembang api.
Tidak ada yang aneh, jika saja bukan aku sendiri lah yang membeli kembang api itu sebelumnya. Tidak ada yang aneh, jika saja aku lupa bahwa Mira, Dian, Laras dan Ronny pernah berada disana memandangi gerhana bulan super biru darah bersamaku. Tidak ada hal yang aneh, jika saja aku belum pernah menyaksikan kejadian yang sama percis seperti ini sebelumnya.
Tidak percaya dengan apa yang kulihat, aku pun mendekatkan diriku untuk menyentuh Ami dan memastikan bahwa dia benar-benar nyata.
“Stop! Jangan mendekat bau! Hush hush!”
Ami menghentikan langkahku yang kian mendekatinya layaknya seekor kucing yang hendak diambil makanannya.
Disaat bersamaan kudengar ponselku yang sedari tadi kupegang kini berdering. Terdapat panggilan masuk dari Laras disana. Dengan tergesa-gesa kuangkat ponselku dan langsung berbicara.
“Laras! Ini… itu…!”
“Udah, gue tau apa yang ingin lo katakan, Aji.”
Luar biasa memang Si Kuncir Dua ini, padahal aku sendiri pun tidak tau ingin berkata apa saat itu.
“Sekarang buruan lo kesini! Gue tunggu lo didepan sekre.”
Yang dimaksud Laras adalah Ruang Sekertariat Club IT yang letaknya tepat diatas tangga yang jarang digunakan siswa. Kami berdua memang anggota dari Club IT tersebut.
“Dan inget, jangan pernah berpikir untuk bicara sama siapa pun.” Tambahnya.
Aku segera berganti pakaian dengan seragam sekolah lalu menggosok gigiku dengan cepat kemudian menyisir rambutku yang berantakan. Belum pernah aku sepatuh ini terhadap perintah Laras sebelumnya sampai-sampai aku melewatkan mandi pagi agar aku bisa secepat mungkin bertemu dengannya.
Ketika sampai di sekolah, aku segera memarkirkan matic-ku di lapangan parkir. Kemudian dengan cepat aku langsung berlari menuju gerbang masuk melewati pos Pak Paryo. Karena waktu itu Januari, maka sudah selayaknya setiap hari turun hujan entah itu siang ataupun malam. Di gerbang sekolah dimana aku sedang berlari kala itu, terdapat beberapa genangan air di jalanan aspalnya yang tidak rata.
Aku memang tidak memperhatikan jalan karena sedang tergesa-gesa dan pandangaanku pun tertutup oleh siswa-siswi yang sedang ramai berjalan masuk. Akhirnya secara tidak sengaja aku menginjak genangan air didepanku setelah aku melewati seorang siswa. Airnya menyiprat sampai ke pinggang siswa tersebut dan meninggalkan bercak noda disana.
“Ah sorry-sorry, gue gak sengaja.” Ucapku saat itu juga.
__ADS_1
Apa yang kulakukan tentu akan membuatnya marah. Namun tidak hanya itu, karena dari apa yang kurasakan, aku bukan hanya membuat korbanku saja yang marah. Melainkan semua orang yang ada di sekelilingku menjadi ber-aura tidak menyenangkan. Kurasakan teror dari pandangan disekelilingku, menghakimiku sebagai seorang public enemy. Mengapa? Tentu saja, karena korbanku saat itu tidak lain adalah sang idol sekolahan. Mira!
“Woi kampret! Liat-liat dong kalau jalan.” Dian yang ada disebelah Mira memarahiku.
Aku tidak memperdulikannya dan hanya terpana kearah korbanku yang sedang mengelapi seragamnya yang kotor dengan tissue. Dia ada disana, berdiri dihadapanku, tanpa kurang sesuatu apapun. Dia hidup!
Tanpa kusadari tubuhku mendekat kearahnya dengan perlahan sambil terus memandanginya lekat-lekat. Lalu begitu saja kupegang kedua bahunya. Aku sempat melihatnya terpekik saat itu. Tapi kemudian tanpa memperdulikan keadaan sekitar, aku pun memeluk tubuhnya. Erat.
“Gyaaaah!”
Seketika Dian berteriak histeris, lalu sejurus kemudian dia mendorongku dengan kuat sambil memisahkanku dengan Mira. Aku pun tersungkur ke belakang dan seseorang menangkap tubuhku dari sana. Tanganya mencengram pundakku dengan keras sekali sampai-sampai aku merasa linu.
“Heh Aji, lo bosen idup ya?”
Aku tau siapa dia. Seorang siswa dengan tubuh yang dipenuhi otot besar. Matanya selalu terlihat seperti mau keluar. Melotot.
“Bentot?!” Ronny pun memotong ceritaku ketika sampai disini.
Ya benar sekali, dialah Si Bentot. Beni-Otot.
Disamping kanan dan kiri Bentot terdapat dua orang siswa lain yang tidak kalah menyeramkannya. Mereka adalah keroconya Bentot. Kulihat kedua keroco itu sedang meregangkan punggung dan membunyakan jari-jari tangan mereka.
“Tunggu!” Tiba-tiba kudengar Mira memanggil. “Dia… dia temenku.”
Mendengar itu, akhirnya Bentot melepaskan cengkramannya dari pundakku lalu membiarkan tubuhku menggelosor diatas aspal. Setelah menganguk kepada Mira, dia bersama kedua keroconya pun pergi sambil memberiku pandangan melototnya sebagai sebuah peringatan.
Dengan ragu-ragu Mira menghampiriku yang terduduk di jalan. Langkahnya maju mundur antara pergi atau tidak. Mungkin dia menjadi takut karena aku memeluknya tadi.
“Harusnya kamu biarin aja tadi, Mir.” Dian berbicara.
“Ayok Mir, kita bersiin dulu seragam-mu.” Dan akhirnya mereka berdua pun meninggalkanku.
Ingin rasanya aku mengejar Mira kala itu dan menanyainya dengan berbagai macam pertanyaan yang muncul di pikiranku. Akan tetapi aku teringat dengan perintah Laras dan segera berlari lagi untuk menemuinya di depan Sekre Club IT.
Sesampainya di lantai dua, Laras sudah menungguku disana. Dia duduk di bangku panjang yang ada didepan sekre. Dan disaat dia menyadari kehadiranku, dia menggerakan telunjuknya dan menyuruhku untuk duduk disampingnya.
“Apa lo bicara sama orang lain sebelum sampe disini?” Dia bertanya.
“Enggak.”
Dan plak! Dia pun menamparku dengan punggung tangannya. Sangat pelan sebenarnya, aku bahkan tidak merasakan sakit sedikitpun. Tapi yang membuatku bergidik adalah sorot mata dingin yang tengah dia hujamkan kepadaku.
“Peraturan pertama; Jangan pernah sekali pun lo bohong sama gue.”
Aku masih terperanga melihat kearahnya. Sedangkan dia kini naik keatas kursi panjang lalu berpangku tangan di tembok pembatas balkon. Sambil melihat siswa-siswi yang berjalan di lapangan tengah sekolah, dia pun mulai ber-petuah tentang aturan-aturan lainnya yang harus ku ikuti.
Kami berbincang disana sampai bel masuk berbunyi. Selama perbincangan, Laras selalu menekankan bahwa kewajibanku disini adalah menyelesaikan urusanku dengan Mira dan membuat hubunganku dengannya menjadi lebih baik.
Selain itu dia juga mengakatan bahwa hanya kami berdua lah yang membawa kembali memori dari masa sebelumnya. Namun seseorang selain kami dapat pula membawa ingatannya mengenai sesuatu hal, apabila hal itu merupakan pengalaman yang sangat berpengaruh terhadap emosinya, sehingga tertanam dengan kuat di alam bawah sadarnya. Jadi seandainya nanti kutemukan seseorang yang seakan-akan “menyadari” perihal terulangnya alur waktu, aku harus tenang dan tetap menjaga rahasia.
Terakhir, dia berpesan kepadaku untuk selalu melaporkan apapun yang terjadi kepadanya —tentu saja tanpa berbohong— dan selalu mengikuti perintahnya ketika kami menjalani perjalanan waktu.
Sebelum kami menyudahi pembicaraan dan beranjak menuju kelas, kusempatkan bertanya kepadanya mengenai hal yang paling mengganjal didalam pikiranku kala itu. Mengenai kematian Mira. Apakah hal itu benar-benar tidak dapat dirubah? Maksudku, kita bisa memutar balik alur waktu sekarang. Tidak kah ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk merubahnya?
__ADS_1
Laras pun menghentikan langkanya. Lalu dengan tetap berdiri membelakangiku dia berkata.
“Gue pikir lo udah ngerti dengan tujuan kita, Aji. Harus berapa kali gue ulang penjelasan gue biar lo paham, huh?”
Aku tidak dapat melihat ekspresinya karena dia membelakangiku.
“Kalau dengan rentang waktu selama enam bulan kedepan nanti lo rasa belum cukup waktu buat lo habiskan bersama Mira, gue bisa mengulangnya lagi sebanyak apapun yang lo mau. Puluhan kali, ratusan, bahkan ribuan kali pun akan gue kasih buat lo. Sampai lo puas!”
Laras berbalik dan menatapku dingin.
“Jadi, fokus sama tujuan lo kesini dan jangan buang waktu lo dengan hal-hal percuma seperti mikirin cara buat menyelamatkan Mira.”
Aku sangat ingin mendebatnya kala itu. Akan tetapi aku terlanjur terlalu mengenalnya. Jika dia sudah seperti itu, lebih baik aku menurutinya daripada berakhir dengan ledakan amarah yang nanti bisa saja keluar.
“Paham, Aji?”
“Ya.” Kali ini aku harus menjawabnya. Tentu saja.
***
Diawal aku sempat menyebutkan bahwasanya Hari Wiwitan adalah hari dimana semua bermula dan disini, dapat kukatakan juga bahwa Hari Wiwitan adalah hari dimana semuanya berakhir.
Karena sesungguhnya, hingga kini alur waktu belum pernah benar-benar kembali bergulir setelah hari itu. Belum pernah kujumpai “keesokan harinya” setelah malam gernaha bulan pada tanggal 28 Juli itu. Aku dan Laras selalu mengulang kembali alur waktu jika kami sampai disana. Menjebak diri kami sendiri didalam putaran roda waktu yang tidak ada habisnya.
“What the fa…” Umpat Ronny ketika aku selesai dengan ceritaku. Kulihat dia sudah mematung dengan kedua tanganya yang memegangi kepala.
“Jadi, sampai sekarang alur waktu masih terus terulang?!”
“Ya.”
“Fak! Jadi itu alasanya Laras bisa bawa tiga payung sekaligus waktu Alan sama Mira jalan minggu lalu. Karena dia udah tau semua hal yang bakal terjadi?!”
Wow aku terkesan karena bocah ini bisa menyimpulkannya sendiri tanpa harus kuterangkan. Nampaknya selama ini aku terlalu meremehkannya.
“Tapi tunggu.” Lanjutnya. “Itu belum ngejelasin kondisi lo yang coma sekarang ini. Terus soal pesan aneh yang dikirim Laras ke Mira, itu maksudnya apa? Apa tujuan dia yang sebenarnya?”
Kualihkan pandanganku ke jalanan yang masih cukup ramai dengan berbagai kendaraan yang melintas. Menerawang kedalam ingatanku tentang semua hal yang sudah terjadi sampai saat ini. Memikirkan tetang jawaban dari pertanyaan Ronny.
“Gimana kalau nanti aja gue lanjutin ceritanya.” Jawabku. “Sekarang udah kemaleman Ron, mendingan lo pulang dulu deh.”
“Eh kenapa? Masih jam sembilan kok, belum malem banget.”
Aku tidak menjawabnya dan hanya diam mengamati kendaraan berlalu-lalang. Tidak terasa ternyata sudah tiga jam aku bercerita kepadanya.
“Yaudah pas kita ketemu lagi nanti, lo harus ceritain lanjutannya.” Dia pun beranjak.
Ronny sudah berdiri di trotoar untuk menunggu bis berikutnya yang datang. Beberapa kali dia menoleh kearahku yang masih berada di halte. Sepertinya dia masih sangat ingin melanjutkan obrolan bersamaku.
“Bro, sebelum gue pergi, ada hal yang pengen gue tanyakan.” Ujarnya. “Sampai sekarang, sudah berapa kali sebenernya alur waktu terulang?”
Nah kan, lagi-lagi bocah ini membuatku terkesan dengan pertanyaanya. Aku jadi penasaran, sudah sejauh mana dia memproses informasi yang kuberikan dari ceritaku.
“Tujuh kali.” Jawabku. “Eh, hmm… iya deng. Tujuh kali.”
__ADS_1
Ronny pun terperanga, sontak saja dia berbalik badan kembali menghadap halte. Akan tetapi saat itu aku sudah tidak berada disana.