Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 21: Predestination


__ADS_3

Aku masih terpaku menatap Bu Mustika yang duduk di kursi kemudi di depanku. Ucapannya terus saja menggema dalam benakku, meninggalkan jejak rasa pahit setiap kali terngiang. Mengapa dia berbicara begitu? Apa yang dia inginkan?


Setelah sekain waktu berlalu, kami hanya saling beradu tatap tanpa ada seorang pun yang bicara. Hingga akhirnya kulihat Bu Mustika menarik nafas dan terpejam, lalu melanjutkan.


"Kamu percaya akan adanya takdir?" Dia kembali bertanya.


Aku terhenyak. Segera saja aku mulai paham kemana arah pembicaraan ini. Aku mulai mendapat gambaran, mengapa Bu Mustika menyebut mata kami adalah mata yang hanya di miliki seseorang yang sudah begitu banyak menyaksikan kematian.


"Ya, Ibu pikir tidak mungkin kalau kamu tidak percaya takdir. Bahkan kamu, seharusnya, adalah orang yang paling percaya akan adanya takdir."


"Ibu pun demikian," lanjutnya sambil memandang langit dari jendela mobil. "Karena seluruh alam semesta ini memang sudah ada peran dan jalannya masing-masing, Aji. Setiap helai daun yang jatuh, setiap buih yang timbul di lautan, semuanya berjalan mengikuti takdirnya masing-masing."


Dia pun mendekat. Begitu dekatnya sampai aku dapat mencuim wangi parfumenya.


"Begitu juga dengan pertemuan mu dengan Ibu hari ini. Ibu merasa semuanya ini memang sudah digariskan. Bukankah demikian, Aji?"


"Ya. Tentu saja." Jawabku singkat.


"Nah Aji, kamu anak yang cerdas. Ibu rasa, Ibu tidak perlu lagi menjelaskan kemana arah pembicaraan ini bukan?"


Aku melihat ke arah Ronny yang wajahnya kini sudah mengkerut. Kurasa dia benar-benar bingung dengan keadaan saat ini.


Tapi diriku, tentu saja aku sangat mengerti apa yang sedang dibicarakan Bu Mustika dan karenanya, saat ini, kurasakan sayatan emosi di dalam diri. Membuat rongga hatiku seperti terbuka lalu menumpahkan semua isi di dalamnya. Perih. Hampa.


"Ibu sangat ingin membantumu Aji, percayalah. Tapi sebelum itu, Ibu minta kamu menceritakan semua ceritamu dulu sampai selesai. Supaya Ibu bisa sepenuhnya yakin, siapa yang harus Ibu bantu. Kamu atau Laras."


Aku hanya terperanga mendengarnya bicara seperti itu.


"Sebenarnya, apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini? Tujuh kali alur waktu terulang, itu sudah banyak sekali, Aji. Hal apa yang menyebabkan kalian terus saja mengulang alur waktu?"


Lagi. Aku pun merasakan hal itu, kesedihan. Seketika kurasakan adanya perubahan pada wujud rupaku. Entah seperti apa wujudku sekarang. Apakah aku kembali menangis darah seperti saat di depan Lab Fisika sebelumnya? Entahlah, mungkin saja.


"Saya rasa..." Kudengar suaraku berubah lirih. "Ibu sudah tau jawabannya."


"Mira?" Sahutnya.


Saat itu juga seluruh benda yang ada di dalam mobil mulai bergetar, secara perlahan kemudian kencang. Ketiga buah wiper di kaca mobil jadi menegang, bahkan salah satu diantaranya sampai terhempas jauh. Terdengar suara gemuruh, berdecit, dan retakan disana sini. Seluruh pintu mobil pun terbuka dan kini mobil sedan Bu Mustika sudah berguncang sangat hebat tak terkendali.

__ADS_1


Ronny terjatuh keluar mobil, kemudian lekas saja dia berlari masuk ke dalam rumah.


Namun, kulihat Bu Mustika masih tetap diam di tempatnya. Memandangku dengan wajah tenang dan sedikit senyuman di sudut bibirnya. Ditengah kekacauan yang terjadi saat itu, kulihat wajahnya tak sedikitpun menunjukan kesan takut. Dia bahkan tidak terlihat ragu sedikitpun.


Sambil tetap tersenyum kepadaku dia pun menjulurkan tangannya hendak meraihku. Tapi tentu, hanya tembus begitu saja.


"Tidak apa-apa, keluarkanlah, semuanya."


Kali ini kulihat dia pun mulai menitikan air mata.


"Menangislah, Aji. Menangislah sebanyak apapun yang kau mau."


***


 


Sekarang aku sudah berada di teras rumah Ronny. Memperhatikan sepasang cicak di dinding yang sedang berkejaran. Teras rumah Ronny bisa dibilang cukup luas dengan satu buah kursi kayu panjang dan tiga buah kursi kayu lainnya untuk satu orang. Aku duduk di kursi panjang bersama Bu Mustika sedangkan Ronny di kursi yang berbeda, yang letaknya disamping Bu Mustika.


Sebelumya, Bu Mustika lah yang membawaku kesini. Setelah semuanya mereda dan aku pun sudah dapat mengendalikan diri, akhirnya Bu Mustika menuntunku masuk kesini.


Tentu saja dia terkejut awalnya karena telah berhasil menyentuh tanganku. Apalagi aku! Kau tau bukan betapa kagetnya aku saat itu. Untuk pertama kalinya aku dapat merasakan sentuhan sesuatu atau seseorang pada wujudku. Pada saat itu pula lah aku benar-benar merasakan bahwa diriku ini sejatinya memang memiliki bentuk wujud layaknya tubuh manusia pada umumnya. Ya, setidaknya dapat kurasakan bahwa aku ini mempunyai tangan.


"Wah," Bu Mustika terpana memandangi telapak tangannya sendiri. "Ibu beneran ngak nyangka loh, Ji. Tadi itu kita benar-benar bersentuhan. Coba sini Ibu pegang lagi!"


Dia menjulurkan tangannya meminta tanganku. Kemudian aku pun memberikannya.


"Hii!" Dia pun bergidik saat menyentuhnya. Tapi matanya menunjukan betapa telitinya dia mengamati tanganku itu.


Melihatnya yang dengan aneh memain-mainkan tanganku, aku pun sempat terbesit untuk menakut-nakutinya dengan berteriak. Tapi perasaanku saat ini sedang tidak mendukung. Masih kurasakan gamang dan gelisah sisa luapan emosi yang baru ku keluarkan tadi.


"Hey, Ronny kamu coba juga deh pegang tanggan Si Aji ini. Dingin banget!"


"Ha, haha... Ronny kayaknya mending ngak usah deh, tante. Haha."


Ronny meringkuk di atas kursi kayu disamping Bu Mustika. Sejak dia membukakan pintu saat aku dan Bu Mustika datang, Ronny masih saja terlihat ciut. Terlihat sekali dia sangat menjaga jaraknya dariku.


"Udah sini! Mana tangan kamu!" Bu Mustika pun menarik tangan Ronny. Dia sempat berontak tapi akhirnya menyerah karena terus dipaksa.

__ADS_1


"Oh."


Disaat Bu Mustika meletakan tangan Ronny di atas tanganku ternyata dia hanya tembus begitu saja.


"Loh kok ngak bisa?" Tanya Bu Mustika.


"Haha..." Ronny meringis.


"Mungkin karena kamu takut sama Si Aji kali, jadinya kamu ngak bisa nyentuh dia."


"Huh, tante apaan sih? Ngak mungkin lah Ronny takut sama... anak ini... Haha!  Kita kan teman, iya ngak, Ji?"


Kuberi dia senyum terbaik yang dapat kulakukan. Mengingat dia baru saja menyebutku sebagai temannya.


"Hmm, kalo bukan karena kamu takut, ya berarti karena kamu belum percaya sepenuhnya sama Si Aji, makannya kamu ngak bisa nyentuh dia."


"O, ooh..." Ronny melirik setengah iba terhadapku.


"Tapi mungkin... mungkin saja, setelah Aji melanjutkan ceritanya sekarang. Kamu juga bakal bisa menyentuhnya." Lanjut Bu Mustika sambil tersenyum ramah terhadapku. "Kau bisa gunakan waktumu, Aji. Seandainya kamu masih belum bisa menceritakannya sekarang, masih ada esok atau lusa."


Kualihkan pandangan pada meja bundar di depanku. Disana terdapat tiga buah minuman sirup. Si Bocah Bodoh Ronny tetap memberiku suguhan meskipun jelas aku tidak akan mungkin bisa meminumnya.


Ah, perasaan hangat seperti ini sudah cukup lama aku tidak mendapatkannya. Tiga kali perjalanan waktu terakhir, kujalani dalam kondisiku yang seperti ini. Sendiri. Membuatku lupa betapa bahagianya mendapatkan perhatian dari orang lain. Dan sepertinya kini, takdir telah membawaku kepada mereka berdua untuk mengingatkanku kembali akan perasaan hangat ini.


"Takdir memang hal yang paling mengerikan." Gumamku. "Baiklah, akan saya lanjutkan ceritanya. Kali ini Ibu ingin mendengar saya menceritakan alasan saya dan Laras terus saja mengulang alur waktu bukan?"


"Ya, hanya jika kamu siap." Jawabnya.


"Saya siap. Lagi pula cepat atau lambat saya memang harus menceritakan ini..."


Kupandangi wajah mereka satu-persatu sebelum melanjutkan.


"Baiklah, cerita kali ini cukup panjang. Saya harap kalian siap."


Sambil menatap langit sore yang penuh awan, aku pun memikirkan tentang semua yang sudah terjadi pada keempat perjalanan waktuku yang pertama.


"Cerita kali ini saya beri judul..."

__ADS_1


__ADS_2