
Aku sudah mengenal Mira sebelum orang-orang menobatkanya sebagai idol di sekolah. Saat masih kelas sepuluh, tempat duduk-ku berada tepat dibelakang bangkunya. Selama satu tahun penuh memandangi punggungnya disana, sudah cukup buatku untuk mengenali bentuknya dengan sangat terperinci. Tidak akan kupungkiri bahwa itulah tahun terindah yang pernah kualami. Hari-hari dimana kutau bahwa Mira akan menyambutku setiap pagi disekolah dengan senyumnya yang hangat, menjadi bagian penting didalam hidupku yang tak akan pernah terganti.
Semua bermula ketika aku sedang melakukan sedikit lawakan receh dengan seorang murid jangkung yang duduk di samping bangku, namanya...
"Gue?" Ronny menyela.
"Iya itu elo, Ron. Lo temen pertama gue di sekolah." Jawabku.
Waktu itu mungkin antara hari kedua atau ketiga kami bersekolah di SMA Tunas Bangsa. Disaat aku selesai dengan lawakanku, kudengar Mira terkikik dibangkunya namun segera kembali menjaga sikap ketika aku menoleh kearahnya.
Kulakukan saja pola ini berulang-ulang disetiap ada kesempatan. Hingga akhirnya pada suatu waktu Mira tidak dapat lagi menahan tawa dan akhirnya dia pun ikut tertawa bersamaku dan Ronny kala itu. Sambil memegangi perutnya, dia berkata.
“Kamu lucu.”
Dari sana lah keakraban kami dimulai, lalu Dian yang bangkunya berada disamping bangku Mira menjadi bagian dari kami tidak lama setelahnya. Atau mungkin aku dan Ronny lah yang sebenarnya menjadi bagian dari mereka.
Kami berempat sering menghabiskan waktu bersama baik didalam maupun diluar sekolah. Saat itulah untuk pertama kalinya Mira dan yang lainnya berkunjung kerumahku. Ketika kuperlihatkan berbagai jenis bunga yang ada di kebun belakang rumah kepadanya, Mira langsung tertarik. Lalu semenjak itu juga lah aku mencocokan dirinya dengan bunga kecil berwarna kuning cerah itu. Buttercup.
Waktu itu Mira belum aktif di berbagai macam keorganisasian, jadi dia masih punya banyak waktu luang sepulang sekolah. Orang-orang mulai mengenalnya ketika kami naik kelas sebelas, setelah Mira mulai ambil bagian di berbagai kegiatan OSIS dan eksul bulutangkisnya. Maka sejak itu dikenal lah dia sebagai “Mira sang idol”.
Karena hubungan kami yang sudah sangat dekat, pernah suatu hari aku menjahili Mira dengan karet gelang bekas bungkusan makan siangku. Sambil membidiknya dengan benar, kuarahkan karet gelang itu ke punggung Mira yang duduk didepanku. Kutarik-tarik karet gelang itu dengan kuat agar membuatnya lebih meregang. Akan tetapi tanganku terpeleset ketika melakukannya dan akhirnya karet itu pun meluncur dengan gaya pegas maksimal. Terpental tepat ke bagian tengah punggung Mira.
Suara jepretannya terdengar keras sekali, sampai-sampai membuat seisi ruang kelas terdiam. Aku sendiri pun kaget dibuatnya karena niat awalku hanya menggangu Mira sedikit saja bukan melukainya.
Mira pun merintih kesakitan sambil memegangi punggungnya yang menjadi landasan karet gelangku. Tangannya mengusap-usap area itu seperti orang tua yang sedang sakit encok. Belum sempat aku meminta maaf kepada Mira, kudengar Dian berseru kearahku.
“Bocah tengik! Berani-beraninya kamu narik BH Mira huh?!” Dan sontak seisi ruang kelas pun menjadi chaos.
Aku memang gemar menjahili Mira. Hal-hal seperti memain-mainkan ujung rambutnya yang tergerai kebelakang, meniup pelan telengkup lehernya sehingga dia terpekik, atau bahkan menggunakan pensilnya yang kupinjam untuk mengupil adalah hal yang sering aku lakukan kepadanya. Tentu saja hal itu kulakukan karena memang kami sudah sangat dekat. Sehingga Mira tidak pernah benar-benar marah ketika kujahili. Mungkin karena inilah Dian menganggapku “tidak sopan” kepada Mira dan selalu memasang wajah waspada ketika aku berada di dekatnya.
__ADS_1
Aku memang gemar menjahili Mira, akan tetapi hal itu kulakukan bukan semata-mata karena aku orang yang jahil. Hanya saja kupikir, hanya dengan cara inilah aku bisa mendapatkan perhatiannya.
Namun dari sekian banyak hal yang dapat menggambarkan kedekatanku dengan Mira, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku menyadari bahwa sebenarnya Mira hanya menganggapku sebagai seorang sahabatnya yang jahil dan jenaka. Tidak lebih. Tidak sepertiku yang memandangnya sebagai wanita yang menjadi tujuan hidupku semenjak itu.
Lalu, ketika kami mengakhiri masa belajar kami di bangku kelas sepuluh, akhirnya semuanya pun menjadi jelas. Sebelum bel masuk berbunyi ketika kami sedang dalam minggu ujian akhir kenaikan kelas, Mira tiba-tiba mengajakku untuk bertemu di depan sekre Club IT. Waktu itu dia berkata.
“Aji, emm… Aku boleh cerita gak sama kamu?”
“Eh? Apakah gerangan yang sedang menggangu pikiranmu saat ini wahai Buttercup? Sampai engkau harus memintaku untuk berjalan ratusan mil seperti ini.”
"H, heee..." Kuliat dia tidak bereaksi seperti biasanya terhadap banyolanku. Jadi kuputuskan untuk menyudahi tingkahku yang menjijikan itu. Saat itu kupikir dia sedang menghadapi masalah serius seperti masalah keluarga mungkin.
“Aji, aku mau cerita nih, sama kamu. Tapi kamu harus janji dulu ga akan bilang ke siapa-siapa, ya? Terutama Dian.”
“Kenapa emangnya sama Dian?”
“Pokoknya jangan!” Dia jadi sedikit panik.
“Janji?”
“Iya janji.”
Mira mengumpulkan keberanian terlebih dahulu dengan mengatur nafasnya sebelum dia mengutarakan rahasia yang dia miliki.
“Aku… aku lagi suka sama seseorang.”
Deg! Jantungku seolah berhenti. Kurasakan ulu hatiku seperti diremas. Terlintas dibenakku bahwa seseorang yang dimaksudnya adalah aku. Akan tetapi rasioku merembas memenuhi kepalaku, mengingatkanku bahwa tentu saja yang dimaksudnya bukanlah aku.
“Kamu inget kan waktu itu aku pernah cerita kalo aku suka terjebak hujan ketika perjalanan pulang dari sekolah?”
__ADS_1
Ah cerita yang itu. Pikirku.
“Nah aku juga cerita kan, kalau disana ada siswa yang juga kebetulan ikut terjebak hujan bersamaku? Belakangan ini aku sama dia sering terjebak hujan disana, di Tanjakan Teduh."
“A, aku belum tau sih siapa namanya, tapi aku pernah liat dia ada di kelas sepuluh dua. Dari penampilannya, sepertinya dia anak yang baik… Bagaimana menurutmu Aji?” Mira terlihat gelisah.
Apa yang Mira katakan selanjutnya tidak dapat kudengar dengan baik. Seperti hilang begitu saja terbawa angin yang berhembus. Didalam pikiranku masih terngiang-ngiang ucapannya yang mengatakan bahwa dia menyukai seseorang dan itu bukanlah aku.
“Aji!” Suara Mira membuatku tersadar akan sebuah kenyataan yang tengah kuhadapi.
“Jadi, cowok yang terjebak hujan bareng lo itu… orang yang lo suka?”
Mira menganguk sambil memegangin kedua pipinya yang merona.
“A, aku juga gak tau kenapa aku bisa suka sama dia tapi, belakangan ini aku selalu kepikiran dia. Kenapa ya? Aku juga bingung… Semakin aku coba untuk gak mikirin, tapi aku malah makin kepikiran jadinya.”
Cukup Mira.
“Padahal sebenarnya kami belum pernah berbicara sama sekali waktu terjebak hujan disana. Bahkan saling menyapa pun tidak. Tapi gak tau kenapa rasanya… aku deg-degan kalau ada dia.”
Hentikan.
“Mungkin, ini ya yang namanya cinta pada pandangan pertama ya? Hihi.”
Sial.
“Ini… ini pengalaman pertamaku suka sama seseorang, makanya… Makanya Aji, aku perlu saran dari kamu! Sebaiknya apa yang harus aku lakukan?”
Itulah kali pertama aku mengenal suatu perwujudan perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Patah hati. Sebuah istilah yang sebelumnya hanya kudengar dari film-film dan lirik lagu cinta, kala itu dapat kurasakan sendiri seperti apa rupanya dia.
__ADS_1
Kurasakan seolah sesuatu sangat berharga yang kumiliki kini telah terenggut dari genggamanku. Hati Mira kini telah dimiliki orang lain. Sedangkan hatiku, tentu tidak akan bisa menerimanya. Namun aku harus membiasakan diri. Karena kedepannya, perasaan inilah yang akan selalu mewarnai hari-hariku bersama Mira.