Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 29: Laras's Reason (Part II)


__ADS_3

Kurang lebih setengah perjalanan telah aku lalui. Saat ini aku sudah berada di jebatan Sungai Kalawar, sungai terbesar yang ada di Pulai Lembari yang jika aku ingin pergi menuju rumah Mira dari Candi Nitehake, memang aku harus menggunakan jembatan ini. Waktu itu Mira sudah sejak lama tertidur di punggungku dan selama perjalanan aku selalu memegang tangannya yang melingkar di perutku supaya dia tidak sampai terjatuh.


Setelah sampai di tengah jembatan, aku pun menepi lalu menaikan matic-ku ke atas trotoar yang ada di sana. Aku menopang Mira sedemikian rupa sehingga dia bisa tetap tertidur tanpa harus turun dari motor dan sambil aku memeganginnya, aku menatap wajahnya yang kini terkulai di dadaku. Nah jika seperti ini, maka orang-orang yang melintas di belakang kami hanya akan menganggap kami sebagai pasangan remaja tanggung yang sedang bercumbu di tepi jembatan sambil menikmati pemandangan malam Sungai Kalawar.


"Mir," Ucapku sambil membelai sejumput rambutnya lalu melingkarkannya kebelakang telinga. "Lo terlalu gampang percaya sama orang. Itu ngak bagus, Mir. Untung aja sampai sekarang elo ngak pernah bertemu orang yang berniat jahat sama lo."


Jujur saja  disaat aku menatapnya yang tertidur di dadaku waktu itu... merupakan godaan yang cukup berat untuk kulalui. Bibir mungilnya yang mengkilap teramat menggoda untuk kulewatkan begitu saja. Tubuhnya yang terkulai tak berdaya jikapun aku melakukan sesuatu terhadapnya, benar-benar membuat jantungku berdegup kencang bergelora.


Akan tetapi kurasa... mungkin waktu itu aku sudah bertambah dewasa. Setelah menjalani empat kali perjalanan waktu, maka seharusnya aku sudah berumur 20 tahun waktu itu. Aku sudah bukan remaja lagi. Sehingga disana, aku pun menjadi mengerti perbedaan antara hasrat dan kasih sayang. Disana, aku mengerti tentang arti sesungguhnya dari mencintai seseorang.


"Bagus! Ibu bangga sama kamu, Aji. Hihi." Kata Bu Mustika memotong ceritaku ketika sampai disini. Dia pun kembali memantul-mantulkan kepalaku seperti sebelumnya.


"Ya, jadi jelas kan sekarang? Cinta saya itu murni lho, bukan abal-abal karena dorongan nafsu."


"Tsk, yang bener?" Ronny menyaut. "Orang tadi aja di kelas lo udah mau nyipok Mira gitu kok, cinta murni pantat lo!"


 "Njir, itu mah cuma bercanda aja gue! Lagian kan kalo misalnya gue nyium dia, paling cuma tembus gitu aja. Jadi ya itu cuma maen-maen doang, Ron."


"Ssst udah, udah!" Ujar Bu Mustika yang tampak antusias menatapku. "Aji, lanjutin ceritanya!"


"Oke, saya lanjutin ya..."


Setelah kurasa cukup memandangi Mira, akhirnya aku pun mulai menjalankan rencanaku selanjutnya. Ya, tentu saja aku berhenti di jembatan waktu itu bukan hanya ingin sekedar memandangi wajah tidunya Mira bukan?

__ADS_1


Sambil tetap menopang tubuh Mira, aku pun mengangkat tas miliknya ke atas pangkuanku, lalu merogoh saku kecil di bagian depannya. Aku sudah sangat tau jika Mira selalu menyimpan ponselnya di sana. Lalu setelah aku mengeluarkan ponsel Mira dari dalam tasnya itu, aku pun mengaturnya agar berada dalam mode senyap. Kemudian menyimpannya kembali kedalam saku celana Mira.


Untuk apa aku melakukan itu? Nanti akan kujelaskan kemudian.


Setelah kurasa semuanya beres, aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Menelusuri jalanan di malam Hari Wiwitan yang sudah kesekian kalinya aku berada disana.


Saat sampai di rumah Mira, aku pun menggendongnya di punggung lalu berjalan sampai depan pintu untuk menekan bel yang ada disana. Waktu itu Ibunya Mira yang membukakan pintu untuk kami. Dengan wajah terkejutnya, dia bertanya hal apa yang sudah terjadi kepada putrinya itu. Aku pun berdalih bahwa Mira kelelahan setelah seharian penuh mengikuti kegiatan parade.


Ibunya kemudian memberiku arahan untuk menuju kamar Mira yang terletak di lantai dua rumah. Jujur saja selama menggendong Mira kala itu aku merasa berat. Bukan dalam artian berat badannya berat, akan tetapi karena sepasang "ke-empukan" yang kurasakan di punggungku setiap aku melangkah, tentu saja aku merasa berat karena rasa bersalah. Sampai akhirnya ketika aku sudah merebahkan Mira di atas kasurnya, barulah beban perasaanku itu menjadi terangkat.


Sebelum pamit, aku menyempatkan berbincang sebentar dengan Ibunya. Dia mengucapkan terimakasih karena telah mengatar Mira pulang dan mengatakan kalau sebaiknya kami —maksudnya aku dan teman-teman Mira yang lainnya— sering-sering main kerumah. Karena di rumah mereka yang besar itu hanya ada tiga orang yang mengisi, Mira dan Ibunya ditambah seorang asisten rumah tangga.


Aku mengiyakan sambil pamit menuju pintu depan. Walaupun aku tau dengan pasti jikalau aku tidak akan bisa mengabulkan permintaanya itu.


Setelah kembali sampai di Candi Nitehake aku pun memarkirkan matic-ku di tempat parkir yang kugunakan sebelumnya. Di area parkir bagian selatan. Disaat aku berkemas untuk meninggalkan tempat itu, aku melihat Dian, yang ternyata masih berada di tempatnya berada sebelum aku pergi. Akan tetapi saat ini dia sudah ditemani Alan dan Ronny. Aku pura-pura tidak menyadarinya dan langsung meluncur pergi.


“Hey, Aji tunggu.” Dian berseru. “Aji, tunggu! Kamu udah anterin Mira sampai ke rumahnya?”


Aku tidak menggubrisnya dan tetap melanjutkan langkahku. Aku terlalu lelah untuk mendengar rengekan mereka saat itu. Karena yang dapat kupikirkan disana adalah batas waktu untuk takdir Mira yang sudah semakin dekat.


Aku terus berjalan cepat dengan pandangan lurus kedepan. Akan tetapi beberapa saat kemudian, kudengar suara berlari kecil menghampiriku lalu kurasakan seseorang menepuk pundakku dari belakang.


“Ji, Lo mau kemana?”

__ADS_1


Sontak aku memutar badan dengan sekuat tenaga sehingga lenganku menyikut seseorang yang tengah menepuk pundakku itu dengan keras.


“Lo masih gak percaya? Gue tau dimana rumahnya Mira dan gue udah anter dia sampai dirumahnya!” Bentakku. “Sekarang lo mau apa lagi, huh?”


Orang-orang yang sedang berlalu lalang disekitar kami menjadi teralihkan perhatiannya akibat keributan yang kubuat. Kulihat wajah Ronny yang ternyata tadi menepuk pundakku menjadi mengkerut heran. Pun Alan dan Dian yang ada di belakangnya, mereka menunjukan reaksi yang sama.


“Ki, kita cuma mau ngajak lo buat liat kembang api.” Ujar Ronny terbata. "Tapi kalau lo ngak mau ya... udah."


Kupandangi wajah Ronny dan Dian yang ada disana, lalu terbesit di dalam ingatanku tentang masa-masa kebersamaan yang kami habiskan sebagai lima orang sahabat sebelum kami menjadi kelas dua belas. Dimana semua hal selalu kami lakukan bersama. Dimana kami selalu menunjukan kepedulian antara satu sama lain.


Menyadari bahwa ternyata mereka tetap berdiam disana hanya untuk mengajakku bersama-sama menyaksikan pertunjukan kembang api, menunjukan betapa mereka masih tetap sama. Mereka masih menganggapku sebagai sahabat. Sedangkan aku? Kurasa aku sudah bukan diriku yang dulu lagi. Perjalanan waktu yang selama ini kutepuh telah memperlihatkan begitu banyak kepedihan, amarah, sekaligus keputus asaan. Aku sudah tidak mempunyai rasa percaya kepada siapapun itu. Aku sudah... hancur.


“Sorry, Ron. Gue ada urusan penting.” Aku membenarkan jaketku yang terkulai akibat hentakan yang kulakukan, kemudian begitu saja aku kembali melanjutkan perjalanan.


Kusempatkan melirik Alan yang ada disana yang nampaknya dia pun masih saja sama. Tidak berubah. Dia masih saja tidak benar-benar melihat ke arahku disaat kami bersama. Aku tidak peduli sesungguhnya. Hanya saja, membayangkan bahwa selama ini aku berjuang sangat keras untuk menyelamatkan seseorang yang pada akhirnya ditakdirkan untuk bersamanya, membuatku merasa gamang.


Jikapun seandainya nanti Mira bisa terselamatkan, bukankah dia yang menjadi pihak paling diuntungkan?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2