
Oh aku belum sempat menjelaskan tentang nama keluarga atau marga yang ada di pula kami ini. Di Pulau Lembari setidaknya ada sebelas marga yang dikenal. Akan tetapi berhubung penduduk pulau kini sudah sangat majemuk oleh pendatang, maka tidak semua orang disini mempunyai marga. Lagi pula memang tidak semua orang terlahir cukup ningrat untuk mendapatkan sebuah marga. Seperti aku, Mira dan Dian contohnya.
Dari kesebelas marga yang ada hanya ada empat marga utama yaitu; Nagata, Gantari, Prawira dan yang paling tinggi status sosialnya sebagai abdi dalem penjaga Candi Nitehake, Abiseka.
Nagata terkenal akan kepiawaian mereka membuat kerajinan budaya juga arsitekur. Sedangkan Prawira saat ini terkenal akan bisnis perhotelan mereka yang berkembang pesat di pesisir selatan pantai. Yap benar sekali, Prawira adalah marganya Alan. Lingga Prawira, ayahnya Alan adalah pemilik saham terbesar dari sekian banyak hotel yang ada di Pulau Lembari.
Selanjunya adalah Gantari. Mereka ini terkenal akan wanita-wanitanya yang ayu dan ber-dada besar... Ba, baiklah itu aku hanya bercanda. Tapi itu kenyataannya! Secara tertulis mereka memang terkenal akan tradisinya menjaga resep kuliner tradisional Pulau Lembari. Akan tetapi jika kau bertanya kepada siapapun tentang mereka, ya jawaban pertama lah yang akan kau dapatkan. Mungkin itu berkat khasiat yang mereka peroleh dari menjaga resep-resep jamu tradisional. Entahlah.
Nah sekarang ini, tepat dihadapanku tengah berdiri seorang wanita Gantari yang bernama lengkap Mustika Arum Gantari. Para siswa biasanya memanggil dia Bu Mustika atau Bu Tika. Umurnya 29, singel, dan sangat ahli dalam ilmu fisika. Tinggi 172cm, lebih tinggi 1 senti dari ragaku dulu. Ukuran BWH, 94-64-92.
Oh dari mana aku tau semua itu? Tentu saja karena dulu, jauh sebelum semua tentang perjalanan waktu ini dimulai, aku sempat tergabung kedalam “Fans Club Ratu Mustika”, yang diketuai oleh seorang siswa bernama Ronny Agung Gantari.
"Ta, tante maksud tante..." Ucap Ronny tergagap.
"Tante, tante. Ibu!"
"Oh iya Ibu!” Ronny meringis. “Ma, maksud Bu Mustika apa? Saya ngak ngerti."
Yap Ronny adalah keponakan jauh Bu Mustika. Aneh memang, aku pun tidak habis pikir bagaimana bisa seorang ahli fisika mempunyai seorang keponakan Si Bocah sekedar bodoh sangat itu.
"Ck." Bu Mustika berdecak kecut. "Ronny, kamu pikir Ibu ngak bisa liat temenmu yang telanjang setengah transparan ini? Huh?!"
Akupun segera melipat kedua tangan dibawah perut.
"Udah ngak usah ditutupi. Orang gak keliatan juga kok."
"Oh yasudah." Akupun kembali membebaskan tanganku.
Mendengarku berbicara kepadanya, Bu Mustika menujukan wajah seram yang belum pernah kulihat darinya selama menjadi siswa disini. Kemudian dia menarik Ronny agar berada dibelakangnya.
"Apa yang kamu inginkan dari anak ini?" Tanya Bu Mustika. "Kamu tau kan, kita berbeda alam. Ndak elok kalau kamu mendekati kami, begitu juga sebaliknya. Jadi sebaiknya kamu jangan lagi mendatangi ponakanku ini!"
"Tu, tunggu tante. Biar Ronny jelasin..."
"Atau kalau kamu tetep ngeyel," lanjut Bu Mustika. "Tak adukan kamu kepada Ki Romo Adji Gantari."
Ki Romo Adji Gantari. Dia adalah tetua tertinggi yang ada di keluarga Gantari. Mendengar Bu Mustika menyebutnya, aku pun mengerti. Dapat kutebak sepertinya selain yang sudah kusebutkan, keluarga Gantari juga mempunyai keunikan lain.
Mereka sepertinya memang punya tingkat kesensitifan yang tinggi terhadap makhuk-makhluk tak kasat mata dan sepertinya juga mereka sudah terbiasa berurusan dengan hal itu.
Agh sayangnya Ronny belum pernah memberitauku tentang ini sebelumnya. Andai saja dia sudah memberitauku dulu. Aku tidak akan diam saja selama ini menyaksikan Laras terus mengulang alur waktu bahkan sampai tiga kali. Dari awal kudapati ragaku terpisah dengan jiwa, aku akan langsung mendatangai Ronny untuk meminta bantuan darinya.
"Wah kebetulan sekali, ya." Ujarku. "Namaku juga Aji, loh."
Kulihat Bu Mustika memicingkan mata.
__ADS_1
“Mungkin Ibu memang tidak mengenal siapa saya karena Ibu guru IPA. Sedangkan saya anak IPS.” Lanjutku. “Perkenalkan nama saya Rizky Triaji, saya temen sekelasnya Ronny.”
“Kalau Ibu ngak percaya, silahkan saja cek daftar siswa yang ada di kelas XII Sosial 3. Pasti ibu bakal nemu nama saya disana.”
Bu Mustika mengangkat wajahnya dan mulai memandangku dengan kedua lubang hidungnya. Kemudian tanpa berbicara sepatah pun, dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku Jas. Lalu sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya itu, dia berkata.
“Awas saja kalau kamu sampai bohong!”
Kutebak saat ini Bu Mustika pasti sedang memeriksa daftar siswa melalui akunnya di website sekolah. Setiap guru memang mempunyai akses untuk melihat data pribadi siswa-siswi.
Hanya hitungan detik, kulihat dia mengernyit. Kuartikan saat ini dia sudah menemukan namaku di daftar siswa kelas XII Sosial 3. Lalu, setelah satu buah ketukan lagi di layar ponselnya, diapun tersontak kebelakang. Kini dia sudah menjauhkan ponselnya sejauh mungkin dari wajah. Dia terlihat sangat terkejut.
“Bu?” Ucap Ronny sambil mengintip apa yang sebenarnya dilihat Bu Mustika.
“Anjir!”
Ronny segera membekap mulutnya sendiri setelah mengumpat. Bu Mustika sudah menoleh ke arahnya hendak memarahi, tapi tidak jadi. Nampaknya saat ini Bu Mustika tidak punya waktu untuk itu.
“Ini! Apa ini?!” Tanya Bu Mustika sambil mengarahkan ponselnya kepadaku. “Jelaskan!”
Aku melihat layar ponsel Bu Mustika tengah berdistorsi. Percis seperti ponsel Mira ketika mendapat pesan aneh beberapa waktu yang lalu. Tapi kali ini proyeksinya sangat jauh lebih kusut dibandingkan layar ponsel Mira. Bahkan beberapa kali layar itu sampai hidup mati.
“Hmm penjelasannya…” Aku tersenyum. “Akan sangat panjang.”
“Ada yang datang!” Ujarku. “Ron, masuk kedalam Lab sekarang! Sembunyi!”
Ronny sempat kebingunan. Akan tetapi setelah kubentak.
“Sekarang Ron!”
Akhirnya diapun segera masuk kedalam Lab Fisika dan menutup pintu dari dalam.
Seseorang yang datang kini sudah menginjakan kakinya di lantai 3. Aku tau siapa dia. Aku sudah sangat mengenal langkah kakinya. Karena aku sudah sangat sering berada di dekatnya belakangan ini. Setelah beberapa langkah kemudian, diapun akhirnya sampai di dekatku dan Bu Mustika.
“Oh, selamat siang Bu Mustika.” Dia sedikit terpekik karena menemukan Bu Mustika.
“Selamat siang.” Jawab Bu Mustika. Saat ini kulihat ponselnya sudah benar-benar mati.
“Mm, mohon maaf Bu.” Ucapnya sambil menengok kesana-kemari seakan mencari sesuatu. “Apa Ibu melihat siswa jangkung yang melintas kesini?”
Senyap.
“Hmm dia punya gaya rambut yang berdiri. Seperti ini.” Tambahnya sambil menyatukan kedua telapak tangan diatas kepala.
“Oh.” Bu Mustika tampak gelisah tidak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
“Jawab saja tidak.” Ujarku.
Bu Mustika masih saja gelisah. Dia menatapku heran dengan bibirnya yang sedikit bergetar. Hal itu membuatku langsung menepuk jidat.
“Ayolah Bu Oppai! Kenapa harus ngeliatin saya dulu sih! Nanti dia curiga!”
“Ti, tidak.” Akhirnya Bu Mustika pun menjawab. “Ibu sama sekali ngak liat ada murid yang datang kesini.”
“Oh baiklah kalau gitu saya pamit. Mohon maaf Bu, sudah mengganggu.” Diapun sedikit menundukan kepalanya lalu berbalik dan berjalan kembali ke tangga.
“Tunggu.” Bu Mustika menghentikannya. “Kalau boleh Ibu tau, siapa namamu?”
Diapun kembali berbalik menatap Bu Mustika. Lalu sambil meletakan tangan di depan dada dia berkata.
“Nama saya Alan. Saya murid kelas XII Sosial 3.”
"Oh baiklah kalau begitu. Alan."
Pandanganku terus saja mengikuti Alan yang kini berjalan pergi hingga akhirnya dia tidak terlihat lagi. Jadi bukan hanya Laras saja yang kini memburu Ronny, tapi Alan juga?
Tidak lama kemudian, kudengar pintu Lab Fisika terbuka lalu Ronny keluar sambil celingukan.
“Udah aman kan?”
Kujawab dengan anggukan.
“Woh, ternyata cuma Alan toh. Tau gitu ngapain juga gue sembunyi.”
“Kenapa,” ucapku. “Lo pikir lo ngak perlu sembunyi kalau yang datang tadi itu dia?”
“Huh? Ya iya dong, lagian cuma Alan doang. Gue kira tadi tuh Laras yang dateng.”
“Ron, dia dateng jauh-jauh ke lantai tiga sini buat ngariin lo! Dia pasti udah curiga karena elo teriak manggil nama gue didalam kelas tadi!” Aku sedikit membentak.
“Mm ya ngak apa-apa lah, lagian gue bisa percaya kok sama Alan. Jadi seandainya dia sampai tau yang sebenernya juga…”
Saat itu aku tidak tau bagaimana Ronny melihat wujud rupaku. Tapi yang kulihat, dia menjadi terbelalak dan segera saja dia meminta maaf.
"So, sorry Ji, gue... ngak bermaksud..."
"Ronny, sini!" Bu Mustika langsung menariknya kebelakang tubuh. Dia membentangkan tangan seolah takut jikalau aku bakal menerkam Ronny saat itu juga. Kulihat wajah Bu Mustika sama terbelalaknya dengan Ronny.
Aku... tidak tau apa yang sebenarnya mereka lihat dariku. Tapi aku memang dapat merasakannya. Bahwa ada perubahan yang terjadi pada wujudku. Dan itu berkat ucapan Ronny yang dengan mudahnya mengatakan bahwa dia dapat mempercayai Alan.
Ah Aku… tidak perlu lagi menjelaskan kepadamu bukan? Tentang bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadap Alan. Maksudku dialah seseorang yang digariskan untuk bersama Mira. Bukan aku. Aku tidak membenci Alan sebenarnya. Sama sekali tidak. Aku hanya berharap dia tidak pernah tercipta. Sama sekali!
__ADS_1