Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 28: Laras's Reason (Part I)


__ADS_3

Dalam perjalan waktuku yang ke-empat dan yang terakhir, aku merasa sudah benar-benar hancur. Selama enam bulan penuh waktuku disana kujalani hanya dengan mengurung diri di dalam kamar. Aku sama sekali tidak meninggalkan rumah kecuali untuk sekolah saja. Itu pun hanya sampai absensiku memenuhi ambang batas kelulusan.


Entahlah, setelah melihat Mira yang tanpa ada sebab, begitu saja merengang nyawa di dalam dekapanku, aku merasa sangatlah kecil dan tidak berdaya di hadapan takdir. Semua yang kulakukan selama menempuh perjalanan waktu, semuanya hanya sebuah kesia-siaan yang besar.


Mira, Dian dan Ronny sempat menegurku karena sering sekali tidak masuk sekolah. Akan tetapi aku tidak penah menghiraukan mereka. Jujur saja selama perjalananku yang ke-empat, aku tidak ingat kalau aku pernah berinteraksi dengan siapapun. Hanya kepada Ami saja aku berbicara satu kali setiap hari. Untuk memastikan bahwa dia sudah benar-benar melupakan semua ingatannya di alur waktu sebelumnya.


Dua minggu menjelang Hari Wiwitan, Laras menjadi sangat sering datang kerumah untuk memberiku nasihat dan semangat yang menurutku malah menambah ruwet isi kepalaku. Aku tidak pernah mendengarkannya, dan dia pun tau itu. Namun di hari terakhirnya mengunjungi rumahku, Laras mengucapkan sesuatu yang membuat hatiku menjadi tergerak.


“Gue kecewa sama lo, Aji. Percuma aja gue ngasih lo kesempatan mengulang kembali waktu. Pada akhirnya elo cuma jadi pecundang kayak gini!”


Saat mendengar itu, aku pun segera menghetikan pergerakanku pada konsol PS yang sedang berada ditanganku. Waktu itu Laras sudah hendak pergi keluar kamar namun urung karena melihat aku beraksi untuk pertama kalinya terhadap perkataannya.


“Gue memang pencundang… Semua ini memang percuma…” Ucapku lirih sambil menatap dia yang sudah berada di dekat pintu kamar.


Kulihat wajahnya jadi melembut, kemudian dia melangkah menghampiriku lalu duduk disampingku dan meletakan tangannya di pundakku.


“Semua masih bisa dirubah, Ji. Ngak ada yang percuma. Yang perlu kita lakukan hanya kembali mengulang alur waktu.”


“Untuk melihat Mira menderita lagi? Untuk melihat dia kembali menjalani kematiannya yang tragis?”


Kulihat Laras terkejut mendengar ucapanku itu.


“Semua ini percuma Ras, Elo sendiri yang selalu bilang! Sejak dimulainya perjalanan waktu, lo sendiri yang selalu melarang gue buat nyelamatin Mira dari kematiannya karena lo bilang, itu percuma.”


Kemudian aku menatap matanya dalam-dalam sebelum melanjutkan.


“Jadi, kalau sejak awal lo tau semua itu percuma, kenapa elo sampe repot-repot membawa gue kembali ke masa lalu? Apa tujuan lo melakukan ini semua, huh?”


Mendengar itu, Laras menjadi gugup dan untuk pertama kalinya dia berpaling lebih dulu dalam sebuah adu tatap yang sudah sangat sering kami berdua lakukan itu.


“Apa lo melakukan semua ini cuma supaya gue terus-terusan melihat Mira mati?”


“Huh? Udah gue bilang kan, gue ngak mau kalo lo berada di dekatnya waktu dia menghadapi kematia…”

__ADS_1


“Lo tau gue ngak bisa melakukan itu, Larasvati! Sejak awal lo pasti tau kalo gue ngak mungkin bisa menerima kematian Mira!”


Kini aku sudah berdiri dengan nafasku yang mendengus.


“Gue capek, Ras! Dengan semua perjalanan ini, dengan lo yang selalu begini, gue capek. Kalau lo masih mau kembali mengulang alur waktu, lakukan sendiri. Gue ngak akan pernah lagi mau melihat Mira…”


“Dua hari!” Sontak saja dia berteriak. “Dua hari lagi, disaat Hari Wiwitan, kalau lo mau tau alasan gue yang sebenarnya melakukan semua ini, lo harus janji bakal tetap datang ke pintu selatan buat kembali mengulang alur waktu!”


Tiba-tiba dia menjadi panik sambil mendongak kepadaku yang berdiri tepat dihadapannya. Aku belum pernah melihat dia sepanik ini sebelumnya, hal itu membuatku merasa jika dia benar-benar mengharapkanku.


Aku sama sekali tidak menjawabnya dan hanya menyusup ke dalam selimut yang ada di kasurku. Setelah lama terdiam akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kamarku. Sebelum dia menutup pintu kamar, dia pun kembali berkata.


“Aji, lo bisa janji kan, kalau lo bakal tetep datang ke Candi buat mencari gue?”


Karena aku tau jika dia tidak akan pergi sebelum aku menjawabnya, maka aku pun mengiyakan dengan suara mendengkur.


“Baiklah, seperti biasa gue tunggu lo di pintu masuk selatan.”


Tidak lama kemudian aku pun mendengar suara pintu kamar tertutup.


Hari Wiwitan pun tiba dua hari kemudian. Tidak banyak hal yang kulakukan selain memantau kondisi Mira dari kejauhan. Dari mulai sore hari hingga matahari terbenam. Lalu ketika waktu sudah menunjukan pukul 20.00 tepat, aku pun mulai menjalankan rencanaku untuknya.


Seperti seharusnya, Mira beserta teman-teman satu robongan marching band-nya sedang berkumpul di salah satu tepi jalanan Candi yang kini sudah dipenuh berbagai stan bazar. Aku menghampirinya lalu memberinya jus jambu yang baru kubeli dari salah satu bazar. Mira nampak senang ketika aku memberikannya, dia tidak tau kalau sebenarnya jus itu telah kucampur dengan gerusan obat tidur yang kuperoleh dari laci lemari Bapak.


Sejauh ingatanku sejak masih kecil, Bapak sering sekali bergadang hampir setiap malam. Berkumpul bersama bapak-bapak lainnya di pos ronda yang letaknya sangat dekat dengan rumah. Bermain karabol, catur dan juga gaple. Hal itu membuat Bapak saat ini mengidap insomnia yang cukup parah. Sehingga dia terkadang perlu bantuan pil tidur untuk dapat terlelap di malam hari. Dan setiap kali bapak menggunakan pil itu, dia tidak akan terbangun hingga siang keesokan harinya. Ya, aku tau pil tidur itu mempunyai efek yang sangat kuat dan kini aku sudah membiarkan Mira meminum jus jambu yang sudah tercampur dengannya.


Lima belas menit setelah Mira menghabiskan jus jambunya dia pun terlihat mengosokan mata dan mulai terlihat lunglai. Seperti tumbuhan putri malu, dia pun menjatuhkan kepalanya di pundak Dian yang saat itu duduk disampingnya.


"Mira? Kamu kenapa?"


"Aku... Ngantuk..." Jawabnya sambil terantuk mencoba untuk tetap tersadar.


Setelah melihat itu, langsung saja aku menawarkan diri untuk mengatarkannya pulang menggunakan matic-ku dan kulihat Mira pun mengangguk dengan wajahnya yang sudah terbenam di pundak Dian.

__ADS_1


"Eh, kamu kenapa sih? Kecapean? Mir, hey Mira?"


Mira tidak menjawab. Aku segera menyarankan Dian untuk membopongnya bersama denganku menuju area parkir selatan tempat dimana matic-ku terparkir. Akan tetapi seperti yang sudah kuperkirakan, dia menolak usulanku. Beberapa siswa lain dalam kelompok marching band pun tidak terima jika Mira harus diantar pulang olehku. Mereka berkata lebih baik Dian saja yang mengatar Mira dengan taksi atau jika perlu telepon saja keluarganya untuk menjemput ke candi.


 Tapi sayangnya aku sudah sangat mengenal Mira. Disaat situasi berubah seperti ini yang perlu kulakukan hanyanlah bicara seperti ini.


"Dian, kalian kan masih ada acara disini. Ngak bakal ngerepotin apa kalau lo nganterin Mira ke rumahnya terus balik lagi kesini? Kalau gue kan emang sekalian pulang." Aku sengaja berbicara dengan kencang supaya Mira bisa tetap bisa mendengarku.


Tidak lama berselang Mira pun menyaut sesuai dengan yang sudah kuperkirakan. "Bener Di, kamu sama temen-temen yang lain masih ada acara disini. Biar Aji aja yang nganterin aku pulang."


Mendengar itu, Dian pun tidak bisa membantah lagi. Akhirnya dengan satu dorongan terakhir yang kuberikan, Dian pun setuju untuk membantu Mira berjalan menuju area parkir selatan.


Sesampainya di depan matic-ku, aku menyuruh Dian mendudukan Mira di belakangku yang sudah naik ke atas jok terlebih dahulu. Sedangkan aku sibuk membenahi barang bawaan Mira agar pas diletakan di bagian depan. Disaat Mira sudah naik, tanpa kuduga dia melingkarkan tanganya di perutku lalu memelukku erat seakan menjadikanku bantalan yang nyaman untuk tempat dia tidur.


Sontak saja Dian pun terpekik dan mencoba membangunkan Mira. "Hey, Mira. Mir?"


Akan tetapi hal itu malah membuatnya semakin erat memeluk.


"Yup, kalo gitu gue cabut dulu ya, Di." Ujarku.


"Eh, tunggu! Aku baru kepikiran, tapi emangnya kamu tau gitu rumahnya Mira dimana?"


"Ya, gue tau."


"Bohong! Kamu kan ngak pernah ke rumahnya Mira."


"Aji pernah ke rumahku kok. Waktu ulang taunku kemaren, kalian berdua kan main kerumah." Seperti mengigau, tiba-tiba saja Mira berbicara.


"Huh?" Dian nampak kebingungan. Karena tentu saja yang dikatakan Mira tidak pernah terjadi. Setidaknya di alur waktu ini. Karena seperti yang sudah kusampaikan, di alur waktu ini, yang kulakukan hanyalah mengurung diri di kamarku sepanjang waktu.


"Kamu ngomong apa sih? Waktu ulang tahun kamu kemaren kan, kita ngerayain bareng Alan sepulang sekolah... Eh! Aji, woi!"


Aku segera tancap gas meninggal Dian disana sebelum dia dapat bertanya lebih jauh lagi. Dari kaca spion aku dapat melihat dia mulai berlari mengejarku. Untung saja saat itu tidak terdapat antrian kendaraan di gerbang masuk candi. Sehingga aku dapat melesat pergi meninggalkan Dian yang terus saja berseru kepadaku.

__ADS_1


 


__ADS_2