
“Jadi… alasan kenapa kamu jadi seperti ini… karena kamu sudah menukarkan waktumu dengan Mira supaya dia bisa hidup?” Bu Mustika menatapku tidak percaya sambil menutupi mulutnya.
“Ya, begitulah.”
“Astaga Aji, Ibu tidak mengira kalau ternyata kondisinya separah ini!”
Dia pun membenarkan posisi duduk lalu menatapku dengan sangat serius.
“Begini Aji... Mira kan seharusnya sudah meninggal ketika jam 22.13 di Hari Wiwitan, sedangkan kamu baru bisa mengulang waktu ketika 3 sampai 4 jam setelah itu. Nah, jika garis kehidupan kalian ditukarkan, itu artinya waktu hidupmu sudah habis sejak awal dan kamu tidak memungkinkan untuk mengulang alur waktu. Itulah yang namanya...”
“Paradoks.” Potongku.
“Ya, tapi kali ini adalah paradoks besar yang bisa merusak konsistensi dari alur waktu. Dan kondisimu yang sekarang ini Aji, itu kamu masih beruntung. Karena paradoks ini seharusnya dapat membuat eksistensi seseorang menghilang tanpa jejak, selamanya.”
Mendengar itu aku pun menjadi terperanga.
Bu Mustika lalu mendesah panjang. “Selain itu, Ibu jadi dapat mengerti mengapa semua orang di sekolah melupakanmu tapi keluargamu, juga Laras, mereka tidak sampai ikut melupakanmu juga.”
“Oh, jadi Ibu bisa mengerti kenapa bisa seperti itu?”
“Ya, Ibu tidak yakin. Tapi kemungkinan terbesar ini ada hubungannya dengan teori equilibrium. Dimana kekuatan yang dihasilkan akan selalu meminta harga yang setimpal dengan kekuatan yang diperlukan. Baiklah akan Ibu coba jelaskan…” Lanjutnya. “Sebelum kamu bertukar garis kehidupan dengan Mira, sudah berapa kami kamu mengulang alur waktu?”
“Empat, ah bukan. Kalau mengikuti keterangan Laras, berarti itu sudah yang ke-enam.”
“Nah, enam kali mengulang waktu itu berarti sama dengan 3 tahun. Lalu, karena garis kehidupanmu sekarang adalah yang seharusnya dimiliki Mira, itu artinya selama kamu melakukan perjalanan waktu, kamu telah hidup lebih lama dari seharusnya selama 3 tahun pula. Lalu…”
“Tunggu.” Potongku. “Saya mengerti. Karena saya sudah hidup 3 tahun lebih lama dari seharusnya, maka Nitehake mengambil waktu saya yang berlebih itu dengan cara menghilangkan eksistensi saya tiga tahun kebelakang. Itulah sebabnya semua yang ada di sekolah melupakan saya! Karena 3 tahun kehidupan saya di SMA sudah dihilangkan!”
Bu Mustika pun mengangguk.
__ADS_1
“Aji, elo…” Ronny tercengang. “Tapi hey, kalau semua ini memang benar, terus misalkan kita berhasil ngegagalin Laras mengulang alur waktu sekarang, itu kan artinya…”
“Gue akan menghilang untuk selamanya? Mungkin aja.” Sahutku.
“Ta, tapi…”
“Itu udah keputusan gue, Ron. Gue harap lo bisa mengerti.”
Kami pun terdiam. Sampai akhirnya Ronny memecah keheningan dengan menyalakan lampu teras rumahnya. Karena saat ini hari sudah mulai gelap.
“Aji, Ibu... ngak tau harus berbuat apa sekarang.” Ujar Bu Mustika. “Tapi… apa kamu benar-benar yakin kamu rela menukar garis kehidupanmu dengan Mira?”
Aku pun mengangguk dengan tenang.
“Tapi bagaimana dengan Laras? Apa kamu ngak kasihan sama dia? Dengan begini pengorbanan dia untukmu selama ini akan...”
“Makannya saya kasihan sama dia, kita harus menyelesaikan masalah ini sekarang, dan untuk selamanya.”
“Lalu, apa yang Ibu inginkan? Apa Ibu ingin supaya saya tetap seperti ini? Ibu ingin alur waktu terus saja berputar disini?”
“Tapi kalau Ibu membantu kamu, kamu akan…”
“Ngak apa-apa. Lagi pula saya… sudah terbiasa sendiri dan terlupakan. Seperti judul yang Ibu berikan untuk cerita saya.”
“Itu, Ibu ngak mengira kalau ternyata yang terjadi seperti ini. Awalnya Ibu hanya mengira kalau kamu dan Laras telah membuat kesalahan paradoks dan… bukan hal yang disengaja seperti ini.”
“Udah saya bilang, ngak apa-apa.” Aku mencoba tersenyum. “Baiklah akan saya lanjutkan ceritanya yang hanya tinggal sedikit lagi. Dengan menggunakan judul yang sudah Ibu berikan. ‘Jiwa yang tertinggal’.”
***
__ADS_1
Ketika akhirnya aku sampai di perjalanan ke-lima, aku terbangun dengan sangat berat dan hal pertama kulihat saat itu adalah tubuhku sendiri yang masih terbaring di atas kasur di kamarku. Merasa aneh aku pun mendekatinya dan mencoba menyentuhnya namun tentu saja tidak bisa.
Lalu disaat aku menoleh ke samping dengan sendirinya dimana terdapat cermin besar di sana, aku pun terlonjak. Karena tidak kutemukan bayanganku di cermin waktu itu. Ya, disanalah untuk pertama kalinya aku meyadari bahwa diriku sudah terpisah dari ragaku.
Dengan panik aku segera pergi keluar kamar. Tentu saja dengan menembus tembok, karena aku juga tidak bisa menyentuh gagang pintu waktu itu. Disaat menuruni tangga menuju ruang tengah aku merasa tubuhku seperti melayang, lalu disaat aku sudah sampai dibawah, seperti seharusnya, aku pun menemukan Ami yang sedang sarapan di meja makan.
Aku sudah menegurnya bahkan sampai berteriak. Akan tetapi dia tidak merespon kepadaku sedikitpun. Seperti seharusnya, dari televisi yang menyala di ruang tengah, terdapat berita pagi yang mengabarkan fenomena itu. Super Blue Blood Moon.
Dalam kondisi bingung dan ketakutan saat itu aku pun menjadi histeris. Menghampiri Ibu, Bapak juga Ami bergantian. Namun tidak satupun dari mereka bertiga yang menyadari keberadaanku. Saat itu pun berpikir bahwa aku harus segera menemui Laras!
Akan tetapi disaat yang bersamaan terdengar suara bel rumah. Aku pun segera melesat menuju pintu masuk dan ternyata disana sudah ada Laras yang menunggu pintu dibukakan. Melihatnya yang tidak bereaksi sedikitpun terhadapku yang baru saja menembus pintu, aku pun tersadar bahwa Laras juga tidak dapat melihatku.
Tidak lama kemudian, Ibu pun datang membukakan pintu.
“Laras? Loh kok balik lagi? Ada yang ketinggalan ya?” Ibu bertanya seperti itu karena baru saja beberapa jam yang lalu Laras dan yang lainnya pulang setelah kami semua selesai menyaksikan gerhana bulan total di atas loteng rumah.
“Aji! Apa Aji ada dirumah, Bu?” Tanya Laras sedikit memburu.
“A, ada.”
“Boleh saya ketemu, Aji?”
Akhirnya Ibu pun mempersilahkan Laras untuk langsung menuju kamarku yang ada di lantai dua. Kemudian disaat Laras dengan panik berjalan cepat menaiki tangga waktu itu, terdengar ponselnya berdering. Dia pun membukanya dan disana ternyata terdapat pesan masuk yang aneh, berdistorsi.
Sepasang bunga yang kuberi semoga bisa merekah
Bersama terwujudnya semua mimpi
Tak mengapa buatku disini
__ADS_1
Dilangit tempat bulan terbit seperti biasanya
Hanya memikirkanmu, menangisimu, menunggumu