
Aku terperanjat disaat aku menemukan Ami yang terjatuh di depan pagar teralis waktu itu. Langsung saja rasioku mencerna mengapa Ami bisa sampai ada disana. Sejak kapan dia berada disana? Lalu mengapa? Apa itu hanya sebuah kebetulan? Aku tidak yakin. Karena kejadian seperti ini belum pernah terjadi di alur-alur waktu yang sebelumnya.
Seketika aku pun teringat. Pantas saja sejak dimulainya perjalanan waktu bahkan sejak yang pertama, kurasa Ami selalu bersikap aneh. Sering sekali aku menemukan dirinya yang mengintipku melalui celah pintu ketika aku sedang berada di dalam kamarku sendirian. Pernah juga suatu waktu di dalam alur waktu yang ke-tiga ini, aku menemukan Ami yang sedang membaca "Buku Peristiwa" ketika aku masuk kedalam kamarku sepulang sekolah.
Dan kau pun tentu masih ingat di alur waktu yang pertama, Ami juga pernah bertingkah rewel minta dibelikan eskrim ketika aku hendak pergi ke Candi pada saat Hari Wiwitan.
Seakan semua bukti-bukti itu berpendaran di dalam benakku, aku pun mengerti mengapa Ami bisa sampai ada disana waktu itu. Ya, satu-satunya penyebab Ami bisa ada disana waktu itu adalah ulah siapa lagi kalau bukan Laras.
Kurasakan kepalaku seperti mendidih. Kali ini dia sudah benar-benar keterlaluan. Betapa lancangnya dia membawa Ami masuk kedalam permasalahan yang menyakut hidup dan mati ini.
Dapat kudengar diriku mendengus dan sambil menahan amarah ku agar tetap berada di dalam kepalan, aku pun membelalang Laras. Kulihat dia tersontak mundur lalu untuk pertama kalinya kulihat dia ciut dihadapanku.
"Lo..." Aku mencoba mengatur nafasku yang tidak karuan. "Cuma punya satu kali kesempatan untuk menjawab... Kenapa Ami bisa ada disini?"
Lama dia terdiam, namun tidak cukup lama sehingga aku hilang kesabaran. Setelah mengatur kembali posisi duduknya, dengan tenang dia pun berkata.
"Ami, udah Kak Laras bilang kan, tugasmu hari ini sudah selesai sayang. Gih, balik lagi ke rumah Kak Laras sekarang."
Mendengar itu, kurasakan urat yang ada di leherku bekedud. Ami pun membungkuk, kemudian setelah meminta maaf dia pun segera minta diri lalu berlari pergi. Sedangkan aku masih meremas-remas tinjuku dengan geram menantikan apa yang selanjutnya Laras katakan.
"Ya, memang benar selama ini gue selalu minta Ami buat ngawasin lo juga menghalangi elo untuk pergi keluar rumah disetiap Hari Wiwitan. Selain itu gue juga udah kasih tau kalau kita berdua ini sebenernya datang dari masa depan. Tapi tenang aja, seperti yang pernah gue bilang, cuma kita berdua yang bisa membawa memori dari alur waktu sebelumnya. Jadi pada akhirnya, Ami akan tetap melupakan semua ini."
"Apa?! Elo sendiri yang bilang kan, jangan pernah kasih tau siapapun juga tentang masalah ini! Gimana kalau sampai terjadi sesuatu sama Ami? Lo liat Mira kan? Liat!" Ucapku sambil menunjuk jasad Mira yang terbaring disamping kami. "Gimana kalau hal ini juga sampai terjadi sama Ami, huh?!"
Dengan segera dia pun berdiri lalu memegang kedua pipiku. "Gak akan ada hal buruk yang bakal terjadi sama Ami. Gue yang akan tanggung jawab sepenuhnya." Ujarnya sambil menatap tepat ke mataku. "Tenang saja Aji, Nitehake ngak akan mencabut nyawa seseorang yang belum sampai pada batas waktunya."
"Lo... yakin? Ngak akan ada hal buruk yang bakal menimpa Ami?"
"Ya."
Setelah itu Laras mendongak dan spontan aku pun mengikutinya. Saat itu sebagian kecil umbra pada gerhana telah melintasi garis luar rembulan. Akhirnya dia pun menyuruhku agar segera menyelesaikan ritual. Karena jika sampai gerhana bulan total berakhir kami belum juga kembali mengulang alur waktu, maka kami tidak akan bisa kembali menuju tanggal 31 Januari dimana terjadi Super Blue Blood Moon itu.
Karena jika kami telah melewati satu buah gerhana bulan, itu artinya satu kurun gerhana telah tergenapkan dan saat itu juga Nitehake akan menggenapkan catatan amal manusia sekaligus menetapkan takdir baru bagi mereka. Setidaknya begitulah yang kuingat dari penjelasan yang Laras pernah berikan.
__ADS_1
Jadi jika kami melewati gerhana bulan kali ini tanpa kembali mengulang waktu, maka kami tidak akan bisa kembali lagi kesana untuk selamanya. Dan itu artinya... Mira akan benar-benar pergi untuk selamanya pula.
Disaat Laras sudah duduk kembali, bersimpuh di dekat arca bundar di depanku itu, dia pun menjulurkan tangannya agar aku mengikuti. Akan tetapi aku merasa ragu. Karena... Haruskah aku kembali lagi mengulang semua ini? Setelah menyaksikan Mira yang tanpa ada sebab sama sekali meregang nyawa di dalam dekapanku beberapa jam yang lalu itu, aku merasa semua ini hanya sia-sia. Untuk apa semua ini? Pada akhirnya Mira selalu saja berakhir mati.
Setelah kembali duduk, aku melihat Mira yang terbujur kaku tepat di sampingku. Dengan sendirinya aku bergerak ke arahnya lalu membuka kain samping yang menutupi bagian wajahnya dan kulihat dia sudah memutih pucat sekali. Aku tidak dapat mengartikan sungging simpul di bibirnya apakah dia sedang tersenyum ataukah meratap. Oh, haruskah aku membuatnya menderita lebih lama lagi? Mengulang penderitaan tragis yang sudah tiga kali ini dia alami?
Tanpa kusadari tiba-tiba saja mataku pun terasa panas dan hanya sekejap air mataku pun meleleh.
"Aji, kita harus tetap mengulang alur waktu. Supaya ingatan Ami bisa terhapus." Suara Laras pun membuyarkan lamunanku.
"Ya, kita harus menghapus ingatan Ami di alur waktu ini. Makanya kita harus kembali mengulang waktu." Setidaknya untuk terakhir kalinya. Tambahku dalam hati.
Akhirnya kami kembali melanjutkan ritual yang saat itu sudah sampai pada tahap akhir dimana kami hanya tinggal menarik tali berwana emas yang tersimpul pada pasak yang ada di bagian tengah arca.
***
"Paradoks."
"Paradoks?" Tanya Ronny memastikan.
"Iya, paradoks. Itulah yang terjadi ketika Aji selalu saja gagal disaat dia mencoba menyelamatkan Mira dari kematian. Dalam sains saat ini dikenal berbagai macam teori 'paradoks waktu' dan dalam kasusnya si Aji ini, para ilmuan menyebutnya dengan teori Predestination Paradox atau paradoks takdir tertutup."
Aku melihat ke arah Ronny yang saat ini sedang mengernyit seperti gabus kering.
"Baiklah Ibu jelaskan dulu. Jadi 'paradoks waktu' itu adalah..."
"Kondisi di dalam timeline yang memiliki sebab akibat yang bertolak bekalang, kontradiktif, atau bisa disebut juga ambigu." Potongku menimpali.
Bu Mustika tampak terkejut dengan jawabanku, kemudian dia jadi tersenyum bangga seakan aku baru saja berhasil menjawab pertanyaan quiz di dalam kelas. Lalu dia pun menepuk-nepuk kepalaku seperti sedang memantulkan bola basket.
"Selama empat kali mengulang waktu, Laras selalu ngingetin saya jangan sampai berbuat hal yang aneh-aneh sampai akhirnya membuat kondisi 'paradoks waktu'. Bahkan ngebunuh nyamuk aja, saya dimarahin habis-habisan sama dia." Lanjutku. "Tapi yang saya ngak ngerti, kenapa Ibu menyebut saya yang selalu gagal nyelametin Mira adalah sebuah paradoks?"
"Aji, kamu sudah melakukan perjalanan waktu, kembali ke masa lalu, untuk menyelamatkan Mira yang meninggal di Hari Wiwitan. Nah, dari situ apa kamu ngak berpikir kalau yang kamu lakukan itu adalah kontradiktif?"
__ADS_1
Aku hanya menggeleng kecil. "Apanya yang kontradiktif?"
"Jawab pertanyaan Ibu, hal apa yang membuat kamu kembali mengulang waktu?" Akan tetapi sebelum aku sempat menjawab, Bu Mustika malah menjawabnya sendiri. "Kematian Mira bukan? Karena kamu ingin menyelamatkan Mira dari takdirnya, makanya kamu mengulang waktu. Betul?"
"I, iya."
"Nah seandainya Mira ngak pernah meninggal sebelumnya, akankah kamu dan Laras mengulang alur waktu?"
Aku pun terhenyak. "Ti, tidak."
"Itulah sebabnya kamu selalu gagal, Aji. Paham kan? Karena tanpa kematian Mira kamu tidak akan pernah mengulang waktu. Lalu sekarang, kamu mengulang waktu untuk menyelamatkan dia dari kematian? Itu sama saja mencoba menghilangkan penyebab utama kamu mengulang waktu sejak awal. Itulah yang namanya kontradiktif."
Mendengar penjelasan Bu Mustika aku pun menjadi mematung menatap dua gelas di atas meja yang kini sudah kosong. Karena sudah hampir tiga jam aku bercerita kepada mereka berdua.
"Dengan mengulang waktu untuk menyelamatkan Mira, itu berarti kamu sedang menjadikan dirimu sendiri sebagai penyebab kematian Mira di alur-alur waktu selanjutnya. Membuat dirimu terjebak didalam lingkaran sebab akibat yang selalu berakhir sama. Hal seperti inilah yang disebut dengan 'paradoks takdir tertutup'."
"Jadi, sejak awal saya memang tidak mungkin bisa menyelamatkan Mira." Ujarku sambil sedikit tersenyum getir.
"Ya." Jawab Bu Mustika. "Tapi..." Lanjutnya sambil meminum sirup yang seharusnya menjadi jatahku. "Ibu pikir bukan hanya itu saja paradoks yang terjadi selama kalian mengulang alur waktu. Karena secara general ada dua jenis tipe paradoks, yaitu; yang dapat merusak konsistensi waktu dan yang tidak."
"Paradoks takdir tertutup, tidak akan merusak konsistensi waktu. Akan tetapi untuk jenis yang dapat merusak, sekali saja hal itu terjadi, maka akan berpengaruh besar terhadap masa depan seseorang bahkan masa depan seluruh dunia. Memori, asal muasal benda, bahkan eksistensi seseorang bisa saja menjadi terlupakan bahkan menghilang."
Sampai disana aku sudah paham bahwa Bu Mustika tengah menyinggung kondisiku yang seperti sekarang ini. Terpisah antara raga dan jiwa. Ditambah pula memori orang-orang tentang diriku yang menghilang.
"Nah, Aji untuk ceritamu di perjalanan waktu yang ke-empat, yang kamu bilang disanalah terjadi 'kecelakaan' yang menyebabkan kamu jadi begini, bolehkah kalau Ibu saja yang memberikan judul untuk ceritanya?" Ujarnya sambil mendekat kepadaku dengan antusias.
Aku yang terkejut, spontan saja langsung mengangguk.
"Ibu baru saja dapat ide yang bagus, bagaimana kalau judulnya... Jiwa yang ditinggalkan."
__ADS_1