Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 25: Death Parade (Part III)


__ADS_3

Akhir perjalanan waktuku yang kedua.


Meskipun aku telah mengetahui secara pasti bahwa “ketetapan takdir” untuk Mira akan datang tepat pada pukul 22.13 malam, aku tetap saja tidak bisa yakin sepenuhnya bahwa pada kesempatan kali ini aku bakal bisa menyelamatkannya. Akan tetapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak dapat menyerah begitu saja kepada tangan takdir yang hendak merenggut Mira dariku.


Dilain pihak, Laras nampaknya sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan kulakukan. Dua hari sebelum Hari Wiwitan tiba, kami bertengkar hebat sampai-sampai aku membuatnya mengamuk dan mengusirku keluar dari dalam rumahnya. Sebelum membanting pintu waktu itu, dia berkata.


“Lakukan sesuka lo, Aji! Gue gak peduli! Pada akhirnya, lo juga bakal mencari gue buat mengulang kembali waktu!”


Laras berusaha mengatur nafasnya yang memburu sebelum melanjutkan. “Gue cuma pengen lo gak berada didekatnya saat dia mengahadapi kematian! Apa itu terlalu susah?”


Kemudian dia membanting pintu dengan keras, hingga membuat seluruh kaca jendela rumahnya ikut bergetar.


Dan benar saja, pada akhirnya aku tidak bisa berbuat banyak disaat waktunya tiba.


Disaat waktu hanya tersisa 5 menit, aku sudah berhasil membawa Mira menuju salah satu sudut pelataran candi yang menurutku cukup aman untuk kami jadikan tempat berlindung karena letaknya yang dikelilingi benteng batu disetiap sisi.


Sama seperti apa yang kulakukan di alur waktu sebelumnya, aku melindungi Mira dengan cara menaunginya. Menyandarkannya pada benteng batu yang kupikir cukup kokoh untuk melindungi kami dari sebuah benturan keras.


Akan tetapi takdir selalu dapat menemukan jalannya. Beberapa saat setelah kudekap tubuh Mira disana, tiba-tiba dia terpekik seraya bergumam.


“Alan.”

__ADS_1


Tidak jauh dari tempatku dan Mira berlindung, kulihat Alan yang dengan geram dan jijik menatap kami dengan pandangannya yang menghakimi. Lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia berlalu.


Seketika itu juga Mira menjadi panik dan berontak untuk melepaskan diriya dari dekapanku.


"Aji, lepasin! Lepasin ngak! Hiks..." Dia pun terisak. "Aji! Kalau kamu begini terus, aku bakal teriak!"


Mendengar itu, aku pun segera membekap mulutnya. Lalu menekan seluruh berat tubuhku dengan kuat ke tubuhnya.


"Maaf, Mira... maaf..."


"Mmm! Mm!"


Rasanya perih, perih sekali. Melihat seorang yang sangat kau cintai terluka dan menderita seperti itu karena perbuatanmu sendiri.


Akhirnya Mira pun menyerah. Tidak ada lagi perlawanan yang kurasakan darinya. Yang dia lakukan hanya menangis dengan tatapan matanya yang seolah memohon kepadaku untuk berhenti.


Aku segera berpaling, tidak kuat menatap matanya. Lalu tidak sampai sepuluh detik kemudian, kurasakan sebuah telapak tangan besar mencengkram leherku dari belakang dan sejurus kemudian aku sudah mendapati tubuhku tengkurap diatas tanah, mencium bau rerumputan yang ada disana.


“Berengsek lo.”


Kutemukan Bentot tengah mengunci tubuhku dari belakang ketika aku mendongak. Dia menyilangkan lenganku kebelakang punggung sehingga aku tidak bisa berbuat banyak. Disekeliling Bentot kutemukan juga beberapa wajah yang kukenal. Diantaranya Dian dan juga Ronny. Mereka semua menatapku dengan tatapan menghakimi seperti yang kudapatkan dari pandangan Alan sebelumnya.

__ADS_1


“Ben, lepasin gue ben! Ini ngak seperti yang elo…”


Suaraku tertahan ketika mataku secara tidak sengaja melirik ke arah Mira. Disana kutemukan dia menangis dan menatapku dengan pilu. Hanya beberapa detik saja pandangan kami bertemu sebelum akhirnya Mira segera berlari meninggalkan tempat itu. Entahlah, mungkin dia hendak mengejar Alan.


"Woi anjing! Lepasin gue bangsat!"


Aku terus menggeliat sekuat tenaga dan melakukan semua upaya yang kubisa untuk dapat melepaskan diri. Sudah kuludahi Si Bentot dan kulontarkan semua kata kotor yang ada di dalam benakku, namun tetap saja Bentot tidak bergeming. Tenaganya bekali-kali lipat lebih kuat dari pada tenagaku.


Ah, inikah yang Mira rasakan disaat dia tidak berdaya ketika aku medekapnya tadi? Sial, dia pasti sangat sedih dan ketakutan seperti yang tengah kurasakan sekarang.


Ditengah rasa frustasi yang kian memuncak, aku pun mendengar suara dentuman kembang api disertai suara riuh ramai orang-orang yang bersorak. Akhirnya sampai disana aku pun menyerah, yang dapat kulakukan hanyalah menjerit dan menangis meraung-raung di atas tanah. Dikelilingi pandangan heran dari orang-orang yang ada disekitarku.


Hanya dalam hitungan detik setelahnya, kurasakan bumi bergetar disertai suara gemuruh yang terasa begitu dekat.


Seketika itu juga sorak-sorai berubah menjadi teriakan histeris yang membuat hati tersayat saat mendengarnya. Orang-orang yang ada disekelilingku langsung berlarian meninggalkanku untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan aku hanya diam terbaring dan menutupi wajahku dengan tangan. Melanjutkan tangisanku.


Aku tidak perlu pergi kesana untuk tau apa yang sebenarnya terjadi. Karena meskipun posisiku tengah terbaring seperti itu, seharusnya aku masih dapat melihat sebuah papan reklame besar yang menjulang tinggi ke langit tidak jauh dari tempatku berada.


Entah apa yang membuatnya kini tak dapat terlihat dipandangan. Tapi satu hal yang kutau pasti, kali ini dialah yang menjadi penyebab kematian Mira.


Setelah aku puas meratapi apa yang terjadi, aku pun akhirnya bangkit dan mulai berjalan lunglai. Bukan menuju lokasi dimana seharusnya terdapat papan reklame itu. Melainkan menuju pintu masuk selatan candi utama dimana Laras sudah menantiku disana.

__ADS_1


__ADS_2