Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 20: Radiance of Sight


__ADS_3

Di ruang guru, Ronny duduk diantara Laras dan Alan. Menghadap Bu Mustika yang kini duduk di kursi kerjanya. Karena ini waktu pulang sekolah, maka hampir semua guru ada di ruangan. Dapat kulihat Bu Susi, Pak Gun-gun, dan beberapa guru lain mencuri pandang dari tempat duduk mereka masing-masing.


"Bu Mustika, ada apa ini?" Tanya Bu Susi sambil menelisik ketiga siswa yang menjadi tanggung jawabnya itu.


Sambil membawa satu lagi kursi lipat lalu mempersilahkan Bu Susi ikut duduk disampingnya, Bu Mustika pun menjelaskan apa yang terjadi kepada Bu Susi. Mengenai keributan yang terjadi di kelas sebelumnya.


"Nah sekarang jelaskan, ada apa sebenarnya sampai kalian bertiga membuat keributan?" Tanya Bu Mustika.


Setelah sekian lama menunggu, namun tidak ada satupun dari ketiga murid yang bicara. Bu Mustika nampak tidak sabar tapi segan karena ada Bu Susi disampingnya. Sedari tadi dia terus saja mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. Sedangkan Bu Susi terlihat kecewa memandangi ketiga muridnya itu.


"Jadi begini..." Akhirnya Alan bicara. "Sebenarnya tadi itu bukan masalah penting kok, Bu. Kami bertiga hanya sedikit salah paham. Saya minta maaf karena kami sudah membuat keributan."


"Iya, tapi salah pahamnya itu kenapa?" Bu Mustika nampak tidak puas dengan jawaban itu.


"Itu..."


Alan menunduk lalu terdiam lagi. Hingga akhirnya Laras ikut berbicara.


"Maaf Bu, itu masalah pribadi."


Kulihat Bu Mustika berdecak tanpa suara. Sebetulnya dia sudah tau alasan apa yang menyebabkan keributan di kelas tadi. Jangankan itu, dia bahkan sudah tau semuanya. Tentang latar belakang hubungan diantara kami, tentang perjalanan waktu, juga tentang Mira.


Selama aku bercerita kepadanya di Lab Fisika, Bu Mustika terlihat sangat bersimpati kepadaku. Berulang kali disaat kuceritakan tentang kecintaanku terhadap Mira, dia menjadi berlinang lalu mencoba menghiburku dengan kata-kata halus. Jadi dapat kupastikan jikalau dia lebih condong memihak kepadaku dibandingkan Alan.


"Hmm, baiklah." Ucap Bu Susi. "Kalau memang ini masalah pribadi, sebaiknya kalian segera menyelesaikannya dengan cara baik-baik. Kedepannya Ibu ngak mau lagi melihat kalian membuat keributan seperti ini. Paham?"


"Ba, baik Bu." Sahut Alan.


Kulihat Bu Mustika berdecak lagi. Nampaknya dia tidak puas dengan hasil akhir seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, Bu Susi sebagai wali kelas mereka sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah.


"Yasudah, kalau begitu kalian bisa pergi sekarang." Ujar Bu Mustika. "Dan kamu Ronny, kamu tetap disini. Tante masih ada urusan sama kamu."


Kupikir bagus sekali Bu Mustika memilih menggunakan kata "tante". Dengan begini Laras dan Alan tidak akan bertambah curiga kepada Ronny.


Alan pun pamit keluar, sedangkan Laras hanya pergi sewot begitu saja. Bu Susi pun pamit pulang setelah basa-basi sebentar bersama Bu Mustika. Hingga akhirnya kini hanya tinggal ada Ronny dan aku yang menghadapi Bu Mustika di depan mejanya.


Bu Mustika mulai menanyakan apa saja yang sudah Alan dan Laras bicarakan sebelum kami berdua datang. Setelah Ronny menjelaskan secara terperinci, akhirnya kami pun menggambil kesimpulan bahwa mereka berdua belum menyadari kalau Ronny sebenarnya dapat melihatku. Meskipun begitu, aku terus mengingatkan mereka agar jangan pernah menganggap remeh. Terutama Laras.


"Gue pernah bilangkan," ujarku. "Kalau Laras itu punya kemampuan lain selain mengulang kembali alur waktu?"


Ronny mengangguk lalu menatapku dengan serius.


"Denger baik-baik, Ron. Laras, dia bisa membaca primbon seseorang."


"Primbon?"


"Ya, dia bisa melihat masa depan orang lain. Tapi kemampuannya ini hanya bisa dia pakai ketika malam hari. Ketika bulan tengah bersinar. Semakin sempurna bentuk bulan, maka semakin kuat juga kemampuannya."


Ronny tertegun. Begitu juga Bu Mustika.


"Nah yang jadi masalah, karena sekarang Laras udah curiga sama elo, gimana coba kalau seandainya dia sampai membaca primbon lo, Ron?" Lanjutku. "Bayangin dia ngeliat elo di masa depan lagi ngobrol sendiri sambil nyebut-nyebutin nama gue. Menurut lo, apa yang bakal dia pikirkan?"


"Dia... dia pasti mikir kalau gue bisa ngeliat lo."


"Nah, terus kalau sampai dia tau elo bisa ngeliat gue, itu artinya?"

__ADS_1


Ronny menggeleng dengan tetap membuka mulutnya.


"Itu artinya, rencana kita buat menggagalkan dia mengulang lagi alur waktu bakal semakin sulit! Dia pasti bakal waspada terus sepanjang waktu."


"Oh."


"Oke, jadi gini Ron." Aku memposisikan diri lebih dekat dengan duduk di atas meja Bu Mustika.


"Rencana gue awalnya, gue tuh pengen lo menyembunyikan arca bundar yang ada di altar candi utama. Lo ingetkan, gue cerita kalau arca itu adalah alat yang dipakai Laras sama gue buat mengulang alur waktu di Hari Wiwitan?"


"Ya, gue inget." Ujarnya sambil menerawang.


"Nah tanpa arca itu, Laras ngak akan bisa mengulang alur waktu."


"Eh tunggu, lo pengen gue ngambil arca itu?! Gila aja lo, mana bisa gue? Itu arca ditaro di tengah-tengah candi woi! Bakalan banyak banget orang disana."


"Bisa Ron, bisa! Gue udah punya rencana... Tapi berhubung Laras udah curiga sama lo sekarang, gue perlu rencana baru lagi."


Seorang guru bernama Bu Wida melintas di depan kami, lalu mengucapkan salam kepada Bu Mustika. Hal ini membuat perhatian kami jadi teralihkan.


"Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan di tempat lain." Kata Bu Mustika sambil membereskan perlengkapannya di atas meja. "Intinya, kita perlu rencana baru untuk menghentikan Laras bukan?"


"I, iya." Sahutku. "Eh, tunggu sebentar, jadi Bu Oppai juga mau membantu saya?"


"Iya dong, kamu kan juga murid Ibu. Ya lagi pula Ibu juga sangat tertarik dengan ceritamu. Kebetulan sekarang ini Ibu sedang menulis karya ilmiah yang ada hubungannya dengan teori ruang dan waktu."


"Wah, mantab lah kalau gitu! Bu Oppai memang terbaik!"


Bu Mustika pun pergi meninggalkan ruang guru dan aku mengikutinya dari belakang. Sesampainya di pintu, aku tersadar jikalau Ronny tidak berada disekitar. Aku pun kembali berbalik dan kutemukan dia masih saja duduk di kursinya.


Dengan tampang terkejutnya yang benar-benar miris dia terperanga melihatku. Bibirnya bergerak seperti berbicara namun tanpa suara. Setelah kuperhatikan, ternyata gerak bibirnya itu membentuk sebuah pola kata. Oppai?!


 


Untuk kesekian kalinya perjalanan kami terhenti karena setopan lampu merah. Kini kami bertiga sudah berada di dalam mobil sedan Bu Mustika. Tengah menuju rumah Ronny untuk mengatarkannya pulang.


"Bagaimana Aji? Menurut Ibu itu rencana terbaik untuk kita sekarang."


"Hmm."


Selama perjalanan kami sudah membahas berbagai macam rencana. Hingga akhirnya kami pun sepakat agar Ronny memberitahukan saja kepada Alan tentang alur waktu yang sudah terulang sebanyak 7 kali. Ditambah juga informasi mengenai Laras yang dapat mengulang alur waktu dan membaca primbon seseoarang.


Dengan begitu Ronny akan mendapatkan bantuan dari Alan untuk menghentikan Laras. Sekaligus membuat Laras tidak dapat menyelidiki Ronny karena otomatis Alan bakal berusaha untuk melindungi Ronny juga.


"Okelah, saya setuju." Ujarku. "Ya, sebenernya males juga sih harus kerjasama bareng 'Dia'. Tapi ya, sepertinya memang cuma ini rencana yang paling relevan."


"Sip, kalau begitu kita bakal membahas detailnya nanti setelah sampai di rumah Ronny."


Selanjutnya, Bu Mustika menegaskan bahwa Alan pastilah mau membantu Ronny menghentikan Laras. Lagi pula siapa juga yang ingin terus menerus terjebak di dalam putaran roda waktu yang sama. Semua orang pastilah ingin melanjutkan masa depannya.


"Terkecuali Laras." Tambah Bu Mustika. "Inilah yang Ibu masih ngak ngerti. Aji, sebenarnya apa tujuan dia terus saja mengulang alur waktu?"


Aku pun terdiam. Sebetulnya aku bukan tidak mau menjawab pertanyaan itu. Hanya saja, kupikir ini bukanlah saat yang tepat. Aku takut jika aku memberitahukan alasan Laras yang sebenarnya sekarang, bisa saja Bu Mustika dan Ronny malah memutuskan untuk berpaling meninggalkanku.


"Itu pasti ada hubungannya dengan kondisi kamu yang seperti sekarang ini bukan?" Lanjutnya.

__ADS_1


Aku mengalihkan pandangan keluar jendela sebelum menjawab. "Ya."


Mobil kembali melaju setelah lampu hijau menyala. Aku memandang keluar kepada orang-orang yang berjalan di trotoar. Berapa banyak masa depan yang tertunda akibat ulahku dan Laras mengulang kembali alur waktu. Belum lagi berapa banyak orang yang harus mengulang penderitaan yang sudah pernah mereka alami. Entahlah, memikirkan hal itu memuatku teringat akan betapa besarnya kesalahan yang telah kuperbuat.


"Hmm Laras ya... Sebenarnya sekali lihat saja Ibu langsung suka loh sama anak itu. Terutama matanya."


"Mata?" Tanyaku heran.


"Iya mata. Kalau melihat mata anak itu Ibu jadi teringat sama almarhum ayahnya Ibu. Mereka berdua punya sorot mata yang sama percis."


"Hoo."


"Jadi dulu ayahnya Ibu itu TNI. Dia sering menjadi perwakilan Indonesia untuk PBB dalam melakukan misi kemanusiaan ke berbagai negara konflik di timur tengah. Mungkin kamu pernah dengar, namanya..."


"Toto Rusdiman Gantari." Potongku.


"Yap, Betul!"


Kurasa hampir semua orang di sekolah mengetahui bahwa Bu Mustika adalah puteri dari seorang tentara nasional yang gugur saat menjalankan misi kemanusiaan beberapa tahun yang lalu di Syria. Berita gugurnya beliau memang menjadi berita nastional saat itu. Membuat namanya terdengar sampai keseluruh pelosok negri.


"Nah Si Laras ini, Ibu liat dia punya sorot mata yang sama seperti ayahnya ibu."


Kulihat Bu Mustika mendelik ke arahku yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion tengah mobil.


"Begitu juga kamu, Aji."


"Huh?! Yang bener aja, masa mata saya disamakan sama mata beku-nya Si Kuncir Dua itu sih?"


"Haha, memangnya kamu ngeliat mata dia kenapa? Kok dibilang beku sih?"


"Ya tante liat aja sendiri. Si Laras kan sering masang tampang dingin gitu didepan orang lain." Langsung saja Ronny ikut menanggapi.


"Hmm, mata beku ya... Haha kalau dipikir-pikir memang keliatannya beku sih. Tapi intinya kalian itu memang punya sorot mata yang sama. Itulah sebabnya waktu Ibu melihat kamu pertama kali tadi, Ibu sampai rela repot-repot mendengarkan kamu bercerita. Karena Ibu suka sama sorot mata kamu."


"Eh? Jadi Bu Oppai suka sama saya?!" Tanyaku antusias.


"Sorot matanya ya, bukan orangnya!"


"Ah, kalau Ronny, Tante Oppai suka juga ngak sama Ron... Adaw!" Bu Mustika segera menjitak kepalanya dengan botol air mineral yang ada di dasbor mobil.


"Jangan kurang ajar ya! Kamu pikir tante ngak tau oppai itu apa, huh?!"


"Ta, tapi itu Si Aji, panggil Ibu Oppai ngak tante marahin... Aww!" Bu Mustika kembali menjitaknya.


"Kalau Si Aji, Tante ngak bisa ngapa-ngapain dia! Jadi ya biarin aja lah dia kayak gitu, anggap aja ngak mendengar apapun."


"Si, sialan lo Ji!"


Aku pun tertawa melihat tingkah pasangan tante dan keponakan di depanku itu. Saat ini mobil sudah berbelok menuju kawasan pemukiman dimana rumah Ronny berada. Bu Mustika mulai mengendarai mobil dengan laju pelan.


"Nah, balik lagi ke pembahasan sebelumnya." Ujar Bu Mustika. "Ini Ibu tidak mengada-ada loh, Ji. Kamu, Laras juga ayahnya ibu, kalian bertiga memang punya sorot mata yang sama. "


Kami pun sampai di depan rumah Ronny. Bu Mustika menghentikan laju mobil tepat di depan pagar rumah. Kemudian dia berbalik badan menatapku dari kursi kemudi. Lalu bertanya.


"Dan kamu tau Aji, tipe orang seperti apa yang memiliki mata seperti kalian itu?"

__ADS_1


Aku pun menggeleng.


"Mata seperti itu, hanya dimiliki seseorang yang sudah menyaksikan begitu banyak kematian."


__ADS_2