Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 13: Forgotten Fragments


__ADS_3

Benar. Tujuh kali sudah alur waktu terulang dan selama empat kali perjalanan awal, aku dan Laras selalu menjadi sepasang partner didalam perjalan kami mengulang alur waktu. Walaupun sebenarnya dibandingkan dengan menyebut kami sebagai partner, lebih tepat jika dikatakan kalau dialah bosnya dan akulah bawahannya. Dia selalu memberikan berbagai macam perintah dan instruksi kepadaku yang sebagian besar isinya adalah membuat hubunganku dengan Mira menjadi semakin baik. Sehingga walaupun Laras selalu memerintahku dengan gaya “permaisuri”-nya yang angkuh itu, aku akan tetap senang saja menuruti kemauannya.


Sudah begitu banyak hal yang terjadi selama 7 kali perjalananku bersamanya sebagai penjelah waktu yang bahkan akupun tidak dapat mengingat satu persatu kejadiannya. Dan dapat kukatakan tidaklah semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Salah satu hal yang diluar rencana kami adalah kondisiku yang seperti sekarang ini. Terbaring kaku tanpa bisa berbuat apapun.


Pada perjalanan kami yang ke-lima, disaat kami tiba di masa lalu, kudapati tubuhku seakan terpisah dengan jiwaku. Kusebut saja demikian agar lebih mudah untuk dipahami. Karena sesungguhnya akupun tidak terlalu paham dengan kondisiku yang seperti sekarang ini. Jangankan aku, Laras pun nampaknya tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Padahal sebelumnya dia adalah boss yang selalu memberiku perintah dan berlagak seolah mengetahui segalanya.


Namun pada akhirnya, kurasa dialah orang yang paling merasa terpukul dan bertanggung jawab dengan keadaan yang tengah kualami saat ini. Bisa kau bayangkan semenjak ragaku terbaring di rumah sakit, setiap harinya Laras selalu datang menjengukku, menemani ragaku dan berceloteh banyak kepadanya. Terlihat sekali bahwa dia benar-benar merasa bersalah dan menyesal dengan semua yang telah terjadi. Seringkali didalam tidurnya saat menemaniku di rumah sakit, aku melihat dia mengigau sambil terus-menerus mengucapkan kata maaf.


Pastilah berat untuknya menjalani perjalanan waktu sendirian tanpa ada satu pun orang yang bisa dijadikannya tempat untuk berbagi. Terlebih lagi semenjak kondisiku seperti ini, akupun seolah terlupakan oleh segenap orang yang ada di sekolah. Memori mereka mengenai diriku seakan hilang begitu saja. Itulah mengapa Mira dan yang lainnya tidak mengenalku saat mereka menjenguk tadi.


Setelah kondisiku berubah seperti ini, terpisah antara raga dan jiwa, aku merasa menjadi seperti angin atau mungkin serpihan-serpihan —Fragmen yang dapat dengan bebas pergi kemanapun kumau dan menyaksikan apapun yang ingin kulihat. —Meskipun secara teknis, seperti yang pernah kukatakan aku tidak bisa melihat bagaimana rupaku sendiri.


Itulah sebabnya meskipun ragaku terbaring kaku di ruang perawatan, aku tetap dapat mengetahui apa saja yang tengah terjadi dan menceritakannya kepadamu. Akan tetapi entah mengapa ada satu tempat yang tidak dapat aku kunjungi, yaitu seluruh wilayah yang termasuk kedalam kawasan Candi Nitehake. Alasannya mungkin karena tempat itu memiliki kekuatan magis tertentu yang menolak kehadiranku disana. Entahlah. Padahal jika saja aku bisa memasuki wilayah itu, aku bisa saja mendapati Laras sedang mandi dirumahnya lalu menceritakannya panjang lebar kepadamu. Tapi sayang, aku tidak bisa pergi kesana.


Ah berbicara mengenai Laras, saat ini dia sedang tertidur tepat disamping tubuhku. Diatas kursi lipat yang selalu menjadi tempatnya berdiam saat dia menemani ragaku di rumah sakit. Ibuku pernah berkata kepada Ami yang sewaktu-waktu duduk diatas kursi lipat itu disaat mereka berdua datang menjenguk.


“Ami, kursi itu kursinya kak Laras. Jadi seandainya nanti dia datang kamu harus mempersilahakan dia duduk disana.”


Jujur saja keluargaku sangat tertolong dengan kehadiran Laras yang setiap harinya selalu datang “menjagaku”. Bapak dan Ibu jadi bisa mengerjakan perkerjaan sehari-hari mereka dengan lebih leluasa. Sedangkan adikku Ami, tidak akan terlalu bersedih dengan keadaanku ini karena Laras selalu bisa menghiburnya dan selalu mengajaknya bermain ketika dia datang menjenguk. Jadi, mengkhususkan satu buah kursi yang letaknya paling dekat dengan ranjang untuk Laras, kupikir bukanlah hal yang terlalu besar jika dibandingkan dengan jasanya selama ini.


Beberapa saat kemudian kulihat Laras membuka matanya lalu menengok kearah jam dinding yang saat itu menunjukan pukul 21.15 malam. Entah sudah berapa lama dia tertidur disana disaat aku sedang bercerita kepada Ronny tadi.


Laras pun bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri dasbor disebrang ranjang lalu mengambil karangan bunga anyelir berwarna merah muda yang tadi dibawa Mira. Saat ini bunga itu sudah berada didalam vas.


“Lo tau Aji, gue sangat suka bunga ini.” Laras berbicara sambil mengusapi kelopak bunga yang ada ditangannya. “Gue gak menyangka dia bakal bawa bunga yang sama dengan yang gue bawa hari ini.”


“Mungkin… dia mulai teringat dengan kenangannya bersama lo.”


Bunga anyelir warna merah muda adalah bunga yang melambangkan kasih sayang juga kenangan yang mendalam. Sangat cocok untuk diberikan sebagai ungkapan rasa empati dan belasungkawa. Nampaknya tidak sia-sia aku mengajari Mira tentang berbagai makna yang dimiliki bunga saat perjalanan waktuku yang ke-dua. Dia tidak melupakannya.


“Maaf, Aji. Sepertinya kali ini gue gagal lagi.”


Laras menghentikan usapan tangannya pada kelopak bunga yang dipegangnya berganti menjadi mengusapi pipiku yang terlihat menonjol tulangnya.

__ADS_1


“Gue harap lo bisa bersabar.” Matanya mulai berlinang ketika mengatakannya. “Maafin gue, Aji… Karena keegoisan gue ini, lo harus menderita lebih lama lagi.”


Diapun mulai menunduk lalu dikecupnya keningku yang terhampar disana. Mungkin, sudah puluhan bahkan ratusan kali dia melakukan itu kepada ragaku yang terbaring.


Disaat yang bersamaan terdengar pintu kamar terbuka. Kulihat Bapak bersama Ami masuk kedalam ruangan. Dengan cepat Laras mengelapi matanya dengan tangan lalu meletakan kembali rangkaian bunga anyelir kedalam vas. Selanjunya dia berjalan menghampiri Bapak dan Ami untuk menyambut kedatangan mereka.


“Sugeng rawuh pak.” Ucap Laras sambil mencium tangan Bapak.


“Laras, awakmu wes makan durung? Yen belum, ayok makan bareng dulu, sek.”


“Sampun Pak. Baru saja.”


“Kak Laras, ini ada titipan dari Ibu.” Ami memberikan bungkusan yang berisi kue mochi kesukaan Laras.


“Ah, makasih Ami.” Laras pun tersenyum sambil mengusap-usap kepala Ami.


Di belakang Bapak dan Ami ternyata ada satu orang lagi yang masuk kedalam ruangan. Dia adalah Bu Susi. Laras yang sempat terkaget melihat kehadirannya, lalu datang menghampirinya dan mencium tangannya.


“Sek ya, Bu Guru aku pamit dulu kebelakang sebentar.” Kata Bapak. “Ami ayo ikut.”


Tapi Ami menjawab dengan mengelengkan kepala sambil menggandeng tangan Laras yang berdiri disampingnya. Kemudian Laras pun duduk diatas sofa yang ada didekat pintu masuk diikuti Ami dan berkata kepada Bapak bahwa tidak apa-apa membiarkan Ami tetap berada disana. Selanjutnya dimulailah percakapan antara Laras dan Bu Susi.


Sekitar setengah jam kemudian, percakapan antara mereka berdua selesai. Kesimpulannya Laras berjanji akan kembali masuk sekolah dan meminta maaf karena sudah membolos selama satu minggu ini. Bu Susi nampaknya tidak marah kepadanya. Dia hanya khawatir kalau-kalau selama ini Laras sedang dalam masalah.  Akan tetapi tentu saja dia sedang dalam masalah. Maksudku aku dan Laras memang selalu dalam masalah semenjak kami memulai perjalan waktu ini.


Bu Susi pun pamit pulang setelah menyempatkan diri melihat kondisi tubuhku yang terbaring diatas ranjang. Kelihatannya, dia sangat prihatin dengan kondisi tubuhku kala itu. Lalu disaat Laras menyamali Bu Susi yang tengah berjalan keluar ruangan, adikku berkata.


“Maaf ya Bu Guru, Kak Laras bolos sekolah karena selama ini dia menjaga Mas-ku disini”


Sambil tersenyum Bu Susi berkata. “Iya sayang gak apa-apa. Ibu doakan semoga Mas-mu lekas sembuh ya.”


Ami menganguk, lalu dia mencium tangan Bu Susi dan menundukan kepalanya.


“Oh iya Bu,” ucap Laras. “Tolong sampaikan terima kasih saya buat Alan.”

__ADS_1


“Ya?” Bu Susi nampak sedikit bingung.


“Tadi saya dan Alan sempat mengobrol dan dia banyak memberi saya masukan berharga. Ah iya, saya lupa bertanya, Ibu tau saya ada disini dari Alan kan?”


“Oh, baiklah kalau begitu biar nanti Ibu sampaikan.”


Damn! Semudah itu Laras bisa menemukan siapa orang yang sudah mengadukan dirinya. Melihatnya seperti ini kembali mengingatkanku betapa mengerikannya jika kau berada di posisi yang berlawanan dengannya.


Kemudian Bu Susi pun pergi keluar ruangan meninggalkan Laras dan Ami berdua disana. Sempat kulihat Laras mengeluarkan wajah dinginnya tapi kemudian segera tersenyum.


“Nah Ami, kita makan mochi ini berdua yuk!”


“Ayok!”


Disaat Laras membuka bungkusan mochi itu dia mencolek tepung yang ada disana lalu menempelkannya ke hidung Ami. Tidak tinggal diam, Ami pun membalasnya dan akhirnya mereka pun tertawa bersama dengan wajah yang dipenuhi corengan tepung.


Keluargaku memang sudah sejak lama mengenal Laras. Orang tua kami berdua merupakan teman dekat yang hubungannya sudah seperti saudara. Alasanya tidak lain karena hubungan bisnis antara keluarga kami telah terjalin secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Seperti yang sudah kau ketahui, keluarga Laras merupakan keluarga abdi dalem penjaga Candi Nitehake yang konon telah ada disana semenjak ratusan tahun yang lalu. Sedangkan keluargaku merupakan keluarga petani bunga yang selalu menjadi langganan mereka disaat mengadakan berbagai macam acara kebudayaan.


Setiap libur sekolah ketika aku masih kecil, sudah menjadi rutinitas buatku untuk menginap di rumah Laras sekitar 4 sampai 5 hari. Seperti kebanyakan hal yang dilakukan oleh anak-anak ingusan pada umumnya, kami menghabiskan waktu bermain kami dengan menangkap belalang, kumbang atau pun yuyu kangkang yang banyak tersebar di area persawahan dan kebun yang ada di pelataran Candi.


Laras sebenarnya tidak pernah terlihat senang ketika kuajak melakukan hal itu. Dia selalu jijik dengan apa saja hewan kecil yang berhasil kutangkap. Pernah satu kali dia menangis sejadi-jadinya karena kujahili dengan menaruh belalang sembah di bahunya saat kami bermain di pelataran timur. Kala itu dia mengatakan kalau dia tidak akan pernah mau lagi bermain dengaku.  Tapi pada akhirnya toh dia tetap saja mengikutiku kemanapun aku pergi.


Bisa kubilang dulu Laras adalah anak yang pemalu dan cengeng tidak seperti sekarang. Laras menjadi galak dan menyeramkan seperti saat ini semenjak kami duduk di bangku SMP.  Perlakuannya dan cara pandangnya kepadaku pun berubah semenjak itu. Kurasa kini dia hanya menganggapku tidak lebihnya sebagai remaja bodoh yang tidak mengerti apapun dan tidak dapat diandalkan. Dan memang seperti itulah kebanyakan orang memandangku.


Terkecuali satu yang memandang dan memperlakukanku berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya. Dialah Mira. Seseorang yang sangat kukagumi dan sangat kucintai. Seseorang yang menjadi poros dari semua peristiwa yang telah terjadi. Dialah alasan yang membuatku berjuang sampai sejauh ini. Dialah seseorang yang menjadi penyebab utama mengapa aku terbaring tak berdaya disini. Diperbatasan antara hidup dan mati.


“Wah Anyelir warna pink!” Seru Ami sambil berjalan menghampiri dasbor disamping ranjangku. “Ini Kak Laras yang bawa?”


Tapi Laras tidak menjawabnya dan hanya tersenyum tipis.


“Oh ada nama pengirimnya, tumben Kak Laras pake kartu beginian segala, hihi. Hmm? Dari Kak Mira? Memangnya tadi Kak Mira datang kesini ya?”


“I, iya.” Ucap Laras sambil membereskan bungkusan kue mochi yang tadi mereka habiskan. Tapi seketika gerakannya pun tertahan. Dia nampak terkejut sekali. Begitu juga aku. Karena tentu saja saat itu Ami baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya sudah dilupakannya.

__ADS_1


__ADS_2