Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 26: Death Parade (Part IV)


__ADS_3

“Lelucon tolol apa yang coba lo mainkan, Aji?”


Wajah Laras merah padam menatapku dengan matanya yang dingin itu. Melihat tampangnya waktu itu membuatku teringat akan ekspresi Ibu ketika menemukanku membawa masuk cacing tanah ke dalam rumah ketika aku masih kecil.


“A, Aji… kita mau ngapain kesini?” Mira pun bertanya.


“Kita akan diam disini sampai lewat jam 22.13.” Jawabku.


Diakhir perjalanan waktuku yang ke-tiga, aku membawa Mira menuju pintu masuk selatan candi utama.


Rencanya aku akan melindungi dia di dalam candi kecil yang ada disana yang selama ini dijadikan tempatku dan Laras melakukan ritual untuk mengulang kembali alur waktu. Karena setelah kupertimbangkan, jika pun ada tempat yang paling aman tanpa ada seorang pun yang dapat menemukan kami hari itu, maka disana adalah tempatnya.


“Ha, halo Laras.” Sapa Mira sambil berusaha menutupi ketegangan di wajahnya dengan tersenyum.


“Ha, hai Mir.” Laras pun demikian.


Akan tetapi senyum Laras itu langsung berubah ketika dia menoleh ke arahku. Dengan segera dia kembali memasang wajah dinginnya yang semula.


“Mm, memangnya ada apa jam 22.13?”


Aku dan Laras tidak lekas menjawabnya karena saat itu kami berdua sedang sibuk beradu tatap.


“Ngak ada apa-apa, Mir.” Laras kembali tesenyum. “Ah, kebetulan kamu mampir, gimana kalau kita ngobrolnya di dalam candi itu aja?”


Mira melihat kearahku seolah meminta persetujuan, lalu setelah kuberikan isyarat anggukan akhirnya kami bertiga pun beranjak memasuki candi kecil itu. Disaat kami berjalan kesana dapat kurasakan teror kemurkaan dari Laras meskipun dia berjalan di depanku tanpa sekalipun menoleh.


Sesampainya di dalam, aku duduk di salah satu dudukan batu yang ada di pojok ruangan. Sedangkan Mira dan Laras duduk diatas karpet yang ada di tengah-tengah.


“Mir, ngomong-ngomong tadi Aji bilang apa? Kok kamu mau dia ajak kesini?”


“Tadi Aji bilang dia mau memperkenalkan aku sama penari Wita Grahana. Terus aku kira dia bakalan ngajak aku ke belakang panggung utama. Eh, ngak taunya dia malah membawaku kesini.”


Mira berpikir sejenak sambil menelisik pakaian tradisional khas abdi dalem penjaga candi yang digunakan Laras. Waktu itu Laras belum menggunakan pakaian tari-nya dan memang semenjak perjalanan “mengulang alur waktu” ku bersamanya dimulai, Laras belum pernah lagi tampil dalam pertunjukan Tarian Wita Grahana yang seharusnya digelar pada saat puncak gerhana. Karena tentu saja pada saat itu kami sedang sibuk melakukan ritual memutar kembali alur waktu.


“Hmm sebentar." Ucap Mira sambil meneliti Laras dari atas sampai bawah. "Jangan-jangan, orang yang mau Aji perkenalkan sama aku itu… kamu, Ras?!”

__ADS_1


“Ya… Mungkin?”


“Wah!” Wajah Mira terlihat berbinar. “Jadi yang selama ini menari Wita Grahana itu kamu?! Kok kamu gak pernah cerita sih? Aku selalu nonton kamu loh setiap tahunnya. Tarianmu indah sekali!


“Ya, begitulah… haha!”


“Selama ini aku berpikir, hmm… pasti gadis yang ada dibalik topeng itu orangnya cantik.” Mira mengetuk-ngetuk pipinya seperti sedang berpikir. “Dan ternyata aku benar! Hihi.”


“Eh? Aduh kamu bisa aja deh, Mir.” Laras tersipu. "Tapi menurutku kamu bakal lebih cocok dari pada aku. Kapan-kapan kamu coba ya pakai kostum tari tradisonal? Disini ada banyak banget loh modelnya. Pasti cantik banget deh kalo kamu yang pakai."


"Ah, tapi Ras, aku ngak bisa nari."


"Tenang, nanti aku ajarin."


Begitulah Mira. Kehadirannya selalu bisa membawa kebahagiaan bagi siapa saja. Bahkan bagi seorang Laras yang belum pernah sekalipun terlihat bahagia di depanku, dengan mudahnya dibuat senang dan tersipu malu.


Seandainya saja situasinya tidak seperti ini tentu aku pun akan segera bergabung bersama mereka, membicarakan berbagai macam hal yang dapat membuat kami semua tertawa. Akan tetapi beban perasaan yang kupikul kala itu terasa begitu berat sehingga rasanya tak mungkin akan ada hal yang dapat membuatku tersenyum sekalipun.


Sudah lebih dari setengah jam Laras dan Mira kubiarkan saja mengobrol berdua disana. Sedangkan aku sendiri selalu sibuk menghitung mundur detik yang berlalu pada jam tanganku.


Akhirnya disaat hanya tinggal sedikit waktu yang tersisa, aku pun berdiri menghampiri mereka.


Kemudian aku berjalan menuju akses masuk candi, lalu menutup pagar teralis yang ada disana dengan rapat. Mira sempat bertanya kepadaku mengapa aku menutup akses masuk, akan tetapi aku tidak menggubrisnya. Setelah itu aku pun berdiri disamping Mira sambil terus melihat sekelilingku dan bersiap dengan berbagai kemungkinan yang terjadi.


“Aji, ini kita ngapain?”


“Mungkin dia gak mau yang lain tau kalau kita ada disini.” Laras menjawabnya untukku.


“Kenapa?”


“Hmm sebenarnya, aku gak mau kalau banyak orang yang tau identitas asliku.”


“Oh.” Mira sepertinya dapat menerima alasan itu.


Tapi setelah itu, kami hanya terdiam dengan pikiran kami masing-masing. Aku sendiri tidak dapat menyembunyikan ketegangan di wajahku dan nafasku pun semakin memburu.

__ADS_1


Sedangkan Laras, dia masih terlihat tenang dengan matanya yang terpejam. Aku tidak tau kengerian apa yang akan terjadi kali ini. Karena memang candi kecil ini tidak punya atap, maka satu-satunya kemungkinan yang dapat kuterka hanyalah seluruh tembok candi roboh. Tapi jika memang itu yang terjadi, aku sudah siap untuk melindungi Mira dengan tubuhku sendiri.


“Aji, aku pengen keluar.” Kata Mira yang sepertinya menyadari bahwa ada yang tidak beres.


Aku tidak menjawabnya dan hanya memalingkan muka.


“Aji!”


Karena aku selalu tidak meresponnya, akhirnya Mira memilih untuk mengajak Laras berbicara. Namun, disaat dia hendak membuka mulutnya untuk berbicara, Mira terpekik karena suara dentuman kembang api dari luar.


“Ah, pertunjukan kembang apinya sudah dimulai! Laras, Aji, ayok kita lihat kembang apinya sama-sama.”


Saat itu juga aku langsung memeluk Mira yang masih duduk disampingku dan saat itu juga kulihat Laras yang sedang mendekap kedua tangannya di depan dada sambil terus memanjatkan doa. Aku lekas menengok jam tanganku dan ternyata hanya tinggal beberapa detik saja sebelum waktunya tiba.


“A, Aji? Hey kamu ngapain?” Mira mencoba berontak.


Waktu itu aku sempat berkata dalam hati. Nah, hal buruk apakah yang mungkin akan terjadi? Jika Engkau ingin mengambil Mira, maka bawalah juga diriku ini!


“Hey, Aji lepasin! Laras, ini Aji kenapa?"


Bukannya menjawab, Laras malah ikut bergabung memeluk Mira dan akhirnya kami bertiga pun berpelukan. Menantikan hal buruk apa yang akan menimpa kami.


"Uhuk… Laras? Aji? Kalian... Uhuk! Kena... pa..."


Tiba-tiba Mira menjadi tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya mengejang dan mulai bergetar hebat. Kulihat bola matanya terbalik dan mulunya mengeluarkan busa.


“Mira? Oi Mira! Ras, Mira kenapa, Ras?”


Tidak lama berselang, akhirnya Mira yang berada di dalam dekapanku sudah tidak bernafas lagi. Dia pergi begitu saja tanpa ada penyebabnya. Aku pun menangis sejadi-jadinya mengeluarkan semua kepedihan berserta asa yang tadi masih sempat ada.


Laras pun sama, awalnya dia hanya terpaku melihat apa yang terjadi. Namun setelah dia melihatku menangis akhirnya tangisnya pun pecah, bahkan lebih kencang dari tangisanku. Ratapan kami menggema dari dinding tembok batu yang ada di sekeliling seperti sedang bersautan. Kami tetap menangis dan menangis karena memang hanya itu saja yang bisa kami lakukan.


Kami tetap membaringkan jasad Mira disana tanpa memberitahu siapapun tentang apa yang telah terjadi. Selama lebih dari tiga jam sebelum gerhana bulan terjadi aku hanya diam termenung di salah satu pojok ruangan. Sedangkan Laras berusaha mengisi kegiatannya dengan mengurusi jasad Mira agar tetap mendapat perlakuan yang layak. Seperti menyelimutinya dengan kain samping, membersihkan seluruh bagiannya yang kotor, serta memberinya wewangian yang dia bawa dari rumahnya.


Disaat gerhana bulan sampai pada puncaknya, kami pun siap untuk melakukan ritual mengulang kembali alur waktu. Lalu, disaat Laras hendak meraih tanganku untuk diambil darahnya dan dioleskan pada arca, aku sempat berkata padanya.

__ADS_1


"Ras, semua ini percuma. Setelah ini gue ngak akan lagi mengulang alur waktu."


Laras tidak menanggapi dan hanya melanjutkan ritualnya. Lalu disaat semua persiapan selesai, terdengar suara dari arah pagar teralis yang ada di pintu masuk candi. Langsung saja aku menoleh dan betapa terkejutnya aku karena disana kutemukan Ami yang terjatuh menabrak pagar.


__ADS_2