Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 17: You See What I See?


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya kepada Bu Susi tiga hari yang lalu, kini Laras kembali masuk sekolah. Dia tiba hanya beberapa menit saja sebelum bel tanda masuk berbunyi. Setelah meletakan tasnya di bangku, dia lekas pergi lagi ke lapangan untuk mengikuti upacara bendera hari senin.


Ada yang berbeda dengannya hari ini. Dia nampak tidak memperdulikan siapapun atau apapun yang terjadi di disekelilingnya. Beberapa siswa perempuan mencoba menyapa dan menanyakan kabarnya karena sudah hampir satu minggu ini absen. Namun Laras sama sekali tidak menggubrisnya dan hanya memasang wajah dinginnya sepanjang waktu.


Bahkan sebelum upacara dimulai, seorang siswa sempat menubruknya karena sedang bercanda bersama siswa lain. Akan tetapi Laras tetap saja diam. Padahal siswa itu sudah takut panas dingin karena tau bahwa yang tabraknya adalah Laras.


Selama jam pelajaran Laras pun tetap seperti itu. Dia tidak berbicara satu kali pun selama berada didalam kelas. Bahkan Pak Gun-gun alias Guntoro, sang guru matematika hanya mendapat perlakuan ketus darinya disaat berterima kasih karena Laras sudah menyelesaikan soal di papan tulis.


Aku sendiri hanya bisa menyaksikan saja semuanya dari tempatku biasa berdiam saat gentayangan di ruang kelas. Ya dimana lagi kalau bukan disamping Mira. Sambil menyandarkan sikut di mejanya, kunikmati wajah Mira dari berbagai sudut. Dari depan, samping, juga bawah. Yap, mau dilihat dari mana juga Mira memang benar-benar manis!


Berapa kali pun aku melihatnya sampai saat ini, aku masih saja bingung. Berapa banyak sebenarnya glukosa yang dia konsumsi untuk bisa terlihat semanis ini.


Oh iya berhubung sekarang aku tau kalau ternyata aku ini memiliki wujud layaknya tubuh asliku dulu, aku pun langsung mendapat ide menarik. Aku sampai bergidik geli ketika memikirkan ide ini. Ngak apa-apa kan ya kalau melakukan ini? Ya kalau hanya sedikit saja mungkin... ngak apa-apa.


Setelah memantau kondisi disekelilingku, walaupun sebenarnya sudah pasti tidak akan ada orang melihat, tapi tetap saja rasanya deg-degan. Dalam kondisi ruang kelas yang hening saat Pak Gun-gun menerengakan suatu rumus dipapan tulis itu, secara perlahan kudekatkan wajahku ke wajah Mira yang sedang berkonsentrasi.


Ah bibirnya yang mungil kini sudah begitu dekat. Sesekali kulihat dia bergetar karena berulang kali Mira menguman tentang rumus-rumus matematika yang dijelaskan. Memikirkan bahwa aku akan menciumnya ditengah ruang kelas yang penuh saat pelajaran belangsung seperti ini, membuatku menjadi sangat... exciting? Belum lagi aku teringat kalau kemarin aku telah berhasil menekan bel rumah Ronny. Akankah kali ini aku juga benar-benar bisa menciumnya?


Aku tidak tau seperti apa raut wajahku saat ini. Tapi dapat kubayangkan, sepertinya aku sedang memonyongkan bibir. Kini bibir kami hanya tinggal satu senti saja terpaut. Akan tetapi saat itu juga seorang siswa berteriak memecah keheningan ruang kelas.


"Woi, Aji!"


Sial! Tentu saja di kelas ini ada dia! Si bocah sekedar bodoh sangat itu.


Sontak semua pun langsung menoleh kearah Ronny yang baru berteriak lantang, termasuk Mira. Sedangkan aku masih berdiri menggantung dengan mulut monyongku.


"Ya? Ada apa sodara Ronny?" Tanya Pak Gun-gun.


"Eh? Ngak pak! Emm anu, itu saya... Saya ngelindur! Haha, mohon maaf Pak, ahaha!"


Para siswa pun tertawa karena tingkah konyol yang Ronny lakukan. Tapi tidak semuanya. Keempat orang siswa lain yang juga pernah mengunjungi ragaku di Rumah Sakit, mereka semua memandang Ronny dengan jeda. Lalu tiba-tiba saja.


Brak!


Seorang siswa mengebrak mejanya seraya berdiri. Laras. Dia menatap tajam kearah Ronny dengan wajah terkejutnya yang tidak santai.


Ruang kelas pun seketika kembali hening. Semua menoleh kearah Laras dengan heran dan semuanya pun terdiam. Bahkan Pak Gun-gun sekalipun nampaknya tidak berani untuk menegur Laras.


Bagaimana tidak, semua guru di sekolah mengetahui jika Laras adalah putri tunggal dari Ketua Adat di pulau kami. Dan sampai saat ini jika kau bertanya berapa banyak orang yang berani berurusan dengan keluarganya Laras, maka jawabannya adalah nihil.


Di Pulau Lembari keluarga Abiseka dipandang sebagai perpanjangan tangan dari Nitehake. Jadi seandainya ada orang yang berani berurusan dengan mereka, maka nasib buruk nampaknya terlalu ringan untuk dijadikan hukuman atas kelancangan yang telah diperbuat.


Cukup lama kondisi hening di ruang kelas itu berlangsung. Hingga akhirnya Laras pun berbicara.

__ADS_1


"Maaf pak, saya ijin kebelakang." Ujarnya.


Dia pun pergi, diikuti pandangan dari semua orang yang ada di kelas. Saat itu juga aku segera menghampiri Ronny lalu berbisik ke telinganya.


"Ron, sebelum bel istirahat elo harus udah cabut dari kelas!"


***


 


"Ancur Ron, ancur semua kalo gini!"


Saat ini aku dan Ronny sudah berada di lantai tiga disamping Lab Fisika. Sesuai dengan instruksiku, dia ijin pergi ke toilet sepuluh menit sebelum bel istirahat berbunyi. Ketika dia minta ijin ke Pak Gun-gun tadi, sebenarnya Laras sudah berdiri dari bangkunya. Hendak mengikuti. Akan tetapi untung saja Laras tidak bisa ijin lagi keluar kelas. Karena dia baru saja kembali kedalam.


"Emang apaan sih yang ancur?" Dia bertanya.


Akupun menghela nafas. "Oke, gue belum kasih tau lo kalau sebenernya gue nyeritain semuanya ini, karena gue perlu bantuan dari lo, Ron."


Dia hanya diam menungguku melanjutkan.


"Gue pengen lo menghentikan Laras mengulang kembali alur waktu."


Ronny pun tertegun. Kemudian dia naik keatas pembatas balkon lalu duduk disana dengan posisi duduknya itu. Ala patung Socrates.


"Tadinya gue mau ngasih tau lo ini setelah gue selesai nyeritain semuanya secara... komprehensif." Lanjutku. "Tapi karena ketololan lo yang manggil nama gue didalam kelas tadi, shit! Sekarang Laras jadi curiga."


"Jangan pernah remehkan Laras, Ron! Jangan pernah!" Aku sedikit membentak. "Kenapa? Karena seperti yang elo tau, dia bisa mengulang waktu. Apa lo pikir cuma itu doang hal yang dia bisa lakukan?"


"Me, memangnya apalagi yang bisa dia lakukan?"


"Jelasnya nanti gue kasih tau sambil melanjutkan cerita gue." Jawabku. "Tapi sekarang gue mau denger jawaban lo dulu, Ron. Lo mau bantu gue atau engak?"


Dengan tetap pada posisi duduknya, Ronny menjawab tegas. "Gue mau!"


"Good. Nah sekarang gue mau tanya lagi, sebenernya kemaren itu lo kenapa? Tiba-tiba kejang gitu didepan rumah."


"Ugh." Dia memegangi keningnya. "Gue ngak tau. Kemaren itu rasanya kepala gue berputar-putar. Gue masih sempet ngedenger lo ngomong tapi badan gue kaku semua. Makanya itu gue berusaha sekuat mungkin biar ngak ilang kesadaran. Karena gue tau lo ngak mungkin bisa berbuat apa-apa kalo gue pingsan disana."


"Nah terus, habis lo masuk kedalem rumah?"


"Habis itu gue masih terus ngerasa panas dingin, Ji. Mau pingsan! Tapi gue lawan. Sampai akhirnya badan gue kerasa mulai normal lagi. Nah semenjak itu..."


"Ya?" Aku tidak sabar mendengar lanjutannya.

__ADS_1


"Gue bisa mengingat dengan jelas semua hal yang udah lo ceritain. Tentang semua kejadian waktu kita masih kelas satu dan dua."


Aku pun terkejut. Ronny bukanlah satu-satunya orang yang mengalami kejadian seperti itu. Saat di Rumah Sakit Ami pun mengalaminya. Dia seolah ingat tentang kejadian di alur waktu yang telah lalu. Tapi perbedaannya, Ronny tetap tersadar hingga akhir sedangkan Ami tidak.


"Oke, kalau begitu gue harus secepetnya nyeritain semua cerita gue sama lo. Mungkin aja setelah gue cerita semuanya, lo juga bisa mengingat semua hal yang sudah terjadi."


"Dan kalo gue bisa inget semuanya," sahut Ronny. "Gue jadi bisa lebih mudah ngebantuin lo menghentikan Laras?"


"Cerdas!" Sahutku.


"Oke, serahkan semuanya sama gue!" Dia pun berbinar sambil mengacungkan jempol.


Sesaat kemudian kami terdiam karena pintu Lab Fisika terbuka dari dalam. Kami berdua pun terperanga. Karena dari sana keluar dada besar, ah maksudku keluar seorang guru muda yang berdada besar. Jas Lab putih yang dia kenakan tidak cukup untuk menyembunyikan sepasang lekungan oval sempurna yang dimilikinya itu. Perlu kau tau bahwa setelah Mira, dialah "idol" ke-dua terpupoler di sekolah kami. Namanya Mustika.


"Ronny ngapain kamu disini?" Tanya Bu Mustika sambil membenarkan kacamata stylishnya.


"Ng... gak tante. Ini saya lagi nganu..."


"Hush! Udah dibilangin jangan panggil tante kalau di sekolah." Tegur Bu Mustika.


"Ron! Cepetan nunduk, Ron!" Aku berteriak.


"Huh?" Ronny pun segera menunduk bersembunyi dibalik tembok pembatas balkon. "Kenapa si?"


"Laras. Dia lagi nyariin lo."


"Huh? Dimana?"


Sambil tetap menunduk, Ronny mengintip dari balik tembok pembatas balkon dan kami lihat Laras sedang berjalan di lorong lantai dua. Dia menoleh kesana-kemari seakan sedang mencari sesuatu. Ditanganya terdapat kotak bekal yang biasa dia gunakan setiap hari.


"Hmm, Laras?"


Aku dan Ronny sontak menoleh ke sumber suara. Sepasang dada Bu Mustika kini sudah menggantung tepat di antara kami berdua. Sial! Kenapa aku bisa lupa kalau sedari tadi Bu Mustika masih ada disini.


"Memangnya kenapa Laras sampai nyariin kamu, Ron?" Tanya Bu Mustika lagi.


"Huh? Engak kok haha ngak apa-apa." Jawab Ronny kikuk.


Tunggu. Ada yang janggal dengan pertanyaan Bu Mustika tadi.


"Ooh, jadi kamu mau main rahasia-rahasian ya sama Ibu?"


"Rahasia? Haha, ngak kok beneran..."

__ADS_1


"Nah kalau temanmu yang satu ini." Ucap Bu Mustika sambil menunjukku dengan jempolnya. "Siapa?"


Aku pun terbelalak menatap da-, maksudku jempol yang kini berada tepat didepan batang hidungku.


__ADS_2