
Sepulang sekolah Alan dan kawan-kawan tidak langsung meninggalkan ruang kelas. Mereka ber-empat kembali berkumpul di meja Alan dengan wajah serius mengamati pesan di ponsel Mira yang masih berdistorsi.
"Mau dilihat bagaimana juga, ini..." Ujar Dian.
"Terlalu Aneh." Sahut Alan. "Dan yang paling anehnya adalah tanggal pengirimannya. Kenapa 28 Juli, apa itu artinya pesan ini dari masa depan?"
Mereka jadi terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan Alan.
"Gak mungkin deh kayaknya, haha." Ujar Mira sambil mencoba tertawa. "Sepertinya ini cuma kerjaan orang iseng aja."
"Hmm, menurut kamu, orang iseng bisa membuat hal seperti ini?"
"Bener kata Alan, Mir. Gimana caranya coba orang bisa buat pesan super aneh macem gini? Lagian kalau memang ini kerjaan orang iseng..." Dian berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Toh ada nama pengirimnya disini."
"Ya. Meskipun tidak terbaca jelas tapi disini tertulis..."
"Muahaha!" Tiba-tiba saja Ronny terbahak dengan kerasnya sampai membuat ketiga temannya terkejut dan sontak menoleh kearahnya. Dia terlihat duduk di atas mejanya di sebelah meja Alan sambil melakukan pose ala patung Socrates.
"Begitu ya, akhirnya... akhirnya datang juga." Ucapnya sambil terkekeh.
Selanjutnya setelah dia mendelik sinis kearahku, dia pun berdiri diatas meja sambil menunjuk. "Pesan ini adalah salah satu teka-teki yang udah gue persiapkan! Nah, sekarang gue tantang kalian buat memecahkannya! Muahaha."
"Ya, meskipun tidak terbaca jelas tapi disini tertulis..."
"Oi Alan, jangan kacangin gue dong!"
Alan sempat menoleh karena kalimatnya yang terpotong.
"Ya, disini tertulis..."
"Oiii, bangke!"
Ronny pun turun dari meja lalu merangkul Alan dan mengosok-gosok kepala Alan menggubakan kepalan tangannya. Diringin gelak tawa dari semua. Ronny memang selalu seperti itu. Si anak yang hanya bodoh sangat ini memang terobsesi dengan cerita-cerita misteri. Walaupun sebenarnya hanya satu saja cerita yang dia tau. Detective Conan.
Disela suasana cair itu, terdengar suara pintu masuk kelas diketuk. Membuat mereka berempat secara bersamaan terlalihkan perhatiannya. Dari raut wajahnya, nampaknya mereka semua sangat terkejut dengan apa yang mereka temukan disana. Jauh lebih terkejut dibanding saat melihat Ronny yang naik keatas meja tadi.
Mengapa? Karena seseorang yang ada disana adalah orang yang namanya tertulis di dalam pesan berdistorsi.
"Bisa ikut gue sebentar, Alan?"
Mau tidak mau Alan pun beranjak mengikutinya. Sesampai di lorong, setelah sekian waktu Alan berjalan mengikutinya dia pun bertanya.
“Ada apa Ras?”
“Gak kenapa-kenapa. Pengen aja ngeliat lo jalan kesini.”
Alan menghela nafas, lalu membalikan bola matanya. Akan tetapi dia tidak bisa menyembunyikan kalau sebenarnya dia sedang merasa tegang.
“Elo kenapa? Santai aja kali, gue gak akan marah-marah kayak waktu itu kok. Gue cuma mau tanya, besok elo ngak ada acara kan?”
“Kenapa memangnya?”
“Gue mau ngajak lo jalan. Bisa kan?”
Alan berpikir sejenak. “Mau jalan kemana?”
“Nanti juga lo tau. Tapi intinya lo ga ada acara kan besok?”
“Ya memang ga ada sih.”
“Yasudah, besok kita ketemuan di Bunderan Lima jam sembilan pagi.” Ujar Laras sambil berlalu.
***
Hari sudah menjadi sore ketika Alan selesai dengan pekerjaannya dalam persiapan parade festival. Pekerjaannya hari ini cukup banyak sehingga dia harus pulang lebih sore dari seharusnya. Disaat dia sampai di pintu keluar sekolah, dilihatnya hanya ada Mira yang sedang menantinya disana.
__ADS_1
“Dian kemana?” Tanya Alan.
“Duluan pulang. Katanya dia buru-buru.”
“Oh.”
Dengan ketidak beradaan Dian membuat Alan dan Mira jadi terkesan terlalu hati-hati. Hanya dua kali mereka mengobrol selama perjalanan. Sekali membahas cuaca, sekali lagi mengulas pelajaran yang tadi disampaikan. Selebihnya mungkin mereka berkomunikasi melalui isyarat.
Setelah berjalan beberapa ratus meter dari sekolah mereka pun sampai pada jalan raya yang disampinnya terdapat sebuah kedai jus.
“Eh Alan kamu mau jus? Aku traktir deh.”
“Ah gausah, Mir.”
“Udah ngak apa-apa, ayok!” Ucap Mira sambil menarik tangan Alan.
Sesampainya di kedai jus, Mira pun memesan jus untuk mereka berdua.
“Mas, jus jambunya satu. Kamu mau jus apa Alan?”
“Emm, sama.”
“Jus jambunya dua ya mas.”
Saat menunggu pesanan Alan terlihat gugup. Bagaimana tidak, sedari tadi tangan Mira masih saja terus menggenggam tangannya. Mira baru menyadari hal itu ketika mas pejual jus menyodorkan pesanan mereka. Buru-buru Mira melepas genggamannya, lalu membayar dengan gelagat panik.
Mereka berdua lalu duduk di kursi yang ada di kedai untuk menikmati jus yang baru mereka beli dengan wajah tegang. Tidak ada topik pembicaraan. Mereka hanya sibuk menyeruput jus nya masing-masing.
Tepat disebrang kedai jus itu terdapat sebuah taman kota yang cukup luas. Di tengah-tengah taman terdapat kolam pancuran dengan berbagai tanaman hias di sekelilingnya. Saat sore hari seperti ini, apalagi akhir pekan, akan banyak sekali orang yang menghabiskan waktu disana untuk sekedar duduk-duduk, jogging atau bersepeda.
Didekat pancuran itu terdapat sebuah konser akustik yang sedang digelar oleh musisi jalanan setempat. Mira yang sedang menyeruputi jusnya menjadi teralihkan perhatiannya kesana.
“Lan, kita kesana yuk!” Mira lagi-lagi menarik tangan Alan. Raut wajahnya yang tadi sempat tegang kini kembali ceria.
Mereka berdua pun menyebrangi jalan untuk kemudian memasuki area taman. Selanjutnya mereka duduk dibagian paling belakang dari kerumunan orang yang sedang menonton konser. Diantara kerumunan itu terdapat beberapa siswa satu sekolah dengan mereka yang ketika itu juga melambaikan tangan kearah Mira menyambut kedatangannya.
“Enak kan lagunya?” Kata Mira. “Dari kelas sepuluh aku sama Dian kadang suka mampir kesini kalau mereka lagi konser.”
“Ah, iya aku juga pernah gak sengaja liat kamu lagi nonton konser disini. Waktu aku lewat sepulang sekolah.”
“Hmm? Waktu kelas sepuluh?”
“Yap.” Jawab Alan sambil tersenyum.
Namun segera saja senyum di wajah Alan berubah menjadi raut wajah kaget. Begitu juga Mira, bola matanya jadi membesar ketika mendengar jawaban Alan.
Alasannya, karena sesungguhnya mereka berdua belum berada di kelas yang sama saat masih kelas sepuluh. Jadi seharusnya mereka belum saling kenal. Bahkan selama setahun mereka berada di kelas yang sama saat kelas sebelas, Alan belum pernah sekalipun berbicara kepada Mira. Perbincangan pertama mereka adalah pada saat Mira ulang tahun dua bulan yang lalu.
Mereka saling mengalihkan pandangan, lalu melihat ke berbagai arah sambil kembali menyeruputi jus jambu. Tidak lama kemudian suara tepuk tangan penonton membuat mereka seperti tersadar lalu akhirnya ikut membaur bersama keramaian.
Satu buah lagu selesai dimainkan, sang vokalis wanita dari band itu mengucapkan beberapa kata sambutan dan terima kasih. Kemudian dia terlihat berdiskusi dengan rekan satu bandnya lalu setelah itu dia tersenyum ke arah penonton. Atau lebih tepatnya ke arah Mira. Dia berkata.
“Temen-temen, ada yang mau ikut main bareng kita?”
Namun tidak ada yang menjawab.
“Hmm kalau gitu, siapa yang setuju kalau Mira ikutan kita main?”
Sejurus kemudian sang vokalis sudah berada didepan Mira lalu menjulurkan tangannya. Mira awalnya menolak dengan mengayunkan tangan sambil tersenyum miris. Tapi akhirnya dia tidak lagi dapat mengelak ketika sang vokalis meminta para penonton untuk mengelu-elukan namanya. Mira pun berdiri lalu maju kedepan diiringi riuh tepuk tangan penonton.
Seorang anggota band memberikan biolanya kepada Mira lalu duduk bergabung dengan kerumunan. Sang vokalis bertanya lagu apa yang hendak dibawakan. Lalu Mira menjawab. “Autumn Leaves” katanya.
Dengan aba-aba untuk mengatur tempo, mereka pun mulai memainkan lagu itu. Semilir angin sore seolah menyampaikan setiap nada yang tercipta, membuat siapa yang mendengarnya menjadi terbuai. Satu-persatu orang mulai berdatangan, bergabung kedalam kerumunan, dan dalam sekejap saja tempat itu sudah menjadi sangat ramai.
Saat Mira menunjukan permainan solo nya, semua penonton bertepuk tangan, terpukau dengan apa yang mereka saksikan. Tanpa terasa akhirnya lagu itu pun selesai dimainkan. Para penonton yang masih belum tersadar dari buaian seperti terhenyak lalu akhirnya bertepuk tangan dengan meriah.
__ADS_1
Setelah meminta pononton bertepuk tangan sekali lagi untuk Mira, sang vokalis mempersilahkan Mira kembali duduk. Mira pun meminta diri dengan menundukan kepala, kemudian dia kembali ke tempatnya duduk semula, disamping Alan.
“Wow kamu hebat sekali Mira!” Kata Alan. “Aku gak nyangka loh kalau kamu jago banget main biola.”
“Hihi, ga juga, biasa aja. Aku dari kecil memang sudah les bebagai macam alat musik, jadi ya aku bisa lah mainin dikit-dikit.”
“Tapi keliatannya kamu sudah sering ikut mereka konser disini ya? Kelihatannya kalian sudah kenal lama.”
Mira pun menceritakan bagaimana awalnya dia bisa ikut bermain musik disana. Bahwa sebenarnya hal itu adalah ulah Dian yang memaksanya untuk maju ketika sang vokalis meminta relawan seperti tadi. Semenjak itu Mira menjadi dikenal oleh para anggota band serta beberapa penonton setia mereka disana.
“Ya walaupun kelihatanya begitu, tapi sebenernya aku cuma bisa bawain beberapa lagu saja yang aku hafal.” Lanjut Mira. “Biola di rumahku juga udah jarang aku sentuh. Tadi juga banyak yang miss waktu aku main, hihi.”
“Tetap saja Mir, penampilan kamu tadi itu luar biasa. Kapan-kapan kamu tunjukin lagi ya keahlian kamu main biola ke aku!”
“Bo, boleh.”
Mira jadi sedikit tersipu, lalu dengan cepat dia mengambil jus yang ada disampingnya. Kemudian menyeruputnya perlahan.
“Mi, Mira... yang itu… punyaku.”
Sontak saja Mira terbelalak. Memandang Alan dengan sedotan yang masih menempel pada bibirnya yang mengembung.
“Eh maaf! Kukira ini punyaku.”
Mira buru-buru mencabut sedotan dari bibir mungilnya. Namun disaat dia hendak menukarkan jus yang sedang dia pegang dengan yang satunya lagi, geraknya tertahan, berhenti, kemudian wajahnya berubah merah. Karena saat itu ditemukannya sedotan yang ada di cup yang satunya lagi sudah penuh dengan bekas gigitan. Hingga membuat sedotan itu sudah berubah gepeng.
Begitu juga dengan sedotan yang ada di cup yang sedang dipegangnya. Terdapat bekas gigitan. Walaupun tidak sebuas yang ada di sedotan yang satunya lagi.
Saat itu pun Mira tau, jikalau dia sedang dalam kesulitan. Dia tersadar akan sebuah kenyataan mengenaskan, bahwa memang sudah menjadi kebiasaannya untuk mengunyah setiap sedotan yang dia pakai.
“A, anu!” Mira seperti sudah mau menangis.
“Ka, kalau kamu memang mau tukeran… Gak apa-apa kok!”
Alan langsung mengambil cup yang sedotannya sudah gepeng akibat gigitan buas itu, lalu menyeruputnya dengan keras.
Mira yang sempat mengangkat tangannya untuk menghentikan Alan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mengatakan sesuatu lagi disini hanya akan membuatnya menjadi semakin malu. Akhirnya dia hanya membenamkan wajahnya kedalam tas sambil kembali melanjutkan menyeruput jus jambu yang di tangan. Diiringi sebuah lagu jazz yang sedang dimainkan.
***
Alan dan Mira kini sampai di persimpangan jalan di ujung Tanjakan Teduh. Tempat dimana mereka harus berpisah. Kini sudah tidak ada lagi jus jambu di tangan mereka. Mereka sudah menghabiskannya lalu membuangnya tadi sebelum meninggalkan taman kota.
Mereka sudah saling melambaikan tangan sambil mengucapkan salam perpisahan. Akan tetapi terlihat jelas di wajah Alan betapa dia masih ingin menghabiskan banyak waktu lagi bersama Mira. Terlihat dari senyumnya yang melengkung keatas, bukan kebawah.
Mira pun nampaknya demikian. Dia terlihat enggan untuk menyebrangi jalan yang akan membawanya ke jalur pulang. Seperti ada pasak yang menahan kakinya untuk melangkah maju.
“Alan.” Mira membalikan badan, kembali menghadap Alan. “Besok kalau kamu mau, aku bisa tunjukin lagi permainan biolaku ke kamu.”
Gayung bersambut, Alan pun seketika menjawab. “Boleh Mir! Kalau begitu besok kita ketemu lagi!”
“Ya, kita ketemu di Bunderan Lima ya besok. Emm… jam sembilan?”
Yang mereka maksud dengan “Bunderan Lima” adalah taman kota yang baru saja mereka kunjungi tadi. Taman itu memang sering dijadikan tempat nongkrong dan bertemu bagi para siswa SMA Tunas Bangsa. Selain letaknya yang dekat dari sekolah, dari Bunderan Lima seseorang bisa pergi kemana saja mengunakan angkutan kota atau bis karena lokasinya yang berada di pertemuan lima jalur utama jaran raya.
“Ja, jangan di Bunderan Lima.”
“Kenapa?”
Tentu saja tidak bisa, karena besok Alan sudah punya janji dengan Laras disana. Uniknya, waktu dan tempat yang diajukan kedua gadis itu sama percis. Seakan mereka memang sudah bersekongkol untuk membuat Alan dalam posisi yang sulit.
Alan mengosok-gosok kupingnya dengan telunjuk. Kemudian melirik ke kiri seakan-akan bakal ditemukannya sebuah alasan yang terdengar bagus dari sana.
“Gimana kalau kita ketemuan disini saja? Disini kan jaraknya lebih dekat dari rumah kita.” Kata Alan. “Lagi pula aku ada perlu dulu besok pagi. Mungkin kita bisa ketemuan… jam dua?”
“Yap, kalau gitu besok kita ketemuan disini ya, jam dua?”
__ADS_1
Alan mengangguk. Kemudian Mira pun melanjutkan perjalanan pulang dan sekali lagi melambaikan tangan kepada Alan ketika dia sampai di sebrang jalan.
Sebelum berbalik, Alan seperti terbius memandangi Mira yang berjalan menjauh, disirami cahaya merah saga mentari senja yang menembus celah-celah rambutnya yang terterpa angin. Akan tetapi tanpa Alan sadari seorang lain juga sedang melakukan hal yang sama kepadanya. Memperhatikannya dari kejauhan, di sisi lain Tanjakan Teduh yang tidak dapat terlihat olehnya.