
Akhirnya kami pun beranjak pergi menuju Candi Nitehake. Selama di perjalanan, aku tidak pernah melepaskan genggamanku dari tangan Mira dan dia selalu kuposisikan berada di sisi dalam trotoar. Kubuat langkahku sepelan mungkin dengan tujuan agar sesampainya kami di Candi Nitehake nanti, waktu yang telah “ditetapkan” bagi Mira sudah sejak lama berlalu.
“Mir?”
“Hmm?”
“Ka, kamu ngak apa-apa kan?”
“Hmm.”
Tingkah Mira yang mendadak menjadi sangat diam, menambah besar kengerian. Aku dibuat takut bukan main! Pikiranku penuh sesak dengan bermacam-macam hal mengerikan yang mungkin saja bisa terjadi.
Kendaraan yang dengan cepat berlalu-lalang di jalan raya, pepohonan tinggi di setiap sisi, besi-besi tajam yang menjadi pagar pembatas jalan, semuanya seakan sedang tertawa jahat kepadaku yang kini sudah dibanjiri keringat dingin.
“Aji.” Kudengar Mira berkata pelan. “Bisakah kita berjalan lebih cepat?”
Aku takut sejadi-jadinya ketika mendengar Mira mengucapkan itu. Waktu itu aku berfikir. Inikah cara dia menyabut datangnya kematian? Kalau memang benar, maka aku harus lebih memperlambat lagi langkahku!
Aku kembali melihat ke arah jam tanganku yang sudah entah berapa kali kutengok waktu itu. Tinggal lima belas menit! Kurasakan nafasku kian memburu, jantungku berdetak dengan begitu cepatnya. Kualihkan pandangan ke berbagai penjuru menelisik hal janggal apa yang tidak seperti biasanya.
“Hah, hah, Mira?”
Tapi Mira tidak membalas sapaanku.
Kutengok lagi jam tangaku dan kulihat hanya tinggal 10 menit sebelum jam 22.00.
Waktu itu kami sudah sampai di area Tanjakan Teduh. Seharusnya perjalanan kami hanya tinggal lurus saja. Akan tetapi setelah aku melihat jalan di Tanjakan Teduh yang sangat sepi malam itu, akhirnya kuputuskan untuk mengabil jalan berbelok menuruni tanjakan yang ada disana.
"Loh kok belok kesini?" Tanya Mira.
"Mm... Lewat sini aja Mir, lebih adem." Jawabku.
Tidak ada seorang pun disana. Hanya ada pepohonan yang rindang di kedua sisi dengan pencahayaan dari lampu jalan yang remang-remang.
Disaat kami sampai di tengah-tengah Tanjakan Teduh, entah mengapa perasaanku mendadak tidak enak. Maksudku, aku memang merasakan ketakuan yang mencekam sedari tadi, tapi ketika aku berada disana, rasanya benar-benar lain. Aku seperti merasakan sebuah kehampaan yang begitu berat menganga di ronga dadaku.
Entah hanya perasaanku saja tapi, memang disana benar-benar hening. Tidak ada suara apapun. Tidak ada suara serangga malam, tidak ada suara dedaunan yang terterpa angin dan… oh, akupun merinding sedemikian rupa ketika memikirkannya.
Tidak ada angin di malam selarut ini? Itu sudah lebih dari sekedar aneh!
“Mir, kita kembali keatas.”
“Hmm? Kenapa? Kita sudah mau sampai ujung.”
Aku segera melihat jam tanganku lagi. Hanya tinggal empat menit! Dengan segera aku menarik tangan Mira untuk kembali ke atas Tanjakan Teduh. Dan kau tau apa? Mira pun tejatuh akibat tarikan tanganku yang dengan keras menyeretnya.
“Ah, sorry Mira. kamu ngak apa-apa?”
“Uh.”
Kulihat Mira yang sedang mencoba bangkit. Hanya tinggal 2 menit lagi. Tidak akan sempat! Mira kemudian mengusapi lutunya yang sedikit lecet dan mulai merapihkan pakaiannya yang menjadi kotor akibat debu jalanan. Hatiku benar-benar perih ketika melihat kondisinya kala itu.
Dengan segera aku berjongkok di depannya agar dia bisa langsung naik ke pungguku. Hanya tinggal 1 menit saja, ketika aku melihat ke arah jam tanganku.
“Naik Mira!” Aku sedikit berteriak.
“Udah Aji, aku ngak apa-apa kok.”
“Mira!”
Mira melihatku dengan wajah bingung.
“A, aku beneran ngak apa-apa kok.” Ujarnya sambil medekapkan tangan di depan dada.
Hanya tinggal 30 detik! Aku pun menjadi tambah panik dan melihat ke sekeliling dengan nafas memburu. Tak henti-hentinya kualihkan pandanganku bergantian antara jam tanganku dengan keadaan disekitar. Jantungku pun berdetak hebat. Jauh melebihi setiap detik berlalu yang terasa seperti dentuman kencang yang menggetarkan seluruh tubuhku.
Tinggal 10 detik! Sial tidak ada waktu lagi! Tinggal 5 detik. 4 detik, tiga, dua, satu.
__ADS_1
“Kyaa!”
Seketika kudorong tubuh Mira dan menempekannya pada dinding tebing yang ada disamping kami. Kunaungi tubuhnya dengan tubuhku dan kukencangkan sekuat mungkin seluruh otot yang ada di tubuhku agar tetap kokoh melindungnya.
“Tutup matamu Mira!”
Aku tidak tau apa dia menuruti perintaku atau tidak. Karena waktu itu aku pun sedang menutup mataku rapat-rapat. Dan kau tau apa?
Ternyata tidak terjadi apapun! Semuanya masih tetap sama. Hening.
Yang dapat kudengar hanyalah suara nafasku yang terengah dan suara jantungku sendiri yang seakan mau meledak karena betapa kencangnya dia berdetak.
“A, Aji?”
“Hah, hah, hah.” Aku dapat mencium wangi shamponya disetiap tarikan nafasku. “Mira…”
Pastilah rupaku buruk sekali waktu itu. Karena dari apa yang kulihat pada wajah Mira yang hanya beberapa senti saja dari wajahku, sepertinya dia sedang merasa ketakutan.
“Ka, kamu mau apa?”
“Mira, lo boleh membenci gue setelah ini. Tapi gue mohon sampai lima menit kedepan, biarkan kita tetap seperti ini.”
“Eh?” Mira nampak enggan. Kemudian dia meletakan tangannya di depan dadaku dan mulai kurasakan dorongan dari sana.
“Please Mira, gue mohon... Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir gue.” Kudengar suaraku terisak. “Gue janji gue gak akan melakukan apapun selain diam seperti ini.”
Akhirnya Mira berhenti mendorong tubuhku. Namun tangannya masih tetap dia letakan disana. Sesekali matanya yang besar melirik wajahku yang berada tepat di atas wajahnya. Meskipun disaat pandangan kami bertemu, secepat mungkin Mira mengalihkan lagi pandangannya. Namun tetap saja dia mengulanginya lagi.
Akupun menjadi tersenyum sendiri melihat apa yang sedang dilakukannya.
“Pfft!” Kulihat Mira ikut tersenyum. “Hari ini kamu aneh banget, kamu kenapa sih?”
Aku hanya diam. Tidak tau harus menjawab apa.
“Dari tadi kamu bersikap seolah… lagi ngejagain aku. Contohnya waktu pas nyebrang jalan, terus waktu naik eskalator, juga waktu sepedahan tadi.” Terangnya. “Memangnya kamu pikir aku bakalan kabur ninggalin kamu gitu? Hihi.”
“Eh?”
“Detailnya, nanti gue jelasin. Tapi untuk sekarang, kita harus tetap seperti ini.”
Kutengok jam tanganku yang kini berada tepat didepan dahiku. Masih 3 menit lagi!
“Ta, tapi kan… aku malu, Ji.”
Kulihat ekspresi wajah Mira yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ya, ekspresi itu hanya pernah dia tunjukan kepada Alan sebelumnya.
“Maaf Mira. Hanya sebentar lagi.”
Setiap detik yang berlalu seolah mengikis sedikit demi sedikit rasa ngeri dan cemas yang memenuhi pikiranku. Aku pun mulai menjadi tenang dan bisa memantau kondisi disekitarku dengan pikiran jernih.
Benar-benar tidak ada apapun yang terjadi. Seandainya ada pergerakanpun, itu hanyalah bulu mata lentik Mira yang berkedip dan bergerak-gerak mengikuti kemana bola matanya mengarah. Oh Mira, aku tidak tau harus berbuat apa jika aku sampai kelihanganmu lagi kali ini.
“Sudah lima menit kan?” Ucap Mira.
Kutengok lagi jam tanganku dan ternyata sudah pukul 22.06. Berhasil! Kami bisa melewati waktu yang telah “ditetapkan” untuk Mira. Kali ini, dia selamat!
Aku menghembuskan nafas panjang, lalu membiarkan tubuhku menggelosor di tanah. Seluruh beban yang sejak tadi terasa pekat memenuhi diriku, kini seakan terangkat semua. Namun begitu, aku masih saja terengah-engah memikirkan betapa menakutkannya detik-detik yang kulalui beberapa saat yang lalu.
“Ka, kamu baik-baik saja, Aji?”
“Ha, haha… Hahaha!” Bukannya menjawab pertanyaan Mira, aku malah tertawa sendiri.
“Tuh kan, kamu beneran aneh deh hari ini.”
“Haha, jangan dipikirkan, Mira. Kita selamat! Hahaha.”
“Kamu ngomong apa sih? Aku gak nger…”
__ADS_1
Disaat yang bersamaan terdengar suara dentuman dari kejauhan. Nampaknya, acara pertunjukan kembang api di Candi Nitehake sudah mulai berlangsung. Dapat kulihat dari langit kejauhan yang berada di ujung Tanjakan Teduh, beberapa pancaran cahaya gemerlap kembang api yang kian lama kian semarak terpancar. Seolah-olah mereka ikut bergembira dan ikut merayakan keberhasilanku melewati saat-saat menegangkan yang baru saja kualami.
“Wah, Aji! Pertunjukan kembang apinya sudah dimulai!”
“Yah, sepertinya mereka telat beberapa menit lagi tahun ini.” Ucapku sambil menengok lagi jam tanganku. Pukul 22.13
“Kalau begitu ayok, kita cepet-cepet kesana sekarang!”
“Santai aja kali, orang udah terlanjur dimulai juga kok pertunjukannya.”
“Ugh.” Mira mengembungkan mulutnya. “Oh iya aku punya ide! Gimana kalau sekarang kita balapan? yang terakhir sampai harus traktir es krim ya! Hihi" –Deg!
“Eh?”
“Dah!” Mira mulai berlari. “Hey Aji, kalau kamu duduk terus disana nanti kamu ketinggalan jauh loh!" –Deg!
“Tu, tunggu Mira.”
“Apa? Suaramu ngak kedengaran! Hihi.”
“Mi, Mira jangan lari!”
Aku pun segera berlari mengejarnya yang kian menjauh. Akan tetapi hal itu malah membuatnya berlari lebih kencang lagi. Kini dia sudah berada di ujung persimpangan Tanjakan Teduh dan mulai berbelok menuju titik buta yang tidak dapat lagi kulihat karena tebing tinggi yang mengahalangi. Dan… kau tau apa?
Disaat dia berbelok, kakinya terpeleset sehingga dia terjatuh tepat ke jalan raya dan… disaat yang bersamaan, sebuah truk tronton melesat dari arah sisi buta. Menghantam tubuh Mira yang belum sempat menyentuh tanah.
“MIRAAAA!”
Selanjutnya yang kudengar adalah suara klakson yang memekikkan telinga bersamaan dengan dentuman kembang api yang datang silih berganti. Seluruh fungsi panca inderaku membuyar. Tubuhku kaku, tak bisa digerakkan sedikitpun. Dalam sekejap saja kejadian itu terhampar di depan mataku.
“Mi… Mira?!”
Ditengah perasaanku yang luluh lantak tak bersisa, aku pun melihat guratan bercak darah yang memanjang sejauh beberapa meter tepat di depan mataku. Seakan-akan sebuah kuas raksasa baru saja mewarnai jalanan aspal itu dengan warna merah pekat yang membuatku merasa ngilu. Sesak. Menggigil.
Lalu, disaat dengan sendirinya pandanganku mengikuti guratan darah segar itu, kutemukan pemandangan yang benar-benar membuatku hancur.
Disana… aku melihat… seonggok kaki yang menyembul keluar dari sela-sela roda truk. Tubuhku langsung bergetar hebat tak dapat kukendalikan. Karena sungguh, aku tidak berani mengatakan jika… kaki itu masih menyambung dengan tubuhnya atau tidak. Posisinya waktu itu benar-benar janggal!
“Gak mungkin… Mira… Miraaa!”
Kudengar pintu truk terbuka dan kudengar pula beberapa langkah berlari diringi teriakan histeris dari berbagai arah. Waktu itu aku sudah tidak dapat lagi mencerna apa yang ada disekitarku. Kurasakan kesadaranku mulai memudar dan tanpa kuperintahkan, tubuhku terhuyung mejauh. Akan tetapi setelah beberapa langkah aku berjalan mudur, seseorang menangkap tubuhku dari belakang.
“La… ras?”
Perasaanku menjadi campur aduk ketika aku melihatnya yang tiba-tiba muncul di hadapanku kala itu. Kurasakan syok dan amarah yang membucah. Tapi sekaligus juga senang! Karena tidak dapat kupungkiri dialah satu-satunya orang yang paling ingin kujumpai kala itu.
“Kita pergi ke candi utama sekarang.” Ucapnya dengan nada datar.
Apa? Kau masih saja bisa setenang itu setelah menyaksikan sebuah mala petaka terkejam yang baru saja terjadi di depan matamu? Setelah semua itu, kau masih saja berani memasang raut wajah itu Laras? Huh?!
Laras pun membopong tubuhku yang sudah lemas. Akan tetapi setelah kami sudah berjalan cukup jauh dari keramaian, aku segera membantingnya sehingga tubuhnya merebah di atas tanah.
Seketika itu juga kutindih dia agar tidak bisa berontak, lalu dengan kuat aku mengunci lehernya mengunakan lenganku.
“Hah, hah... Lo tau ini bakal terjadi... Iya kan?!”
Aku tidak tau seburuk apa rupaku kala itu. Tapi dapat kulihat air mataku berjatuhan, menetes satu demi satu membasahi wajah Laras yang hanya menatapku dengan tatapan dinginnya.
“Aji, semua hal yang gue tau, lo juga tau.”
“Tapi kenapa Mira tetap mati, huh?!” Aku berteriak ke depan wajahnya. “Lo sendiri yang bilang kan? Mira terjatuh kedalam jurang antara jam sepuluh sampai jam sepuluh lewat lima! Lo sengaja nipu gue kan? Huh?!”
Laras tidak menjawab satu pun pertanyaanku. Dia hanya memejamkan matanya. Seolah-olah dia sudah membaca pikiranku bahwa memang benar, —selama ini dari sanalah sesungguhnya kemurkaanku selalu berasal.
“Jawab Laras!” Aku pun mulai terisak."Jawab!"
Akan tetapi Laras tetap saja diam dengan matanya yang terpejam. Membuatku nampak seperti orang bodoh yang sedang meneriaki seonggok patung.
__ADS_1
Ya, setelah kupikirkan lagi kini, aku memang bodoh sekali kala itu. Sampai-sampai aku tidak bisa menyadarinya. Karena tentu saja, jika seseorang terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, seperti yang ada di pelataran timur candi itu. Dia bisa saja langsung mati seketika itu juga. Akan tetapi, bisa juga tidak.