
Seminggu berlalu tanpa terasa. Akhirnya aku pun sampai pada hari sakral itu, Hari Wiwitan. Meski selama seminggu penuh Laras selalu mengancamku untuk tidak pernah meninggalkan rumah saat Hari Wiwitan, tapi tentu saja aku tidak bisa diam begitu saja. Mengetahui bahwa Mira berkemungkinan untuk menemui ajalnya hari ini.
Pada alur waktu sebelumnya, aku ingat sekali kalau Laras pernah mengatakan bahwa Mira terjatuh kedalam jurang yang ada di pelataran timur Candi antara pukul 22.00 hingga pukul 22.05 malam.
Oleh sebab itu, aku pun sudah siap dengan sebuah rencana. Yaitu dengan membawa Mira sejauh mungkin dari Candi Nitehake setidaknya sampai kurun waktu pukul 22.00 hingga 22.05 berakhir. Hari ini aku sudah membulatkan tekad untuk berada disamping Mira sepanjang waktu, menjaganya. Selalu.
"Mas Aji, mau kemana?"
Disaat aku hendak membuka pintu rumah kudengar Ami memanggilku.
"Tumben kamu peduli sama Mas-mu ini. Biasanya juga kamu ngak pernah nanya Mas mau kemana." Jawabku yang saat itu sudah sibuk mengenakan sepatu.
"Ami... mau eskrim!"
"Huh?"
"Sekarang Ami mau eskrim! Mas Aji harus anter Ami beli eskrim sekarang juga!"
"Eh? Beli sendiri juga bisa kan? Nih Mas kasih uangnya."
Ami pun berlari menghampiriku namun alih-alih mengambil uang sepuluh ribu yang kusodorkan, dia malah mengandeng tanganku. Lalu memakai sendalnya dengan cepat sambil tersenyum manja.
Aku sempat luluh juga melihatnya yang bertingkah manis seperti itu. Semenjak dia naik kelas 3 Sekolah Dasar dia tidak pernah lagi menempel kepadaku sepert ini. Andai saja waktu itu aku tidak sedang menjalankan sebuah rencana penting, pasti sudah dengan senang hati aku membawanya pergi main kemanapun yang dia mau.
"Ami, Mas Aji ada urusan penting sekarang. Nih, Ami beli eskrimnya sendiri aja ya?"
"Ngak mau! Pokoknya Mas Aji harus anterin Ami sekarang!"
Ami terus saja merengek meskipun sudah kubujuk berulang kali. Jika bukan hari ini dia bertingkah seperti itu, mungkin aku akan senang melihatnya. Tapi, waktu itu, tanpa dapat kukendalikan akhirnya aku pun membentak Ami yang tengah rewel menjambaki lengan kemejaku.
"Ami!"
Kulihat Ami terkejut bukan main. Bagaimana tidak, inilah pertama kalinya selama hidupku aku membentak dia dengan sangat keras.
Mata Ami Mulai berkaca menahan tangis dan tubuhnya pun terlihat sedikit gemetar. Kupikir waktu itu dia akan langsung berlari masuk rumah. Tapi ternyata dia tetap bertahan mengenggam lenganku semakin kuat. Tentu saja aku kasihan melihatnya seperti itu, namun aku tidak punya pilihan lain. Urusanku dengan Mira hari ini adalah hal yang teramat penting.
Aku pun melepaskan lenganku dengan paksa lalu berjalan menuju Matic-ku yang terparkir di halaman. Sebelum aku melaju pergi, aku sempat menengok Ami yang masih berdiri di teras rumah. Dia terlihat masih shock karena telah kubentak tadi. Tapi untunglah dia tidak sampai menangis.
***
Segera setelah rombongan parade yang diikuti Mira sampai di Candi Nitehake, aku pun langsung mejalankan rencana. Kulihat saat ini Mira sedang berada didalam tenda stan tempat anggota marching band sekolah berkumpul. Dia terlihat asyik mengobrol dengan teman-teman satu kelompoknya.
Aku pun berjalan menghampiri, lalu tanpa berkata apapun aku menarik tangan Mira agar ikut bersamaku. Hal ini membuat seluruh mata yang ada disana tertuju kepadaku. Aku tidak peduli. Karena yang kupedulikan saat itu hanyalah membawa Mira pergi sejauh mungkin dari Candi Nitehake. Kemanapun, asalkan jangan disana.
__ADS_1
"Eh, eh, mau apa kamu narik-narik tangan Mira?" Dian yang saat itu juga berada di dalam tenda segera menghentikanku.
"Bukan urusan lo." Ucapku sambil menepis tangannya yang mencoba menggapai.
"Ah, paling kamu cuma mau ngejailin Mira lagi kan? Ngak boleh! Mira masih ada urusan penting disini."
"Please Di, gue mohon buat kali ini aja. Lo bisa ngehargain gue."
Dian menatapku dengan jeda. Kupikir dia akan membiarkanku pergi. Akan tetapi dia malah memainkan kartu andalannya.
"Hey, temen-temen liat nih si Aji! Dia mau nge-bully Mira lagi!"
Sontak saja semua murid yang ada di dalam tenda berdiri. Beberapa diantaranya mulai berjalan menghampiriku. Salah satunya aku sudah tau siapa dia. Seorang murid bertubuh besar berotot dengan matanya yang seperti mau keluar. Bentot!
Memang benar, selain sebagai ketua dari fans club pecinta Mira, Bentot juga merupakan sang penabuh drum bass dari rombongan Marching Band sekolah. Meskipun aku tidak yakin dia bergabung karena benar-benar menyukai drumban atau hanya karena ada Mira disana.
"Udah Ben, bawa aja dia ke belakang!" Salah satu keroco berseru.
Orang-orang bodoh ini benar-benar bodoh. Mereka tidak tau kalau sebenarnya Mira, sang idol yang mereka puja itu telah dimiliki Alan seminggu yang lalu. Seandainya saja mereka tau, akankah mereka tepat seperti ini? Cih, tidak mungkin! Jangankan untuk memujanya, mereka bahkan tidak akan peduli lagi.
Bentot pun menarik tanganku sehingga terpisah dengan tanggan Mira. Kemudian dia menyeretku dengan kuat. Aku sempat terhuyung namun segera melawan.
"Hey, gue beneran ada urusan penting sama Mira! Kalau lo mau ribut, gue ladenin elo Ben, kapan pun lo mau. Tapi bukan sekarang!" Kutatap matanya yang melotot itu dengan tajam.
"Mira," Bentot pun bicara. "Bener, kamu punya urusan penting sama Si Aji?"
"I, iya." Jawab Mira gugup.
Setelah menatapku cukup lama dengan mata melototnya akhirnya Bentot pun melepaskanku. Perlahan kerumunan di sekelilingku pun berangsung lenggang. Terdengar banyak suara mengerutu yang mengiringi langkah kaki yang kian pergi. Hingga akhirnya kini hanya ada Dian yang masih tinggal bersamaku dan Mira.
Sambil bekacak pinggang dia menunjukan wajah curiga. Dia belum menyerah.
"Me, memangnya ada urusan penting apa kamu sama Mira?"
Disana aku sempat terbesit untuk memberitahu Dian tetang semuanya. Tidak kupungkiri dia lah satu-satunya orang yang mungkin bisa kumintai pertolongan kala itu. Apakah sebaiknya kuberitahu saja? Dapatkah aku mengandalkannya disaat genting seperti ini?
"Bukan urusan lo." Akhirnya kuputuskan untuk tidak membawanya kedalam masalah.
"Hmm, oke aku ijinin kamu pergi sama Mira." Lanjutnya. "Ta, tapi kamu harus janji. Kamu harus ngasih tau Alan tentang ini."
Oh, akhirnya aku pun mengerti. Jadi inikah yang telah membuatnya mengahalang-halangi aku membawa pergi Mira? Yang benar saja.
Aku tidak melihat lagi kepada Dian dan hanya pergi begitu saja sambil menggandeng tangan Mira. Kemanapun, asalkan jauh dari kawasan Candi Nitehake.
__ADS_1
***
Seharian penuh aku membawa Mira kemanapun yang kumau. Kami sudah mengunjungi pusat perbelanjaan, rumah makan, sampai akhirnya bersepeda mengitari Alun-alun kota. Semuanya berjalan lancar dan menyenangkan. Dapat kulihat Mira pun sepertinya sangat menikmati waktunya berdua bersamaku seharian ini.
Tanpa terasa hari pun berganti malam. Setelah kami puas bersepeda, kami beristirahat di salah satu kursi panjang yang berhadapan langsung dengan lapangan Alun-alun. Lalu, setelah dua jam kami mengobrol panjang lebar disana, akupun mulai kehabisan pembicaraan. Hingga akhirnya hanya keheningan lah yang datang mengisi percakapan kami.
“Hmm?” Mira memiringkan kepalanya ketika sadar bahwa aku sedang memandanginya.
“Bu, bukan apa-apa.” Ucapku.
Seharian ini Mira tidak pernah sekalipun bertanya tetang "urusan penting" yang sebelumnya kujadikan alasan untuk membawanya pergi. Karena memang begitulah Mira. Dia adalah seseorang paling pengertian yang pernah kukenal.
“Aji.” Kurasakan Mira menarik-narik lengan kemejaku. “Sudah semakin malam, gimana kalau kita kembali ke Candi sekarang?”
Aku tidak langsung menjawabnya melainkan menengok dulu jam tanganku. Disana kulihat waktu menunjukan pukul 20.11 malam.
“Kalau boleh Mir, gue masih pengen disini dulu.” Jawabku.
“Satu jam lagi ya? Soalnya kalau jalan kaki dari sini ke candi kan, lumayan jauh. Nanti bisa-bisa kita ketinggalan pertunjukan kembang apinya.”
Ya, memang seluruh perjalanan kami waktu itu kami tempuh dengan berjalan kaki. Alasannya, tentu saja aku tidak bisa menyerahkan Mira begitu saja kepada kecelakaan lalu lintas yang dapat dengan mudah kami temui jika berpergian menggunakan kendaraan.
Mira awalnya heran dengan keputusanku yang sama sekali menolak menggunakan matic-ku yang terparkir di area selatan. Akan tetapi setelah dia melihat gelagatku yang sedang kesulitan mencari sebuah argumen, dia bahkan sama sekali tidak menanyakan alasannya mengapa dan hanya tersenyum kepadaku sambil berkata.
“Yasudah, ayok kita jalan kaki saja! Jarang-jarang kan kita menikmati suasana kota di Hari Wiwitan seperti sekarang ini.”
Satu jam pun berlalu begitu cepat. Aku sudah kehabisan alasan untuk dapat menahan kami lebih lama lagi berada di Alun-alun Kota. Dan sepertinya Mira pun mulai terlihat murung dan bosan karena tidak ada satu pun pembicaraan diantara kami.
Maksudku bagaimana mungkin aku bisa membuat sebuah pembicaran jika seluruh pikiranku dipenuhin dengan rasa takut yang mencekam. Karena sebentar lagi waktu yang ditetapkan untuk takdir Mira akan segera datang.
“Udah jam setengah sepuluh.” Ucapan Mira membuyarkan lamunanku. “Yuk, kita kembali ke candi sekarang?”
“I, iya.”
Aku tergagap disaat aku menjawabnya. Karena yang kulihat dari wajah Mira kala itu adalah wajah tanpa ekspresi dengan pandangannya kosong. Sama percis seperti disaat kami berpisah di alur waktu sebelumnya. Seketika itu juga kurasakan bulu romaku berdiri dan kurasakan sensasi bergidik dari leher sampai ke ujung kaki.
__ADS_1