
“Buahaha, Super Seiya… Ahahah!”
Sudah lama sekali Ronny masih saja terus terpingkal menertawakanku. Dia nampak puas sekali sepertinya.
“Ron, jadi lo bisa lihat ‘anu’ gue?”
“A, aha… Huh?! Najis, ya enga lah! Ada efek blur-nya disana. Buahaha!”
“Hoo.”
Diapun kembali terpingkal. Sampai akhirnya ada seorang pedangang nasi goreng yang tengah mendorong gerobaknya melintas di hadapan kami. Ronny pun langsung terdiam ketika dia menyadarinya.
“Wong gendheng.” Celetuk Mas nasi goreng sambil berlalu.
Selanjutnya Ronny hanya menyengir dan menyudahi tertawanya yang sangat jelek itu. Kami berdua pun terdiam cukup lama, saling memandang satu sama lain.
“Hmm tapi elo tu beneran aneh sih.” Ujarnya. “Sejak kecil gue emang bisa ngeliat makhuk-makhuk halus macam lo begini, tapi biasanya cuma sekelebat doang. Ini pertama kali gue bisa ngeliat sampe jelas banget kayak gini wujudnya.”
“Hoo, lo ngak pernah cerita ke gue hal ini sebelumnya.”
“Huh? I, iya ini pertama kalinya juga gue bisa ngobrol sama makhluk halus macam lo sih. Tapi kenapa juga gue harus cerita sama lo tentang…”
“Bukan, maksudnya kenapa lo gak cerita ke gue pas kita masih duduk sebelahan di kelas?”
“Huh? Maksud lo?”
“Udah gue bilang kan, gue Aji, Ron. Masa lo lupa sama gue?” Sebenarnya aku sudah tau jikalau Ronny, bahkan semua orang di sekolah telah melupakan keberadaanku. Kali ini aku hanya mengerjainya saja.
“Nah itu dia! Gue ngerasa kalo dulu, waktu kelas satu gue duduk sebelahan sama murid yg namanya Rizky Triaji, tapi gue gak bisa inget kalo rupa nya itu sama kayak lo.”
“Wah parah. Masa lo lupa sama sohib lo sendiri sih, Ron?”
“Ugh.”
Melihat Ronny yang seperti berpikir sangat keras, aku pun menjadi sangat terhibur.
“Bro, gue ini sahabat lo yang paling deket, Bro! Ayolah masa lo lupa! Gue ni temen pertama lo di sekolah!”
Ronny pun menjadi sangat frustasi. Dia terlihat menjambaki rambutnya yang kini sudah tidak Mohawk lagi. Aku sih senang saja menyaksikan dia seperti itu. Hitung-hitung kuberi dia treatment agar mulai terbiasa menggunakan isi kepalanya itu.
“Ugh, bukti…” Ucapnya terengah. “Apa buktinya kalau lo emang bener sahabat gue?”
“Hoo, jadi… lo ingin bukti?” Aku senang sekali saat mendengar pertanyaannya itu.
“Ya.”
“Lo yakin?”
Ronny menganguk sambil memandang serius kearahku. Aku pun segera mendekat dan mulai memandang tepat kearah matanya.
“Pesona Tak Tertahankan Sang Mama Muda.”
“Huh? A, apa?”
“Hmm oke.” Sahutku. “Dia Selalu Membuatku Keluar Sangat Banyak —Buah Plum.”
Ronny pun menjadi terbelalak, melihatku dengan mulutnya yang menganga.
“Masih belum ingat juga? Hmm kalau gitu. Lenguhan Erotis Ditengah…”
“Oke-oke stop! Stooop!”
Diapun langsung berdiri seraya berhambur kepadaku. Sepertinya dia ingin memegang kedua pundakku. Akan tetapi dia terus berlalu begitu saja, seakan menembusku.
Kini sambil terengah-engah dia memegangi lututnya. “Darimana lo tau semua itu? Apa lo masuk ke dalem kamar gue?”
“Jangan bego Ron, ngapain juga gue ke kamar lo? Lo sendiri yang penjemin ke gue kan? Lagi pula apa lo pernah ngeliat gue waktu lagi di kamar lo? Ngak pernah kan?”
__ADS_1
Ronny masih melongo kearahku.
“Nah sekarang lo percaya kan, kalau gue ini sohib terdekat lo?”
Diapun mengangguk dengan tetap memasang wajah konyolnya.
“Siip, kalau gitu gue jadi inget. Di awal obrolan kita, lo sempet bertanya tentang apa yang gue mau. Hmm, sebenernya gue ngak pengen apa-apa juga sih dari lo. Tapi karena kita udah terlanjur bisa saling ngobrol… Gimana kalau lo ngedengerin cerita gue aja?”
“Cerita? Cerita soal apaan?”
“Ya tentang semuanya. Soal kenapa lo ngak bisa mengingat gue, soal apa yang sebenarnya terjadi, dan pastinya soal… pesan aneh yang ada di HP Mira.”
Dia pun menjadi tambah melongo dengan sedikit tambahan tampang bersalah.
“Iya, gue paham kok lo cuma bercanda waktu bilang itu salah satu teka-teki yang lo persiapkan.” Ujarku sambil berusaha tersenyum. “Gimana? Lo mau dengerin cerita gue ngak?”
Ronny pun menganguk. Lalu akhirnya dia kembali duduk di bangku halte meskipun dengan gelagat waspada.
Tentu saja tujuanku bercerita kepadanya bukan hanya sekedar itu saja. Aku punya maksud lain. Kurasa kali ini, dengan kesempataan emas seperti ini, aku dapat merubah keadaan. Kali ini aku dapat menyelesaikan urusanku disini.
***
Ya, seperti yang telah disebutkan Ronny sebelumnya, namaku adalah Rizky Triaji. Dan aku adalah seseorang yang menceritakan tentang semua hal yang terjadi sejak awal kisah ini.
Lalu mengapa aku bisa bercerita padahal tubuhku sedang terbaring di Rumah Sakit? Untuk menjelaskannya, sambil aku bercerita kepada Ronny, maka sekalian pula kuceritakan kepadamu tentang hari itu. Hari dimana semuanya bermula sekaligus berakhir. Hari dimana festival kebudayaan berlangsung. Hari Wiwitan.
Hari itu merupakan hari paling sibuk bagi kota kami. Berbagai macam turis lokal maupun mancanegara memenuhi setiap sudut kota. Jalanan kota serta bangunan-bangunannya yang memang kebanyakan memiliki arsitektur klasik semuanya dihiasi dengan ornamen-ornamen bernuansa kejawen. Wajah kota seperti disulap sedemikian rupa menjadi sebuah miniatur peradaban zaman dulu.
Festival kebudayaan diawali dengan parade yang dimulai dari Alun-alun kota menuju Candi Nitehake yang berada di atas bukit yang letaknya tidak jauh dari SMA Tunas Bangsa, sekolah kami.
Ditengah keramaian parade dengan berbagai macam hiruk pikuk didalamnya itu, hanya ada satu hal yang kulihat. Mira, yang terlihat menawan dengan seragam marching band-nya. Keberadaannya seperti sebuah lentera ditengah lautan manusia. Jari-jarinya yang lentik terlihat sangat piawai memainkan terompet yang dipegangnya. Wajahnya menunjukan betapa bahagianya dia berada disana. Mira memang selalu senang mengikuti berbagai macam kegiatan yang melibatkan orang banyak. Sangat berbeda denganku.
Rombongan parade kini telah sampai di Candi Nitehake. Kegiatan selanjutnya adalah rangkaian upacara adat yang berisi tarian dan doa yang diselenggarakan di tengah-tengah candi utama. Mulai dari sini penyelenggaraan sepenuhnya ditanggung oleh para abdi dalem penjaga candi sedangkan para pengunjung dibebaskan untuk melakukan berbagai macam kegiatan baik itu ikut berdoa dan menyaksikan berbagai pertunjukan atau hanya sekedar berkeliling di area candi yang kini telah dipenuhi dengan berbagai macam stan bazaar.
Didalam candi utama, puluhan orang terlihat duduk bersila mengitari sebuah altar yang terdapat disana. Di puncak altar itu terdapat Arca Nitehake yang menjadi pusat kegiatan. Candi utama ini berbentuk ruangan persegi seperti sebuah hall besar dengan tempat duduk bertingkat di setiap sisinya.
Waktu itu sekitar jam 21.30 malam. Aku berjalan diantara stan bazaar yang ada di halaman depan candi melihat kesana-kemari tanpa tujuan. Sebenarnya aku malas sekali keluar rumah ditengah hari yang super ramai seperti itu. Jika saja aku tidak punya kewajiban untuk mengantar rangkaian bunga yang di pesan oleh pihak candi, pastilah aku sedang menghabiskan waktuku dengan tidur mengurung diri di kamarku.
Ditengah keramaian itu, tiba-tiba aku mendengar seseorang memangil namaku. Suranya yang tinggi dan lembut, sudah sangat akrab ditelingaku. Seseorang yang memanggilku adalah Mira. Kala itu dirinya sedang duduk di sudut jalan, berkumpul bersama kelompok marching band-nya.
Aku mengabaikan panggilannya dan terus saja berjalan. Karena aku tau, dia pasti akan mengikutiku jika aku melakukan ini.
“Ih Aji, tunggu! Kamu mau kemana?”
Aku tetap tidak menggubrisnya dan terus saja berjalan. Sampai akhirnya aku sampai ke tempat yang kujutu. Yaitu sebuah dataran tinggi yang merupakan area pelataran di bagian timur candi. Aku pun duduk di atas bebatuan yang ada disana memandangi langit gelap yang dipenuhi oleh bintang. Mira yang sedari tadi mengikutiku meletakan tangannya di pundakku dan berkata.
“Kamu kenapa sih? Dipanggil-panggil kok ngak nyaut.” Katanya sedikit gusar. “Oke, tunggu disini ya, aku mau ambil barang-barangku dulu. Awas jangan pergi kemana-mana!”
Mira kembali menuruni bukit yang tadi kami lalui dan beberapa saat kemudian dia datang kembali dengan membawa tas dan kantung plastik yang sepertinya berisikan berbagai macam makanan.
“Nih.” Mira memberikan minuman kaleng berkarbonasi yang masih terasa dingin dari dalam kantung plastik.
“Makasih, Mir.” Sesungguhnya saat itu aku tidak kuasa untuk menatap wajah Mira apalagi berbicara kepadanya. Pertemuan denganya kala itu terlalu menyiksa buatku. Itulah sebabnya aku tidak mengubrisnya saat dia memanggilku tadi.
“Aku yang harusnya berterima kasih. Selama ini kan kamu selalu membatuku, Ji.” Mira tersenyum riang. “Lagian kamu kemana aja sih? Aku kontak ga pernah dibales,”
Aku hanya tersenyum tipis sambil membuka kaleng minuman yang diberikan Mira.
“Untung tadi aku gak sengaja liat kamu lagi celingak-celinguk sendirian disana. Uh asem!” Pekiknya sambil mencicipi minuman jeruk yang juga dia keluarkan dari dalam kantung plastik. Dia tetap meminum air jeruk itu meskipun wajahnya selalu mengernyit setelah meneguknya.
“Haah…, seru banget ya hari ini! Paradenya ramai banget. Eh Aji, tadi kamu sempet liat aku ngak di parade?”
Aku mengiyakan tanpa melihat kearahnya. Kusibukan diriku dengan menerawang kedalam lubang yang ada di kaleng minumanku.
“Aku sebenernya ngak nyangka loh kamu bakal keluar rumah di hari semeriah ini. Kukira kamu bakal bermalas-malasan aja di ditempat tidur kayak kucing.”
Melihatku yang tidak bereaksi dengan obrolan yang dibuatnya, Mira memiringkan kepalanya seperti burung kakak tua yang ditawari jagung. Matanya yang besar seakan menjelajahi setiap sudut wajahku dengan sangat teliti.
__ADS_1
“Hmm? Aji, kamu kok diem aja sih gak kaya biasanya. Mukamu mirip patung macan yang ada di depan gerbang tuh.” Mira mencoba mengejekku. “Lagi ada masalah kah? Curhat aja ke aku siapa tau aku bisa kasih solusi. Hihi.”
Hening sejenak. Sebelum akhirnya aku mulai berbicara.
“Jadi, gimana rasanya setelah kalian jadian?”
“Eh? Emm gimana ya… biasa aja sih.”
Itulah yang dikatakannya. Tapi raut wajahnya jelas sekali menunjukan bahwa itu bukanlah hal yang biasa. Wajah itu adalah wajah seorang gadis kasmaran yang ditanyai tentang hubungan cintanya.
“Hmm? Sebentar.” Mira mengeluarkan ponselnya yang berdering dari dalam tasnya.
“Dari Dian nih, Ji! Katanya… ‘Kamu dimana? Sebentar lagi pertunjukan kembang apinya dimulai. Kita semua udah ada di atas.’ Ayok Ji, kita lihat kembang api! Temen-temen yang lain juga udah pada ngumpul di atas.” Ajaknya.
“Nanti kita lanjutin ngobrolnya diatas. Udah lama juga kan kamu ngak ngobrol bareng temen-temen yang lain?” Tangan Mira meraih tanganku dan kemudian menariknya dengan kuat memaksaku untuk berdiri.
“Ayok banguun! Hop hop.”
Setiap tarikan yang dia lakukan di tanganku terasa perih dan menyakitkan. Aku pun melepaskan tanganku dari genggamannya.
“Gak perlu.”
“Kenapa? Ayok ah jangan males-malesan Aji!” Mira mencoba menarik tanganku lagi.
“Kita udah ga perlu lagi kayak gini kan!?” Nada bicaraku meninggi seraya menepis tangan Mira yang mencoba menggapaiku.
“Eh?”
Mira terhenyak dan terlihat bingung dengan maksud perkataanku. Atau mungkin lebih tepat jika kukatakan dia terkejut tak percaya bukannya bingung.
“Emm, maksudnya kayak gini itu… bagaimana?” Suaranya bergetar saat berbicara.
Kami terdiam cukup lama hingga akhirnya Mira melanjutkan perkataannya.
“Kamu sepertinya memang lagi ada masalah ya Aji? Ma, maaf ya kalau ada perkataanku yang menyinggung.”
Begitulah Mira. Kemurnianya serta kepolosannya juga standarnya tidak akan mengijinkannya untuk berprasangka buruk terhadapku. Seorang sahabat yang telah dianggapnya sebagai tempat untuk berbagi. Dan berkat kemurniannya itu pula lah pada akhirnya dia selalu menghiraukan suatu kemungkinan yang sebenarnya sudah sangat jelas terlihat. Dari bagaimana perlakuanku selama ini kepadanya, dari caraku melihatnya, semuanya.
“Sekarang kalian sudah bersama kan? Jadi udah gak ada lagi hal perlu kita obrolin. Sekarang lo udah ngak memerlukan gue lagi, Mira… Harapan lo sudah terkabul.”
Kulihat bola matanya membesar ketika mendengar ucapanku ini.
“Lagi pula sudah ada Alan. Jadi, kalau lo perlu hal-hal yang merepotkan semacam beliin lo jus jambu atau dengerin rengekan tentang persoalan cinta lo sepulang sekolah, mulai sekarang, lo bisa lakukan itu ke dia.”
Ya, sejak awal peran yang diberikan kepadaku hanyalah sebagai figuran yang membuat kisah cinta mereka lebih berwarna. Sebanyak apapun aku merangkai kalimat pelipur lara yang mengatakan bahwa terdapat sesuatu yang lebih dari hubungan kami berdua. Bagamanapun, aku tetap tidak akan bisa merubah kenyataan bahwa aku tidak digariskan untuk bersamanya. Karena itu, dengan keputusasaan yang memenuhi setiap rongga dadaku, yang dapat kupikirkan disana kala itu hanyalah bersikap seburuk mungkin dihadapannya.
“Sebenernya juga gue udah lelah, Mira. Maksudnya, siapa juga yang gak bosen ngedengerin cerita yang sama terus setiap hari.”
Kulihat Mira meremas kedua tangannya didepan dada.
“Oh iya, jujur gue juga gak pernah suka tuh sama jambu. Tapi karena selama ini lo ngasihnya itu ya, apa boleh buat, terpaksa gue minum. Dan lo tau apa?” Aku berkata sambil meregangkan punggung. “Aaagh akhirnya sekarang gue bebas!”
Setiap kata yang keluar dari mulutku seakan timah panas yang merangsek keluar melalui kerongkonganku. Perih dan menyakitnya. Yang ingin kulakukan padanya kala itu adalah menyakiti perasaanya sedalam mungkin membuatnya merasakan rasa sakit yang tengah kualami.
“Yap, selamat tinggal Mira.”
Sebelum beranjak pergi sekali lagi kutatap wajahnya. Tatapannya kosong. Sama seperti disaat dia melihat tubuhku yang terbaring di rumah sakit. Aku pun pergi tanpa sekali pun menoleh kebelakang.
Sesungguhnya, saat itu, aku sangat berharap Mira memanggilku kembali. Menghentikanku yang pergi kian menjauh. Seperti halnya dia memanggil kembali Alan ketika mereka berpisah.
Satu persatu langkah kaki kulewati tapi tak kunjung kudengar suaranya memanggil. Mau bagaimana lagi aku bukanlah Alan. Aku bukanlah seseorang yang dia pilih. Terus-menerus aku menyeret kakiku untuk melangkah. Tak kuperhatikan apapun yang ada disekitarku dan sampai ketika aku tersadar, aku sudah berada area parkir selatan. Berdiri didepan sepeda motorku. Merenung. Memikirkan apa saja yang telah kukatakan kepada Mira. Sudah cukup kejamkah perlakuanku terhadapnya?
Malam itu kurasa adalah malam paling panjang yang pernah kualami. Aku tidak pernah menyangka bahwa perpisahanku dengan Mira di pelataran timur candi saat itu adalah saat terakhir kalinya aku bisa melihatnya. Setidaknya di alur waktu itu.
Seandainya saja aku mengetahui apa yang akan terjadi setelah perpisahanku dengannya malam itu. Mungkin, aku akan bersikap lebih ramah kepadanya. Memperlakukanya berjuta kali lipat lebih baik dari apa yang sudah kulakukan selama ini. Karena beberapa jam setelah kami berpisah, Laras menelponku…
Sampai disini aku pun berhenti bercerita sejenak. Sontak saja Ronny bertanya kepadaku dengan memburu. “Apa? Apa yang dikatakan Laras di telpon?!”
__ADS_1
“Mira… dia meninggal.”