Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 4: Cultural Festivity


__ADS_3

Di Pulau Lembari, setiap tahunnya selalu diselenggarakan sebuah parade festival yang diikuti oleh semua penduduk pulau dari berbagai macam kalangan. Termasuk para pelajar yang ada disana. Hari dimana festival kebudayaan ini diselenggarakan disebut dengan “Hari Wiwitan”. Sedangkan nama festivalnya sendiri diambil berdasarkan nama hari itu menjadi “Festival Kebudayaan Ngawiwitan”.


Rencananya festival kebudayaan akan diselenggarakan pada tanggal 28 Juli, lebih kurang sebulan setengah dari sekarang, bertepatan dengan gerhana bulan ke-dua yang akan terjadi di tahun ini.


Festival Kebudayaan Ngawiwitan diselenggarakan memang merujuk kepada siklus terjadinya gerhana bulan setiap tahunnya. Bukan berdasarkan penanggalan masehi yang bepatokan pada rotasi bumi terhadap matahari. Sehingga tanggal pelaksanaan festival ini selalu berubah-ubah. Tapi jika mengikuti kalender liturgi dari pihak Candi, sebenarnya festival ini selalu terjadwal baik setiap tahunnya.


Ngawiwitan sendiri memiliki arti “memulai” atau “permulaan”. Jadi, dengan kata lain Hari Wiwitan adalah sebuah hari peringatan atas awal terciptanya alam semesta. Karena menurut kepercayaan yang telah ada disini sejak zaman dahulu, pada Hari Wiwitan sang pencipta, Nitehake —begitulah warga sekitar menyebutnya— menciptakan alam beserta isinya dengan terlebih dahulu menciptakan langit dan bumi sebagai wadah atau ruang.


Selanjutnya, Nitahake menciptakan manusia juga mahkluk hidup lainnya untuk hidup didalam “ruang” yang telah Dia ciptakan. Sekaligus juga menentukan nasib bagi mereka serta menuliskan seluruh skenario dari alam semesta. Disinilah Nitehake menciptakan sesuatu yang kita kenal dengan istilah “waktu” atau “masa”. Dan dengan dimulainya perjalanan “waktu” maka dimulai pula lah peredaran bumi beserta seluruh benda langit lainnya. Ditandai dengan fenomena alam yang kita kenal dengan istilah “gernaha bulan”.


Setidaknya begitulah penjelasan yang tertera pada pamflet-pamflet, poster, serta baligo yang kini bersebaran di setiap sudut kota yang saat ini pun Alan sedang memperhatikan salah satu diantaranya. Didepan mading sekolah dekat koridor pintu masuk, Alan terlihat serius mengamati poster yang terpajang disana.


“Sampai segitunya lo ngeliatin gue, huh?” Suaranya seorang gadis tiba-tiba mengejutkan Alan.


“Eh Laras?” Alan yang kaget segera berbalik membelakangi mading.


“Kelihatannya lo tertarik banget sama penari yg ada di poster itu. Kalau ngak gue tegur tadi, mungkin udah lo tempelin mata lo kesana.” Kata Laras sambil memainkan rambut kuncir duanya. “Kalau ada yang mau lo sampein sama gadis yang ada di poster itu, lo bisa sampein ke orangnya langsung sekarang.”


“Huh? Maksudnya yang ada di poster ini kamu, Ras?”


Di bagian tengah poster yang dimaksud Alan terdapat foto seorang penari tradisional yang sedang memeragakan salah satu gerakan Tarian Wita Grahana. Sebuah tarian yang ditampilkan di Candi Nitehake pada saat Hari Wiwitan, disaat gerhana tengah sampai pada puncaknya.


Penari itu menggunakan topeng ber-plitur warna putih dengan gurat ukiran warna hitam dan emas, menggambarkan wajah seorang dewi. Kulitnya yang kuning langsat tidak kalah halus dan mengkilap nya dengan topeng yang dia gunakan. Rambutnya setengah disanggul dan setengahnya lagi dibiarkan tergerai. Pakaian tari-nya warna hitam, seperti korset kebaya se-dada namun dengan motif dan hiasan yang lebih rumit. Kedua tangganya sedang meliuk sambil memegang selendang warna merah yang melintang melewati bahu.


“Hmm…” Alan berfikir sejenak. “Masa sih ini kamu?”


“Lo ngak percaya?” Laras meliukan satu tangannya saja, mengikuti penari yang ada di poster. Hal ini membuat Alan sedikit terheran.


“Tapi, kalau benar yang ada di poster itu kamu, berarti seharusnya kamu termasuk anggota keluarga abdi dalem penjaga candi. Kalau tidak salah namanya… keluarga Abiseka?”


Laras tidak menjawab, melainkan hanya mengernyit sambil sedikit membusungkan dada. Beberapa detik kemudian Alan pun seperti menemukan sendiri jawaban dari pertanyaannya. Setelah dia melihat name tag yang ada di seragam sekolah Laras yang bertuliskan, Larasvati Sekar A.


“Wah aku beneran gak nyangka Ras! Ternyata penari Tarian Wita Grahana itu kamu?! Kami sekeluarga selalu menonton tarianmu loh, tarianmu sungguh indah!” Alan terlihat bersemangat. “Kalau gitu aku bisa bangga-banggain ke teman-teman dan keluargaku dirumah, nanti kubilang ‘Tuh lihat yang ada di poster itu! Dia temen sekelasku!’ Haha, mereka pasti kaget mendengarnya.”


“Please, jangan cerita ke siapapun tentang ini. Gue gak pengen banyak orang yang tau identitas gue dan gue gak suka jadi pusat perhatian.” Laras mengambil langkah mendekat. “Tapi kalo cuma lo doang yang tau, gue pikir… gak masalah.”


Kemudian disaat mereka sudah sangat dekat, Laras berbisik ke telinga Alan.


“Anggap aja ini sebagai… perlakuan special.” Desisnya. “Dan satu lagi, gue minta maaf karena udah maki-maki lo sebelumnya.”


***


Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar sudah sejak lama berbunyi, namun para siswa masih terlihat memenuhi lapangan sekolah dengan kegiatanya masing-masing. Sebagian tengah sibuk membuat berbagai karya seni, spanduk, dan hal lainnya yang diperlukan dalam parade. Sedangkan sebagian lainnya sibuk berlatih berbagai macam pertunjukan.


Alan tergabung dalam grup yang tengah mempersiapkan kebutuhan logistik, sedangkan Mira dan Dian tergabung dalam latihan pasukan marching band. Hari ini adalah hari pertama mereka memulai persiapan parade festival yang akan mereka ikuti.


Sesekali Alan mencuri pandang ke arah Mira yang sedang latihan di sudut lain lapangan. Lalu ketika pandangan mereka secara tidak sengaja bertemu, Mira melambaikan tangan kepadanya. Melihat itu, Alan pun membalas dengan malu-malu.


Ketika hari sudah petang, para siswa pun menyudahi kegiatan mereka. Alan yang baru selesai membereskan perlengkapan besama teman-teman satu grupnya, kini telah siap untuk beranjak pulang. Lalu, disaat dia berjalan menuju pintu keluar yang ada di Loby Sekolah, dilihatnya Mira dan Dian yang melambaikan tangan kepadanya.


“Lagi nunguin aku lewat?” Kata Alan.

__ADS_1


“Huu belagu ya sekarang, mentang-mentang udah deket sama Mira. Padahal kemarin-kemarin, kamu selalu kesemsem kalo liat Mira.”


Mendengar itu Mira pun tersenyum ke arah Dian. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Dian seakan-akan mengatakan kepadanya. “Mengapa kamu selalu membuat semuanya menjadi lebih sulit? Bukankah seharusnya kamu membantuku?”


Tapi sepertinya apa yang ditangkap oleh Dian adalah. “Tenang saja, sedekat apapun aku dengannya nanti, tidak akan melebihi kedekatan kita berdua.” Dian pun membalas senyum Mira dengan senyuman yang jauh lebih lebar lagi. Lalu, sambil bertingkah genit dia mencubit kedua pipi Mira.


“Miraaa kamu lucu banget deh! Cus dulu sini cus dulu.”


“Kya!”


Seketika Mira menghempaskan wajah memonyong Dian yang semakin dekat dengan wajahnya. Alan yang melihat tingkah kemayu kedua gadis didepannya menjadi tidak kuat menahan tawa. Ini adalah kali ke-tiga mereka pulang bersama. Nampaknya jika Alan ditanya mengenai waktu favoritnya di sekolah, mungkin waktu pulang lah jawabannya.


***


Kian hari Alan kian terlihat semakin dekat dengan Mira. Kini mereka nyaris tidak pernah lagi terkesan canggung ketika berbicara satu sama lain. Kini Alan, Ronny, Mira dan Dian menjadi sangat sering menghabiskan waktu bersama. Terutama pada saat jam istirahat. Setiap hari mereka berkumpul di meja Alan untuk menikmati makan siang. Seperti yang tengah mereka lakukan saat ini.


“Lagi ngapain, Mir?” Tanya Dian kepada Mira yang sedari tadi memainkan ponselnya.


“Hmm? Ini aku lagi baca-baca tentang Hari Wiwitan. Katanya, kalo kita berdoa didepan altar yang ada di candi utama dengan sungguh-sungguh pada saat Hari Wiwitan, maka permitaan kita pasti terkabul. Karena pada hari tu adalah hari ditentukannya takdir bagi manusia. Sehingga pada hari itu pula Nitehake akan berkenan untuk merubah takdirnya.”


“Kalau itu, semua orang juga tau.”


“Bukan hanya itu, Di. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya tingkat keberhasilan doa kita bertambah.” Celotehnya. “Contohnya kalo hal yang kita minta berkaitan dengan rezeki atau keuangan, lebih baik kita masuk candi dari pintu barat. Sedangkan untuk jodoh dari pintu timur dan pintu utara untuk memohon kesehatan dan keselamatan.”


“Kalo pintu selatan, untuk apa?”


“Mungkin untuk…” Mira berpikir sejenak sebelum melanjutkan. “Meminta hal lain selain tiga hal tadi.”


“Lo percaya sama hal-hal begitu Mir?” Saut Ronny.


“Oh iya ada lagi” Mira melanjutkan celotehnya. Ketiga temannya hanya bisa diam menyimak dirinya yang terus berbicara dengan antusias. Melihat Mira yang dengan semangat memberikan berbagai macam trivia mengenai Hari Wiwitan, seperti disaat kau menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Meskipun sudah tahu jalan ceritanya dan juga tahu bahwa itu tidak benar-benar terjadi, tetap saja ada kesenangan tersendiri saat kau menyaksikannya. Tentu saja karena yang sedang berbicara disana adalah Mira, lain cerita jika Dian yang berbicara misalnya.


“Selanjutnya, jika berkaitan dengan jodoh, ada baiknya kita duduk ditengah saat berdoa didepan altar yang ada di dalam candi. Lalu jika kita ingin...”


“Iya, iya intinya kamu ingin minta jodoh kan?” Dian memotong penjelasan Mira sambil memutar-mutar sendok makan yang dia gunakan. “Oy temen-temen! Katanya Mira lagi cari jodoh nih! Ada yang berminat ngak?”


Tentu saja setelah Dian berseru seisi ruang kelas menjadi gaduh. Sontak para siswa yang sedang ada disana berebut untuk menjadi jodohnya Mira.


“Diaan!” Mira mencubit pinggang Dian.


“Aww, aduh sakit tau. Haha lagian kamunya sih, kalo ngak digituin, nanti ngomoong aja terus.”


Mira pun merajuk, lalu meletakan ponselnya diatas meja untuk kembali melanjutkan makan siang.


“Eh Mir, ngomong-ngomong kamu bikin bingkai HP mu ini sendiri?” Tanya Alan.


“Hmm? Lucu ya?”


“Iya.”


Silikon pembungkus handphone Mira memang bisa dibilang… unik. Warna dasarnya biru langit dihiasi pola berbentuk ombak dengan gradasi warna putih. Dibagian tengahnya terdapat karikatur yang mirip dengan Mira versi chibi yang sedang melakukan pose imut.

__ADS_1


“Emm, karena kamu nanya itu, aku jadi kepikiran. Dari mana ya aku dapet ini?” Kata Mira sambil kembali memegang ponselnya. “Kayaknya hadiah ulang tahun dari Dian.”


“Aku ga pernah ngasih itu kok.” Saut Dian dengan mulut yang masih terisi penuh makanan.


“Eh? Terus dari mana dong?”


“Mana kutau. Mungkin dari Ayah kamu.”


“Hmm, sepertinya memang papah. Soalnya orang yang memberiku hadiah ini pasti tahu banget kalau warna biru langit adalah warna kesukaanku.”  Wajah Mira berseri.


Ayah Mira adalah seorang komposer musik klasik yang namanya sudah dikenal dunia. Namanya sering muncul di berbagai macam berita, menjadi kebanggan kami penduduk pulau Lembari. Profesinya itu membuatnya sering berpergian keluar pulau bahkan keluar negri untuk jangka waktu yang lama. Mungkin hanya selama satu minggu saja dalam sebulan dia bisa bersama-sama dengan Mira. Akan tetapi Mira pernah mengatakan bahwa pertemuan mereka yang sedikit itulah yang membuatnya menjadi selalu terasa istimewa.


Ditengah perbincangan, tiba-tiba saja Mira terpekik setelah melihat ponselnya yang tadi sempat berdering ditangannya.


“Hmm? Kenapa, Mir?” Tanya Dian.


“I, ini HP ku… kenapa ya?” Mira terbata sambil memperlihatkan ponselnya kepada Dian yang duduk disebelahnya.


“Hii, apa ini? Kok serem gitu sih?”


“Apa sih?” Sahut Alan.


Kemudian Mira pun memperlihatkan ponselnya agar mereka bisa melihatnya bersama-sama.


Disaat melihatnya sontak aku pun terkejut. Disana terdapat sebuah pesan singkat yang aneh. Bukan hanya isi dari pesannya saja, tapi juga layar ponselnya. Layar itu terus menerus beresonansi di beberapa bagian seperti layar televisi lawas yang kesemutan.


Sepasang bunga yang kuberi semoga bisa merekah


Bersama terwujudnya semua mimpi


Tak mengapa buatku disini


Dilangit tempat bulan terbit seperti biasanya


Hanya memikirkanmu, menangisimu, menunggumu


Sambil mengeja Dian mencoba mendiktekan pesan singkat yang sulit dibaca itu. "Apaan sih ini? gak jelas." lanjutnya.


“Tunggu.” Kata Alan. “Coba lihat deh tanggal pengirimannya… Tanggal 28 bulan 7? Sekarang kan masih Juni, belum Juli.”


“ Ah, 28 Juli itukan…” Mira menghentikan kalimatnya dan saat itu juga yang lainnya melihat ke arahnya sambil menganga.


“Hari Wiwitan.” Ujar Alan.


Setelah hening beberapa saat, tiba-tiba saja Ronny menyela seraya beranjak pergi dengan terburu-buru.


“Guys, gue cabut dulu ya.”


“Eh kemana? Itu makannya belum habis.” Tanya Alan.


“Toilet”

__ADS_1


Ronny bergegas pergi sambil membereskan box karton bekas nasi kuningnya yang belum habis. Lalu disaat Ronny melewati pintu keluar ruang kelas, Alan pun paham mengapa dia terburu-buru sampai-sampai tidak menghabiskan makan siangnya. Tepat di bibir pintu itu Laras sedang bersandar sambil memandang dingin ke arah mereka berempat.


Mengetahui bahwa keberadaanya telah disadari, Laras pun beranjak menuju bangkunya. Disaat melintas, dia mendelik satu kali ke Mira yang sedang mendekap ponselnya didepan dada. Lalu pergi.


__ADS_2