Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 31: Strings of Melancholy


__ADS_3

Sekian lama aku masih terpuruk disana. Hingga akhirnya Laras pun menghampiriku kemudian dikeluarkannya ponselnya dari dalam ikatan pinggang yang ada di pakaian adatnya.


“Ini.” Katanya sambil menunjukan ponselnya. “Lo ingin tau semuanya kan? Tentang perjalanan waktu kita?”


Kuraih ponsel itu dari tanggannya dan mulai menggeser satu persatu gambar yang ada disana. Kulihat disana terdapat foto-foto yang menampilkan gulungan naskah kuno yang ditulis diatas Lontar. —Daun yang dikeringkan yang digunakan untuk menulis naskah pada jaman dahulu.—


Kami para pelajar di Pulau Lembari memang sudah mempelajari Aksara Jawa bahkan hingga Aksara Kawi yang merupakan bentuk lebih kuno sebagai kurikulum wajib di sekolah. Akan tetapi aku sama sekali tidak dapat mengerti satu pun yang tertulis pada gambar-gambar naskah kuno yang sedang kulihat.


“Itu adalah kumpulan gulungan kuno yang diwarisi Ibu. Lo mungkin ngak bisa mengerti apa yang tertulis disana.” Ujarnya. “Baiklah, sini biar gue jelaskan.”


Laras kemudian memberitahuku bahwa naskah itu sudah berumur ribuan tahun dan selalu diwariskan kepada anak gadis tertua pada keturunan garis utama keluarga Abiseka. Naskah itu menggunakan Bahasa Sangskerta dan ditulis menggunakan Aksara Brahmi. Secara garis besar Laras menjelaskan bahwa terdapat empat bagian didalamnya.


Yaitu Serat, yang berisi cerita-cerita kono. Kakawin, yang berisi tembang dan mantra-mantra untuk melakukan berbagai macam ritual. Babat, yang isinya adalah catatan sejarah yang disana pun terdapat rekam catatan ibunya. Dan yang terakhir adalah Primbon, yang berisi tentang ramalan masa depan.


Dia menerangkan bahwa sesuai dengan Babat di dalam naskah kuno, pada saat gerhana bulan terjadi dirinya —juga ibunya serta seluruh pendahulunya— selalu dapat menggunakan kekuatan supranatural tertentu jika mengikuti panduan yang ada didalam naskah kuno itu. Jadi bisa disimpulkan bahwa naskah itu adalah semacam panduan yang dapat menuntun mereka untuk menggunakan keistimewaannya sebagai pewaris utama penjaga candi.


“Lalu, soal mengulang alur waktu, itu adalah permohonan doa gue yang terkabul.” Lanjutnya. “Karena seperti yang lo tau, Nitehake akan mengabulkan semua permohonan ketika gerhana bulan datang. Tapi sayangnya gue cuma bisa memohon agar waktu terlulang sampai pada gerhana bulan sebelumnya terjadi. Dimana setiap perbuatan dan takdir manusia secara utuh telah tergenapkan.”


“Jadi, disaat gerhana bulan terjadi, Nitehake akan mengabulkan semua permohonan kita?”


“Ya. Kalau kita melakukan ritual dengan arca yang selama ini kita gunakan untuk mengulang waktu.” Jawabnya. “Tapi kalau lo berpikir untuk meminta supaya takdir Mira berubah, atau mungkin takdir lo sendiri, percayalah Aji, gue selalu memohon hal itu…”


Kulihat dia menutupi mulutnya dan mulai terisak.


“Disetiap malam gerhana bulan yang kita lalui… disetiap ritual menggembalikan alur waktu kita… gue selalu menyisipkan doa agar takdir kalian berdua berubah. Tapi…”


“Sorry Ras, selama ini gue udah salah menilai lo.”


“Bukan salah lo.” Ucapnya sambil mengusapi matanya.

__ADS_1


“Hey.” Begitu saja kuletakan tanganku di pundaknya. “Ini perjalan waktu kita yang ke-enam kan? Berarti… sudah tiga tahun? Seharusnya kita sudah berumur 21 tahun sekarang.”


Dia pun menatapku tanpa berbicara.


“Gue penasaran, apa nanti waktu umur kita 21, apa lo bakal menjadi... tambah cantik dari sekarang? Hmm, tapi kayaknya enggak deh. Elo bakalan tetep serem.”


“Huh!?”


“Tuh kan?”


Laras pun membuang muka sehingga aku tidak lagi dapat melihat ekspresinya.


“Maaf Laras, karena gue, elo harus menghabiskan masa muda lo dengan hal yang sangat menyakitkan seperti ini.”


Dia pun kembali menatapku. Pilu.


“Maaf.” Kurasakan mataku terasa hangat dan bibirku pun bergetar saat berbicara. “Selama ini lo sudah… berjuang sangat keras, huh?”


"Tapi Ras, tetap saja setelah lo ngasih tau semuanya seperti ini... Pertanyaan gue masih sama. Kenapa, lo melakukan semua ini?"


Dia mendongak, membuat wajah kami saling bertatapan begitu dekatnya. Matanya yang sembab kembali meneteskan bulir air mata. Getir. Namun kali ini dia sedikit tersenyum.


"Harus... gue jawab pertanyaan itu?"


"Ya."


"Kalau gitu, tutup mata lo, Aji."


Setelah sekian detik aku menutup mata, kurasakan sesuatu yang lembut meyentuh bibirku. Bersama hembusan hangat nafasnya yang berirama. Terkejut aku pun membuka mataku dan kutemukan Laras yang menatap sendu dengan senyumnya yang penuh makna. Saat itu kupikir dia akan terpekik dan mundur setelah aku membuka mata. Namun, yang dilakukannya adalah kembali mengecupku lagi, lagi dan lagi.

__ADS_1


***


Untuk sekian waktu berlalu kami hanya diam, terbelenggu dengan isi kepala kami masing-masing. Begitu banyak hal yang menggelayut di dalam pikiranku. Tentang alasan Laras yang sebenarnya, tentang diriku yang pernah mengakhiri hidupku sendiri, dan juga tentang rahasia dibalik kemampuan Laras yang dapat mengulang kembali alur waktu.


Aku tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa yang dilakukannya selama ini adalah untuk menyelamatku dari garis kehidupanku yang terputus. Dia rela mengorbankan semuanya, hanya untuk seorang aku yang... bukanlah siapa-siapa. Aku tidak paham mengapa dia sampai bertindak sejauh itu untukku.


Namun, disaat aku mengingat apa saja yang telah kulakukan selama ini untuk menyelamatkan Mira, aku pun mengerti. Karena cinta memang dapat membuat seseorang rela berkorban apa saja untuk orang yang cintai.


Kemudian kulihat Laras berdiri dan merapihkan pakaiannya. Lalu berjalan ke arah pintu masuk candi dan berkata kalau dia perlu mempersiapkan arca yang akan kami pergunakan untuk mengulang kembali alur waktu. Dia pun pergi setelah menggembok lagi pagar teralis yang ada di pintu masuk.


Gerhana bulan pun perlahan sempurna dan saat itu Laras telah siap dengan ritualnya dengan arca seperti mangkuk yang sudah diletakan di antara kami berdua. Disaat Laras mengoleskan darahku di permukaan arca, aku pun bertanya kepadanya.


“Ras, kalau gue berdoa pas gerhana total nanti, apa pemohonan gue juga bakal terwujud?”


“Iya, tapi soal takdirnya Mira, itu…”


“Ya, gue tau. Yang jadi masalah sekarang adalah takdir gue sendiri kan? Gue janji Ras, gue bakal memanfaatkan garis kehidupan gue dengan sebaik-baiknya.”


Melihatku tersenyum ke arahnya, Laras pun menjadi berbinar. Tapi kemudian wajahnya berubah menjadi seperti kecewa namun masih tetap tersenyum.


“Memangnya, permohonan apa yang nanti akan lo panjatkan?”


Kuartikan saat itu Laras masih melihat garis kehidupanku yang masih terputus dan sebenarnya aku tidak heran jika dia tetap melihatnya seperti itu.


“Nanti gue kasih tau kalau kita sudah sampai di masa lalu.”


Setelah semua persiapan selesai dan arca pun sudah memancarkan cahaya kehijauan, kami pun bersiap untuk menarik tali emas yang tersimpul pada pasak yang ada di tengah arca. Saat itu kupanjatkan permohonanku dengan sunguh-sunguh dan berharap Nitehake akan mengabulkannya. Memfokuskan hati dan pikiranku sampai pada tahap yang belum pernah kulakukan sebelumnya.


Setelah Laras menghitung mundur, kami pun menarik tali itu secara bersamaan dan disaat kurasakan dunia di sekelilingku berputar aku pun berkata.

__ADS_1


“Ras, kalau gue minta supaya garis kehidupan kami ditukarkan, apakah itu bisa terkabul?”


Kulihat Laras menjadi terbelalak memandangku. Bibirnya sudah hendak berteriak seraya berhambur mencoba menggapaiku. Akan tetapi belum sempat dia menyentuhku, semuanya pun telah menjadi putih.


__ADS_2