
Tak sepatah katapun terucap dari bibir Alan dan Mira saat perjalanan pulang bersama. Seperti saling mengerti untuk menjaga kesunyian sebagai sebuah solusi. Laras. Mungkin itu yang sedari tadi ada didalam benak mereka. Seharusnya tidak perlu seperti ini. Jika saja keadaannya sedikit berbeda mungkin Laras dan Mira bisa menjadi teman baik. Ya, menjadi teman baik. Karena memang sudah seharusnya begitu.
Lokasi sekolah yang terletak di daerah perbukitan, membuat jalan raya yang menuju kesana dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Suasana asri dan sejuk tetap terasa meskipun hari sudah siang. Kini tidak ada lagi murid-murid yang terlihat di sekitar mereka, hanya ada Alan dan Mira ditemani suara kicauan burung dari pepohonan yang ada di sekitar.
Ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba Alan merasakan ada yang menggantung di ujung lengan bajunya. Disaat dia menoleh, ditemukannya jari tangan Mira menggantung disana. Alan seketika menjadi kaku dan berpura-pura tidak menyadari. Momen itu berlangsung cukup lama, atau waktu lah yang berjalan pelan bagi mereka berdua. Ketika Mira menggantungkan jarinya ke ujung lengan baju seperti itu, kesannya... nostalgic.
Disaat mereka berdua tengah hanyut dalam suasana indah itu, dari kejauhan terdengar teriakan memanggil.
“Miraa!”
Sambil melambaikan tanggannya, Dian berlari menghampiri mereka berdua. Menyadari bahwa yang sedang berlari kearahnya adalah Dian, dengan sigap Mira melepaskan gengamannya dari lengan baju Alan.
“Hah, hah, Mira kamu ga apa-apa?” Dengan nafas yang masih terengah-engah, Dian memegangi kedua bahu Mira sambil menelisik ke sekujur tubuhnya. Seakan mencari sesuatu yang seharusnya ada disana tapi menjadi tidak ada atau sebaliknya.
“Katanya kamu bertengkar sama Laras tadi? Kamu ga apa-apa kan? Dia ngak ngapa-ngapain kamu kan?”
“A, aku ngak apa-apa.” Jawab Mira. “Ngak kok ngak bertengkar sama Laras tadi, cuma… salah paham. Eh Dian, bukannya kamu ada ekskul ya hari ini? Kok malah kesini?”
“Tadi adik kelasku bilang kalo ada ribut-ribut di gerbang sekolah. Katanya kamu lagi cekcok sama Laras. Makanya aku cepet-cepet cari kamu, tapi kata orang-orang yang ada di gerbang kamunya udah pulang.” Terangnya. “Aku takut kamu kenapa-kenapa Mir.”
“Aish, kamu berlebihan Di, emangnya Laras kenapa? Gak mungkin lah dia bakal ngapa-ngapain aku.”
Alan dan Dian mengernyitkan dahi seakan mengatakan “Ya, dia mungkin!”.
“Tapi intinya kamu ngak apa-apa kan? Uh aku kaget banget loh ada angin apa coba si Laras itu buat masalah sama kamu.”
Dian baru menoleh kearah Alan yang sebenarnya sedari tadi ada disana. Setelah melihat Alan, Dian pun seakan mengerti tentang garis besar permasalahan. Dia menghembuskan nafas panjang lalu menggelengkan kepala sambil memegangi keningnya.
“Huff, yang benar saja.” Ucapnya. “Mir, aku balik lagi ya, kalau nanti ada apa-apa kabarin aku.” Sambil mulai berlari Dian mengedipkan sebelah matanya. “Maaf mengganggu, hati-hati di jalan ya kalian.”
Lalu setelah berlari beberapa meter untuk kembali ke sekolah, Dian berbalik dan berseru kearah mereka berdua.
“Mira, yang digandeng tangannya dong, jangan bajunya!”
“Diaaaan berisik! Kamu ganggu orang lain tau!”
Padahal kenyataanya dialah yang lebih berisik. Perlu beberapa saat sebelum keheningan yang canggung itu pecah. Mira terlihat kebingungan dimana dia hendak menyembunyikan wajahnya yang kian merona karena malu.
“Huuh, Dian nyebelin!” Mira merajuk lalu beranjak pergi yang kemudian diikuti Alan.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan saling menjaga jarak beberapa langkah diantara mereka. Seperti yang di perkirakan, tak ada sepatah kata pun terucap. Kebanyakan orang termasuk Alan, memandang Mira sebagai pribadi yang anggun, tenang, dan selalu dapat menjaga sikap. Tapi kali ini, sepertinya Alan menemukan sisi baru yang belum pernah dilihatnya dari Mira.
Setelah melewati beberapa blok kemudian, sampailah mereka di persimpangan jalan dimana mereka harus berpisah karna jalur pulang yang berbeda.
“O… oke sampai besok ya Mir.”
__ADS_1
“Ah, iya Lan sampai besok.”
“Hati-hati di jalan ya, Mir. Eh kamu pulang sendiri gak apa-apa kan?”
“Iya.” Jawab Mira pelan.
Mereka saling melambaikan tangan kemudian Alan berpaling dan beranjak pulang melalui jalurnya. Hanya dua langkah dari tempatnya beranjak, Mira memanggilnya kembali dengan suara terbata.
“Tu, tunggu.”
“Ya?”
Alan yang mendengar Mira memanggilnya sontak berbalik untuk mengetahui apa yang hendak dia sampaikan. Alan pun tertegun saat melihat Mira yang tengah berdiri disana. Wajahnya memandangi tanah tapi pandangannya bukan melihat tanah. Gelagatnya terlihat gelisah namun mengundang. Jari-jarinya yang lentik tak henti-hentinya mengurut pegangan tasnya yang sedari tadi dia genggam. Reaksi ini, ekspresi ini, jangan-jangan!
“Alan... Sebenernya aku… Aku suka…”
Suka?
“Aku suka novelnya! Dah Alan!”
Tertahan. Tak terpuaskan. Mira pun berpaling seraya berlari meninggalkan tempat itu.
“Mira!”
“Huh?”
“Kamu… punya obeng?”
“Ngak punya, adanya nomer HP. Hihi”
***
Keesokan harinya, Alan berjalan menuju sekolah seperti biasanya. Hanya saja raut wajahnya yang semringai tidak seperti hari-hari biasa. Dia terus saja memandangi ponselnya lalu tersenyum sendiri sambil sesekali mengusap-usap hidung. Dipandanginya satu persatu deretan chatingnya dengan Mira semalam. Alan tidak pernah se-ceria ini sebelumnya ketika berangkat menuju sekolah.
Sampai di persimpangan tempatnya dan Mira berpisah kemarin, Alan memandang ke berbagai sudut daerah itu. Seakan-akan baru pertama kali saja dia berada disana. Jalanan aspal, lampu jalan di persimpangan, serta jurang yang berada disampingnya seakan menjadi hal yang baru dilihatnya. Tempatnya sama hanya kesannya yang berbeda.
Tempat itu adalah sebuah jalan pertigaan yang menghubungkan sekolahan dengan dua area perumahan. Jalur untuk menuju ke sekolah adalah jalan menanjak yang diapit oleh dua buah tebing terjal yang di-cor setinggi 4 sampai 5 meter di kedua sisi.
Orang-orang biasa menyebut daerah itu dengan sebutan “Tanjakan Teduh”. Karena memang tanjakan itu selalu saja teduh.
Hal ini dikarenakan kedua tebing disisi Tanjakan Teduh memiliki pepohonan lebat yang menutupi hampir seluruh bagian jalan dibawahnya. Sehingga tanjakan itu hampir tidak pernah terkena cahaya matahari langsung. Selain itu, jika kau berjalan menuju sekolah dari arah Alan berjalan sekarang, maupun dari arah sebaliknya, kau tidak akan bisa melihat apa yang sedang terjadi di Tanjakan Teduh. Karena dua tebing yang sangat tinggi di kedua sisi itu akan menghalangi jarak pandang.
Setelah Alan berbelok menuju Tanjakan Teduh, tidak seperti hari-hari biasanya kali ini dia hanya berdiri saja disana. Dari yang kulihat sepertinya dia sedang menunggu sesuatu terjadi. Ya, menunggu Mira.
Menurutku juga tempat ini rasanya lebih cocok untuk dijadikan tempat menanti Mira melintas dibandingkan dengan bangkunya di kelas. Akan ada banyak hal yang bisa di bicarakan dan akan lebih banyak pula waktu untuk memandangi Mira selama perjalanan menuju sekolah.
__ADS_1
Dan seandainya nanti Mira muncul pun dia tidak akan tau kalau sebenarnya Alan telah sengaja menunggunya disana, dikarenakan jarak pandang Mira yang terhalang oleh tebing. Jadi Alan bisa berdalih bahwa pertemuan mereka hanya sebuah kebetulan saja.
Akan tetapi setelah 20 menit Alan menunggu, nampaknya yang dinanti tak kunjung datang. “Mungkin udah duluan.” Gumamnya. Akhirnya Alan pun melanjutkan perjalanannya ke sekolah sendirian seperti biasanya.
Sesampainya di sekolah Alan kemudian berjalan menuju tangga utama untuk naik ke lantai 2 menuju ruang kelas. Tapi karena hari ini dia datang tidak sepagi biasanya, maka tangga itu sudah penuh sesak oleh siswa-siswi yang bedatangan.
Dia pun urung untuk menggunakan tangga utama dan memilih untuk menggunakan tangga lain yang jarang digunakan oleh siswa-siswi di pagi hari. Karena lokasinya yang jauh dari pintu masuk sekolah membuat seseorang harus memutar dulu jika ingin menggunakan tangga itu untuk sekedar masuk kelas.
Alan pun sampai di latai 2. Disana terdapat sekre Club IT yang merupakan salah satu cabang ekstrakulikuler di sekolah dan tepat di depan sekre itu, Alan menemukan sesuatu yang membuatnya menjadi terkejut.
Seorang gadis tengah berdiri disana membelakanginya. Hanya diam tak bergeming sambil terus memandangi lantai. Menemukan seseorang disana pada pagi hari sudah merupakan hal yang janggal. Apalagi ini, menemukan seorang gadis yang mematung diam disana sendirian. Tentu akan membuat siapapun merasa aneh. Terlebih lagi jika gadis itu adalah seseorang yang sangat kau kenal.
“Mira?”
Mira terpekik lalu menoleh kebelakang.
“Sedang apa kamu disini?” Tanya Alan.
“Huh? Emm…” Mira terlihat kebingungan. Bola matanya bergerak kekanan dan kekiri, seakan mencari-cari sesuatu.
“Lagi apa ya? Hehe aku lupa.”
Alan yang merasa aneh kemudian mengangkat alisnya sebelah. Membuat Mira menjadi terlihat tidak nyaman dan tersudut. Menyadari Mira yang risih, Alan pun menjadi tidak tega dan mulai melanjutkan pembicaran.
“Kamu… memang biasa lewat sini ya, Mir?”
“I, iya.”
Saat itu juga lonceng tanda dimulainya pelajaran berbunyi dan membuat mereka berdua spontan berjalan menuju ruang kelas tanpa adanya pembicaraan lagi. Mereka tetap seperti itu, tidak berbicara satu sama lain sampai waktu istirahat tiba.
Disaat murid-murid berhamburan keluar kelas untuk menikmati waktu istirahat mereka, Mira dan Dian tetap di bangkunya untuk menikmati bekal makan siang bersama. Sedangkan Alan terpaksa harus ke kantin untuk membeli makanan. Karena mulai hari ini Laras tidak lagi memberi bekal makan siang untuknya. Sebelum meninggalkan ruang kelas Alan sempat berjalan mendekati bangku Mira. Namun setelah beberapa langkah dia berjalan, entah mengapa dia nampak ragu dan malah langsung pergi meninggalkan ruang kelas menuju kantin.
Setelah berfikir sejenak, Alan akhirnya memutuskan untuk membeli sandwich sebagai menu makan siangnya. Namun sayang, sandwich isi tuna mayones yang menjadi incarannya sudah habis terjual. Padahal Alan sangat menyukai tuna.
“Mau bagaimana lagi.” Gumamnya.
Tapi kemudian seseorang menyerobot lalu berbicara kepada Ibu kantin.
“Bu, roti isi punyaku dituker ya? Belum dibuka kok ini.”
Laras menukarkan sandwich isi tuna mayones miliknya dengan sandwich isi ham yang saat itu hendak diambil Alan. Alan pun menatap sandwich itu, selanjutnya dia menatap Laras.
“Udah cepet ambil, nanti keburu dibeli orang.”
“Makasih, Ras.”
__ADS_1
Laras mengibaskan tangannya lalu pergi. Segera setelah itu Alan pun membeli sandwich yang tadi ditukarkan Laras dan pada akhirnya dia pun dapat menikmati sandwich kesukaannya sebagai menu makan siang.
“Manis”. Gumamnya.