Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 9: Red Turns Violet


__ADS_3

Dia masih berdiri ditengah ruangan dengan kedua tangannya yang mengepal sangat kuat. Wajahnya merah padam dihiasi segaris urat yang terbayang di kulit bening dahinya. Sambil terengah-engah menahan amarahnya, Laras bergumam dengan suara tersengal.


"Kenapa... Kejadian seperti ini...  ngak pernah terjadi sebelumnya, kan!?"


Saat ini hanya ada dia dan aku yang masih ada didalam kamar pasien nomer 307 ini. Sejak dirinya berteriak memerintahkan semua orang untuk keluar tadi, tidak ada siapapun disini selain kami berdua. Bahkan perawat yang tadi masih disini pun tidak dapat berkata apapun pada Laras ketika dia berteriak. Tidak mengherankan memang, karena kupikir siapapun pasti akan takut ketika menyaksikan Laras yang meledak tadi.


Dengan kemurkaan yang masih melekat jelas di wajahnya, Laras kemudian mendelik kepada rangkaian bunga Anyelir berwarna merah muda yang tadi diletakan Mira diatas dasbor sebelum dia meninggalkan ruangan. Segera saja Laras pun berjalan cepat dan mengambil rangkaian bunga itu. Dia sudah mengakatnya tinggi-tinggi dan hendak membatingnya ke lantai. Akan tetapi gerakannya tertahan, kemudian dia menoleh kearah tubuhku yang terbaring diatas ranjang rumah sakit disampingnya.


Secara perlahan wajahnya jadi melembut. Gigi yang sedari tadi menggertak kini sudah kembali biasa. Akhirnya diapun urung untuk membanting rangkaian bunga itu dan kembali meletakannya diatas dasbor. Untung saja.


Untunglah dia tidak jadi membantingnya. Karena seandainya dia membantingnya tadi, entah seperti apa rupa yang akan kutunjukan. Walaupun sebenarnya aku sendiri pun tidak pernah melihat rupaku dalam kondisi ini, tapi aku tau pasti. Jika Laras jadi membanting rangkai bunga Anyelir itu, pastilah akan kutunjukan ekspresi yang tidak kalah mengerikannya dengan apa yang dia tunjukan sebelumnya. Bahkan mungkin jauh lebih mengerikan lagi.


Berbicara soal bentuk rupaku, aku pun jadi teringat Ronny. Si bocah yang sekedar bodoh sangat dengan tubuh jangkung dan rambut Mohawk itu terkadang, dia seperti bisa melihatku. Kadang-kadang dia suka memandang tepat kearah diamana aku berada. Seperti halnya yang dia lakukan didalam kamar pasien tadi atau ketika didalam kelas saat mereka sedang membahas pesan berdistorsi di ponsel Mira. Aku pun jadi penasaran, bagaimana sebenarnya Ronny melihat wujud rupaku. Ganteng kah? Keren kah? Atau mungkin buruk rupa?


***


Rombongan Alan kini sudah sampai di gerbang rumah sakit. Mereka sedang berjalan menuju halte bis untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Ih, kemasukan apa sih si Laras itu sampai teriak kayak gitu tadi? Dia gak tau apa kalau ini Rumah Sakit?!" Umpat Dian. "Alan, kamu kan satu-satu orang disini yang sering ngobrol sama dia, kamu tau ngak dia tuh kenapa tadi?"


Sambil tertunduk Alan pun menjawab. "Aku... ngak tau kenapa dia seperti itu..."


Untuk beberapa saat keadaan pun menjadi hening. Kelihatannya Alan cukup terpukul dengan kejadian di dalam kamar pasien tadi. Bagaimana tidak, baru saja tadi dia menyaksikan "sisi lain" dari gadis yang selama ini dia anggap sudah cukup dia kenal. Laras.


“Aji… Rizky Triaji…” Dilain pihak, Ronny masih saja menyebut-nyebut namaku sambil memegangi dagunya yang sedikit berbulu. Dia terus saja seperti itu semenjak meninggalkan Rumah Sakit.


“Aaagh bangke! Kenapa gue ngak bisa inget ya?!” Kali ini dia meremas kepalanya.


“Ron, kamu yakin si Aji itu absennya ada diatas nama kamu waktu kita kelas satu?” Dian bertanya.


“Iya, gue yakin banget! Soalnya waktu itu gue suka nyontek dia waktu ulangan karena bangku dia pas disamping bangku gue. Nah untuk membayar itu, gue kadang harus ngacung dua kali waktu absen pagi karena dia sering banget telat masuk.”


“Tapi bener itu kan orangnya?” Kata Alan.


“Gue… Agh! Gue ngak tau.”


“Loh kok?” Lanjut Alan. “Terus didalam ingatan mu, orangnya kayak gimana?”


“Ugh!” Ronny kian meremas kepalanya. Rambutnya kini sudah jadi tidak Mohawk lagi. “Gue… gak bisa inget…”


Melihat Ronny seperti itu akhirnya Alan pun menunjukan wajah kasihan. Diapun meletakan tangannya di pundak Ronny lalu berkata.


“Udah ngak usah dipaksain buat inget, nanti juga inget sendiri.” Ujarnya. “Tapi, ini benar-benar aneh. Kalau yang dikatakan Ronny itu benar, kenapa kalian sama sekali ngak inget sama dia?”


“Belum lagi…” Lanjut Alan. “Apa hubungan dia dengan Laras? Ini jadi benar-benar mencurigakan. Oh iya Di, apa kalian bertiga satu kelas dengan Laras waktu masih kelas sepuluh?”


Dian menjawab dengan menggelengkan kepala. Sejak meninggalkan kamar pasien tadi, dia masih terus merangkul Mira disampingnya. Menuntunnya berjalan dan membantunya mengusapi pipinya yang basah dengan tissue.

__ADS_1


“Hmm aneh. Selain itu yang paling anehnya lagi adalah soal…” Alan menoleh kepada Mira yang saat ini tengah tertunduk lesu. Kantung matanya sembab merona dan pandangannya pun masih terus saja kosong. Mungkin Alan berkeinginan untuk bertanya alasan apa yang membuat Mira menangis. Akan tetapi setelah melihat kondisinya yang seperti itu, siapa yang tega?


“Dian, kamu bisa anter Mira sampai rumahnya?” Kata Alan. “Atau kalau kamu mau, aku juga bisa ikut mengantar.”


“Ya, biar kuantar sendiri aja.” Ujar Dian sambil mengangguk dan tersenyum.


Mereka pun melanjutkan perjalanan. Selama itu, Ronny masih saja bergumam menyebut-nyebut namaku. Mukanya sudah benar-benar mengkerut. Alisnya sudah nyaris bersatu. Melihat bocah ini untuk pertama kalinya memeras otak dengan sangat keras membuatku sangat ingin terbahak dan mulai mencercanya. Akan tetapi yang dilakukan Alan lain. Dia hanya melihat Ronny yang seperti itu satu kali, lalu kembali menatap lurus kedepan dengan wajah yang dapat kubilang, cukup menyeramkan.


Tidak lama setelah mereka sampai di halte, bis yang akan dinaiki Mira dan Alan pun tiba. Mereka berdua naik jurusan yang sama. Disaat Mira hendak naik, dia pun berkata kepada Dian yang sudah mengikutinya dibelakang.


“Ngak usah dianter, Di. Aku ngak apa-apa kok.” Ucapnya sambil tersenyum.


“Eh? Bener nih ngak apa-apa?” Dian pun menatap Alan untuk minta persetujuan. “Ka, kalau gitu dianter Alan aja ya, sampe rumah?”


Mira hanya menjawabnya dengan kembali tersenyum.


“Mira hati-hati dijalan ya! I love yuuuu!” Seru Dian saat mereka berdua terbawa pergi oleh bis yang ditumpanginya.


“Hey Ron, kamu mau pulang pake apa? Aku mau pesen ojek.”


Akan tetapi Ronny tidak menjawab. Dia nampaknya masih sibuk menggerakan semua neuron yang ada di otaknya. Sambil duduk di bangku halte dengan pose Socrates-nya tapi terlalu mengangkang.


Langit sore yang merah kini perlahan berubah menjadi langit petang biru gelap keunguan. Lampu-lampu jalan sudah mulai menyala. Waktu seperti ini adalah waktu yang bisa orang sebut dengan sebutan waktu syafak. Dimana pada saat inilah perpindahan dari siang menuju malam. Disaat ojek pesanan Dian datang, dia pun menegur Ronny lagi untuk berpamitan.


“Hey Ron, Ronny!”


“Ronniiiii!”


“Ugh yasudah, aku duluan ya?” Dian pun naik keatas ojek lalu pergi.


Jujur saja aku sangat terkesan dengan tekad bocah ini ketika sedang memutar otak. Sampai-sampai teriakan melengking Dian tadi tidak membuat dia bergeming sedikitpun. Aku jadi penasaran, apa sih yang sebenarnya ada dikepala bocah ini.


Dan akhirnya, meskipun aku belum pernah melakukan hal ini sebelumnya dan tidak tau pastinya bagaimana caraku melakukan ini. Dengan iseng, begitu saja, kucoba untuk menegur bocah ini seperti yang tadi sudah dilakukan Dian.


“Ron.”


Dan kau tau apa? Dia pun menoleh.


***


Sudah sekian lama waktu berlalu semenjak Ronny menoleh tepat kearahku. Saat ini dia sudah mundur cukup jauh dari tempat duduknya semula. Tangannya memegangi tiang halte sedemikian rupa seolah dia takut sekali tubuhnya akan terbawa angin yang sedang berhembus. Mulutnya terus saja komat-kamit melafalkan sesuatu seperti doa atau ajian-ajian yang aku sama sekali tidak dapat mengerti satupun.


"Ka, kamu ini siapa?! A, apa maumu?!" Dengan terbata akhirnya Ronny bertanya.


"Kamu?" Aku malah balik bertanya sambil berusaha tersenyum. Aku tidak tau bagaimana aku melakukannya, tapi kurasa aku berhasil. Karena kini wajah ketakutan Ronny sudah berubah menjadi sekedar wajah kikuk.


"Sejak kapan elo pake aku-kamu, Ron?" Tanyaku lagi.

__ADS_1


Ronny pun jadi sedikit nyengir, walaupun miris.


"Nah gitu dong. Santai." Ujarku lagi.


Wow kau pasti tau kan, seberapa bahagianya aku saat ini! Untuk pertama kalinya aku dapat berbicara dengan seseorang. Untuk pertama kalinya ada orang yang dapat mendengar ucapanku. Sejak cerita ini dimulai, ah bukan! Jauh lebih lama lagi dari itu, sejak kudapati kondisiku yang seperti ini, tidak ada satupun orang yang dapat kuajak berbicara. Tetapi kini, walaupun yang dapat kuajak bicara adalah si bocah sekedar bodoh sangat ini tapi..., agh aku senang sekali!


"Se, sebenarnya... elo itu siapa?" Akhirnya Ronny bertanya lagi.


"Gue Aji." Pasti rupaku sangat berbinar saat mengatakannya.


"I, iya tapi Aji itu siapa? Elo anak yang lagi coma tadi kan? Seharusnya lo temen sekelas gue kan? Dari kelas satu malah. Tapi kenapa gue ngak bisa inget?"


"Hmm, buat menjawab pertanyaan itu..." Setelah mendengar ucapan Ronny, aku pun berasumsi kalau rupaku saat ini adalah rupa layaknya wujud original yang kumiliki.


"Ron, seandainya gue bilang kalau gue ini adalah seorang kapiten, yang menggemari lagu-lagu K-pop, apa lo percaya?"


"Pffft, apa lo bilang?"


"Iya, gue ini sebenernya adalah seorang kapiten yang menggemari lagu K-pop." Kubayangkan saja diriku ini bergerak lalu melakukan pose dance se-sensual mungkin. Karena aku tau sekali jika dulu, Ronny sangat senang saat aku bertingkah seperti ini didepannya.


"Buahahaha!" Ronny pun terbahak sampai terpingkal-pingkal. "Elo ngapain?! Ahahaha!"


Cukup lama dia terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Kubiarkan saja dia seperti itu terus sampai dia merasa puas. Aku merasa lega sekali saat aku menyaksikannya. Sambil terhibur dengan melihat tingkah Ronny disana, aku pun berkata pada diriku sendiri. "Akhirnya, sekarang gue ngak sendirian!"


Setelah bocah itu puas terbahak, dia pun kembali membenarkan posisi duduknya lalu mengusapi sudut matanya yang sedikit basah karena tertawa.


"Sudah puas?" Tanyaku.


"Haha, iya."


"Nah kalau gitu gue ingin bertanya sama lo."


Aku pun mendekatinya dengan gelagat sangat antusias. Membuat Ronny jadi sedikit terhenyak dan memasang wajah waspada.


"Ron, sebenernya seperti apa sih wujud gue sekarang ini? Apakah keren gitu? Ada angin-angin nya di sekitar badan gue. Ah, atau mungkin ada cahaya yang keluar dari badan gue, kayak Super Seiya gitu?"


Mendengar pertanyaanku wajah Ronny langsung berubah jenaka. Segera saja dia kembali terpingkal sambil menampari pahanya sendiri.


"Ahahaha!"


"Oii gembel, gue serius." Ujarku. Jujur saja aku sebenarnya paling kesal ketika Ronny sudah bertingkah seperti ini. Ingin sekali aku menjitak kepalanya agar membuatnya berhenti tertawa. Namun apalah daya, aku tidak bisa melakukan itu.


"Ron."


"Aahaha, sorry-sorry. Sekarang ini wujud lo... Ahaha. Lo bilang apa tadi, Super Seiya?!"


"Elo telanjang! Buahahaha!"

__ADS_1


__ADS_2