Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 2: Two Tails


__ADS_3

Mira Karlina dikenal sebagai siswa paling populer di sekolah. Sudah sering dia mendapatkan pernyataan cinta baik secara langsung maupun tidak dan tentu saja semuanya itu berakhir dengan sebuah penolakan ramah darinya. Selain cantik, Mira juga pintar dan memiliki nilai tinggi disemua mata pelajaran. Menjadikannya disukai bukan hanya oleh para murid tetapi juga para guru. Soal kemampuan atletik pun tidak perlu di ragukan lagi, karena Mira adalah ketua ekskul bulutangkis sekolah yang terkenal akan prestasinya.


Namun dengan semua kelebihan yang ada pada dirinya, Mira tetap ramah pada sesama dan dia selalu terlihat ceria. Selalu ada aura positif disekitarnya yang membuat semua orang suka padanya. Pagi ini pun disaat dia berjalan menuju bangkunya, semua siswa seakan berebut untuk mengucapkan selamat pagi kepadanya. Jadi, jika disimpulkan dengan kata-kata maka Mira adalah seorang gadis SMA yang biasanya kita sebut dengan…


“Bitch.”


Laras mencibir sambil meletakan bokongnya diatas meja Alan. Membuatnya berada tepat disamping wajah Alan yang sedang asik memandangi Mira. Alan yang kaget akan kehadiran bokong disamping wajahnya menjadi sedikit tersontak.


“Liat dah kelakuannya, sok kecentilan.” Selorohnya. “Pasang muka polos biar berkesan gadis manis padahal dalemnya sih, lacur! Dia kegatelan orangnya.”


Begitulah Laras. Mulutnya tak secantik parasnya. Mulutnya mulut yang kotor. Dia terkenal sebagai gadis yang paling ditakuti oleh siswa laki-laki di sekolah. Tapi sebenarnya Laras anak yang baik. Setidaknya bagi kebanyakan siswa perempuan, Laras adalah sosok yang disegani karena sifatnya yang mengayomi dan peduli. Perlakuannya terhadap siswa perempuan berbanding terbalik dengan apa yang diperlihatkannya kepada laki-laki. Akan tetapi terhadap Mira, lain cerita.


“Emm... Laras, selamat pagi.” Alan mencoba menyapanya.


“Lo lagi ngeliatin dia kan? Jablay itu? Jangan bilang kalo lo juga udah kemakan rayuannya, Alan.” Laras malah memberondongnya dengan petuah. “Dia itu cuma akting doang di depan kalian, aslinya dia itu cuma haus pujian. Jadi, lo jangan ikut-ikutan kemakan akal bulusnya!”


Alan hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. Laras memang sangat membenci Mira. Setidaknya begitulah yang selalu dia perlihatkan terhadap Alan. Jadi hal semacam ini sudah biasa bagi Alan. Namun belakangan ini kebencian Laras terlihat semakin menjadi-jadi.


Ya nampaknya tidak semua orang menyukai Mira. Laras adalah salah satu contohnya. Tapi satu hal yang pasti buatku, aku sangat mencintai Mira. Lebih dari apa pun.


“Nih bekal makan siang lo.” Laras mengeluarkan kotak bekal yang dibungkus kantong plastik putih  dari dalam tasnya.


“Harus habis!”


Sejak dimulainya semester ganjil kelas Dua Belas, Laras selalu membuatkan bekal makan siang untuk Alan setiap harinya. Awalnya dia bilang karena dia membuat terlalu banyak sehingga terpaksa memberikan masakannya yang berlebih untuk Alan. Tapi lama-kelamaan hal ini sudah seperti kebiasaan sehari-hari bagi mereka.


“Makasih ya, Ras… Eh tapi Ras, menurutku kalian berdua cocok. Kamu dan Mira.” Celetuk Alan sambil memeriksa apa menu bekal untuknya hari ini. “Mira baik kok orangnya sama kayak kamu. Coba kalau kalian mau saling mengenal satu sama lain.”


“Huh?!” Laras menutup kembali kotak bekal yang tengah dibuka Alan dengan keras. Seperti membanting.


“Lo susah ya dibilangin!”


Laras hendak melanjutkan bentakannya namun tersadar akan kondisi sekitar. Akhirnya dia berjingklak dari meja Alan sambil berkata.


“Intinya lo inget pesan gue, Alan. Jangan deket-deket sama tuh jablay!” Dia pun pergi.


Sepulang sekolah Alan bejalan menuju gerbang keluar bersama Ronny. Disela-sela perjalanan, mereka terlihat beberapakali mentackle kaki satu sama lain, lalu tertawa dan saling berkejaran. Mereka berdua menjadi sangat akrab semenjak awal semester ini.


“Haha, eh Ron, kamu ga ikut latihan ekskul basket?”


“Ngak ah lagi males gue, mending maen game.”


Ditengah keramain para siswa SMA yang sedang berjalan pulang meninggalkan sekolah itu, tanpa mereka sadari, dari belakang melompat seseorang mengagetkan mereka berdua.


“Dor!”

__ADS_1


“Mira!”


“Hihi, kaget ya?”


“Ya, sedikit.” Alan menjawab sambil menggaruk-garuk kepalanya. Wajahnya menampakan kesan kaget tapi senang.


“Hi Ronny.”


“Ha, hallo Mira.” Ronny bereaksi seperti Laki-laki pada umumnya ketika berinteraksi dengan Mira. Ya, seperti itulah.


“Kayaknya Ronny beneran kaget tuh.” Sahut Alan.


“Hihi kayaknya.”


Mereka pun tertawa bersama.


“Kamu ngak ada ekskul Mir? Tumben langsung pulang.” Tanya Alan.


“Iya hari ini lagi libur dulu, soalnya Pak Fredy lagi berhalangan. Oh iya Lan, soal novel yang baru kamu pinjemin kemaren, aku suka!”


“Haha, Syukur kalau kamu suka. Eh mir, sekali-kali kamu dong yang pinjemin aku buku.”


“Hmm, buku apa ya… aku juga gak punya banyak buku soalnya. Paling adanya buku harian.”


“Eh? Maaf banget Alan, tapi kalau buku yang itu aku gak bisa pinjemin. Hihi.”


Ronny yang sedari tadi memperhatikan, kini mendekatkan bibirnya ke telinga Alan untuk berbisik. “Eh Lan, kita diliatin banyak orang nih. Secara lo jalan sama idol ni sekolahan punya, mana akrab banget lagi.”


Memang benar, sedari tadi banyak orang yang memperhatikan mereka. Tentu Alan pun dapat merasakan itu. Pandangan dari sekitar ketika dia berada didekat Mira. Seperti sesuatu hal yang memang menjadi bagian dari diri Mira. Pandangan dengan berbagai macam makna didalamnya itu selalu ada mengikuti Mira kemanapun dia pergi.


“Hmm? Kalian lagi ngomongin apa? Kok bisik-bisik?”


“Haha ngak Mir, ini loh Alan katanya dia mau liat koleksi video po… Heuk!” Alan menyikut perut Ronny sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.


“Ahaha bukan apa-apa Mir, gausah dipikirin! Ini bocah emang gak jelas, haha!”


Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil mengobrolkan berbagai macan hal. Sampai pada saat perhatian mereka tepecah oleh suara yang memanggil dari belakang.


“Alan.”


Disana berdiri Laras yang sedang bersilang tangan sambil memainkan rambut kuncir duanya. Dilihat dari raut wajahnya sepertinya ini bukan hal yang baik. Mengerikan! Pandanganya dingin seperti es tapi juga memberikan kesan api yang membara didalamnya. Entah berapa lama es itu bisa menahan ledakan dari api yang berada didalamnya. Sepertinya tidak lama lagi.


“Lo tolol ya?” Suaranya pelan namun terdengar dengan jelas.


Senyap. Tak ada satupun perkataan keluar dari mulut mereka, pun tak lagi terdengar suara-suara obrolan dan langkah kaki dari murid-murid yang sedari tadi ramai terdengar. Hanya ada satu dua suara berbisik dan suara dedaunan yang teterpa angin. Momen ini berlangsung cukup lama sebelum akhirnya Alan menyaut setelah dia mencoba memproses apa yang terjadi dan apa yang harus dia katakan.

__ADS_1


“A, ada apa Ras?”


Laras hanya terdiam sambil menatap tajam tepat ke mata Alan. Membuat suasana semakin mencekam.


“So, sorry Ras, kalau-kalau ni bocah ada salah. Kadang-kadang dia suka bertingkah bodoh. Haha.” Ronny mencoba mencairkan suasana. Tanganya merangkul Alan dari belakang, membuatnya terlihat merunduk didepan Laras.


“Ada yang nyuruh lo ngomong?” Ucap Laras tanpa sedikit pun melihat Ronny.


Seperti terkena sambaran petir, Ronny pun mati berdiri. Rest in Peace Ron, itulah mengapa aku pernah mengatakan, jangan pernah berani-berani masuk kedalam pertarungan antar wanita.


“Kayaknya elo gak bisa dibilangin cuma dengan omongan, ya. Otak lo terlalu dungu.”


Senyap.


“Ikut gue!”


“Huh?”


“Udah sini ikut, dungu!”


Alan melangkah dari tempatnya berdiri untuk mendekati Laras bagaikan seekor anak anjing yang tidak bisa mengelak dari perintah majikannya. Lalu ketika jarak mereka sudah cukup dekat, Alan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


“Ini kotak bekal kamu, Ras. Maaf aku gak bisa ikut kamu sekarang. Mulai hari ini kamu gak perlu repot-repot ngasih bekal lagi.”


Laras tertegun melihat apa yang dilakukan Alan.


“Kalau kamu pikir dengan ngasih bekal buatku tiap hari kamu bisa seenaknya maki-maki, terus memperlakukanku kayak pesuruh kamu, maaf Ras, aku pikir kamu lebih baik dari itu. Tapi aku salah.” Lanjut Alan


Mendengar itu, Laras nampaknya sudah sampai pada puncaknya. Seakan semua kemurkaan yang ada di dunia merasukinya, Laras mengerutkan dahi sambil menarik nafas dalam-dalam. Giginya yang tersusun rapih kini terlihat semua. Wajahnya merah padam bagaikan tomat matang yang siap dipanen.  Ronny yang telah kembali sadar dari mati berdirinya, bergegas pergi setelah menyadari apa yang tengah terjadi. Lalu, setelah semua bara dan amarah terkumpul di ubun-ubun, Laras akhirnya siap untuk melontarkan seluruh kepekatan yang ada di dirinya melalui mulutnya. Entah sekotor apa kata-kata yang akan dia teriakan, dan sepanjang apa makian nanti. Tapi yang jelas Alan siap.


“Ugh, oke gue biarin lo sekarang.”


Tertahan. Tak terpuaskan. Seperti klimaks yang terganggu disaat kau sedang sampai “puncaknya”. Laras kemudian meraih kotak bekal dari tangan Alan lalu beranjak pergi dengan langkah menghentak.


“Sorry gue kelepasan.” Bisik Laras kepada Alan disaat dia berjalan melewatinya. Tangannya terlihat meremas kotak bekal yang sedang digenggamnya. Pandangannya lurus kedepan tanpa sedikitpun melihat kearah Mira yang sedari tadi hanya tertunduk diam disana. Lalu saat mereka berdua berpapasan.


“Ah.”


Bahu Laras berbenturan dengan bahu Mira. Cukup keras, sehingga sangsi untuk mengatakan bahwa itu tidak sengaja.


Mira yang sempat terhuyung, akhirnya kembali membenarkan posisi berdirinya. Kemudian yang dia lakukan selanjutnya hanyalah terdiam dengan menunjukan raut wajah sedih. Alan yang melihatnya dalam kondisi seperti itu pun akhirnya mencoba mengajaknya bicara.


“Mira... Mau pulang bareng?”


Mira menjawabnya dengan anggukan kecil. Kemudian mereka berdua pun pergi meninggalkan area sekolah. Tak peduli dengan semua pandangan penuh tanya dari orang-orang yang ada disekitar.

__ADS_1


__ADS_2