
"Ana kidung akadang premati... Among tuwuh ing kuwasanira... Nganakaken saciptane..."
Mulut Bu Mustika mulai melafalkan semacam kidung yang sebenarnya sudah cukup aku kenal. Dulu ketika aku masih kecil, Bapak pernah mengajarkan kidung ini kepadaku. Setiap petang aku selalu disuruh membaca kidung ini sehabis pulang bermain.
Kidung Dendang Gula, sebuah kidung yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk melindungi diri dari gangguan makhluk-makhluk gaib. Berisikan mantra pengingat terhadap perlindungan Sadulur Papat. Apa itu Sadulur Papat dan penjelasan lebih jauh dari kidung ini kurasa tidak perlu kujelaskan lebih lanjut. Ya lagi pula untuk apa? Tidak terlalu penting juga. Intinya kidung ini beguna untuk mengusir setan dan sepertinya saat ini Bu Mustika menganggapku sebagai salah satu diantarannya.
Setelah Bu Mustika selesai membacakan kidung, kulihat sinar wajah mereka berdua kembali tenang. Tanpa kuperintah, Ronny kembali meminta maaf kepadaku namun segera saja Bu Mustika menghentikannya dan menyuruhnya agar tetap menjaga jarak.
Aku sungguh tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Apakah aku baru saja merubah wujudku sedemikian rupa sehingga menjadi sangat mengerikan di pandangan mereka? Aku bahkan tidak tau kalau aku telah melakukan sesuatu.
"Hey, kalian kenapa?"
Ronny dan Bu Mustika saling bertatapan. Akan tetapi tidak ada satupun yang menjawab pertanyaanku. Mereka berdua sibuk memandang ke segala arah. Kecuali satu, ke arahku.
"O, oke, sorry." Lanjutku. "Seandainya kalian melihat wujud gue tiba-tiba berubah, jadi kayak monster gitu? Terus kalian jadi ketakutan kayak gini... Sumpah Ron, gue ngak ada maksud sama sekali buat nakutin kalian. Gue beneran... ngak melakukan apapun."
Hening. Kami pun terdiam sangat lama. Sangat lama hingga akhirnya bel tanda berakhirnya istirahat pun berbunyi.
Bu Mustika memerintahkan Ronny agar kembali ke dalam kelas. Akan tetapi Ronny terlihat enggan. Namun setelah aku memberikan isyarat kepadanya untuk pergi mengukutiku, kembali ke dalam kelas. Ronny pun manggut dan mulai melangkah mengikutiku.
"Ronny kembali ke dalam kelas!" Bu Mustika berbicara lantang. "Kamu, tetap disini!"
Ronny menatap jeda kepadaku, seakan meminta persetujuan. Lalu setelah kuberi anggukan, dia pun akhirnya berangsur pergi sambil sekali lagi menatapku sebelum menuruni tangga.
Suasana tegang seketika datang. Saat ini Bu Mustika tengah besila tangan menatapku dengan mata menyeramkan dibalik kaca mata stylish-nya. Sedangkan aku masih kebingungan ke arah mana aku harus mejatuhkan pandangan.
Bagaimana tidak, setiap kali aku melihat Bu Mustika pandanganku selalu tertuju ke sana. Sepasang gunung kembar itu, mereka terlihat sangat bahagia. Setelah dibawa berjalan kesana-kemari seharian ini, akhirnya mereka bisa beristirahat nyaman diatas sokongan tangan Bu Mustika yang sedang bersila. Hmm, pastilah mereka kelelahan bukan? Istirahat sejenak semacam ini, kurasa sangat perlu untuk mereka lakukan sekali atau dua.
"Ngeliatin apa kamu?" Suaranya membuyarkan lamunan.
"Da- da, dari tadi Ibu terus kok yang ngeliatin saya! Harusnya saya yang nanya, Ibu lagi ngeliatin apaan?"
"Hmph." Dia pun memalingkan wajah. "Kamu mau tau, kenapa Ibu terus ngeliatin kamu?"
"Mm... Iya?"
Bu Mustika berjalan masuk kedalam Lab Fisika lalu meletakan ponselnya yang sudah mati di atas meja panjang guru yang terletak didepan ruangan.
"Sebenarnya begini, Aji. Tadi itu Ibu sama Ronny bukannya takut ngeliat kamu, tapi lebih kearah... kasihan."
"Kasihan?"
"Ya. Kasihan."
Kemudian dia kembali menuju pintu dan sebelum dia bergerak untuk menutupnya, dia berkata.
"Alasannya karena tadi itu..." Dia kembali membuang muka. "Aji, tadi itu kamu menangis darah."
Akupun tertegun. Jadi, tadi itu mereka melihatku menangis? Darah?! Oh... Sejujurnya memang aku merasa sangat sedih ketika Ronny dengan mudahnya berkata jikalau dia mempercayai Alan. Setelah semua ceritaku kepadanya sejauh ini, bagaimana bisa Si Bocah bodoh itu tanpa kepekaan sedikitpun bilang, bahwa tidak masalah jika Alan mengetahui semuanya. Disana aku merasa seolah Ronny mengkhianatiku.
"Masuklah." Kulihat Bu Mustika menggerakan kepalanya. "Ada banyak hal yang ingin Ibu tanyakan."
__ADS_1
Aku menurut saja dan melayang masuk ke dalam Lab Fisika. Aku tidak tau apakah saat ini aku masih mengeluarkan darah dari mataku atau tidak. Tapi perasaanku memang masih terasa sangat berat mengganjal. Ah, kesedihan. Sudah berapa banyak alur waktu berlalu sejak aku merasakan ini pertama kalinya. Aku bahkan lupa apa bedanya bersedih dan tidak. Sama saja. Karena semua yang dapat kurasakan kini, hanyalah satu jenis perasaan itu saja. Kelabu.
"Oh iya, sebelumnya kamu masuk, ada hal yang ingin Ibu tanyakan terlebih dahulu." Ujarnya disaat aku melintas.
"Apa?"
"Tadi kamu manggil Ibu apa?"
"Huh?"
"Itu, waktu tadi Alan datang. Kamu manggil Ibu dengan sebutan apa?"
"Oh." Akupun terhenyak dan segera mengalihkan pandangan ke sekeliling dengan acak. "I, Ibu Oppai? Yang itu maksudnya?"
"Ya. Itu artinya apa? Kenapa kamu panggil Ibu seperti itu? Jangan bilang itu istilah anak jaman sekarang buat menghina orang lain."
"Haha, bukan kok Bu, itu cuma," aku meringis. "Itu cuma... Ronny! Ya Ronny! Coba Ibu tanyakan saja sama Ronny! Saya juga dikasih tau istilah itu dari dia kok, ahaha!"
"Tuh, bener kan, tadi itu kamu menghina Ibu? Berani kurang ajar ya kamu?!"
Aku sudah siap seandainya Bu Mustika bakal memarahiku habis-habisan. Ya meskipun Bu Mustika masih tergolong anak muda, tetap saja perkataanku kepadanya tadi itu tidak sopan. Bagaimana pun juga dia guruku.
Setelah menanti sekian waktu, tapi Bu Mustika tak kunjung jua mengomel. Akhirnya kuintip dia dengan ekor penglihatanku, dan ternyata yang kutemukan bukanlah wajah murka yang dia tunjukan. Melainkan...
"Nah sekarang, kamu terlihat jauh lebih baik." Ujarnya sambil menyunggingkan senyum dewasa yang hangat.
Saat itulah akupun mengerti. Bahwa sebenarnya Bu Mustika sudah tau arti dari kata Oppai sebelumnya. Dia bertanya sekedar jahil saja untuk membuat perasaanku menjadi lebih baik. Ah, Ratu Mustika memang terbaik! Tidak menyesal dulu aku pernah tergabung kedalam Fans Club pemuja dirinya.
Bel tanda usainya pelajaran berbunyi. Terdengar langkah kaki siswa-siswi beradu di lorong luar Lab Fisika tempat aku dan Bu Mustika berada kini. Lantai 3 gedung sekolah memang kebanyakan dipakai untuk sekretariat berbagai macam ekskul sekolah. Jadi sepulang sekolah merupakan waktu dimana area ini menjadi sibuk.
Di depanku Bu Mustika masih saja mengurut-urut keningnya. Saat ini aku baru saja selesai bercerita kepadanya tentang semua. Sama percis seperti yang sudah pernah kuceritakan kepada Ronny. Tidak kurang tidak lebih.
Selain itu aku juga sudah menceritakan tentang apa saja yang sudah terjadi di alur waktu sekarang ini. Dari mulai kejadian di ulang tahun Mira hingga kondisi sekarang. Dimana Laras dan Alan nampaknya sedang memburu Ronny untuk diterogasi.
Disaat aku bercerita, beberapa kali kulihat dia melepas kacamata lalu mengelapi sudut matanya. Nampaknya dia benar-benar terbawa suasana oleh ceritaku.
"Aji, setelah mendengar ceritamu Ibu jadi benar-benar kasihan sama kamu, nak. Pantas saja kamu sampai nangis darah tadi."
"Ya soal itu, jujur Bu, saya benar-benar tidak tau kalau tadi itu saya menangis. Apalagi sampai yang keluarnya darah. Jujur saya juga ngeri ngedengernya. Kok bisa ya saya sampe menangis darah."
Bu Mustika mulai menatapku sendu. Akhirnya kuputuskan untuk merubah suasana.
"Oh iya, Bu Oppai! Ngak usah panggil saya nak, dong! Umur kita kan ngak terlampau jauh."
"Hey, Ibu ngak pernah bilang kamu boleh panggil Ibu kayak gitu, ya! Jangan kurang ajar!" Ujarnya ketus. "Lagian kamu tuh tetep aja masih anak ingusan, umurmu masih 18 tahun, sama kayak Ronny. Jadi kamu harus..."
"Salah." Potongku. "Ibu inget kan, ini perjalanan waktu saya yang ke-tujuh. Jadi saya sudah lebih tua empat tahun dari seharusnya. Umur saya berarti 22. Jadi bisa dibilang saya ini orang dewasa!"
Bu Mustika mengernyit lalu menaruh tangannya di bawah dagu.
"Gimana? Merasa lebih muda sekarang?"
__ADS_1
Dia berdecak. "Hmph, bisa aja kamu."
Kemudian dia mencabut ponselnya dari charger. Sejak tadi ponselnya belum bisa dinyalakan sekalipun.
"Anyway, dari semua ceritamu Ibu sebenarnya paling penasaran sama penyebab kamu bisa mendapatkan wujudmu yang seperti sekarang ini. Secara meta physic belum ada yang dapat menjelaskan secara utuh tentang materi roh atau jiwa. Sampai sekarang hanya ada teori quantum yang paling dekat untuk menjelaskan kondisimu ini, Aji."
Dia mencoba lagi menyalakan ponselnya, tetapi tetap tidak bisa.
"Spekulasi Ibu, kondisimu sekarang ini seperti sebuah frekuensi gelombang otak yang membawa serpihan quantum memori dari ingatanmu di masa lalu. Terbawa kesini karena Laras yang terus saja mengulang alur waktu. Tapi karena kamu juga memiliki intelegent dan kehendak. Ibu jadi berpikir kalau sebenarnya kamu itu benar-benar roh yang terlepas dari raganya."
Aku menggedik. "Entahlah, mungkin nanti setelah saya ceritakan semuanya Ibu jadi bisa mengerti. Ya seperti yang sudah saya bilang, mendingan saya cerita lanjutannya pas ada Ronny juga. Biar sekalian."
"Kalau begitu ayok, kita cari Ronny sekarang." Ucapnya sambil beranjak.
Kami berdua pun meninggalkan Lab Fisika lalu menuruni tangga untuk pergi menuju kelasku yang letaknya berada di lantai 2. Selama perjalanan setiap murid menyapa dan mencium tangan Bu Mustika dengan antusias. Seperti yang sudah kukatakan, dia ini adalah Idol ke-dua terfavorit di sekolah kami.
Sesampainya kami di depan kelas, terlihat siswa-siswi yang berkerumun disana. Mengintip kedalam kelas dari jendela juga pintu masuk. Aku dan Bu Mustika segera mempercepat laju karena penasaran akan hal yang sedang terjadi.
"Permisi anak-anak, Ibu mau lewat." Ucap Bu Mustika membuyarkan kerumunan yang ada di pintu masuk kelas.
Aku langsung masuk dengan menembus tembok dan sesampainya di dalam akupun disajikan pemandangan mencekam yang kini sedang terjadi di dalam kelas.
"Ngak bisa! Ronny harus ikut gue sekarang!" Sambil berkacak pinggang, Laras menggebrak meja Ronny yang masih diduduki oleh pemiliknya.
"Ngak." Jawab Alan yang berdiri di sisi lain meja Ronny. "Sudah kubilang, aku sama Ronny sudah punya janji sepulang sekolah."
"Bodo!" Laras menarik Ronny untuk bangkit dari duduknya. Saat ini Laras bahkan sudah membawa tas Ronny di tanggannya yang satunya lagi.
"Ras." Kata Alan sambil ikut menggengam tangan Ronny. "Kamu ngak bisa seenaknya."
Kulihat wajah Ronny sudah seperti ikan asin yang dijemur seharian penuh. Sambil tergagap dia berusaha melepaskan diri dari kedua temannya yang sedang garang itu. Tapi tentu saja tidak bisa. Bocah itu benar-benar terlihat miris. Ditarik kesana-kemari oleh dua orang yang jauh lebih pendek darinya.
"Oke stop!" Akhirnya Bu Mustika berseru. "Ada apa ini?"
Semuanya pun terdiam.
Selama menjadi partnernya menjadi penjelajah waktu, aku selalu memandang Laras sebagai seseorang yang berkepala dingin. Dia selalu dapat mengendalikan situasi disaat keadaan berubah genting seperti ini. Akan tetapi kali ini dia terlihat berbeda. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan seberapa tersudutnya dia. Bahkan tangannya terus saja mengenggam tangan Ronny dengan sangat kaut. Tidak peduli akan Bu Mustika yang saat ini sudah ada di depannya. Sedangkan Alan, dia sudah beranjak mundur lalu menunduk kepada Bu Mustika.
"Tidak ada yang mau bicara?" Tanya Bu Mustika. Selanjutnya dia sedikit menoleh ke arahku.
Aku tidak mengerti apa maksudnya dia memandangku. Tapi kujawab saja dengan anggukan.
"Baiklah, kalian bertiga! Ikut Ibu ke ruang guru sekarang!"
Setelah tatapan diam sesaat akhirnya mereka pun menurut. Lalu berjalan mengikuti Bu Mustika membelah kerumunan murid di pintu masuk kelas. Tangan Laras masih terus menggam tangan Ronny dengan kuat. Seakan hidupnya bergantung disana.
Dengan wajah mengkerut ikan asinnya, Ronny pun menatapku meminta pertolongan. Tapi kulakukan hanya terbahak saja menertawakan dirinya yang malang itu.
__ADS_1