Eternal Fragments of Moonlight

Eternal Fragments of Moonlight
Chapter 6: Promises And Flowers


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 13.00 ketika Alan dan Laras tengah menikmati santap siang mereka di salah satu Food Court yang ada di dalam pusat perbelanjaan. Sejak pagi mereka sudah berkeliling menghabiskan waktu bersama dari satu spot ke spot lainnya.


Disamping mereka terdapat tumpukan barang belanjaan yang semuanya adalah milik Laras. Diantaranya terdapat pula boneka beruang yang tadi mereka dapatkan dari Game Center. Sesekali disaat Alan menatap Laras ditemukannya Laras tersenyum lebar kepadanya sambil berpangku tangan dan menyantap Beef Steak sebagai menu makan siang.


“Hey, bagaimana?” Kata Laras. “Lo nikmatin date kita hari ini?”


“Tentu.” Alan tersenyum.


Hari ini Laras bersikap sangat manis terhadap Alan. Meski terkadang masih terlihat sifat arogannya saat dia berbicara, namun dibanding dengan tingkahnya disekolah setiap hari, Laras hari ini sangat jauh lebih manis. Dia tidak ragu untuk menggandeng tangan Alan disaat mereka berjalan. Beberapakali dia mendekatkan wajahnya saat berbicara dan ketika mereka berfoto di dalam photo box, Laras tidak segan untuk merangkul tangan Alan dan bersandar di bahunya.


Sebenarnya ini memang bukan kali pertama mereka “jalan” bersama. Karenanya, meskipun kadang masih terlihat canggung, hari ini Alan sudah cukup terbiasa untuk tetap menjaga sikap.


“Habis ini, kita nonton.” Laras berkata sambil tetap tersenyum hangat.


“Aduh Ras, seperti kataku tadi aku cuma bisa sampai jam satu hari ini. Ya paling telat setengah dua lah, soalnya aku ada urusan keluarga.” Jawab Alan. “Maaf ya Ras.”


Raut wajah Laras berubah dingin, namun dalam sekejap dia kembali tersenyum. “Mau gimana lagi. Kalau gitu kita pulang sekarang aja biar lo gak telat.”


Laras mengambil sebagian belanjaannya dan boneka beruang yang ukurannya cukup besar disampingnya, lalu menjulurkan tangannya kepada Alan. Setelah mengambil sebagian lagi belanjaan yang masih tergeletak, Alan meraih tangan Laras dan mereka pun berjalan bersama bergandengan.


Mereka sampai di halte yang berada didepan pusat perbelanjaan lalu meletakan belanjaan diatas bangku. Kemudian Alan berdiri untuk menanti bis datang sedangkan Laras duduk diantara barang belanjaan sambil memangku boneka beruang.


"Oh iya, Ras. Sebenarnya sedari tadi ada yang ingin kutanyakan."


"Yap, gue cukup puas kok hari ini." Laras tersenyum. "Ya walaupun sebenernya gue masih mau lanjut lagi sih."


"Su, syukurlah, haha. Tapi bukan itu yang ingin kutanyakan."


"Terus?"


"Emm." Alan berhenti sejenak. "Begini Ras, apa kamu punya kontaknya Mira?"


"Huh?!"


"Bu, bukan begitu. Aku cuma ingin tau apa belakangan ini kamu mengirim pesan ke Mira? Semacam chat atau email gitu? Soalnya kemarin, ada pesan aneh di HP dia dan nama pengirim pesan aneh itu... kamu."


Laras membuang muka tanpa menjawab. Menatap dengan nanar kearah kendaran yang berlalu lalang di jalan raya. Setelah diam cukup lama, akhirnya dia tersenyum tipis kepada Alan.


"Pesan? Pesan apa? Gue gak tau." Ujarnya. "Apa lo pikir gue gak punya kerjaan yang lebih penting dari pada mengirim pesan aneh ke jablay itu?"


"Baiklah. Lupakan." Kini giliran Alan yang membuang muka.


Jurusan bis yang akan mereka naiki berbeda. Sehingga pada saat bis yang akan dinaikin Alan datang, dia menoleh kearah Laras untuk berpamitan. Mereka sempat saling manganguk. Namun disaat Alan hendak masuk kedalam bis, Laras memanggilnya dengan terbata membuatnya menoleh sekali lagi.


Ketika itu Laras sedang mencoba berjalan kearahnya sambil berusaha membawa semua belanjaan dan boneka beruang yang ukurannya cukup besar itu. Tentu saja akibatnya beberapa belanjaan jatuh dan berserakan di trotoar. Dengan segera Alan kembali turun dari bis dan membantu Laras memungut belanjaannya yang tercecer.

__ADS_1


“Aku antar kamu sampai rumah.” Kata Alan sambil mengambil sebagian besar belanjaan yang berserakan.


“Makasih Alan, gue tau lo baik banget.”


Tidak lama kemudian, bis dengan jurusan Candi Nitehake datang. Mereka berdua pun naik dan terbawa pergi dengannya.


***


Alan segera berlari setelah dia turun dari bis. Tujuannya adalah taman bunga diatas tebing yang berada di Tanjakan Teduh. Ditengoknya ponselnya untuk mengetahui waktu. Jam 16.40 dia sudah terlambat hampir 3 jam dari waktu yang ditentukan. Dia sudah menghabiskan banyak sekali waktu saat berada di rumah Laras. Entah apa saja yang mereka kerjakan disana, tapi sepertinya Laras sudah memberinya banyak hal untuk dikerjakan.


Alan mencoba menghubungi Mira namun nomer yang dia hubungi tidak aktif. Semenjak kencannya dengan Laras tadi, dia enggan untuk membuka ponselnya meskipun sudah beberapa kali ponselnnya bergetar. Dan pastilah itu dari Mira, karena kini di ponselnya terdapat beberapa log panggilan tak terjawab darinya. Nampaknya Alan takut jika Laras mengetahui dirinya mempunyai janji juga dengan Mira hari itu, wah semuanya akan berubah kacau.


Dengan nafas yang tersengal dan bulir keringat di keningnya, Alan menaiki tangga yang berada di sisi tebing Tanjakan Teduh. Dijinjingnya sekantung donuts yang tadi sempat dia beli sebelum naik bis.


Sampai di pertengahan anak tangga langkahnya tiba-tiba terhenti. Samar-samar, terdengar suara biola mendayu dari puncak tebing.


Alan pun mempercepat langkahnya dan disaat dia menaiki anak tangga terakhir, dilihatnya seorang gadis yang duduk beralaskan rerumputan di tengah-tengah taman. Dia menggunakan dress putih cantik yang sesekali berkibar bersamaan dengan rambut panjangnya ketika terterpa angin sore. Kedua tangannya sibuk memainkan biola yang tersemat di bahunya.


Alan yang terlanjur tertegun, memutuskan untuk tidak menyapa dulu dan menunggu gadis itu selesai memaikan biolanya.


“Nah, kalo yang tadi itu karyanya Paganini, Caprice no. 24, bagus kan, Lan?” Mira berbicara pada rerumputan yang ada di depannya.


Setelah beberapa saat hening. “Iya bagus banget.” Jawab Alan.


“Ngak lama.”


“Ka, kamu harusnya bilang kalau udah ada disini! Ta, tadi aku… itu…”


“Maaf, aku sangat terlambat. Aku ngak menyangka kamu masih tetap disini, Mira. Aku jadi merasa sangat bersalah.”


“Gak apa-apa, aku udah terlanjur izin keluar rumah sampai sore, jadi sekalian saja kupakai buat latihan biola disini.” Ucapnya. “Rencananya, setelah lagu terakir tadi aku bakal terus pulang tapi ternyata kamu datang. Sepertinya kita memang berjodoh.”


Hening.


“Ma, maksudnya kita berjodoh untuk bertemu hari ini.”


Setelah beberapa tatapan diam diantara mereka, akhirnya gelak tawa pun pecah.


Alan pun mendekati Mira lalu duduk disampingnya lalu membuka bungkusan donuts yang dia bawa. Meraka berdua kemudian menikmatinya sambil bersenda gurau dan sesekali Mira memainkan beberapa buah lagu dengan biolanya.


Dia nampak sangat senang sekali memperlihatkan kebolehannya bermain biola kepada Alan. Meskipun sudah menanti selama hampir tiga jam disana, sendirian tanpa adanya kepastian Alan akan datang, namun semua itu seakan terbayar tuntas dengan beberapa saat kebersamaan yang mereka habiskan. Mira tidak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya. Tidak sebahagia ini ketika dia bersama Dian. Juga ketika dia bersama dengan… siapapun.


“Mira, ngomong-ngomong setelah lulus nanti, apa kamu mau melanjutkan karir dibidang musik? Menurutku kamu sangat berbakat.”


“Yap, cita-citaku memang jadi seorang komposer terkenal seperti Papah dan impianku setelah lulus SMA nanti aku ingin belajar musik di Jerman. Katanya disana banyak sekali perguruan tinggi musik yang bagus.”

__ADS_1


“Jerman? Wah kok bisa sama ya? Aku juga rencananya setelah lulus SMA nanti mau melanjutkan sekolah disana.” Sahut Alan. “Aku sempat tinggal disana waktu masih sekolah dasar.”


“Eh, kamu pernah tinggal di Jerman?”


“Iya.”


“Berarti kamu bisa Bahasa Jerman dong?”


“Hmm… Iya?”


“Wah asyik! Kalau gitu kamu bisa ajarin aku Bahasa Jerman mulai sekarang.”


Saat itu juga Alan mulai mengajarkan kepada Mira beberapa percakapan dalam Bahasa Jerman yang sebagian diantaranya Mira sudah paham dan ikut membalas menggunakan Bahasa Jerman.


Mereka terlihat sangat padu dan serasi. Seperti takdir memang sudah menggariskan mereka untuk bersama. Ditengah perbincangan, Mira menjulurkan jari kelingkingnya kepada Alan dan memintanya untuk saling berjanji mewujudkan mimpi mereka pergi ke Jerman bersama. Alan pun menyaut dengan melingkarkan jari kelingkingnya. “Sicher” ucapnya.


“Eh, Lan. Ngomong-ngomong kalau bunga yang ada di dekat pagar itu, kamu tau Bahasa Jermannya?”


Di depan pagar yang terletak di tepi tebing, terdapat barisan bunga dengan berbagai macam rupa dan warna. Dari yang berukuran besar sampai yang sangat kecil.


“Aku ngak begitu tau soal bunga.”


“Berarti sekarang giliran aku yang ngajari kamu, hihi.” Dengan bangga Mira mengucapkannya. “Nah, bunga warna-warni yang ada didepan pagar itu, namanya Bunga Gerbera, bunga itu melambangkan cinta yang telah lama berkembang. Sedangakan bunga kuning kecil yang ada disana, namanya Buttercup, bunga itu punya makna kekanak-kanakan.”


“Ah, cocok banget sama kamu, Mir.” Potong Alan.


“Huu… ngeledek!” Kata Mira. “Tapi kamu bukan orang pertama yang bilang gitu sih. Dan aku pikir juga bunga itu cukup melambangkan diriku, hihi.”


“Nah kalau bunga yang menempel di pohon itu, kamu pasti tau.”


“Hmm, Anggrek?”


“Betul, terus kalau bunga yang mengembang besar itu, kamu tau namanya?”


Alan mengeleng.


“Itu bunga Krisan, atau biasa disebut juga Seruni.” Terangnya. “Bunga itu punya arti yang dalam tergantung dari warnanya. Jika warnanya putih seperti yang ada disana, dia melambangkan kejujuran dan kesetiaan, sedangkan kalau warnanya merah berarti cinta, kalau yang kuning itu artinya keceriaan.”


“Wah kamu tau banyak soal bunga ya.”


“Iya dong, karena aku suka sekali sama bunga!”


Alan mangut-mangut sambil terus mendengarkan penjelasan dari Mira. Nampaknya dia menemukan ide bagus. Setelah ini jika ingin memberikan hadiah kepada Mira, maka berilah dia bunga. Pasti dia akan sangat senang.


Mira masih terus berbicara tentang bunga dan memang dari semua penjelasan yang dia sampaikan tentang bunga, menurutku, semuanya benar dan dijelaskan dengan terperinci. Hanya satu saja  yang Mira luput untuk menjelaskannya dengan sempurna. Mengenai bunga krisan berwana kuning. Bunga itu selain memiliki makna keceriaan dan kegembiraan, juga memiliki makna lain. Yaitu sebagai lambang cinta yang bertepuk sebelah tangan dan cinta yang perlu diwaspadai.

__ADS_1


__ADS_2