
Sebagai satu-satunya keluarga petani bunga yang ada di Pulau Lembari, sudah barang tentu keluargaku memiliki seluruh jenis bunga yang dapat dibudidayakan di iklim tropis Indonesia. Hanya bunga-bunga tertentu saja yang ketika ada pesanan masuk, keluargaku harus mendatangkannya dari luar pulau.
Suatu waktu disaat aku dan Bapak sedang menyirami berbagai tanaman bunga yang ada di rumah kaca di kebun belakang rumah, aku bertanya kepadanya. Waktu itu umurku mungkin antara 7 atau 8 tahun.
“Pak, kenapa sih Bapak mau nikah sama Ibu?” Waktu itu aku bertanya setelah dimarahi Ibu karena masih tidur di hari minggu siang.
“Loh, kenapa to le', tiba-tiba kamu nanya begitu?”
“Ibu kan orangnya galak, kok Bapak mau sih sama Ibu?”
Bapak terlihat memunda pekerjaannya, lalu berdiri sambil meregangkan pinggang. Kemudian dia pun berkata kepadaku dengan senyumnya yang menurutku sangat tentram. Sampai-sampai aku tidak bisa melupakan senyumnya itu sampai sekarang.
“Nanti juga kamu ngerti le, disaat kamu bertemu jodohmu nanti, seluruh sel yang ada di tubuhmu akan terasa bergetar. Karena tahu kalau yang kau jumpai itu adalah tulang rusukmu.”
Sebagai anak ingusan, aku hanya bisa melongo mendengar ucapan Bapak yang kuanggap waktu itu sangat menggelikan. Mendengar Bapak berbicara serius sudah merupakan suatu hal, lalu membicarakan tentang sel? Pastilah ada yang salah dengan sarapannya pagi tadi.
Akan tetapi sekarang, setelah aku menjalani waktu ku hampir selama empat tahun berputar-putar di lingkaran waktu yang tidak ada habisnya, aku pun mulai mengerti maksud dibalik perkataan Bapak waktu itu.
Jujur saja aku tidak pernah merasakan hal semacam itu, dimana seluruh sel yang ada di tubuhku bergetar ketika bertemu dengan Mira untuk pertama kalinya. Mulanya aku hanya menganggap Mira sebagai seorang gadis jelita yang berada jauh dari jangkauanku. Bahkan untuk dapat menyukainya saja waktu itu, aku tidak berani.
Aku tidaklah seperti Mira yang langsung merasakan sebuah cinta pada pandangan pertama ketika dia melihat Alan, begitu juga sebaliknya. Mungkin hal inilah yang membuatku berbeda dari Alan. Mungkin, sedari awal Mira memang tulang rusuknya Alan.
Sehingga sebanyak apapun aku mencoba memisahkan mereka dan sekeras apapun usahaku untuk membuat Mira menjadi milikku, tetap saja pada akhirnya Alan mendapatkan kembali tulang rusuknya. Meskipun sekian banyak alur waktu kujalani, meskipun Laras selalu membantuku dengan ide-ide cemerlangnya, hasilnya tetap sama.
"Jadi..." Bu Mustika menyelaku yang sedang bercerita. "Penyebab kamu dan Laras terus saja mengulang alur waktu adalah untuk membuat Mira menyukaimu?"
"Ya, dan kami belum pernah sekalipun berhasil." Jawabku. "Rasanya seperti seluruh alam raya sendiri lah yang selalu dapat menemukan jalan untuk menyatukan Mira dan Alan."
Kau tentu masih ingat bagaimana usaha Laras ketika dia mencoba memisahkan Alan dan Mira belakangan ini bukan? Bayangkan saja, sudah tiga kali dia mengulang alur waktu sendirian dan selalu memberikan bekal setiap harinya kepada Alan. Namun tetap saja yang dihasilkannya nihil.
Padahal disaat aku masih bisa menemaninya dalam perjalanan mengulang alur waktu sebelumnya, dia sendiri lah yang selalu mengingatkanku dengan berkata.
“Karena memang begitulah jodoh.” Ucapnya. “Dia adalah salah satu dari tiga jenis takdir yang sudah ditentukan sejak awal takarannya. Sebagai manusia… kita tidak dapat merubah ketetapan itu, Aji.”
Selain jodoh, kau tentu juga masih ingat bahwa Laras pernah menyampaikan ada satu lagi jenis takdir yang tidak dapat dirubah ketetapannya. Sebuah takdir yang setiap manusia pasti akan menjumpainya. Sebuah takdir, yang membawaku menuju…
Akhir perjalanan waktuku yang pertama.
__ADS_1
***
Dalam perjalanan waktuku yang pertama, seminggu sebelum Hari Wiwitan, aku dan Laras berunding di dalam kamarku. Waktu itu kami baru saja mengalami kegagalan sebuah misi. Ya misi apalagi, kalau bukan misi memisahkan Alan dan Mira.
"Sial! Ujung-ujungnya tetep aja gagal."
"Ya mau gimana lagi." Kata laras sambil mengunyah kue mochi kesukaannya. "Siapa yang bakal ngira coba kalo ibunya Mira bakalan nongol di sekolah."
"Ugh! Gue harus catet dulu kejadian ini!"
Aku pun mengeluarkan sebuah notebook besar dari laci meja belajar. Notebook itu adalah rangkaian catatan kami berdua dalam menjalani perjalanan waktu. Kami menamainya dengan sebuatan "Buku Peristiwa".
Sejak dimulainya perjalanan waktu, Laras menyuruhku untuk selalu mencatat kejadian-kejadian yang kami anggap penting. Dengan selalu menyusun tanggal serta waktu kejadian dengan sangat detail dan teratur. Tujuannya agar ketika kami kembali mengulang waktu lagi, kami dapat melakukan counter measure terhadap semua rintangan yang menghadangku untuk mendekati Mira.
Sesaat setelah aku selesai menulis di Buku Peristiwa, Laras pun menghampiriku lalu menyodorkan satu buah kue mochi kedepan mulutku.
"Aaa." Ucapnya sambil menepelkan mochi itu di bibirku.
"Udah lah ngak usah bete gitu, kita kan masih punya kesempatan lagi." Ujarnya. "Setelah kita sampai di Hari Wiwitan nanti kita bakal kembali mengulang waktu."
Aku tidak menanggapinya dan tetap menunjukan sikap kesal.
"Hey, lihat sisi positifnya. Mungkin di alur waktu sekarang, kita masih belum bisa menghalangi mereka buat jadian hari ini. Tapi kan kita jadi tau hal apa yang perlu kita lakukan selanjutnya. Anggap aja perjalanan pertama kita ini sebagai uji coba."
"Tapi tetep aja, Ras. Sakit."
"Ji." Dia pun meletakan tangannya di pundakku. "Tenang aja, di perjalanan kita selanjutnya kita pasti berhasil."
Kami pun memutuskan bermain Play Station untuk menghibur diri. Kali ini Laras terlihat bersemangat mengajakku bermain. Padahal biasanya dia tidak pernah mau jika kuajak main PS sebelumnya. Alasanya karena dia memang sangat payah dalam urusan game dan tentu saja kekalahan adalah hal yang paling Laras benci.
"Wow." Aku terkejut karena baru saja Laras menjebol gawangku.
"1-0! Yah payah lo Ji, cemen!"
"Oi, ngak mungkin... Lo kok jadi jago gini sih, Ras?"
__ADS_1
"Haha, asal lo tau ya, sekarang gue udah punya PS dirumah. Kalo cuma lo doang mah, ah cetek!"
"Anjir, belagu lo." Ucapku sambil menarik salah satu kuncirnya. Kupikir dia akan bersungut dan marah. Tapi ternyata dia malah girang dan ikut membalas.
Dua jam kemudian kami pun selesai. Laras pamit pulang kepada Ibu yang waktu itu sedang menjahit di ruang tengah. Kemudian aku mengantarnya ke pintu depan untuk bersiap memakai sepatu.
Disaat aku memandangnya yang sedang menalikan sepatu, dia mendelik balik kepadaku yang saat itu berdiri di belakangnya di bibir pintu.
"Kenapa lagi? Udah gue temenin maen PS juga, masih aja bete gitu."
Seharian ini Laras sudah bersikap sangat ramah terhadapku tidak seperti dia yang biasanya. Maka dari itu aku pun berpikir bahwa inilah saat yang tepat bautku untuk bertanya kepadanya. Menanyakan hal yang sebenarnya sudah ingin ku utarakan sejak lama.
"Ras, Hari Wiwitan cuma tinggal seminggu lagi. Gue pikir kita perlu membuat rencana."
Kulihat dia langsung menghentikan gerakannya.
"Rencana? Untuk apa?"
"Ya, lo taukan antara jam 22.00 sampai jam 22.05 pada saat Hari Wiwitan nanti Mira bakalan..."
Buak!
Laras membanting tasnya ke lantai dengan sangat keras. Kemudian berdiri memandangku yang masih terkejut menempel pintu.
"Ngak ada rencana di Hari Wiwitan. Yang perlu lo lakukan hanya diam dirumah sampe gue datang."
"Ta, tapi Mira..."
"Lo udah janji, Aji! Lo udah janji bakal menuruti semua perintah gue!"
Aku hendak membalas bentakannya namun aku tersadar oleh suara langkah kaki dari dalam pintu rumah. Ini pasti Ibu. Karena hanya Ibu yang memakai sendal jepit di dalam rumah.
Dalam hitungan detik pintu rumah pun terbuka lalu Ibu muncul dengan menengok. Akan tetapi saat itu Laras sudah berjalan pergi meninggalkan pagar rumah.
__ADS_1