
Bagaikan sebuah bejana yang telah mengeluarkan seluruh isinya, rasanya begitu ringan dan lega. Begitulah perasaan yang kurasa setelah menceritakan semuanya kepada Ronny dan Bu Mustika. Namun selayaknya bejana yang sudah kosong, aku pun merasakan kehampaan dan juga gamang. Karena aku sadar bahwa dengan selesainya seluruh cerita perjalanan waktuku, maka aku pun sudah semakin dekat dengan akhir dari perjalan hidupku di dunia.
Keesokan harinya setelah aku bercerita panjang kepada Ronny dan Bu Mustika, kami pun menjalankan rencana yang sudah kami semua sepakati.
Sejak pagi sekali Ronny meminta Alan untuk menemuinya di Bundaran Lima. Taman kota yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Lima menit saja aku dan Ronny menunggu hingga akhirnya Alan pun muncul berjalan menghampiri dari kejauhan.
“Lo inget kan apa aja yang mesti lo kasih tau ke dia?” Tanyaku kepada Ronny untuk kembali memastikan.
“Ya, gue inget.”
Akhirnya disana Ronny pun menceritakan kepada Alan tentang tiga hal;
Pertama, tentang alasan Ronny berteriak di dalam kelas kemarin, itu karena dia secara tiba-tiba saja menjadi teringat akan kejadian di masa lalu. Ya, ia berdalih bahwa waktu itu dia seperti mendapat sebuah ingatan yang tiba-tiba saja muncul. Sehingga dia tersontak lalu memanggil namaku yang saat itu sedang muncul di dalam ingatannya.
Kedua, Ronny menceritakan bahwa di dalam ingatannya itu, dia pernah ikut bersamaku dan Laras mengulang kembali alur waktu sebanyak tiga kali. Sekaligus dia pun menceritakan tentang bagaimana cara Laras mengaktifkan kekuatannya yang dapat mengulang alur waktu dan melihat primbon seseorang.
Dan terakhir, Ronny mengatakan bahwa kemungkinan besar sampai sekarang Laras masih saja mengulang alur waktu. Sehingga kita harus merebut arca bundar dari tangannya sebelum malam gerhanaa bulan datang. Agar Laras tidak dapat lagi menggunakan kekuatannya.
Ronny dan Alan memutuskan untuk melanjutkan perbincangan sambil kembali berjalan ke sekolah. Waktu itu Alan terlihat benar-benar terkejut dengan semua cerita yang sudah Ronny sampaikan. Sambil menggigit jepolnya dia pun bertanya.
“Jadi, tujuan kalian mengulang waktu itu supaya Mira bisa suka sama Si Aji?”
“Ya, dari yang gue inget sih gitu.” Jawab Ronny.
“Tapi kenapa lo sama Laras mau ngebantuin anak itu?”
“Ka, kalau itu…”
“Waktu itu gue cuma iseng doang.” Ujarku yang saat itu juga langsung diikuti Ronny.
“Nah terus kenapa sekarang dia bisa sampai coma di rumah sakit? Apa ada hubungannya sama kekuatan Laras yang bisa mengulang waktu?”
“Kalau soal itu...:” Ucapku lagi yang kemudian langsung ditirukan Ronny. “Gue ngak tau. Mungkin… Laras ngebuat kesalahan waktu dia melakukan ritual. Jadinya ya Si Aji sampai jadi coma sekarang.”
Alan terlihat sangat berpikir sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya kini kami sudah sampai di gerbang masuk sekolah.
__ADS_1
“Jadi,” lanjut Alan. “Tujuan Laras terus mengulang waktu sampai sekarang, karena dia sedang berusaha menyelamatkan anak itu?”
“Ya.” Langsung saja aku menjawab dan Ronny menirukan. “Gue inget dulu Laras pernah ngomong kalau cara menyelamatkan Si Aji adalah dengan membuat Mira jatuh cinta sama dia. Lo tau Alan? Karena itulah Laras selalu ngedeketin elo. Dia sebenernya ngak pernah suka sama lo, Lan. Selama ini dia cuma mau memisahkan elo sama Mira.”
Mendengar itu Alan pun terkejut namun segera berpikir kembali seperti menyadari bahwa semua itu adalah penjelasan yang paling logis yang dapat dia terima.
Ya karena memang itulah kenyataanya. Selama tiga kali perjalan waktu disaat kondisiku sudah seperti ini, Laras memang berusaha memisahkan Alan dan Mira. Dengan harapan Mira dapat mengingatku kembali sehingga mungkin saja dengan itu aku pun bisa tersadar dari kondisi coma.
Sejatinya Laras pun tidak tau pasti jika hal itu akan berhasil. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Inilah satu-satunya usaha terakhir yang dapat dia lakukan.
“Hmm, jadi semua perlakuan Laras selama ini, semuanya itu hanya sandiwara?” Tanya Alan hampir kepada dirinya sendiri.
Alan pun berhenti berjalan, lalu memandangi tanah aspal yang ada di depannya. Dia terlihat berpikir keras dan meskipun aku tidak dapat membaca pikirannya, aku bisa menebak dengan pasti jika dia tidak bisa menerima tindakan Laras yang sudah berusaha memisahkan dirinya dengan Mira.
“Baiklah. Ron, ceritakan lagi tentang kekuatan Laras dengan lebih detail.” Ujarnya. “Mulai sekarang kita bakal membuat rencana untuk menggagalkan dia mengulang alur waktu.”
***
Siang harinya saat jam istirahat, Alan pun mengajak Ronny untuk memberitahukan semuanya kepada Dian dan Mira. Di sisi lain, Laras sudah nampak geram namun tidak dapat berbuat apapun untuk bisa mendekati Ronny. Karena semenjak pagi Alan selalu berada di sampingnya sepanjang waktu.
Mira dan Dian terlihat sangat terkejut ketika mendengarkan penjelasan dari Ronny. Terutama Mira.
“Maaf Ron, tapi… apa kamu yakin kalau ingatanmu itu beneran?” Tanya Mira. “Aku… masih belum bisa percaya kalau Laras dan… Aji, juga kamu pernah mengulang alur waktu.”
“I, iya Mir. Gue yakin banget kalau ingatan gue itu adalah kenyataan.”
“Tapi…” Mira masih terlihat belum yakin.
“Tapi kalau memang itu yang terjadi,” Dian pun menyaut. “Semuanya jadi make sense!”
Mereka pun terdiam dan berpikir dengan isi kepalanya masing-masing. Akan tetapi kemudian Mira begitu saja pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.
Aku tidak tau apa yang menyebabkan dia seperti itu. Namun dari yang ternampak di wajahnya, dia seperti sedang menghindar atau mungkin gelisah.
“Mira? Kamu mau kemana?” Tanya Alan terheran.
__ADS_1
Alih-alih menanggapi, Mira terus saja berjalan meninggalkan lobby, menuju lorong utama sekolah. Melihat hal itu, aku pun seketika mendapatkan ide dan langsung saja berkata pada Ronny agar menghentikan Mira.
“Tunggu...:” Ronny terlihat ragu-ragu saat hendak melanjutkan. “Tu, tunggu… Buttercup.”
Saat itu Mira pun seketika menghentikan langkahnya. Ia dengan cepat berbalik dan disana aku dapat melihat dia mulai menitikan air mata.
“Kenapa... kamu panggil aku seperti itu, Ron?”
Dia pun kembali berjalan mendekat sambit tetap memandang tepat ke arah Ronny. Dia mendekap tangannya di depan dada dan disaat dia sudah berada tepat di hadapan Ronny, dia pun kembali bertanya.
“Dari mana kamu mendengar nama itu, Ron?”
Ronny, tentu saja aku tau jikalau dia sangat tidak handal menghadapi situasi seperti ini. Melihat idol sekolah bertanya kepadamu dangan wajahnya yang setengah menangis, tentu saja adalah hal yang cukup horor bagi sebagain besar siswa di sekolah.
Dengan kikuk Ronny melirik kepada Dian dan Alan bergantian, tapi tentu saja keduanya pun sedang menatapnya dengan heran.
“Ikutin gue,” Ujarku kepada Ronny yang langsung menganguk tanpa menoleh ke arahku. “Oke, buat menjawab pertanyaan Mira, sekarang gue bakal melanjutkan cerita gue.”
Setelah itu aku membimbing Ronny untuk menceritakan kejadian selama kami semua masih kelas sepuluh dan sebelas. Semuanya, dari mulai pertama kali mengenal Mira, lalu aku yang selama itu menjadi pendengar setia curhatan Mira, hingga akhirnya Laras bergabung kedalam kelompok saat kami sudah kelas dua belas.
Disaat Ronny selesai, tiba-tiba Mira pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Seperti yang sudah kukatakan, silikon pembungkus ponsel Mira itu bisa dibilang… unik.
Warna dasarnya biru langit dihiasi pola berbentuk ombak dengan gradasi warna putih. Dibagian tengahnya terdapat karikatur yang mirip dengan Mira versi chibi yang sedang melakukan pose imut.
“Ronny, apa kamu juga bisa mengingat siapa yang sudah memberikan ini buatku?” Tanya Mira sambil menunjukan punggung ponselnya.
“I, itu… Ya, itu Aji yang ngasih waktu elo ulang tahun.” Jawab Ronny mengikuti apa yang kudiktekan. “Waktu perjalanan waktu yang pertama, Aji ngasih chasing HP itu sebagai hadiah ulang tahunnya.”
“Jadi ini… dari Aji?” Gumam Mira sambil memandangi ponselnya sendiri.
“Tunggu, itu hadiah ulang tahun dari dia?” Kata Alan. “Tapi bukannya Mira sudah pakai chasing itu sejak… dulu?”
Alan termenung setelah bertanya. Aku tau dia pasti sedang mencoba mengingat kapan pastinya Mira mulai menggunakan pembukus HP itu. Dan tentu saja dia tidak akan bisa mengingatnya.
"Ah, sebentar." Lanjut Alan seperti terhenyak dari lamunannya. "Aku inget! Kalau ngak salah, Laras juga pakai model chasing HP seperti ini."
__ADS_1