
Point of View: Ahmad
Untuk: Aku.
Aku akan mulai menceritakan dari awal mengapa aku menulis cerita ini. Waktu itu malam yang sunyi. Aku belarian kesana kemari mengambil alat alat yang aku butuhkan. Tugas kali ini sangat sulit. Walaupun untuk mahasiswa S3 seperti aku.
Aku adalah mahasiswa dari sebuah universitas. Aku mengambil jurusan teknologi. Tapi aku bingung, buat apa teknologi dibuat, kalau semua sudah dibuat di tahun ini. Di abad ini, semua sudah ditemukan. Aku jadi bingung akan membuat apa.
Ya aku hidup di tahun 2242. Di tahun ini, semua sudah serba otomatis. Orang-orang bahkan tidak perlu susah susah berjalan ke sekolahku ketika pagi. Mereka hanya tinggal perlu membuka jam-nya dan menentukan tempatnya dan skejep mata sudah ditempat yang diinginkan. Sayangnya, harganya sangat mahal hingga aku tidak bisa membeli alat tersebut.
Sekolah pun tidak mengunakan buku sekarang. Mereka hanya membawa sebatang besi. Jika ingin digunakan, batang itu memiliki tombol yang dapat ditekan dan akan muncul seperti hologram. Pokoknya sekarang sudah serba mudah.
“Dimana tang-ku?” aku berlarian mencari benda itu. Tak kusangka benda itu ada di tepat sebelahku. Aku segera mngambilnya. Aku mencoba alat yang merupakan tugas kuliahku.
Saat itu pukul 01:15 dan aku ingin menguji cobanya. Seketika benda itu menyala, namun seketika mati. Bersamaan dengan matinya benda itu, seluruh rumah pun ikut mati listriknya.
Orang tuaku keluar kamar dan memarahiku. Itu sudah biasa. Aku segera membereskannya dan dengan segera pergi tidur. Dalam benakku aku tidak paham mengapa percobaan kali ini bisa gagal.
Walaupun sudah diperingatkan untuk tidur oleh orang tuaku, aku tetap menggarap beberapa kesalahan yang aku perbuat. Sudah delapan kaleng minuman energi kuhabiskan, namun aku belum puas.
Walaupun minuman itu menghambat kantukku, aku sudah kehabisan minuman itu. Keadaan sudah tidak terkendali. Aku sudak tidak dapat menahan kantukku. Aku sampai ketiduran saat aku sedang menyempurnakan mesin waktuku!
Di pagi hari, aku menemukan aku terbangun diantara tumpukan kaleng dengan laptop yang masih menyala. Dengan segera, aku mengambil kaca mataku dan segera melihat laptopku. Entah apa yang kutekan,tapi bisa berhasil! Ternyata tidurku membawa berkah.
Aku segera berlari ke bawah dan segera ke arah gudang sambil membawa laptopku. Aku menaruh laptopku di gudang, dan dengan segera kembali ke kamarku mengambil barang barang. Tiba tiba, ibuku sudah di depan pintu gudang.
“Ahmaaaad! Kamu mau ngapain? Kamu brlum mandi, belum sarapan, dan belum bersih bersih! Sana cepat mandi, makan! Sebelum kamu melakukan itu semua, kamu tdak akan pernah bisa masuk ke dalam sana!” kata ibuku, lebih tepatnya ibu wali ku, dengan nada tinggi dia mengunci gudang.
Kami adik kakak sudah termasuk sagat beruntung bertemu dengan ibu. Karena, walau serba canggih, di zaman ini kemanusiaan berkurang. Aku sedikit kesal, namun dengan terpaksa aku melakukannya. Aku segera berlari sarapan dan segera mandi.
Setelah selesai, aku melihat adikku yang sedang melihat lihat ke arah dalam kamarku. Aku sering melarang dia untuk masuk. Bahkan aku sudah memasang keamanan yang sangat tinggi di kamarku. Namun tetap dia bisa masuk. Namun anehnya, aku tidak bisa masuk ke kamarnya. Entah apa yang dia pasang di kamarnya tetap tidak bisa kutembus.
“Kakak sedang membuat apa?” tanyanya.
__ADS_1
“Mesin waktu.” Jawabku singkat.
“Tugas lagi?”
“Ya.” Aku segera membereskan peralatanku untuk dengan segera pergi ke gudang.
“Sisa bahan bahannya buat aku ya,” dia memohon. Aku bingung, apa yang dia buat. Kebetulan gudang yang ada di sebelah gudangku dipakai untuknya. Namun sama dengan kamarnya, aku tidak bisa masuk ke dalamnya.
“Hayo, kamu mau buat apa?” tanyaku.
“Kepo.” Katanya dengan nada rahasia.
Adikku bernama Nadin. Sekarang dia berumur 14 tahun. Dia sekolah di salah satu SMP di kota kami. Wajahnya putih, cantik, imut, yang membuatku ingin mencubit pipinya.
Entah apa yang dia lakukan di dalam gudang sebelah sana, namun dia tidak pernah memberi tahuku. Yang kutahu, tanpa sengaja, atau dengan keajaiban, mesin waktuku berhasil. Aku melihat kembali sistemnya, namun aku lihat sesuatu yang berbeda.
“Hmm. Mengapa ini berbeda dengan sistemku? Kok bisa? Ah tak apalah. Yang terpenting, benda ini akan hidup.” Kataku pada diriku sendiri. Selanjutnya, aku ceritakan tentang teman temanku.
Aku memiliki banyak teman, tapi aku memiliki 2 teman baik. Dani dan Ranti. Dani adalah teman pertamaku di kampus. Aku sudah berteman dengannya sekitar 4 tahun. Aku menyukai dia karena selain dia baik, dia suka membantu teman temannya.
Selain itu, aku punya sahabat perempuan namanya Ranti. Dia memiliki sifat kebalikanku. Jika aku adalah orang yang tertutup, tidak dapat ditebak, selalu datar menanggapi apapun, dan selalu serius, Ranti adalah kebalikannya. Dia ceria, mudah tertawa, mudah mencairkan suasana, selalu heboh, namun agak kurang pedul dengan sekitarnya. Dia selalu sibuk dengan handphone-nya sendiri. Wajahnya cantik, manis, menggunakan kacamata dengan model persegi agak besar, rambutnya lumayan panjang dan dikuncir. Hal yang tidak kusukai darinya adalah sifatnya yang agak apatis. Jika sudah jamnya selesai, dia duduk, melihat hp dan mendengarkan sesuatu dari earphone-nya.
***
“Kamu lagi ngapain mad? Tanya temanku, Dani.
“Nulis cerita aja, buat percobaan.” Kataku.
“Percobaan apa?” tanyanya.
“Tugas kuliah. Aku diberi tugas untuk membuat mesin waktu. Memusingkan,”
“Lalu, apa hubungannya mesin waktu dengan menulis cerita ini. Ngomong ngomong ini cerita tetang apa sih?” tanyanya seraya mengambil kertasku.
__ADS_1
“Itu seperti buku harianku. Itu akan ku uji coba untuk ku berikan pada diriku di masa lalu. Aku akan mengingatnya dan memastikan bahwa mesinku benar benar berkerja.” Jelasku.
“Ohh. Kamu kerjakan sendiri? Atau dibantu adikmu?” Dani penasaran.
“Sudah jelas kukerjakan sendiri. Adikku tidak mengerti tentang yang seperti ini. Menurutku dia tidak brbakat dalam bidang ini.” Jawabku sambil menunduk.
“Masa? Kulihat dia sepertinya mempunyai bakat.”
“Bakat apa? Orang dia sepertinya tidak tertarik kok,” kataku. Dani hanya mengangguk, lalu meminta ijin untuk pergi. Aku memang sebentar lagi ada kelas. Jadi aku harus segera masuk. Bisa bisa aku diskors hanya karena terlambat masuk kelas!
“Hhh, hari yang sangat melelahkan.” Aku sampai di rumah. Aku segera mengganti baju dan mengamil minum. Sempat terlintas di benakku untuk mengecek alat buatanku.
Tapi aku terlalu malas untuk mengerjakannya. Toh juga aku sudah selesai membuat programnya. Saat minum, aku melihat Nadin yang sedang tertawa sendiri. Aku bingung, heran apa yang terjadi pada Nadin.
Aku melihatnya. Dia tampak melihat ke atas kemungkinan melmun. Aku menempelkan punggung tanganku ke dahinya.
“Kamu sehat dek?” tanyaku. Dia sontak kaget.
“Eh, em, iyalah kak. Kenapa? Katanya dengan kaget. Aku melihat wajahnya. Aku melihat ada kacamata yang membatasi matanya. Modelnya aneh, kedua kacanya bulat dan besar yang menambah kesan lucu di wajahnya. Aku tertawa.
“Sejak kapan adik kakak yang imut ini pakai kacamata?” tanyaku sambil mencubit hidungnya. Dia hanya tersenyum. Aku berusaha untuk mengambil kacamata tersebut, aku ingin mencoba memakainya.
Namun tiba tiba Nadin berdiri dan merebut lagi kacamata tersebut. Setelah itu, dia berlari ke kamarnya. Aku jadi bingung.
“Kenapa dia? aku cuma ingin meminjam kacamatanya kok dia sampai histeris seperti itu?” aku heran.
“Dah lah. Memang kacamata itu bisa melihat masa depan?” kataku menghibur diriku. Aku kembali ke gudang. Ya, rasa capekku sudah hilang dan mungkin aku bisa mengerjakan proyekku lagi.
Aku mendaftar barang barang yang akan aku beli untuk membuat masin waktu. Aku tidak yakin dengan jumlahnya.
“Biarlah! Kbanyakan juga nanti diminta sama Nadin!” kataku. Aku segera mengambil uang dan segera pergi membeli barang barang tersebut.
Pict: Ahmad
__ADS_1