
PoV: Nadin
“Kakak! Matikaaan!” aku berteriak sekencangnya ketika menyadari bahaya yang mendekat. Kakak mungkin juga menyadarinya, tapi apa daya, semua sudah terlambat. Cahaya terang telah mengakhiri semuanya, membuatku merasa di dalam mimpi.
“Semua benda memiliki kelemahan.”, “Teknologi terlalu berbahaya nak,” semua kalimat kalimat itu bermunculan seperti nyanyian mengerikan yang memanggilku untuk pergi.
Ingatan ingatan tidak mengenakkan mulai bermunculan, dan bahkan wajah ibuku yang sudah lama tidak kulihat muncul kembali, di dalam mimpiku.
Dia tampak tersenyum, dan melambaikan tangannya padaku. Aku hanay terpaku ketiak dia berjalan mendekat, dan meletakkan tangannya ke bahuku. Air mata rasanya akan keluar dari mataku.
“Apa yang terjadi?” dia berkata. Aku tahu ini hanya mimpi, tapi aku sangat bahagia, aku memeluknya, menangis sejadinya.
“Tidak ada! Kalaupun ini akan menjadi bencana, maka aku tidak akan menganggapnya begitu! Aku senang, aku bahagia!” aku yang masih menangis mencoba berbicara denagn nada yang masih tidak teratur.
“Hmm. Apapun yang terjadi, ingatlah kami. Ingatlah nak! Kami akan selalu ada bersamamu! Apapun yang kamu, apapun yang kalian lakukan, kami akan selalu bersama kalian.” Katanya sambil balas memelukku.
Semua menjadi terang, hingga mataku tidak lagi mampu melihat.
Dan aku pun terbangun setelah samar samar kudengar kak Ranti membangunkanku. Ketika akhirnya kami semua berkumpul dan kak Ahmad menceritakan segalanya, segalanya yang sudah kuduga sebelumnya.
Segalanya yang harusnya bisa kucegah. Segalanya yang, aahhh! Ini semua salahku. Aku gagal dalam menghentikan mesin waktu kakakku. Dan akulah yang bertanggung jawab akan semua ini. Aku melamun, memikirkan cara pulang.
__ADS_1
“Tangga!” teriakku begitu menyadari tangga yang sudah menghilang, meninggalkan lubang cukup besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Kami segera berlari keluar, melihat keadaan di luar.
“Luar biasa! Berapa ratus tahun kah ini?” batinku mulai bertanya tanya. Sangat menyenangkan bagiku dan teman teman yang lain, melihat sesuatu yang sangat asing bagi kami, pohon.
Sesuatu yang sudah mulai hilang di masa depan, beserta udara segar yang sudah lama tidak kami hirup. Sawah sawah yang menyenangkan, dan juga gunung yang tinggi menjulang. Aku melihat ke samping, dan ada sungai nan jernih mengalir di sana.
Aku melirik raut wajah kak Ahmad. Antara senang dan sedih, lebih ke arah penyesalan. Aku juga ikut merasa bertanggung jawab atas semua ini. Selain itu, kami juga mengajak orang lain yang bukan keluarga kami, untuk masuk ke dalam masalah yang sangat rumit ini.
“Baiklah teman teman, karena kita sudah ada disini, kenapa tidak kita nikmati saja dulu? Bagaimana kalau kalian semua pergi melihat lihat, dan aku akan beres beres disini.” Kata kak Ahmad, seperti tidak ada yang terjadi. Aku tahu, dia hanya menenangkan semuanya. Dan orang lain yang mengetahuinya, hanya kak Ranti.
“Aku disini, bantuin kak Ahmad.”
“Yakin? Brarti kita berdua doang nih? Oke! Kita sekalian cari makanan ya! Ayo Yan!” kata kak Dani, yang masih menganggap ini hal yang indah, dan mengajak sepupunya, Dian. Mereka segera menuruni bukit kecil itu, dan menuju sebuah kota yang tidak terlalu jauh dari sana.
Aku segera masuk, memunguti barang barang, sedangkan kakakku masih terpuruk. Aku tahu apa yang dia rasakan sekarang. Tapi aku tahu, ini semua tidak akan selesai jika kami hanya diam saja tanpa melakukan apapun.
Cepat atau lambat, kakakku harus memberitakan kenyataan pahit pada semuanya. Dan pasti, tidak akan mudah untuk menerimanya.
Aku hanya sendirian di dalam gudang kala itu. Kak Ahmad dan kak Ranti sedang bicara, dan aku tidak ingin mengganggunya. Aku yakin, kak Ahmad juga butuh dorongan dari orang lain. Setelah kejadian ini, aku sering diam, sampai akhirnya aku menemukan sesuatu.
“Ini…” bisikku pelan. Segera aku memasukkannya ke dalam saku, dan segera aku masuk ke dalam gudang ku.
__ADS_1
“Bagus, gak terlalu rusak nih. Bisa gak ya? Apa yang harus ku buat? Apakah aku harus membuat mesin waktu? Kita kekurangan waktu dan bahan!” kataku pelan. Aku mulai panik. Aku takut aku kembali membuat kesalahan.
“Tenang Nadin, kamu pasti bisa.” Kataku pada diriku sendiri. Aku mengurung diri di dalam gudang itu. Tak terasa, hari sudah mulai petang, kudengar kak Dani sudah pulang, dan suara kak Ahmad yang sedang membenahi gudang ini.
Apapun itu, aku tetap fokus untuk mencari info info tentang mesin waktu, dan semua tentang perjalanan waktu. Buku-buku ayah tidak cukup! Aku mencoba mencari lewat internet.
Beruntung, aku membawa minibook yang mencakup enslikopedia di seluruh dunia. Tapi tetap saja. Tidak ada yang mengiformasikan tentang cara mengarungi waktu tanpa mesin waktu.
Aku bingung, ketika aku akhirnya menyenggol sebuah buku. Buku itu nampak tua, karena aku tidak menyentuhnya. Aku sudah lama tidak menyentuh barang barang ayahku. Aku mengambilnya, dan kembali teringat kenangan yang membuat kepalaku kembali sakit.
Aku yang tidak kuat menahan, refleks menjatuhkan buku ayahku, dan membuat beberapa isinya menjadi berhamburan. Aku memungutinya satu persatu. Sekalian, aku membacanya sekilas. Apakah ada yang berhubungan dengan time traveling? Tanyaku berharap agar itu menjadi kenyataan.
“Teleportasi, teori atom, time hole, penjara waktu, tunggu apa?!” aku menemukan kalimat yang aku cari, waktu. Aku membaca artikel itu sekilas. Aku menangis, meringkuk, membuat artikel itu sedikit basah karena air mataku.
“Apakah ini artinya, aku, kami, tidak bisa pulang?” tanyaku sambil masih menangis.
“Tidak. Ini tidak benar. Aku harus memastikannya. Aku harus bertanya pada kakak! Pasti masih ada jalan lain!” teriakku sambil mengusap air mata yang ada, dan mendobrak pintu gudangku, yang membuat kak Dani dan Dian yang sedang berada di ruang tengah kaget, mendengarku mendobrak pintu sekeras itu. Aku segera berlari menuju kakak yang sedang berada di luar, dekat api unggun bersama kak Ranti.
“Kak! Artikel ini! Tolong jawab ini salah! Kita masih bisa kembali kan kak?!” tanyaku serius padanya. Kak Ranti juga melihatnya, kulihat wajahnya yang sebenarnya sedih, tapi berusaha menyembunyikan itu semua, dan raut wajah kak Ahmad yang seperti meminta maaf. Aku paham apa yang selanjutnya akan dia katakan. Kak Ranti merangkulku, dan aku pun menangis sejadinya.
“Jadi kami tidak bisa pulang dan ini semua salahku.” Kataku pelan sebelum akhirnya kepalaku menjadi sangat pusing dan berat.
__ADS_1