Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 24


__ADS_3

Third person PoV


“Baiklah! Kita mulai pestanya!” kata Ranti sambil mulai bermanuver, ke kanan dan kiri menghindari tembakan Rickzan.


“Aku pegang senjatanya!” segera, Dani balas menembak Rickzan. Rickzan kaget. Tidak sempat menghindar, kaca depan pesawatnya pecah, membuat Rickzan yang terlihat begitu saja.


“Dasa bocah sialan! Berani beraninya dia! baiklah kalau begitu. Kalian akan rasakan kemarahanku!” teriak Rickzan sambil memilih rudal yang mengunci sasaran dengan hawa panas, dan akan terus mengejar hingga mengenai targetnya


“Teman teman, aku melihatnya! Titik koordinatnya, sepertinya ada di sekitar bangunan ini! Hanya ini yang harus kita lewati, dan kita menang!” teriak Ranti. Semua yang ada di sana langsung berwajah cerah. Tapi tetap saja, Rickzan masih mengejar mereka tanpa ada belas kasih lagi. Ranti mulai akan menurunkan pesawat. Tapi jika dia menurunkan pesawat perlahan, dia mungkin akan terkena tembakan.


“Sekarang!” Rickzan menembakkan rudal.


“Teman teman, pegangan!” teriak Ranti yang akan menjalankan ide gilanya. Dia menukik tajam ke bawah, dengan kecepatan penuh. Dia melihat bar ketinggian yang terus turun degan cepat.


“Kau gila Ranti! Toloong!” teriak Dani. Semua yang ada di sana serasa dicabut nyawanya, dan setelah dia berada di ketinggian yang aman, Ranti menghentikannya.


Sayang sekali rudal yang tadi dilepaskan oleh Rickzan mengenai bagian kanan mesin pesawat tersebut, membuatnya berputar putar sebelum akhirnya jatuh menghujam tanah. Mereka semua berteriak, sebelum akhirnya mereka semua pingsan.


“Aku, dimana?” kata Ahmad. Ahmad merasakan sebuah tangan kecil menggapainya.


“Kak! Ayo pergi!” kata sesorang. Nadin! Dimanakah mereka sebenarnya berada?


“Kemana?”


“Ikut saja! Ayah dan ibu serta teman teman yang lain juga ada di sana. Bersama, kita menjadi keluarga yang sempurna.” Nadin menarik tangan Ahmad. Ahmad kaget. Aura ini, perasaan ini tidak mungkin!


“Jelaskan apa yang telah terjadi! Sekarang!” teriak Ahmad.


“Seperti yang kakak tahu, kita semua sudah mati. Kita harus menyerah. Menyerah adalah jalan terakhir yang harus dipilih. Itulah jalan hidupku,” ucap Nadin.


“Tidak mungkin!” teriak Ahmad tidak percaya. Kembali, Nadin menarik tangan Ahmad, menuju ke kedua orang tuanya dan teman temannya.

__ADS_1


“Tunggu dulu! Aku tahu, Nadin tidak pernah menyerah. Ini bukan kau Nadin!” kata Ahmad pelan, mulai curiga pada Nadin saat ini. Bagaimana tidak? Nadin yang dia kenal selama ini tidak pernah menyerah sampai akhir!


“Apa maksud kakak? Ini aku, Nadin! Kakak masih merasa bersalah bukan? Kakak harusnya melindungku, menyayangiku, dan menjadi kakak yang baik untukku. Tapi kenapa kau tidak percaya padaku? Ini aku, Nadin!” katanya sambil mencoba meyakinkan Ahmad bahwa itu memang dirinya.


“Tidak ini bukan kau! Ini ilusi! Kau tidak pernah mengatakan hal hal seperti itu! Kau bukan Nadin bukan! Ini ilusi. Ini hanya ilusi!” teriak Ahmad sambil melepas pegangan tangan Nadin “palsu” itu.


“Kak Ahmad! Kak Ahmad!” teriaknya yang perlahan Ahmad seperti terbang menjauh, dan tiba tiba dia bisa membuka mata.


“Kak Ahmad!” teriak Nadin. Ahmad tidak tahu, dia adalah yang asli atau bukan.


“Ini kau yang asli atau bukan! Aku tidak bisa mempercayaimu!” teriak Ahmad. Tiba tiba, Nadin menampar Ahmad dengan sangat keras, yang membuat bekas tapak tangan di wajah kirinya. Ahmad menjerit.


“Apakah itu sudah cukup membuktikannya?” tanya Nadin sambil tertawa.


“Ya itu cukup,” kata Ahmad sambil mengusap pipinya yang terasa panas karena tamparan Nadin barusan.


“Kita harus segera membangunkan mereka semua, sebelum mereka pergi terlalu jauh! Kalau tidak bahaya! Ini adalah jebakan mimpi. Yang akan menjebak kita ke dalam ilusi tanpa batas. Kita harus segera melepaskannya!” kata Ahmad, dengan buru buru pada Nadin.


Tanpa aba aba lagi, mereka berdua segera membangunkan yang lain. Beruntung, yang lain cepat sadar dan mereka bangun. Sedangkan, Rickzan sedang berputar mencari mereka.


Gelapnya malam membuat Ahmad dan teman teman beruntung. Jadi, Rickzan tidak akan dengan cepat menemukan mereka semua karena gelapnya malam.


“Bagus! Kalian semua sudah bangun!” kata Ahmad.


“Kalian ini, aku baru saja bermimpi sedang bertemu kedua orang tuaku tahu! Enak saja kalian bangunkan aku!” kata Dani sedikit kesal.


“Itu ilusi bodoh! Kau akan mati jika tidak kulepaskan!” ucap Ahmad kesal.


“Ohh, kukira itu nyata!” ucap Dani sambil mengusap kepalanya.


“Kau belum berterimakasih padaku!”

__ADS_1


“Baiklah terima kasih, temanku yang terbaiik!” teriak Dani.


“Ssstt! Sekarang kita sedang dicari oleh Rickzan! Kita beruntung berada di sini ketika malam! Kalau tidak, kita pasti sudah ditemukan sejak tadi,” jelas Nadin.


“Sebenarnya, apa itu kak? Yah? Benda apa yang mampu memancarkan gelombang seperti itu?” Nadin penasaran akan benda tadi.


“Benda itu adalah teknologi yang ada sebelum kamu lahir! Sebenarnya, benda itu sangat membantu untuk orang yang mengalami stress, jadi dia bisa mendapatkan apa yang dia impikan. Hanya saja, pemakaiannya dapat menguras tenaga yang memakai. Banyak kematian terjadi karena alat itu.” Ahmad menjelaskan. Kemudian, terdengar suara mendesing dari atas mereka. Kemudian, sebelah sebelah menjadi terang sesaat. Mereka semua diam.


“Apakah dia tidak melihatnya?” tanya Dani.


“Sssst!” hampir semua orang menyuruhnya diam. Dia diam seketika. Benda itu masih mendesing di atas mereka, sampai akhirnya suara itu hilang.


“Sepertinya dia sudah pergi.” Nadin mengawali pembicaaan.


“Mpuaah!” Dani melepaskan nafasnya. Dia ngos ngosa. Jadi dia menahan nafas sejak tadi. Semuanya segera menengok ke arahnya dan tertawa.


“Ha ha! Tapi kenapa dia tidak melihat kita?” tanya Dani, mengulangnya.


“Let’s check it out!” segera, Ranti membuka pintu. Hal pertama yang mereka lihat adalah kumpulan debu, bekas pesawat Rickzan. Mereka segera keluar satu per satu. Mereka menunggu hingga debu turun, dan melihat sekeliling.


“Wah! Beruntung sekali kita mendarat di dalam rumah! Hebat kau Ranti!” ucap Dani memberikan jempolnya pada Ranti. Sebenarnya, itu adalah sebuah keberuntungan. Yaah, mereka sangat beruntung bisa tidak terdeteksi ketika Rickzan datang tadi.


“Sekarang, apa yang kita lakukan?” tanya Dani pelan.


“Yah! Seperti rencana kita sebelumnya! Pulang. Kenapa tidak?” kata Nadin semangat.


“Kita akan melanjutkannya dengan berjalan! Bukannya time hole terletak di bangunan yang ada di depan?” kata Arby memimpin mereka semua. Tapi, saking semangatnya, dia lupa satu hal.


“Ranti! Kamu duluan karena kamu yang tahu lokasinya. Hehe,” kata Arby. Amy dan Arby bersiap bertengkar, namun segera Ranti mendahului.


“Ayo kita pulang! Para penumpang, ikuti aku!” kata Ranti, yang kini menjadi pemandu wisata yang ada disana. Jadilah mereka melewati puing puing yang ada, untuk mencapai bangunan besar yang tidak terlalu gelap, namun juga tidak terang.

__ADS_1


Tempat yang sudah menjadi kota mati karena pertempuran terdahulu, membuat kota itu kosong. Hanya ada puing reruntuhan yang mendiami kawasan tersebut.


Sedangkan Rickzan, masih kebingungan mencari Ahmad dan temannya. Dia sudah mengitari tempat yang ia duga menjadi tempat jatuhnya pesawat tersebut. Tapi tetap saja hasilnya nihiil.


__ADS_2