Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 22


__ADS_3

“Kau menghianati kami. Dasar iblis terkutuk kau!” teriak Nadin pada Rickzan yang sudah berlalu.


“Aku hanya tidak mengatakan tentang hal itu,” kata Rickzan. Nadin, dengan sisa tenaganya yang ada segera mengambil senjata kakaknya, dan mengarahkannya ke Rickzan. Dia membidik baju zirahnya, banyak yang tidak kena, karena Nadin menembaknya menggunakan satu tangan, serta dia sudah tidak kuat untuk bergerak lagi.


“Mati kauu!” teriak Nadin yang seperti sedang berperang. Tapi, peluru peluru itu bukanlah apa apa bagi zirah canggih Rickzan.


Ketika akhirnya, datang serangan yng lebih besar yang asalnya dari atas. Mereka semua kaget. Apakah itu berfungsi pada zirah Rickzan? Keadaan hening sesaat, menantikan debu berhamburan. Menyisakan Rickzan yang terjatuh, bagaikan pingsan.


Dia sedikit melirik ke kiri, melihat zirahnya bagian lengan yang hilang, dan membuka tangannya yang tanpa perlindungan sampai akhirnya dia bisa terduduk, menghadap pesawat yang sudah siap membidiknya.


“Hai teman teman! Kalian pasti merindukanku!” teriak seseorang dari atas. Ranti! Bagaimana dia bisa selamat dari ledakan tadi? Dia segera mendarat di tempat itu, membuka pintu agar mereka semua bisa masuk.


“Bagaimana kalian bisa selamat?” tanya Ahmad heran. Mereka melihat ke sosok Rickzan yang terkulai lemas.


“Akan kuceritakan nanti. Kemana selanjutnya?” tanya Ranti tidak menjawab pertanyaan Ahmad.


“Time hole selanjutnya!” kata Nadin dengan bersusah payah. Ahmad segera sadar, dan mendekat ke arah Nadin, kemudian menangis memegang tangannya.


“Kamu tidak apa kan Nadin? Maafkan kakak belum bisa menjadi kakak yang baik buat kamu. Maafkan kakak belum bisa ngelindungin kamu. Maafkan kakak yang Cuma bisa bergantung terus sama kamu. Padahal aku kakakmu,” ucap Ahmad. Nadin tersenyum.


“Aku tidak apa-apa kok kak! Ini hanya kesetrum! Kalau begini sih, aku sudah biasa! Bahkan, orang tua itu melakukannya lebih kejam! Dia menghianati kita, mungkin memang sifatnya yang penghianat, tapi aku pasti membalaskannya. Lihat saja nanti!” kata Nadin mengepalkan tangannya.


“Nadin, kamu berhasil! Sekarang kita semua bisa pulang!” kata Amy, ibu Nadin. Nadin seketika langsung terduduk, memeluk ibunya.


Dia juga sudah lama tidak melihat wajah ayahnya. Bahkan dia mengira mereka berdua sudah meninggal. Hari ini, dia merasa sangat bahagia. Walaupun seluruh tubuhnya merasa sakit, tapi tidak dengan hatinya. Semua yang ada disana tersenyum melihat itu.


“Ibu! Ayah! Aku kangen banget sama kalian. Aku sangat bahagia bisa bertemu kalian lagi. Ini adalah mimpi seumur hidupku.” Nadin menangis bahagia.


“Ya nak! Kami juga senang bertemu dengan kalian. Ibu bahkan hanya ingin sekali saja bertemu kalian berdua, tapi ibu tidak menyangka akan dipertemukan dengan cara seperti ini.” Kata Amy memeluk anaknya bagaikan tidak mau melepaskannya lagi.


“Oh ya tadi, bagaimana caranya Ranti bisa lolos dari ledakan itu?” tanya Amy.


“Ohh! Tadi? Itu semua berkat Ranti. Beruntung sekali dia dapat berpikir cepat. Jika tidak, kita yang akan tamat!” sahut Dani.


“Apa sih? Enggak kok,” Ranti sedikit tersipu.


“Jadi, bagaimana caramu lolos dari sana?” ulang Amy.


“Aku sedikit curiga, karena keadaan pesawat induk yang terlalu sepi. Aku yakin, pasti semua sudah terhubung dengan Rickzan. Aku yakin Nadin juga berfikir sepeti itu. Karena itulah dia membuat perjanjian itu. Aku melihatnya kok! Kamu memang hebat Nadin, bisa mempengaruhi orang dengan mudah!” cerita Ranti memuji Nadin.

__ADS_1


“Ahh, itu hanya terbesit sedikit di pikiranku,” jawab Nadin.


“Kami awalnya kebingungan, kemana kami harus pergi. Nadin juga tidak memberitahu detail tempat yang kami kunjungi, tapi aku paham. Sudah bisa menjadi mata mata itu saja sudah lebih dari cukup. Aku, Dani, dan Dian berputar putar mencari kesana kemari, membuka semua ruangan, sampai akhirnya, kami malah sampai ke ruangan utama, tempat dimana Nadin disekap. Kami berusaha mencuri data di computer Rickzan ketika kami sampai di ruang kmputer, disanalah aku menemukan denah Pesawat itu.” Lanjut Ranti.


“Eh Ti! Kamu ngomongnya di sini aja!” sahut Ahmad, menyodorkan ipadnya.


“Kenapa?”


“Lumayan, buat dokumentasi. Jadi setidaknya kita bisa mengabadikan momen ini.”


“Baiklah.” Ranti mengambil ipad itu. Dia pun segera melanjutkan.


***


Ketika aku dan teman teman menemukan denah digital itu, kami ingin segera ke tempat penyimpanan pesawat.


“Eh Ti! Ini cara pakainya gimana ya?” tanya Dan bingung. Aku juga sebelumnya bingung apa yang harus dilakukan dengan benda ini. Jika melihat denahnya satu per satu, itu tidak mungkin karena jika ku taksir, ketinggian pesawat induk ini bisa dihitung seperti gedung 50 lantai! Tidak terlalu tinggi memang, tapi jika kami harus mencarinya satu per satu, itu pasti akan membutuhkan waktu lama.


“Coba kamu cari cari dehh. Aku juga tidak paham! Kalau tidak ,langsung saja cari: “ruangan pesawat” gitu coba. Aku juga akan mencarinya!” ucapku pada Dani. Kami berdua segera mencarinya, dan tiba tiba Dani berteriak.


“Ini nih ada ada!” teriak Dani.


“Dimana dimana?” tanyaku kontan.


“Baiklah Dani! Kau yang duluan! Aku mengikutimu!” kataku sambil mengikuti Dani yang berlari. Ketika dia tiba tiba berbelok. Aku pun mengikutinya. Buntu.


“Kok buntu sih Dan? Gimana nih?” tanyaku bingung.


“Ohh sorry sorry. Kita kurang satu lantai ke atas.” Katanya sambil tertawa. Aku menepuk jidatku. Kami bertiga segera berlari ke atas, menunggu elevator.


“Gila! Lift nya jauh banget! Dari lantai 1 dong! Lama deh kita!” kata Dani sambil terus menatap angka angka yang ada lift tersebut.


Setelah menunggu serasa berjuta juta abad, kami akhirnya dijemput oleh lift itu. Kami segera naik satu lantai. Dan ketika lift terbuka, kami berada di depan persimpangan tangga dengan pintu di depannya.


“Ini ada tangga kenapa mesti tunggu lift yang lamanya jutaan abad?!” tanyaku sedikit kesal pada teman ku yang satu ini.


“Hehe, gua gak liat denah ada tangga,” dia tertawa.


“Ya sudah! Ini kan ruangannya?” tanyaku pada Dani. Tapi tampaknya, Rickzan memasang peralatan pengamanan disana. Beruntung sekali, aku dari awal sudah mendapatkan biodata ari Rickzan. Jadi saat seperti ini bukanlah masalah besar bagiku.

__ADS_1


“Kamu punya kuncinya kan?” tanya Dani.


“Tentu saja aku punya! Data nya lengkap di dalam sini!” kataku.


“Kalau begitu, cepat kamu sinkronkan retina matanya dengan kuci disini!” kata Dani. Aku segera mengambil ipad ku dan meletakkannya di depan alat scan tersebut. Alat itu memindai beberapa saat. Aku berdoa agar kami bisa melewati pintu ini. Kami sudah sejauh ini, tidak mungkin kami akan mundur.


“Silahkan masuk.” Dani dan aku kaget dengan suara itu. Aku yang sedang berdoa langsung senang. Kami masuk, dan kulihat berderet pesawat yang siap digunakan.


“Wow! Dia seperti memiliki militer sendiri! Ayo! Langsung kita piliih saja pesawat mana yang kita suka!” kata Dian, kagum. Bukan hanya Dian, kamii yang lain pun kagum melihat itu. Tapi aku masih bingung. Firasatku berkata bisa jadi apa yang aku pikirkan benar. Aku mencoba meminta pendapat Dani.


“Eh Dan! Bagaimana kalau semua yang ada disini terhubung dengan Rickzan? Jadi ketika terjadi sesuatu akan otomatis masuk ke Rickzan! Kalau itu terjadi, mungkin rencana kita akan gagal!” kataku.


“Eh bener juga! Trus gimana dong? Kita sudah jauh jauh kesini. Masa mau mundur?”


“Ya ga juga! Gini aja nih! Dia kan sendiri tuh! Brarti dia kemungkinan memiliki auto pilot yang bisa membawanya kemanapun tanpa menyetir! Kita coba keluarkan 1 pesawat, kemudian kita keluar bersamaan agar tidak terdeteksi! Bagaimana?” usulku.


“Baiklah apapun itu, ayo kita lakukan!” jawab Dani semangat.


“Aku yang sini. Kamu yang hidupin auto pilot ya!” aku segera menghidupkan mesin pesawat yang akan menjadi jalan terakhir kami untuk pergi. Dani segera menyalakan auto pilot, dan pesawatitu pun bergerak.


“Dani! Lompat!” teriakku. Dia menurut. Dia melompat dan jatuh di samping roda pesawatku. Suara mendesing keras, membuat kami menutup telinga kami. Aku segera membuka pintu, mempersilahkan Dani masuk.


“Jadi, ayo kita coba!” ucapku ketika pesawat pertama mulai keluar. 1, 2, 3, tidak ada sesuatu yang terjadi. Kami pun bernafas lega tapi tiba tiba, zrrrt! Duar! Pesawat pertama meledak, melontarkan puing puing hingga ke atas bangunan, kami yang kaget, tak urung terdorong ke bawah.


“Apa itu?!” teriak Dani. Kami melihat belakang, dan merasa sangat bersyukur.


“Bagus sekali! Ranti-Ranti. Kau memang best lah!” kata Dani saat itu.


Apa jadinya jika kami yang berada di pesawat pertama barusan? Tentu kami tidak ada disini sekarang! Aku segera mengemudikan pesawat keatas, menuju depan.


Aku melihat sedang terjadi baku tembak di bawah. Mungkin mereka mengira aku dan Dani sudah meninggal, dan mereka mencoba menembak Rickzan. Tapi kulihat baju pelindung Riickzan yang sangat kuat, peluru yang sangat banyak itu hanya seperti pasir saja.


“Eh Dan! Kamu yang nembak aja dehh! Aku lagi nyetir nih!” kataku meminta Dani untuk menembak Rickzan.


“Iya! Siaaap! Tapi pake peluru mana ya?” tanyanya.


“Yang besar aja! Tuh liat! Peluru kecil tidak ada yang mempan padanya!


“Okeee siaap komandan!” katanya segera duduk di kursi penembak, dan segera memakai vr disana. Dia tampak serius sekali. Dia mungkin ingin membidik kepala, dan yang terkena malah tangan kirinya. Tapi paling tidak, itu bisa membuatnya terjatuh.

__ADS_1


“Tangan?!” tanyaku padanya ketika dia menoleh.


“Hehe, aku beru belajar,” jawabnya. Akhirnya, aku bisa menyelamatkan kalian semua disni.


__ADS_2