
"Naah, Nadin! Sekarang, matilah!" Rickzan berteriak senang.
BOOM! Tembakan Rickzan mengakhirinya, yang dia arahkan tepat ke kepala. Dan itu terjadi ketika Nadin tanpa penjagaan sedikitpun.
"Ha ha ha! Sudah kubilang jangan berani berani melawanku, bukan? Aku jadi sedikit merasa bersalah karena membunuh adik seperguruan tercintaku. Aku merasa bersalah karena langsung membunuhnya, tidak memberinya hadiah!' Rickzan tertawa kegirangan.
***
"Nadin! Nadin!" Ahmad berteriak, ketika mendengar ledakan keras. "Nadin sedang diluar jangkauan karena efek radiasi nih! Mohon tunggu ya!' sebuah suara mekanik yang disetting oleh Nadin keluar, bukan suara Nadin sendiri.
"Apa ini? Apa maksudnya ini?!" Ahmad berlari keluar, melihat ke arah pertarungan. Dia melihat Army dan Arby, kedua orang tuanya yang juga memasang tampang khawatir
"Ada apa, ayah? Ibu?" Ahmad sedikit bergetar.
"Kami melihat sebuah sinar horizontal disana. Tapi tidak jelas, itu senjata milik siapa. Tapi yang jelas, itu senjata berkecepatan cahaya!" jelas Arby sedikit bergidik. Mendengar itu, Ahmad terjatuh, menekuk lutut.
"Ahmad? Jangan bilang?!" Amy mulai berteriak.
"Tidak! Aku yakin dia selamat. Walaupun dia tidak bisa dihubungi, tapi setidaknya aku yakin dia selamat karena AI yang dia buat mengatakan bahwa kami tidak bisa terhubung karena efek radiasi," Ahmad sedikit bernafas lega.
"Benarkah? Kalau begitu, aku mungkin bisa percaya." Amy juga kini semakin tenang. Hanya saja, Medan pertempuran yang sedari tadi mereka tonton tertutup dengan debu, hingga tidak mungkin melihat mereka berdua.
***
"Huh?!" Rickzan merespon terhadap gerakan di belakangnya, dan dari sana, datang Nadin yang bagaikan gila mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi.
"Apa kau merindukanku?" tanya Nadin dengan tengil.
"Teknik pedang itu, dan serangan sebelumnya, itu tidak mungkin. Bagaimana bisa?!" tanya Rickzan keheranan.
"Karena aku abadi!" Nadin mengangkat kedua pedangnya, mengarahkannya ke atas.
"Tidak! Aku yakin sudah mengarahkannya padamu pada waktu yang tepat. Dan kau sama sekali tanpa perlindungan. Tapi, bagaimana? Bagaimana bisa?" tanya Rickzan sambil perlahan berdiri, bangkit.
"Aku menginstal kemampuan orang orang dulu dalam bertarung dan refleks mereka. Jadi, aku tidak akan terkena tembakan selama itu tidak dilakukan tepat di depan kepalaku. Bagaimana? Apa kau sempat memikirkannya?!" tanya Nadin sedikit menyeringai.
"Luar biasa! Luar biasa! Kau memang yang terbaik, Nadin! Aku jadi ingin lebih lama bermain denganmu!" teriak Rickzan yang masih susah payah bangun.
"Terima kasih," Nadin mengangguk, dan membuat sebuah kuda kuda.
"Aku juga ingin melakukannya, tapi, aku tidak punya waktu untuk itu!!" Nadin menggenggam pedangnya, menyerang maju. Nadin kini menggunakan mode otomatis, yang mana armor itu bisa membantunya dalam melawan.
__ADS_1
Singkatnya Nadin sekarang dikendalikan penuh oleh zirahnya!
Nadin begerakk ke sana kemari mencari dengan pedangnya. Tapi Rickzan selalu mengangkat perisainya tinggi tinggi, sambil sesekali menyerang Nadin. Rickzan dalam kondisi bertahan penuh.
"Aku ini raja dalam pertempuran jarak de-" kalimat Rickzan terpotong, ketika perutnya tertendang Nadin, membuatnya terlempar ke belakang.
"Apa kau kira aku hanya menggunakan pedang? Kau naif!" teriak Nadin.
"Ugh!" Rickzan terbwtuk sedikit mengeluarkan darah.
"Ini menyakitkan, sialan!" teriak Rickzan mengaduh, keluar dari puing puing. Dia tampak sulit untuk berdiri, dengan zirah yang sudah compang camping, kembali hancur.
"Seperti aku akan membiarkanmu bangun?"
"Eh?!" Nadin sepersekian detik kemudian melesat, menuju Rickzan, menendangnya ke atas.
Rickzan juga tidak menyangka akan serangan itu sama sekali, hanya bisa pasrah ketika punggungnya ditendang dan meluncurkannya ke angkasa. Nadin bertindak cepat dengan menmvuru Rickzan dengan tembakan dari bawah, membuatnya penuh serangan.
Rickzan yang masih di udara tidak bisa lagi bertindak, dan diterima oleh Nadin di atas yang sudah menunggu menendangnya kembali ke bawah dengan kecepatan tinggi, menghancurkan tanah di bawahnya.
"Untuk langkah terakhir!" Nadin membuka tangannya, lalu membuat lingkaran instrinsik menggunakan senjatanya. Senjata itu berputar, dan mengeluarkan cahaya aneh dan terlihat berbahaya.
"Extinction!" Nadin berteriak, dan seketika sinar terang datang, menekan Rickzan secara keras, menghujaninya.
***
"Ranti! Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi aku belum menemukannya! Apa yang harus kita lakukan?" Ahmad kini panik, ketika bertemu dengan Ranti.
"Aku juga panik! Aku tidak tahu sekarang jam berapa, tapi yang kutahu kita kehabisan waktu! Walau aku tahu Nadin mengulur sedikit waktu, tapi akan berbahaya jika kita terus terusan berpikir seperti itu!" kata Ranti dengan memgangi wajahnya.
"Aku harap kini kita menemukan beberapa hal bagus!" wajah Ahmad menjadi cerah ketika melihat Dani dan Dian.
"Bagaimana, Dani? Aku berharap banyak padamu!" kata Ahmad sambil menepuk pundak Dani. Dani menyeringai sesaat.
"Maaf kawan. Aku tidak punya kabar baik. Bahkan aku tidak menemukan satupun ruangan tersembunyi!" kata Dani setengah berteriak.
"Bagaimana denganmu, Dian?" tanya Ranti padanya. Dian juga menggeleng dengan itu.
"Aku sempat menemukan sebuah ruangan bawah tanah, tapi itu ternyata adalah jalan untuk melarikan diri, atau lorong darurat. dan ketika kutelusuri, tidak ada tanda tanda. dan itu semakin menjauh dari area ini," Dian terdiam sesaat.
"Aku juga menemukan beberapa ruangan bawah tanah. tapi hanyalah berisi gudang anggur dan yang satunya kosong. Mungkin ini bukanlah hari keberuntunganku!" kata Ranti sambil mengeluh.
__ADS_1
"Baiklah teman teman! Kembali ke topik! Apa ada yang menemukan time hole?" tanya Dani memecah kebuntuan.
"Tidak!" semua menjawab denagn serempak. Dani seketka terduduk sedih, serasa harapannya sudah hilang.
"Baiklah.Apakah kita sudah memeriksa semua ruangan yang ada di lantai satu?" tanya Ahmad. Semuanya mengangguk.
"Bagian sayap kanan dan bilik sudah aku periksa!" Ranti menyahut cepat.
"Aku juga!" Ahmad menyerukan.
"Aku dan Dian memeriksa bagian kiri!" teriak Dani. Semua tampak berpikir dengan keras.
"Berarti, hanya ada satu bagian yang belum kita jelajahi!" Ahmad berkata yakin.
"Ya benar! Bagian tengah!" sahut Dani dengan bersemangat. semuanya segera menyebar di aula tempat mereka berkumpul.
"Cari dengan betul, teman teman! kita harus menemukannya!" teriak Ahmad. semua berteriak semangat. api ada sesuatu yang tiba tiba mengejutkan mereka. Ledakan besar yang menyebabkan gempa kecil mengguncang mereka. Mereka terkejut, sekaligus takut.
"Apa itu?" tanya Dian pelan.
"Sepertinya masalah?" kata Dani sambil menggabung pernyataannya dengan pertanyaan.
"Masalah besar." tanggap Ranti.
"Tapi sepertinya, kita memiliki masalah yang lebih besar lagi!" kata Ahmad sambil meratap sedih. Semua segera menoleh.
"Oh My God?!" Dani berlutut, pasrah.
***
"Nadin!!!" teriakan Rickzan menghilang diantara serangan "Extinction" Nadin. Sesaat kemudian, Nadin masih terengah engah, melayang tenang di atas.
"Aku tidak ingin mengatakan kalimat flag!" Nadin masih menggumam perlahan, ketika perlahan matanya dan armornya bersinar terang.
Seketika, Nadin yang melayang itu tertunduk. Ekspresinya menggelap.
"Khu Khu Khu!" Rickzan merangkak perlahan dari puing puing, dengan sebutir kecil zirahnya yang dia genggam. Perlahan, zirah itu menutup tangan kanannya. Cukup cepat.
"Aku tahu." ucap Nadin dingin.
"Sepertinya, aku yang menang, ya?!" Rickzan terkekeh perlahan.
__ADS_1
Ya.
Matahari sudah terbit.