
Third Person PoV
Ahmad mengajak teman temannya turun ke gudang, sedangkan Nadin masih berbicara dengan Dian.
“Jadi, apa hubungannya ini semua dengan yang ingin kamu katakan?” Tanya Dian. Nadin menarik nafas. “Mungkin ini jalan terbaik. Aku juga tidak bisa menanggung beban ini sendiri.” Batin Nadin. Dia pun menjawab.
“Jadi, kalian sebelumnya mengira aku ini orang yang payah dalam pelajaran teknologi bukan?” kata Nadin.
“Ya! Kamu seperti malas untuk mendengarkan dan kamu terlihat malas saat mengerjakan. Terus, kamu juga malah menulis sesuatu ketika pelajaran itu berlangsung.” Kata Dian mengeluarkan semuanya.
“Uwah, kau langsung ke intinya ya? Jujur itu agak menyakitkan,” Nadin setengah bercanda.
“Ahh, itu. Maaf,”
“Tidak tidak! Jangan pikirkan! Jadi, sampai mana kita?” Nadin kembali fokus, dan mengambil nafas dalam.
“Baiklah. Aku mengakuinya. Sedikit. Ya, itulah yang terlihat. Tapi sebenarnya, aku sudah mengetahui semua tentang teknologi. Bahkan, jika dibandingkan dengan Bu Indah lebih tinggi aku.” Katanya dengan nada dan raut muka yang berubah kesal.
Mungkin dia kesal dengan Bu Indah. Dian bingung, namun dia hanya diam saja. Dalam hati Dian, agak ada rasa ingin tertawa mendengar itu. Tapi, dia hanya diam mendengarkan.
“Dan sekarang, aku terjepit. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Apakah kamu ingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika sebuah laboratorium hancur karena mesin waktu ciptaan ayahku?” Tanya Nadin. Sekarang dengan air mata.
“Ya aku ingat. Memang kenapa? Apa hubungannya dengan ini semua?” Dian mulai khawatir. Dia mulai menerka nerka hubungan antara mesin waktu itu, kakaknya, dan sikapnya yang aneh akhir akhir ini.
“Hmm, menurutku rancangan mesin waktu kakak sekarang mirip dengan mesin waktu yang menyebabkan laboratorium itu hancur, ya seperti rancangan ayah waktu itu.” Sekarang Nadin mulai menangis.
Nadin memiliki ingatan yang baik, terutama dengan ingatan yang menyakitkan. Manusia cenderung mengingat sesuatu yang menyakitkan lebih lama daripada yang lain. Dan Nadin benar benar mengingat rancangan miliki ayahnya, bahkan dia bisa membuatnya ulang jika dia mau.
Dan sekarang hal itu berada di rancangan milik kakaknya, dan bahkan Dian yang mengetahui hal itu sekarang bahkan tidak bisa lagi menyembunyikan rasa khawatirnya.
“Kalau begitu, kita harus memberitahunya! Kalau tidak, kota ini dalam bahaya!” Dian menjadi benar benar cemas.
__ADS_1
“Aku sudah memberitahunya, tapi dia tidak mau dengar.” Nadin setengah berteriak.
“Jadi?”
“Aku membuat rancangan untuk menahan kegagalan mesin itu,”
“Lanjutkan.”
“Aku sudah membuat sebuah alat dimana alat ini akan menyelimuti benda yang akan dibawa agar tidak menyebar ke benda lainnya.” Nadin mengambil bola ciptaannya. “Walau kecil, benda ini bisa menangkal hingga 2 orang di mesin waktu.” ucap Nadin.
“Kok kecil sih?” Tanya Dian.
“Aku kekurangan bahan, jadi aku hanya bisa membuat segini. Kalau aku ada bahannya aku pasti buat lebih besar. He he he.” Nadin mulai bisa tertawa. Namun, raut cemas masih terpancar di wajah Dian.
“Din, kamu sudah yakin untuk lakukan ini?" Tanya Dian pada Nadin. Nadin mengangguk mantap. Dia pun menoleh
“Dia tidak mempercayaiku. Jadi ini satu satunya jalan.” Kata Nadin. Dian hanya mengangguk. Sebenarnya, hati Dian tidak begitu yakin dengan apa yang akan dia lakukan sekarang.
“Kamu yakin akan melakukan ini? Tanya Ranti pada Ahmad. Wajah Ahmad berubah gelisah, namun tampak wajah agak senang dan bangga di raut wajahnya. Dia sebenarnya juga takut, kalu kalau apa yang dikatakan Nadin itu memang benar, tapi dia sudah mengeluarkan banyak biaya untuk membuat mesin waktu itu.
“Sudah tidak ada lagi kata mundur. Kita harus lakukan ini.” Kata Ahmad. Dia berjalan pelan, menarik nafas panjang untuk permulaan. Mereka bertiga berjalan menuju mesin waktu ciptaan Ahmad. Sedangkan Nadin dan Dian sedang mengintip melalui gudang sebelahnya.
“Dan inilah! Mesin waktu ciptaanku!” kata Ahmad dengan bersemangat. Semua orang saling pandang. Tampangnya tidak terlalu percaya, tapi mereka sedikitnya kaget.
“Luar biasa! Apa kau benar benar membuat mesin waktu?” Dani mulai berisik.
“Yahh, awalnya memang sangat sulit, tapi entah bagaimana akhrinya aku berhasil menemukan rancangan yang memungkinkan kita untuk mengirim sesuatu ke masa lalu. Bagaimana?” tanya Ahmad.
“Yahh, sejak awal aku sedikit takut dengan hal ini, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal,” Ranti tampak sedkit enggan.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Karena, itu lo! Ada beberapa hal yang seharusnya tidak dijamah oleh manusia, bukan? Dan menurutku, aliran waktu adalah salah satunya,” ucapnya yakin.
“Uhhm, kau benar. Tapi mumpung kita sudah membuatnya, mengapa tidak kita coba saja sekarang? Kita semua! Bukankah itu juga tugas kita sebagai seorang peneliti untuk memastikan alat buatannya berjalan dengan lancar?” kini Dani justru member dorongan. Nadin kaget.
“Apa?! Mereka semua akan berangkat?! Tidak mungkin! Bagaimana ini? Apa yag harus aku lakukan?” tanyanya entah kepada siapa. Dia berjalan bolak balik, memegangi kepalanya. Raut wajahnya berubah drastis.
Dia juga menoleh ke arah Dian dengan tampang takut. Tiba tiba, semua kenangan yang ada kembali teringat.
“Ada apa Nadin? Apakah ada yang salah?” Tanya Dian meihat nada khawatir Nadin. Nadin yang masih menangis masih terduduk. Sekarang, Dian menjadi serba salah. Dia bingung apa yang harus dilakukan.
Sebenarnya, dia senang karena sahabat terbaiknya mau menceritakan masalahnya. Namun sekarang, dia terjebak dalam situasi yang membuatnya canggung. Nampaknya, Nadin sudah mulai tenang. Dian mencoba membantunya berdiri. Tiba tiba Nadin berkata.
“Aku hanya menghitung jika hanya kakak yang akan berangkat. Jadi karena kekurangan bahan aku hanya membuat alat yang sanggup menahan itu. Tapi, kalau mereka semua ikut aku tidak yakin apa yang akan terjadi.” Katanya semakin khawatir. Sementara itu, Ahmad sudah bersiap menyalakan mesin tersebut.
“Pegang tanganku.” Kata Ahmad kepada Ranti, begitu juga dengan Dani. Mereka bergandengan. Ahmad segera menyalakan alat itu. Ahmad tampak berdoa, Ranti menggenggam erat tangan Ahmad, sedangkan Dani masih asyik melihat lihat ke sekeliling
.
Suasana menjadi tegang. Sama sekali tidak ada yang berani bersuara. Ahmad, Ranti, dan Dani menutup mata. Sedangkan Nadin masih saja berdoa
Kabut biru menyelimuti mereka, dan tiba tiba, hal yang ditakutkan oleh Nadin terjadi. Percikan api keluar dari mesin waktu Ahmad. Nadin yang sedang mengamati sistemnya sendiri terkejut ketika mesinnya menunjukkan tulisan overload.
Nadin panik. Tapi dia tahu panik tidak mengubah apapun. Tiba tiba, kabu biru itu meluas hingga melingkupi kedua gudang itu.
“Apa ini?” Tanya Dian. Semua orang sempat kagum, tapi Nadin tahu satu hal. Nadin berlari membbuka pintu gudang dan berteriak.
“Kakak! Matikan!” Ahmad mungkin merasakan hal yang sama dan menoleh ke arah Nadin ketika Nadin berteriak. Namun, teriakan itu adalah suara terakhir yang bisa mereka dengar, dan gambar terakhir yang bisa mereka lihat hanyalah percikan cahaya yang sangat terang.
Selain itu, teriakan itu berhasil menjadi teriakan terakhir sebelum gudang itu menghilang. Tak ada lagi yang tersisa kecuali seonggok tanah kosong, membentuk lubang besar di bawah tanah. Tak pernah ada dari mereka yang tahu, bahwa pada hari itu, semua yang mereka ketahui akan berubah.
Dan pertunjukan pun berakhir….
__ADS_1