
"Sepertinya aku yang menang, ya?" Rickzan terkekeh perlahan.
Matahari mulai naik, memancarkan panasnya. Nadin hanya diam, melayang pelan di atas. Lagipula, apapun yang dia lakukan sekarang, itu semua sudah terlambat. Dia hanya bisa mengandalkan teman temannya sekarang.
"Nadin! Nadin! Apa kau mendengarku?!" suara sedikit rusak mulai masuk ke alat komunikasi Nadin. Nadin hanya menyentuh pelan itu.
"Ya. Aku disini." jawab Nadin datar.
"Matahari! Mataharinya! Apa yang harus kami lakukan?!" Ahmad berteriak panik. Nadin hanya menghela nafas.
"Aku tahu. Sisanya, aku serahkan pada kalian, ya! Aku beri tambahan 5 menit. Aku tahu, kalian bisa." Nadin mencabut alat komunikasinya, melemparkan ke bawah.
"Nadin?! Nad-" suara itu terputus ketika itu hancur menyentuh tanah. Ahmad yang berada di dalam gedung menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Dia bilang percaya? Dia bilang percaya pada kami? Mana bisa begitu?! Siapa yang menggerakkan mereka? Aku, aku tidak punya kekuatan untuk itu! Aku tidak bisa melakukannya! Hanya kau Nadin, tapi apa maksudmu?!" Ahmad berbisik depresi ketika mengetahui itu semua. Perlahan siluet hitam mendatangi Ahmad pelan.
"Ahmad, jangan lupa kau tidak sendiri!" Ahmad tersentak. Dani datang menghampiri Ahmad, memegang bahu kirinya.
"Eh?!"
"Ya Ahmad. Kita berlima berjuang. Nadin berjuang di sana, dan kita berjuang dengan cara kita sendiri. Kita bisa bersama sama!" Ranti menanggapi, sambil memegang tahu Ahmad yang satunya lagi.
"Kalian?!" Ahmad terharu dengan teman-temannya yang menyemangatinya.
"Kak Ahmad, semangat!" Dian juga ikut memberikan kata-kata penyemangat.
"Mungkin kalian benar. Aku sudah melupakan kalian. Maafkan aku teman-teman. Jika kuat bersama, kita lakukan ini bersama. Dan kita akan menang bersama!" Kata Ahmad kini tersenyum memandang teman-temannya.
"Dasar payah! Dasar lemah begitu saja kau sudah jatuh, apalagi nanti di pelaminan bersama Ranti! Kau aneh, Ahmad!" Kata Dani sambil sedikit bercanda. Dia merangkul Ahmad sambil tertawa lepas, seperti tidak ada beban.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan, mencari pintu rahasia di aula utama ini!" Ahmad berteriak senang.
Dalam hatinya Ahmad bersyukur bisa terdampar dengan teman-temannya ini. Walaupun terdengar kejam tapi alamat benar-benar bersyukur dari lubuk hatinya yang paling dalam. Karena jika tidak ada teman-temannya entah apa yang terjadi dengan Ahmad.
__ADS_1
Iya pasti putus asa dari awal sudah tidak ada Nadin. Dia pasti akan merasa sedih dan jatuh jika tidak ada Dani, dan dia pasti akan merasa sepi jika tidak ada Ranti.
***
"Bagaimana? Apakah sudah berniat untuk menyerah?" Rickzan tertawa ketika melihat penyembuhan armornya begitu cepat.
"Hei kau tahu? Bukankah aku sudah bilang, bahwa menyerah itu bukan jalanku? Selain itu aku juga percaya pada teman-temanku. Dengan kata lain hari ini aku tidak bisa dikalahkan!" Kata Nadin yakin sambil mengepalkan tangannya mengarah kepada hari Rickzan.
"Kau tak tahu kapan harus menyerah ya?" Rickzan masih tertawa ketika armornya sudah beregenerasi sampai separuh tubuhnya. Mungkin mengulur waktu juga termasuk tujuannya.
"Kalau begitu!" Nadin membentuk sebuah tembakan laser besar dengan menggabungkan kedua senjatanya di kanan dan kiri. Dia memberondong Rickzan dengan tembakan beruntun, karena sebenarnya armornya juga sudah pulih kembali.
"Kau benar-benar wanita yang bersemangat, Nadin!" Rickzan kembali mengolok-olok Nadin untuk memancing emosinya.
"Sepertinya aku masih berumur 14 tahun deh. Jika kau panggil aku wanita aku agak merasa risih. Apa jangan-jangan kau benar-benar pedofi?! Apa ya istilahnya? Lolicon! Kau pak tua lolicon?! Dasar tidak tahu malu!" Nadin mengembalikan kalau-kalau Rickzan dengan sempurna.
"Cih! Dasar anak tidak tahu sopan santun! Biar kau ajarkan kau bagaimana cara yang baik berbicara dengan orang tua!!" Rickzan justru kesal. Dia menendang tanah untuk melompat, menjangkau Nadin. Tetapi refleks Nadin yang sudah diperkuat memang lebih cepat dari Rickzan.
"Kau memang kuat, tapi!" Nadin tiba tiba berada di belakang Rickzan.
"Eh?!"
"Tapi kau penuh dengan celah, sialaan!" Nadin berteriak penuh amarah, membanting Rickzan jatuh ke tanah dengan cepat.
"Khu Khu. bukankah kau sudah tahu? Bahwa luka segini saja bukanlah apa-apa untukku? Kenapa kau masih melawan ku padahal tahu tidak akan bisa menang?" Tanya rickson sambil bangkit berdiri dengan mudahnya.
"Apakah kau bodoh? Orang pintar akan selalu mencari beberapa cara jika cara pertama atau cara keduanya gagal. Cara pertama yang aku pakai, yaitu mengalahkanmu mu, sudah gagal karena waktu. Maka aku masuk ke rencana yang kedua, bertahan!"Nadine masih melayang tenang sambil mengamati keadaan.
"Kenapa kau tidak turun untuk bermain denganku? Ah iya aku lupa kau hanyalah lalat lemah yang hanya bisa menghindar bukan?" Rickzan kembali memulai kata-kata sarkas nya.
"Maaf saja ya!" Nadin kembali menembak Rickzan dari atas.
"Huh! Lalat kecil memang merepotkan! Ada baiknya jika ku potong sayapnya!" Rickzan menggumam perlahan, kemudian mengubah zirah di sekujur tubuhnya menjadi senjata yang siap menembakkan laser.
__ADS_1
"Ap-"Nadin sempat terpana sesaat, sampai akhirnya dia mendapat kesadarannya kembali.
"Mari kita lihat seberapa bagus kau menari!" Rickzan tertawa, ketika melihat Nadin yang bersusah payah menghindari serangan lasernya. Sedangkan aku juga tahu tergores atau terkena laser itu sedikit saja bisa membahayakan nyawanya.
"Haaaahhh!!!" Nadin berteriak sambil melepaskan serangan ke beberapa laser yang datang. Tapi sayang seberapapun terus Nadine berusaha serangan Rickzan terlalu banyak untuk bisa dihindari.
Walaupun sudah berusaha menangkis, serangan Rickzan tetap mengenai salah satu sepatu terbang milik Nadine yang membuat Nadin kehilangan keseimbangan di udara.
"Kyaah!" Nadin terjatuh dengan keras ke atas tanah yang berdebu. Dia terjatuh dan terguling karena sepatu terbangnya yang kehilangan daya membuatnya tidak mampu untuk melayang lagi.
"Sudah kuduga lalat kecil tanpa sayap itu tidak akan berguna!" Rickzan tertawa keras sambil mendekati Nadin.
***
"Ayo teman-teman! Kita cari sungguh-sungguh! Kali ini benar-benar ada di ruangan ini! Nadin sedang mengulur waktu untuk kita!" Triad Ahmad membakar semangat teman-temannya.
Memang benar jika dipikir-pikir ruangan yang belum dicari oleh Ahmad dan teman-temannya hanyalah ruangan tengah. Selain itu mereka sedang mencari dengan sangat teliti setiap inci dari ruangan masing-masing.
"Yang di sini benar-benar sulit! Aku tidak bisa menemukan petunjuk apapun." Kata Dani terduduk lemas.
"Pantas kau tidak menemukan satupun ruangan rahasia! Cara kerjamu seperti ini!" Ranti mengecam Dani dengan keras. Mungkin dia sedikit kesal karena Dani yang terlihat bermalas-malasan, tidak seperti dia yang bekerja keras untuk mencari time hole.
"Baiklah baiklah! Aku akan mencarinya lagi!" Dani berdiri, mungkin kesal.
Dan di saat itulah Dian menemukan sesuatu yang mencurigakan. Itu adalah botol anggur yang seharusnya tidak di tempatnya. Padaha, sudah bertahun-tahun tempat itu ditinggalkan, tapi rasanya tidak mungkin masih ada sebotol anggur di atas meja.
Lihat segera menarik botol tersebut. Tak disangka, ada suara berderit dan tiba-tiba lemari di bagian tengah terbuka.
"Dian! Kau hebat!" teriak Ranti.
"Coba lihat! Ada sesuatu yang bersinar di dalam! Jangan-jangan?!" Dani berteriak sambil berlari dalam.
"Time hole!"
__ADS_1