
“Berpencar!” teriaknya pada tim 1 yaitu Ranti, Dani dan Dian.
“Yahh, hanya tinggal kita disini. Kita akan memberi waktu tim 1, 30 menit. Setelah itu baru kita akan masuk!” kata Amy memberi komando.
“Dia pasti juga sudah melihat kita. Biarlah waktu 30 menit itu untuk persiapannya turun, selan itu, kita juga bisa persiapan,” kata Arby. Mereka pun segera memacu kendaraan mereka secepat mungkin.
“Wow! Kau benar! Mereka datang! Satu mobil saja? Apa kau bercanda?” Rickzan sedang mengawasi dari atas. Nadin sangat bersyukur. Setelah dia berada di sini seperti berbad abad, dia akhirnya keluar juga. Dia berdoa, agar kak Ranti bisa bekerja deenga cepat.
“Semoga rencana kami lancar! Agar kami bisa pulang. Aku kangen banget sama ayah, ibu! Mungkin mereka menunggu kami keluar. Ohh mereka menunggu kesiapan tim 1 pasti. Jadi, ketika tim 1 sudah siap, maka tim baru akan keluar.” Batinku. Aku melihat sesuatu yang sedang dipakai Rickzan.
“Apa itu?” tanyaku.
“Baju perang model baru. Sangat fleksibel digunakan dimanapun,” kata Rickzan membuat Nadin terpana.
“Kau! Persiapkan dirimu!” teriak Rickzan pada Nadin.
“Aku? Apa yang harus kusiapkan? Aku tak ada apa apa,”
“Cari lah. Apa kek itu kek. Aahhh sudahlah! Kita akan menunggu mereka keluar,” kata Rickzan sedikit kesal pada Nadin. Kini tim satu. Ranti sudah menyusup masuk bersama Dani dan Dian.
“Waaaah! Luas sekali tempat ini?! Padahal yang punya Cuma satu orang saja! Aku yakin dia jarang menerima tamu disini,” kata Dani melihat ke sekeliling sambil terkagum kagum. Bagi mereka, memang ruangan pesawat itu sangatlah luas.
“Kamu benar! Tapi kita harus cepat! Keberhasilan rencana, ada pada kita. Jika kita terlambat, bisa jadi nyawa mereka melayang!” kata Ranti setengah berteriak.
“Oh ya benar juga ya! Tapi, kok aku merasa aneh ya?” tanya Dani.
“Kenapa?”
“Dia memiliki perangkat tercanggih di dunia, tapi dia tidak memasang cctv atau pengaman lain! Dia seperti tidak takut kedatangan tamu tak diundang. Kira kira kenapa ya?” Dani heran.
“Kamu benar. Tapi, sekarang kita harus segera mencari ruangan pesawat! Kita harus mendapatkan setidaknya satu pesawat!”
“Gimana ya cara mencarinya?” tanya Dani. Mereka pun segera berlari kesana kemari untuk mencari ruangan yang dimaksud. Namun tetap saja, mereka tidak menemukannya. Kolam renang, perpustakaan, ruang computer, ruang tv, taman, hingga ruang teknnologi sudah ditemukan oleh mereka. Tapi tetap saja, mereka belum menemukan apa yang mereka cari, ruang pesawat. Sebenarnya, Ranti agak khawatir tentang ini.
“Dia mungkin tidak memiliki kamera pengawas, atau peralatan canggih lainnya. Tapi dia pasti akan tahu, ketika kami mencuri satu pesawatnya. Itu pasti. Tapi, apa yang akan kami lakukan selanjutnya?” pikir Ranti, yang berpikiran sama dengan Nadin yang masih berada di penjara saat itu. Dia bingung, tapi dia memiliki akal.
***
__ADS_1
“Hei! Pak!” teriak Nadin disana.
“Apa kau? Sudah siap pergi?”Rickzan yang sedang menonton televisi menoleh.
“Bagaimana kalau aku menaikkan harganya?” Nadin memulai rencana kecilnya.
“Apa maksudmu? Harga apa?” Rickzan bingung dan curiga tehadap Nadin. Nadin segera membuka kalung yang selama ini dipakainya. Bom! Rickzan kaget. Dia segera akan mengambil pakaian canggihnya, tapi Nadin menahannya.
“Em em em! Aku tidak akan melakukan itu jika jadi kau. Aku melakukan ini hanya di keadaan aku sudah siap. Ini yaah, bisa kubilang ini bom bunuh diri. Dan radiusnya pun sangat besar! Teknologi secanggih apapun tidak akan bisa menahan kekuatan ledak bom ini. Dengan kata lain, kita sudah tamat.” Kata Nadin dengan nada datar.
“Apa maumu?”
“Yahh, karena kami butuh sesuatu, kami akan mengambil pesawat, dan kamu akan merelakan pesawatmu kami ambil. Hanya satu. Setelah itu, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan,” kata Nadin enteng.
“Tapi bagaimana dengan kesepakatan awal?” tanya Rickzan sambil mencoba meraih tombol setrum untuk Nadin. Nadin sebenarnya tidak mengetahuinya, sampai Rickzan berteriak keras:
“Ha ha! Kena kau!” Teriak Rickzan sambil menekan tombol selama mungkin.
“Ahh!” Nadin berteriak keras, kemudian dia tertawa.
“Kau pikir aku bodoh? Aku sudah merusak system listrik penjara ini. Aku juga sebenarnya bisa kapan saja meledakkan diri,” kata Nadin sambil tertawa.
“Tidak ada. Hanya saja, jika kau mati disini bersamaku dan semua peralatanmu, semua yang kau lakukan tidak ada gunanya. Semua akan berakhi. Aku yakin kau pun memikirkan hal itu. Ayo kita menyelamatkan nyawa kita masing masing! Aku dapatkan pesawat. Aku akan memberikanmu time key!” kata Nadin mendesak Rickzan.
“Setelah kalian mendapatkan sebuah pesawat dan aku mengembalikanmu, aku akan mendapat kunci waktu bukan?” Riickzan bingung.
“Ya! Itu kesepakatannya. Terima atau tidak?!” kembali, Nadin mampu membalikkan keadaan. Sebenarnya, Nadin juga agak takut, kalau kalau Rickzan melakukan hal nekat, dan yang kami dapat tidaklah apa apa.
“Baiklah. Sekarang, keluar! Mari kita turun untuk melakukan pertukaran!” kata Rickzan sambil membuka gerbang besi penjara.
“Dengan senang hati.” Kini, Nadin sudah bisa bernafas lega. Kalau kalau mereka kak Ranti ketahuan, aku sudah membuat kesepakatan baru dengannya. Aku mengikutinya, walau dengan tangan terikat di belakang. Jalannya berputar putar, membuatku bingung.
“Kau membangun pesawat ini aneh sekali?! Kenapa kau bangun tanpa akses yang mudah ke ruang utamamu? Juga kau tidak memasang kaera pengawas sama sekali. Aku tidak paham dengan selera bangunanmu,” kata Nadin sambil mencoba melihat lihat dan mengawasi, menghafalkan titik demi titik bangunan itu.
“Bodoh! Siapa juga yang mau datang kemari? Kalaupun ada pencuri, aku dapat meghancurkannya hingga radius 500 m dari bangunan ini!” ucapnya.
“Kau tidak akan menghancurkan pesawatnya bukan?” tanya Nadin mulai curiga.
__ADS_1
“Apa? Aku? Kita lihat saja nanti.” Nadin kembali khawatir. Sampai akhirnya, mereka sampai di depan pintu. Ahmad dan kedua orang tuanya sudah menunggu disana sedari tadi. Mereka akan memulai bernegosiaasi.
“Selamat datang di masa depan! Ini semua merupakan masa depan!” kata Rickzan mengawali pembicaraan.
“Jangan banyak bicara kau Rickzan!” tegas Arby.
“Bagaimana dengan perjalanan kalian? Menyenangkan?” Rickzan hanya tersenyum.
“Diam!” kata Amy sambil menembak sebelah kaki Rickzan.
“Aku menyambut kalian dengan baik. Harusnya kalian mengerti. Kalian dari orang beradab bukan?” kata Rickzan sambil menggerak gerakkan tangannya.
“Bukankah tragis? Keluarga sempurna, yang dipertemukan kembali. Reuni yang sangat mengharukan. Sayang sekali aku tidak bisa menangis. Apakah ini pertanda kalian akan bersama? Disini untuk selamana? Wha ha ha!” kata Rickzan berusaha menjatuhkan mental Ahmad dan kawan kawan.
“Jangan bertele tele! kita memiliki apa yang lawan inginkan dan sebaliknya. Mari kita mulai pertukarannya.” Kata Arby, maju satu langkah.
“Eitss! Tunggu dulu. Aku akan memberikan ucapan selamat padamu, Arby!”
“Selamat?”
“Ya selamat. Kau sangat bisa mendidik seseorang menjadi genius. Kau mendidikku menjadi genius, tapi sayang sekali, aku memilih jalan yang lebih menarik dan menguntungkan darimu. Dan sekarang, kau menjadikan anakmu, menjadi muridmu yang sangat genius. Bisa kubilang dia licik.” Kata Rickzan tersenyum.
“Apa maksudmu?” Arby bingung.
“Aku sering dibuat kerepotan oleh anakmu. Bisa dibilang, kau dan seluruh keluargamu merupakan satu satunya ancaman yang aku miliki. Dan dia pun sudah membuat negosiasi baru dengan dia,” katanya sambil menepuk pundak Nadin.
“Aku harus menyerahkan sabuah pesawat ku yang luar biasa, untuk bom yang selama ini dia kalunkan di lehernya, serta tombol yang selau dipegangnya.” Rickzan basa basi.
“Langsung saja intinya!” kata Ahmad sambil memegang kunci waktu yang palsu.
“Woww, santai santai! Kami sudah membuat perjanjian tadi sebelum turun. Intinya, kalian akan mendapat satu pesawatku, dan kalian akan mendapatkannya. Dia sangat menyusahkanku. Jadi, kau berhasil Arby,” kata Rickzan sambil menekan tombol di jam tangannya, yang membuatnya memakai zirah canggih yang sangat kuat. Dia meangangkat pedangnya, dan melepas borgol Nadin, seketika, Nadin berlari menuju orang tuannya.
“Eh Nadin!” Nadin berhenti berlari dan menoleh.
“Ini untuk kenang kenangan,” katanya memegang pundak Nadin. Dan, zrrt! Listrik mengalir, kembali menyetrum Nadin. Kali ini sangat tinggi membuat Nadin hampir kehilangan kesadaran. Kacamata multi fungsinya eror, dan beberapa benda buatannya pun begitu. Semuanya kaget dan segera tergerak membantu Nadin.
“Dan satu lagi. Pesawat pertama yang keluar,” dia mengatur sesuatu di jamnya untuk beberapa saat, “Akan seperti ini.” Tiba tiba, Blaar!! Suara ledakan yang besar terdengar, dan terlihat beberapa puing puing pesawat berterbangan, jatuh kesana kemari.
__ADS_1
“Ranti!!” teriak Ahmad ketika melihat kejadian tersebut, menekuk lututnya ke tanah, tidak percaya apa yang dilihatnya.