Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 9


__ADS_3

Pov: Ahmad


“Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh!” makiku pada diriku sendiri. Aku tidak bisa melihat apapun selain kegelapan di mata.


“Seharusnya aku percaya Nadin, seharusnya aku percaya kata hatiku! Kenapa kulakukan ini! Aku ini memang bodoh!” sekarang, hanya penyesalan yang ada di dadaku hingga dadaku merasa sesak, penuh dengan penyesalan itu.


Aku sekarang merasa pasrah dengan apa yang terjadi. Tapi sebenarnya aku tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan keadaan sekarang pun, aku tidak tahu apa apa. Yang aku tahu, aku berada di dunia yang sangat gelap. Tapi tetap aku bisa merasaka tubuhku.


“Apakah aku mati? Apakah ini surga, atau neraka? Inikah akhirku? Bagaimana dengan teman temanku, adikku dan lainnya. Apakah mereka selamat?” semua pertanyaan bodoh yang tidak ada orang yang bisa menjawab itu membebani pikiranku.


Aku merasa tubuhku melayang, seperti di ruang hampa, namun anehnya aku masih dapat memegang sesuatu.


“Apa ini?” aku tidak tahu itu apa. Tapi apapun itu, aku tidak akan melepaskannya hingga semua ini berakhir.


“Mungkin ini adalah perjalanan antara hidup dan mati. Sesudah mati aku sangat cerewet ya. Ha ha.” Sebuah benda melayang menabrakku. Aku kaget. Sedetik kemudian, sebuah benda besar menabrakku dari belakang, dan aku tidak tahu apapun setelah itu.


***


Aku membuka mata, rasanya seperti terdampar di antah berantah yang tidak ku ketahui kapan dan dimana. Ternyata, aku masih mengantongi cerita yang kubuat untuk mesin waktu ini.

__ADS_1


Aku menoleh ke kanan, dan kulihat, aku masih menggenggam tangan Ranti. Segera aku kaget, melihat ke sekelilingku. Benda benda berhamburan, teman temanku dan adikku tergeletak.


Apa yang terjadi? Gudang kami pun sudah tidak berbentuk, lebih mirip kapal pecah. Sontak aku membangunkan mereka semua.


“Ranti! Bangun! Ran, bangun please bangun.” Kataku menepuk nepuk pipinya. Dia mulai perlahan merengkuh pelan, dan sebelum dia menyadari apa yang terjadi, aku memintanya untuk membangunkan Dani. Dan aku pun membangunkan adikku dan sepupu Dani.


“Ada apa? Apa aku kesiangan lagi?” kata Dani.


“Teman teman, harus kukatakan dengan menyesal, kita semua ada di masa lalu.” Kata Ahmad langsung to the point. Semua yang ada di sana pun kaget, dan melihat ke sekeliling mereka.


“Lo bersih bersih terakhir kapan sih Mad? Gudang kok ambyar gini? Ayo kita keluar.” Kata Dani yang belum menyadari apapun. Sontak semuanya menoleh ke tangga, yang sudah kosong berubah menjadi sebuah lubang yang dari luar memancarkan sinar, satu satunya sumber cahaya yang ada di sana.


Hamparan pegunungan, sawah, serta sungai jernih yang mengalir deras di sebelah gudang kami, dan perkotaan yang terlihat indah. Aku heran, mana mungkin ketika aku berumur 5 tahun keadaan masih seindah ini.


“Mantaap. Ini tahun kapan ya kok bisa bagus banget kek gini? Lo setting ke tahun berapa Mad?” tanya Dani padaku. Aku hanya diam, menoleh pada adikku, yang dari tadi tidak bersuara, mungkin hanya berkata pada batinnya.


“Baiklah teman teman, karena kita sudah ada disini, kenapa tidak kita nikmati saja dulu? Bagaimana kalau kalian semua pergi melihat lihat, dan aku akan beres beres disini.” Kataku dengan nada yang mudah, padahal keadaan tidak semudah itu. Aku hanya berusaha menenangkan semuanya. Kalau kami panik, hal yang lebih buruk sudah pasti akan terjadi.


“Aku disini, bantuin kak Ahmad.” Sahut Nadin.

__ADS_1


“Aku juga!” kata Ranti.


“Yakin? Brarti kita berdua doang nih? Oke! Kita sekalian cari makanan ya! Ayo Din!” kata Dani, yang masih menganggap ini hal yang indah, dan mengajak sepupunya, Dian. Mereka segera menuruni bukit kecil itu, dan menuju sebuah kota yang tidak terlalu jauh dari sana.


Sedangkan aku segera masuk, memeriksa mesin waktu, sedangkan Nadin mengumpulkan barang barang yang ada, dan menatanya ulang.


Ranti menyentuh pundakku dan tersenyum, mungkin dia tahu keadaan ini sulit, dan akhirnya kami semua segera mengemasi barang barang yang ada, membuatnya nampak seperti rumah yang layak dihuni, dengan lantai yang bersih serta air bersih yang tersedia kapan pun yang berasal dari air sungai sebelah gudang kami.


Sampai akhirnya, sore menjelang. Ketika Dani dan Dian kembali, membawa makanan, dan beberapa makanan yang masih belum diolah. Mungkin bagi mereka ini adalah kemah yang luar biasa, namun bagiku, ini bencana.


Aku beruntung, hanya gudang yang terbawa, bukannya satu kota terbawa bersama kami. Aku lebih beruntung, ketika aku hanya terlempar ke masa lalu, bukannya tempat yang lebih mengerikan. Aku juga beruntung, disini bersama teman temanku dan adikku, dan memastikan mereka semua selamat.


***


“Aku tahu semuanya kok. Aku paham.” Ranti menepuk pundakku, mungkin dia paham keadaan, tapi tidak dengan perasaanku, yang membawa mereka semua ke sini, dan membuat mereka terjebak di masa lalu dan mungkin tidak bisa kembali selamanya.


“Aku paham perasaanmu, tapi ini semua bukan kesalahanmu. Kita semua tidak tahu, apa yang terjadi, dan kita semua tahu itu.” Ranti seperti menebak pikiranku saja. Yaah, mungkin dia tahu.


“Soo, kamu udah tahu kan? Keadaan kita yang terdampar di masa ini sampai mesin waktu bisa dibenahi? Dan aku tidak yakin, dengan semua yang kita punya sekarang, kita bisa kembali ke masa yang sebenarnya. Dan ini semua kesalahanku. Dan aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan sekarang.” Kataku membenamkan wajahku ke lutut. Ranti duduk disebelahku, mencoba menghiburku.

__ADS_1


“Yahh, mau bagaimana lagi, ini mungkin memang takdir kita. Alam mungkin sudah mentakdirkan kita bersama disini. Bersama, kita kuat. Bersama, kita saling menjaga. Aku yakin, jika Dani sudah mampu menemukan minimarket, maka kita pasti bisa menemukan bahan bahan untuk memperbaiki mesin itu. Aku yakin kamu pasti bisa. Aku yakin, kita pasti bisa.” Kata Ranti menggengam tanganku, menguatkanku. Berkat dia, aku merasa lebih tenang. Paling tidak untuk saat ini. Karena saat ini yang kubutuhkan adalah tenang. Tiba tiba, Nadin menghampiriku dengan wajah cemas.


__ADS_2