Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 16


__ADS_3

Third person PoV


***


Ini bukanlah mimpi, tapi memang nyata. Orang tuaku masih hidup, dan kini, adikku diculik. Aku sempat bertindak gegabah dengan ingin menyelamatkannya sendiri. Aku lupa, bahwa aku masih memiliki teman disini.


Aku memang kalah persiapan, dan persenjataan. Tapi kami memiliki rasa persahabatan yang tidak dimilikinya. Dengan kerja sama, kami bisa melakukan apapun.


Awalnya, aku takut jika hal ini akan membuat pertemanan kami terpecah. Tapi ternyata, kami bahkan menjadi mengerti akan satu sama lain.


“Mad, maafin aku udah pernah nyalahin lu semua atas ini. Seharusnya gua gak ngomong itu sama lo. Sorry,” katanya. Aku senang, pada awalnya, kupikir inilah terakhir kalinya aku akan bertemu dengan Dani.


Tapi ternyata tidak. Sebuah persahabatan tanpa perpecahan, itu sesuatu yang kurang pas. Tapi persahabatan dengan sebuah perpecahan, itu dapat mempererat persahabatan. Aku sangat bersyukur hingga saat ini. Sayang, keadaan ini kurang sempurna karena adikku masih ditangkap.


***


“Lo masih nulis cerita?” tanya Dani seketika.


“Yah. Aku gak mau melupakan cerita ini. Lebih baik dari tidak melakukan apapun, bukan?” Ahmad menjawab.


“Lo masih memikirkan adikmu?” tanya Dani.


“Kamu malahan mengingatkanku padanya…”


“Oh ya! Lupa sorry soryy.” Dani tertawa sambil mengusap kepalanya. Ahmad hanya menggeleng gelengkan kepala.


“Eh! Gimana nih lu sama si Ranti! Sudah melakukan perjanjian?” tanya Dani berusah mengalihkan perhatian. Ahmad tidak paham.


“Perjanjian apa?”


“Jangan pura pura tidak tahu! Kasih pajak ya jangan lupa!” kata Dani seraya tertawa. Ahmad menunduk, dan ikut tertawa bersamanya. Kembali.


Tapi kemudian, dia memikirkan adiknya, dan kapan waktu yang tepat, untuk datang menjemputnya. Ketika tiba tiba, lewat ibunya. Dia ingin mengetahui semuanya tentang Rickzan.

__ADS_1


“Bu! Toong ceritakan semua tentang Rickzan bu! Aku butuh informasinya.” Kata Ahmad. Ibunya menggeleng.


“Susah untuk mengingatnya, Ahmad. Maafkan ibu. Tapi aku akan menanyakannya pada ayahmu. Pinjam ipad mu sebentar ya.” Lalu dia berlalu kembali. Ahmad hanya menngangguk. Setelah menyelesaikan urusannya, dia kembali bersama dengan Ayah Ahmad.


“Yah! Kamu masih ingat semua tentang Rickzan? Ahmad membutuhkannya.” Katanya.


“Hmm, bagaimana ya. Aku tidak bisa bercerita dengan baik.”


“Ingat ingat saja, biar alat ini yang menguraikan.”


“Baiklah.”


***


Hujan turun dengan derasnya, ketika seorang remaja, berjalan menyusuri jalanan yang keras. Aku melihatnya, merasa iba. Dia membawa sebuah jam tangan yang Nampak indah. Segera saja kudekati dia dan kuajak berteduh.


“Hei nak!” dia menoleh.


“Karena aku tidak punya siapa siapa lagi.” Jawabnya singkkat. Aku mengangguk.


“Kamu punya uang?” dia hanya menggeleng.


“Kenapa tidak kau jual saja jam tangan itu? Harganya mahal.” Kataku. dia tersenyum sinis.


“Ini satu satunya yang mereka tingalkan! Mana mungkin aku menjualnya!” teriaknya.


“Baiklah nak, siapa namamu?”


“Rickzan.” Itulah saat pertama kali aku menemukannya. Tak kusangka, ternyata dia memiliki mimpi yang mengerikan sampai sekarang.


Hari dan bulan pun berlalu. Aku mengajari Rickzan semua tentang teknologi. Aku memaksudkannya agar dia bisa mencari pekerjaan. Rickzan yang sebelumnya tidak bisa apa apa kini sudah bisa menjadi asistenku.


Ajaranku 5 tahun tenrnyata memang dia cerna dengan baik. Dia memang sangat berbakat, tapi dia memiliki sifat sEdikit pendendam. Pernah suatu kejadian terjadi saat terdapat kontes di suatu saat itu.

__ADS_1


Saat itu, aku sedang mengikuti pameran mobil canggih terbaru. Dan seperti biasa, aku berjalan bersama dengan asisten pribadiku Rickzan. Dia Nampak sangat tertarik dengan seMua teknologi disana. Dan dia juga bisa sangat mudah bergaul.


Dengan cepat, dia mendapatkan beberapa informasi tentang teknologi terbaru itu. Dia sangat cepat belajar. Tapi, ketika dia datang ke sebuah stand, dia mendapat perlakuan yang kurang baik.


“Pergi sana! Kamu bukanlah tingkatanku. Dasar level rendah! Kamu masih amatir saja sudah berani berani datang ke sini.” Kata seseorang, sambil mendorong jatuh Rickzan. Rickzan memandanginya dengan mata penuh amarah.


“Baiklah pak, jika kedatangan saya mengganggu bapak, saya akan pergi.” Katanya. Selang beberapa saat, sang pemilik stand pergi ke luar, entah untuk apa. Rickzan pun segera menghampiriku.


“Permisi pak, saya izin ke toilet sebentar.” Katanya. Aku hanya mengiyakan. Tapi yang aku tahu, keesokan harinya muncul berita sebuah mobil terbaru mendadak terbakar dan berasap ketika sedang di pamerkan di tempat yang kemarin kami kunjungi. Melihat itu, aku kaget dan menoleh ke Rickzan. Dia tersenyum sinis.


“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.


“Apa? Aku? Hanya ingin dia mendapat balasan yang setimpal.”


“Kau tidak bisa melakukannya. Kita sama sama penemu, dan lagi, sifat orang berbeda beda. Kita harus memakluminya.” Kataku memegang pundaknya.


“Ya, dan sifatku aku harus membuatnya merasakan lebih dari apa yang kurasakan. Kau tahu bukan, apa yang dia lakukan kemarin padaku? Dia mempermalukanku dengan caranya. Menyebutku amatir atau level rendah. Biar saja dia mendapatkan malu ketika dia terlalu membanggakan apa yang menjadi miliknya.” Dia kembali tertawa puas.


“Bagaimana caramu melakukannya?” aku penasaran.


“Mudah sekali. Aku hanya menyelipkan sebuah robot kecil serbaguna, yang akan mengintip masuk ke dalam mobil bodoh itu, dan merusak sistemnya sedikit demi sedikit.” Katanya sambil menunjukkan sebuah robot kecil mirip laba-laba.


“Bayangkan pak Arby, robot sekecil ini bisa melakukan hal yang sangat besar. Bahkan kujamin, robot ini mampu membuka kunci brankas sekalipun. Bagaimana, apakah bapak mau memproduksinya dalam jumlah banyak? Kita bisa melakukan apapun yang kita mau. Lagi pula, sekarang kita sedang kekurangan dana. Dan tidak cukup untuk membuat robot ukuran lebih besar.” Katanya sambil mempengaruhiku. Dia benar. Saat itu, adalah saat paling terpuruk dalam hidupku, dimana kami kekurangan dana untuk melakukan sebuah proyek.


“Apa kau gila?”


“Tidak, aku hanya pintar!” katanya memotongku.


“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Tapi, jika kau ingin menjual robot robot itu, silahkan saja. Aku hanya menyediakan bahan bahan dan alat yang ada disini.” Dia terdiam, entah itu mengerti atau merasa dendam.


“Baiklah pak Arby, aku akan mencoba menginvestasikan robot ini.” Katanya dengan nada yang sepertinya menyesal. Aku memandangnya ketika pergi. Dia Nampak baik di luar, namun dia memiliki dendam yang sangat besar di dalam. Dia pasti memiliki rencana yang tidak ku ketahui.


“Sebaiknya aku berhati hati.” Kataku pelan.

__ADS_1


__ADS_2