
PoV: Nadin
“Dasar ga ada akhlaaak! Ngapain kamu bawa aku siiih! Lepasin napa.” Teriakku setelah tidak kulihat kak Ahmad lagi.
“Diaaam! Berisik sekali kau. Diam saja kau disini!” Rickzan menaruhku di sebuah tempat di pesawatnya, yang sepertinya memang dia persiapkan untuk penjara. Aku mengaduh sedikit. Sikutku terantuk sebuah kursi yang terbuat dari logam. Aku mengelus elus sikutku. Setelah itu, kupandangi seluruh tempat itu.
“Woww! Mantap! Bahkan bagian penjaranya pun sangat canggih! Bangaimana dia bisa menjadi asisten! Skillnya bukanlah asisten!” kataku sambil mencoba membuka teralis besi yang membatasiku dengan bagian luar.
Tiba tiba aku terpental, aku sedikit berteriak. Teralis besi itu dialiri listrik, yang mana menyetrumku tadi. Aku kaget. Seluruh badanku mengaduhkan sakit.
“Ha ha ha! Bagaimana rasanya? Menyenangkan? Kau bisa lakukan itu lagi, jika kau mau! Ha ha ha.” Rickzan tertawa puas.
“Hah! Seharusnya aku memikirkannya tadi. Tapi, apakah dia mengawasiku? Aku tidak bisa melakukan apa pun jika dia mengawasiku. Aku harus memikirkan suatu cara untuk bisa lepas dari pengawasannya!” kataku pelan.
Aku kembali berjalan bolak balik di ruangan yang cukup kecil itu, aku meraba saku kananku. Masih ada! Aku bersyukur, Rickzan tidak menyadari, bahwa aku lah yang membawa “time key” itu.
“Apa ku ledakkan saja pesawat ini?” gumamku. Aku kembali memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi.
“Setelah kuledakkan apa yang harus kulakukan? Aku pasti juga sedikit terluka bukan? Sedangkan dia? dia pasti memiliki beberapa pesawat cadangan. Aku pasti akan segera tertangkap jika aku berusaha melarikan diri sekarang. Tapi, kapan aku harus memulainya.” Batinku.
Aku kembali bingung, mengacak acak rambutku. Ingin sekali kuhancurkan pesawat ini bersama dengan Rickzan. Tapi itu pasti akan membunuhku. Bagus jika Rickzan ikut bersamaku. Jika tidak? Pengormbananku sia sia.
“Kalau aku mengeluarkan alat alatku sekarang, dia pasti akan tahu, bahwa aku masih memiliki senjata. Apakah berarti aku harus menunggu sampai waktu yang tepat?” kembali, waktu menjadi masalahku. Memang sepertinya, semua masalahku berhubungan dengan waktu. Waktu yang membuatku gagal memperbaiki mesin waktu, dan waktu pula yang telah membawa kami semua kesini.
“Apakah nyaman disana?” tanya Rickzan, menghampiriku.
“Apa yang kau inginkan?!” aku segera beralih menatap wajahnya.
“Luar biasa luar biasa. Kau mekanik cilik yang sangat berbakat. Bagaimana kalau kau menjadi muridku? Ha ha ha.” Katanya sambil melirikku.
“Kutanya sekali lagi. Apa yang kau inginkan!” teriakku.
“Apakah kau tidak mendengarnya tadi? Aku menginginkan kunci waktu! Kunci agar aku bisa kembali ke masa depan, dan menjadi penguasa dunia ha ha ha.” Katanya sambil menggerakkan sebuah lengan mekanik di dalam penjara itu. Lengan itu menujuke arahku, dan mengambil ipadku. Sial! Dia tahu ipadku itu benda istimewa.
“Pintar. Sangat pintar. Bagaimana kau bisa mengubah ini menjadi senjata? Sangat pintar. Kau mungkin mirip denganku di waktu kecil.” Sepertinya,dia akan bercerita.
__ADS_1
“Apa kau akan membunuhku?” tanyaku pelan. Sebenarnya aku tahu, dia tidak ingin melakukannya.
“Untuk apa aku melakukan itu? Aku lebih suka negosiasi. Aku menukarmu dengan time key. Itu saja. Sangat mudah. Kau tahu apa? Sesuatu yang lebih kejam dari aku? Waktu. Waktu jauh lebih kejam dari seluruh manusia yang ada di bumi. Bayangkan saja. Berapa banyak orang yang kehilangan nyawa hanya karena kekurangan waktu sedikit saja.” Dia menghela nafas.
“Waktu itu kejam. Jika tidak tepat, nyawamu hilang. Kau harus tepat waktu atau kehilangan nyawamu. Aku bahkan hanya terlambat beberapa detik ketika aku membawa sesuatu yang sangat dibuthkan saat itu. Dan hanya terlambat beberapa detik, aku kehilangan mereka.” Dia mulai menitikkan air mata, sambil mengusap sebuah jam yang tampaknya sudah tua. Aku mulai mengerti apa yang terjadi.
“Kalau saja aku memiliki lebih banyak waktu, tidak perlu begini.” Katanya, dia membanting hancur ipad ku dan berlalu begitu saja.
“Begitukah? Jadi dia menyalahkan dunia atas semua itu? Haha menyedihkan.” Kataku seraya memperkeras suara di bagian “menyedihkan” . tapi tetap saja, dia tidak kembali. Hufft, kenapa dia tidak kembali? Padahal aku berniat untuk memancing emosinya.
“Baiklah sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Dia pasti sedang pergi entah kemana. Aku harus membuat bom atau sesuatu agar aku siap untuk megancamnya. Sayang, aku tidak memiliki peralatan atau bahan bahan apapun. Aku merasa lelah, tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Mungkin menunggunya kembali agar aku bisa membuatnya membuka pintu sel ini. Sekali pintu sel terbuka, aku akan kabur!
“Oooi!” aku berteriak.
“Oooooi!” kali ini lebih keras.
“Heii! Bapak tuaaa!” teriaknya membuat gema di seluruh ruangan. Aku yakin dia pasti akan segera datang.
“Jangan berteriak disini! Suaramu menghancurkan gendang telingaku!” dia segera menekan beberapa tombol. Dan seketika, sekelilingku tertutup benda yang menurutku peredam suara. Namun setelah itu, srett! Listrik mengalir, membuatku kaget dan terkulai lemas. Aku seketika berteriak. Tangan dan kakiku serasa mati rasa.
“Berteriaklah sekali lagi dan kau akan mendapatkannya lagi.” Katanya.
Ketika badanku tidak bisa bergerak, mulutku yang kini banyak bergerak, mengucapkan ribuan sumpah serapah yang kutujukan untuk Rickzan. Setelah beberapa menit, aku mulai bisa menggerakkan tanganku. Sebenarnya, inilah maksudku untuk berteriak tadi. Tapi, aku tidak mengira jika sampai dia menyetrumku.
“Dasar tua ga ada akhlak! Awas aja luu. Tunggu aja!” kataku geram.
“Sekarang, kita harus bikin sesuatu.” Kataku. aku kembali meraba sakuku. Kuambil benda itu. Aku tak menyangka, benda yang lebih mirip busi motor itu merupakan benda yang sangat berharga.
“Naaah! Waktunya april mop!” segera aku membuat apa yang ada didalam pikirku. Aku segera mengantongi benda ajaib selanjutnya. Tiba tiba, aku merasakan getaran.
“Apakah pesawat ini sudah mendarat? Inikah tempat dimana kita akan pulang? Aku mengintip dari balik jendela berteralis besi.
Siapa sangka, area persawahan bisa menjadi tempat yang sangat penting? Aku mendengus kesal. Disinilah aku, menjadi barang bernegoisasi. Hufft kenapa harus aku sih? Ini orang kayaknya punya alas an tersendiri.
“Hei!” kataku pada Rickzan. Dia bersiap menekan tombol.
__ADS_1
“Eh jangan jangan! Cuma mau tanya.” Dia melirikku
.
“Apa sebenarnya rencanamu? Kenapa kau memilihku untuk dijadikan pertukaran?” tanyaku, ingin mengetahui rencanyanya sebenarnya.
“Rencanaku? Kau tanya rencanaku? Ha ha.”
“Tidak boleh kah?”
“Baiklah, karena sepertinya ini akan menjadi kisah yang menarik. Kuceritakan dari awal. Apa kau pikir, aku mau menjadi asisten? Tentu tidak! Aku bukanlah asisten ayahmu! Aku hanya ingin masuk ke sana dan menjalankan rencanaku.” Katanya.
“Apa yang kau katakan?”
“Kejadian itu, kejadian kakakmu kali ini, semua sudah kurencanakan.”
“Apa?!” aku kaget. Untuk yang ke dua bukan yang pertama.
“Yah. Aku mengakui bahwa ayahmu sedikit lebih pintar dariku. Dia mampu menemukan kunci kembali ke masa depan, yang tidak pernah kutemukan. Beruntung, para petinggi bodoh itu tidak mau mendengarkan perkataan Arby. Arby yang malang. Kau tahu? Karena dia satu satunya yang paham atas hal ini, maka dia harus ku lenyapkan.” Aku memandangnya dengan penuh amarah.
“Tapi seperti yang kubilang sebelumnya, aku menyerahkan kepada waktu yang mengambil alih tugasku. Seperti yang kau tahu, aku berhasil membuat perusahaan terbesar di dunia perpindah padaku. Dan kau pasti mengerti berapa banyak yang kubutuhkan untuk membuat semua ini.” Lanjutnya.
“Kau sengaja melakukannya!”
“Sepertinya kau sudah mengetahuinya.”
“Kau sengaja untuk masuk ke dalam penjara waktu ini, agar kau bisa membangun semuanya tanpa terdeteksi siapapun!” teriakku. Amarahku memuncak. Tapi aku tahu, selama aku masih disini, aku tidak bisa melakukan apapun.
“Pintar sekali kau bocah! Seperti yang kau ketahui, aku sudah membuat banyak sekali benda benda yang kubutuhkan. Kau tahu apa? Sumber daya yang ada di zaman ini sangat melimpah. Mudah sekali aku menemukan barang barang langka. Sebelum aku masuk ke zaman ini, aku juga sudah memprogam cara membuat mesin waktu, menjadi seperti milikku. Dan ternyata, kakakmu yang mendapatkannya. Sayang sekali. Keluargamu memang menyedihkan.” Kembali aku terkejut dengan ucapannya.
Berarti, mesin waktu milik kakak sudah dia rencanakan sebelumnya? Sepintar apakah dia ini?
“Lalu kenapa aku yang kau ambil?” aku sudah mulai kehilangan kesabaran.
“Kau pikir aku bodoh? Ha ha ha. Kau ini merupakan keturunan ayahmu! Sangat jenius. Itulah kenapa aku mengambilmu menjadi barang pertukarannya. Ketika tidak ada kau, kakakmu pasti akan bertindak gegabah, dan segera menyerahkan kunci waktu padaku. Sedangkan Arby dan Amy tidak akan bisa berbuat apa apa.” Katanya.
__ADS_1
“Jangan sebut nama orang tuaku!” teriakku.
“Setelah aku berhasil menaklukkan beberapa negara besar, maka selanjutnya semuanya akan menjadi milikku. Dan keluargamu hanyalah bagian dari sejarah yang akan terlupakan bersamanya. Selamat malam.” Ucapnya sebelum kembali menyetrumku. Benar saja. Aku merasa tidak bisa bergerak, dan seluruh dunia menjadi gelap.