Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 31


__ADS_3

"Time hole!" semuanya dengan cepat berlari masuk. Di dalam melihat sebuah benda mirip tower, yang mengambang tenang dengan cahaya biru di sekitarnya. Ada sebuah lubang di atasnya yang kemungkinan itu adalah tempat menaruh time key.


"Benar! Ini time hole! Kita menang!" Teriak Dani kegirangan.


"Belum! Kita harus beritahu Nadin dahulu! Jangan kira menang sebelum kita pulang!" Ranti berbicara realistis.


***


"Sudah kuduga lalat kecil jika tidak punya sayap tidak akan berguna!" Rickzan masih tertawa pelan sambil berjalan ke arah Nadin.


"Berisik!" Nadin menyerang Rickzan dengan kedua senjatanya. Dia berlari perlahan mundur menjauhi Rickzan. Sepatu sebelah kirinya gini rusak, tersisa sepatu kanannya yang masih sedikit bisa berfungsi.


"Sudah kukatakan bukan? Kalau itu tidak berguna! Jadi, tenanglah dan rasakanlah hadiah dariku, Nadin!" Rickzan mengangkat tangan bersiap untuk menyerang.


Ziing! Terasa energi yang sangat kuat berasal dari gedung. Bukan hanya Nadin, Rickzan juga merasakan itu dan memberhentikan serangannya. Ekspresinya berubah yang tadinya terlihat senang kini terlihat muram.


"Energi ini?!" Rickzan menggumam perlahan sambil beralih berjalan ke arah gedung.


"Kalian berhasil ya, teman teman?!" Nadin tersenyum perlahan sambil berusaha berlari mencegah Rickzan.


"Hei mau ke mana kau!" Nadin berlari untuk menghadang Rickzan. Rickzan hanya mengibaskan nya seperti itu adalah hal yang sangat mudah.


Nadin terhempas ke samping. Tapi, serangan seperti itu tidak akan menyurutkan semangat Nadin. Dia tetap berlari untuk menghadang di depan Rickzan. Sampai akhirnya ini ketiga kalinya Nadine menghadang jalan Rickzan.


"Minggir!" Rickzan kehilangan kesabarannya dan menyerang Nadin dengan pistol yang berubah ditanganinya. Menerima itu Nadin langsung membentuk perisai dengan armornya. Namun, kekuatan tembakannya jauh lebih besar dari kekuatan perisai Nadin.


Nadin terlempar ke belakang, sangat jauh bila dibandingkan dengan yang sebelumnya. Perisai yang dibuat untuk melindungi dirinya rusak parah. Terlihat jelas bagaimana kekuatan Rickzan saat ini.


Beruntung, dia terlempar ke arah Arby dan Amy, yang dengan segera berlari dan berteriak ke arah Nadin.


"Nadin! Apa kau baik baik saja?" tanya Amy sambil berusaha membopong Nadin. Nadin tampak sudah tidak bisa bergerak, dengan armor yang penuh derit dan listrik saling menyambar. Selain itu, kesadarannya juga mulai menghilang.


"Nadin?!" Ahmad segera berlari, ketika melihat adiknya yang terlihat sudah mencapai batas maksimalnya. Nadin bahkan tidak bisa menjawab perkataan Ahmad. Dia hanya diam, sambil menutup matanya. Bukan pingsan, tapi dia sedang berusaha meredam rasa sakitnya dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Nadin!" kini Ranti dan Dian yang berteriak. Dani yang melihat itu, segera panik.


"Dani! Tolong bawa Nadin ke dalam. Aku akan menahannya sebentar sambil mundur!" kata Ahmad sambil menatap tajam Rickzan. Dani sudah mulai menggendong Nadin dengan gendongan samping.


"Kakak! Kau lupa rencananya? Yang menahan bukanlah kakak! Ayah dan ibu! Selain itu," Nadin tiba tiba membuka matanya, dan melucuti armornya. Semua terkejut melihat pemandangan itu.


"Last Version: Max Deffence (Great Barier)" Nadin berbisik perlahan.


Tiba tiba, semua zirahnya terlepas, dan berpecah menjadi bagian bagian kecil. Itu melayang tenang sambil perlahan membentuk sesuatu yang baru.


Sesuatu yang berbentuk belah ketupat dengan besar hanya sekepal tangan. Sulit dipercaya bahwa ini adalah benda yang dibuat Nadin melindungi tubuhnya tadi.


"Ayah, ibu! Gunakan ini. Ini akan membentuk penghalang transparan yang bahkan tidak bisa ditembus oleh serangan dengan ledakan big bang sekalipun!" kata Nadin menyeringai sambil sedikit bercanda.


"Ini?!" Arby menatap benda di tangannya dengan mata bersinar.


"Wah wah! Apa aku mengganggu reuni keluarga ini? Maafkan aku." kata Rickzan dari kejauhan sambil menundukkan kepalanya. Ahmad hendak berdiri, menjawabnya. Tapi hanya ditahan oleh Arby.


"Keluarga, kah?" Rickzan menggumam perlahan ketika mendengar kalimat itu. Dia serasa bernostalgia dengan itu, mengingat masa masa dulu. Dia sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Dia hanya ingin balas dendam pada orang orang yang dulu menahannya, membuat dia tidak bisa tepat waktu datang.


Orang yang sudah memukulinya dijalan ketika dia berlari mengantar obat. Orang orang yang memakainya. Dia ingin mereka merasakan penderitaan, sama seperti penderitaan Rickzan yang kehilangan ibunya hari itu.


Demi ambisinya itu dia berniat menghancurkan dunia, dan menyalahkan waktu atas itu semua. Dia juga bertekad untuk menghapus sistem waktu, karena dianggapnya tidak adil. Sampai dia melupakan sesuatu yang ada sejak saat dulu di depan matanya.


Rickzan tersenyum mengingat itu semua. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga adalah manusia yang pernah merasakan kehangatan dan kasih sayang.


"Sayang sekali, Proffesor. Muridmu itu tidak bisa mendapatkan hak paten untuk armor ini! Dia kalah denganku, kau tahu?!" Rickzan terkekeh menunjuk Nadin yang masih setengah sadar.


"Festival Reicon, ya?" tebak Arby perlahan.


"Tapi kuakui, dia sangat pintar. Dan semua yang dia buat sangat merepotkan. Akan berbahaya jika dia memiliki waktu untuk mengembangkan miliknya lagi. Kau memang benar benar guru yang hebat, Proffesor!" Rickzan tersenyum.


"Wah wah! Aku merasa tersanjung jika kau berkata seperti itu. Kau tahu, aku bisa dibilang penjahat jika mengajari anak dibawah umur teknologi, Lo! Jadi, Nadin saat ini bisa dibilang bukanlah peneliti!" kelit Arby.

__ADS_1


"Oh ya? Aku merasa rendah jika hampir dikalahkan oleh orang yang bukan peneliti!" Rickzan kembali berkata.


"Untuk sebuah kutipan dariku. Dia sangat merepotkan. Jadi aku tidak bisa menyangkal jika di masa depan dia akan mengalahkanku! Waktu itu memang kejam, bukan?" Rickzan tertawa lagi, kemudian berlari maju.


Begitu juga dengan Ahmad dan yang lainnya, mereka segera mundur dengan cepat, berlari dari tempat mereka berdiri sekarang.


"Lari! Kami akan melindungi kalian!" Arby berteriak sambil menyiapkan senjata plasma nya, menembaki Rickzan. Dia juga membuat sebuah prototype pelindung, bersama dengan Amy. Membuat itu bisa melindungi mereka ketika mereka semua berlari. Mereka benar benar pasangan peneliti yang hebat.


"Aaargggh!" Rickzan yang tertembak bagian kakinya oleh Arby meraung marah. Setelah itu, serangan dari Arby dan Amy memberondong Rickzan yang tertekuk. Itu sangat tepat dan mengincar persendian dari armor Rickzan.


"Jangan menggangguku! Jika aku tinggal, kalian juga seharusnya tinggal, bukan?!" teriak Rickzan, melepaskan gelombang kuat dari zirahnya. Itu membuat pelindung yang dibuat pasangan itu hancur dengan suara berisik.


"Sial! Zirah itu terlalu kuat! Mustahil untuk bisa menahan nya!!" Teriak Arby sambil perlahan menyiapkan alat Nadin untuk dihidupkannya.


"Kalian semua cepat lari! Di sini serahkan saja kepada kami. Kami akan kesana setelah memasang pelindung ini!" Satria Arby sambil terus menembak.


"Mengerti! Biar kita yang mengurus time hole! Jadi kalian berdua cepatlah kami akan menunggu kalian!" teriak Ahmad memimpin teman-temannya.


Mereka terpisah menjadi dua tim saat itu. Amy dan Arby bertugas membentuk menahan Rickzan. Mereka sepertinya memiliki rencana tersendiri. Amy juga sempat mengambil bom di leher Nadin. Tapi Nadin tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?


"Amy! Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu!" Arby berteriak sambil melempar iPad dari tasnya.


Sementara itu Ahmad dan lainnya segera mengaktifkan time hole. Mereka mengatur waktu agar cukup dibuat untuk menunggu orang tua Ahmad.


"Ahmad! Sudah selesai! Kau bisa memanggil mereka!" Teriak Ranti. Ahmad yang mendengar itu hanya mengangguk, lalu berlari kearah orang tuanya.


"Ibu! Ayah!" Ahmad sampai dengan cepat.


"Ah! Ahmad! Beruntung kau datang cepat!" Arby berteriak memanggil Ahmad. Di sana sudah terdapat sebuah pelindung berbentuk kubah terlihat sangat kuat. Mungkin itulah pelindung yang dimaksud Nadin.


"Ahmad. Ibu titip iPad ini. Berikan pada Nadin ketika kalian sampai di rumah!" Amy terus mengambil iPad dan memberikannya pada Ahmad.


"Eh?!" Ahmad hanya memandang aneh.

__ADS_1


__ADS_2