
"Disini Ahmad. Apa kau baik baik saja, Nadin?" Ahmad berusaha menghubungi adiknya ketika dia mendengar suara keras dari area pertempuran.
"Untuk saat ini, aku masih baik baik saja. Bagaimana disana!" Nadin menjawab dengan suara serak.
"Kami belum menemukan time hole! Kalau begini terus matahari akan segera terbit!" Ahmas berteriak panik.
"Baiklah kak. Aku akan mengulur waktu lebih lama lagi. Aku sedang menyudutkan Rickzan, tapi aku yakin keadaan akan berbalik jika matahari terbit. Walau milikku juga sebenarnya mampu mengisi daya menggunakan cahaya matahari, tapi itu belum seberapa jika dibandingkan dengan milik Rickzan!" kata Nadin sambil menutup komunikasi, kembali fokus ke pertarungan.
Ahmad menarik nafas, mencoba melonggarkan paru parunya, menurunkan tensi nya. Memang benar, jika mereka bekerja di bawah tekanan, tidak ada hal baik yang akan terjadi.
"Baiklah semuanya! Jangan bekerja dengan terlalu tertekan! Berpikirlah dengan baik! Nadin menyediakan waktu lebih untuk kita!" teriak Ahmad menggema di seluruh gedung.
"Bukankah itu membuat kita menambah beban untuknya?" tanya Ranti.
"Tidak! Jika Nadin bilang dia sanggup, maka kita harus percaya! Selain itu, mencari dengan kepanikan hanya membawa kegagalan! Cari menggunakan otak!' kata Ahmad tegas, mengkomandoi semua teman temannya. Mereka yang mendengar itu mangangguk yakin, dan kini tidak bergerak sembarangan, tapi cukup teratur.
"Berhati hatilah, Nadin!' Ahmad menyempatkan dirinya untuk berdoa sebelum melanjutkan bagiannya.
***
"Bajingan kau Nadiin!!" Rickzan masih berteriak marah ketika zirah tangan kirinya dihancurkan, semakin memperlambat proses regenedasi zirahnya.
"Apakah kau masih akan terus terusan bermain seperti itu?" tanya Nadin mencemooh, kembali berusaha memancing emosi Rickzan. Memang, kalau dilihat dari segi emosi, kini Rickzan sudah mulai terpancing, karena kini keadaan menguntungkan Nadin.
"Diam kau!" Rickzan masih berteriak marah.
"Apakah kau sudah menyadari, bahwa aku adalah lawan yang harus kau lawan dengan seluruh kemampuanmu?" Nadin tetap melayang tenang sambil membidik Rickzan dari atas.
"Ya! Aku tahu! Aku tahu semuanya!" Rickzan terus berteriak tidak karuan.
"Hei! Bukannya kau bisa berhenti di sini?" Nadin berusaha untuk mempengaruhi Rickzan. Dia tahu, bahwa kini keadaan emosi Rickzan dalam kacau kacaunya. Disaat inilah orang akan mengikuti orang lain yang memberikan tangan padanya.
Nadin tahu itu, karena dia pernah merasakannya. Di pernah merasa hancur dulu, ketika semua orangtuanya hilang, terbawa dalam insiden. Kecelakaan yang dirancang oleh Rickzan.
Dan ironisnya, Rickzan yang pertama mengulurkan tangan padanya.
Nadin juga hampir mengikuti Rickzan, sampai dia kembali ke kesadarannya, dan mulai berpikir logis. Disanalah kemudian Ahmad datang, untuk menunjangnya.
"Kembali? Apa kau bodoh!" Rickzan masih. Berteriak, tidak terima.
"Sudah kuduga akan sulit untuk bicara denganmu!" Nadin sebenarnya enggan untuk menutup pembicaraan, karena ini adalah peluang yang bagus untuk mengulur waktu. Kalaupun dia menyerang, dia tidak akan menang, dan hanya membuat Nadin masuk ke dalam jebakannya.
Sebenarnya, Rickzan memiki kartu truf, yang enggan diperlihatkan pada Nadin. Dia memiliki rencana tersendiri untuk mengeluarkannya.
__ADS_1
"Ahh, kau pasti akan mengambil zirah tambahan jika aku mulai mendekat untuk menyerang, bukan?!" Nadin mulai memancing.
"Ha ha?! Bagaimana kau bisa tahu?" Rickzan sedikit terkekeh, dan kini memanggil kartu truf nya. Zirah cadangan. Kemudian lempengan lempengan yang terbang itu menempel satu sama lain dengan zirah sebelumnya. Membuat tubuhnya kini kembali terselimuti zirah, dan kini tangan kanannya yang tertutup, mempertimbangkan kondisi tangan sebelah kirinya.
"Kau tahu? Aku ini junior mu lho!" Nadin tersenyum mengangkat satu bibirnya ke atas.
"Junior, kah?" Rickzan tak urung pun tersenyum. Dengan tangan kirinya yang mulai beregenerasi, tapi tidak cukup cepat untuk dikhawatirkan oleh Nadin.
"Kau tahu? Aku menjadi teringat festival Reicon!" teriak Rickzan lagi.
"Festival Reicon?" Nadin menggumam. Dia merasa bahwa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, karena sempat ada di pelajaran ibu Indah. Tapi, apapun yang dikatakan Ibu Indah tidak akan pernah masuk pada Nadin.
Festival Reicon adalah festival dimana para peneliti mengadu alat temuannya. Apapun itu, asalkan sejenis bisa diadu, untuk mendapatkan hak paten atas penemuannya itu.
"Ahh! Kau benar aku ingat sekarang." Nadin mengetukkan tangan ke jidatnya, karena butuh waktu lam untuk mengingat.
"Ya kau benar! Kita berdua peneliti, dan kita sama sama membuat ini. Walaupun aku adalah yang pertama membuat ini, tapi dalam festival Reicon itu tidak akan berpengaruh!" Rickzan terenyum penuh arti sekarang.
"Dengan kata lain, kau juga mempertaruhkan hak paten atas zirah ini, ya?" Nadin menahan untuk tidak tersenyum senang.
"Itu benar, Nadin! Naah! Sekarang, datanglah padaku. Aku akan meladeni dengan serius kini. Akan kutunjukkan kemampuan asli dari zirah ini!" Rickzan mengoceh dengan tangan kiri terkulai. Nadin hanya terkikik.
"Baiklah jika itu permintaanmu! Aku akan mengabulkannya!' kata Nadin memecah kebuntuan dengan terbang menukik, sambil menghujani Rickzan dengan tembakan.
"Ha ha ha! Mari kita nikmati ini! Pertarungan antara kedua peneliti! Teriak Rickzan sambil maju menyiapkan tangan kanannya untuk menerjang Nadin.
***
"Tidak. Dan kau pasti juga tidak. Aku sedikit mengharapkan pada dua orang lainnya!" Ranti mulai menebak nebak.
Walau dikatakan untuk tidak tergesa gesa, tapi mereka sudah hampir kehabisan waktu. Bahkan mereka yang sekarang sudah tidak bisa untuk santai lagi. Dengan kata lain, mereka panik.
"Teman teman!" Dani berteriak, dengan berlari dan nafas tersengal senggal. Di belakangnya ada Dian yang mengikutinya dengan tatapan tidak mengenakkan. Kalau dari ekspresi Dian, dapat diketahui apa yang dia dapat.
"Bagaimana?!" Ahmad segera memotong.
"Tidak ada! Gedung ini memiliki banyak sekali ruangan! Susah untuk menemukannya! Dan sebagian besar masih bisa dibilang utuh! Aku tidak akan bisa menemukan sesuatu jika seperti ini!' teriak Dani, mengelap keringatnya di dagu.
"Bagaimana ini? Kita belum mendapatkan kemajuan apapun, sedangkan Nadin terus menerus mengulur waktu untuk kita!" Dian terlihat sangat khawatir. Dia mengkhawatirkan keadaan Nadin
"Mau bagaimana lagi! Kita hanya bisa terus mencari! Jika kalian mengkhawatirkan Nadin, cari bukan hanya cepat, tapi tepat! Mari kita pikirkan bersama terlebih dahulu!" kini Ahmad memberikan beberapa saran.
"Baiklah. Ayo kita pikirkan bersama. Kalau bersama, aku yakin ada sesuatu yang datang." Ranti mendekat, dan duduk menyebarkan data di ipadnya ke sebuah hologram di depannya.
__ADS_1
"Kau lihat. Di peta titik merah ini berada di dalam gedung. Tapi sayangnya, ini tidak mencakup peta 3 dimensi, membuatnya sulit." jelas Ranti.
"Kalau begitu, kita harus pikirkan dari awal, apa ruangan ini!" Ahmad menjembatani perencanaan itu dengan cepat.
"Apa akan tepat jika dikatakan gedung apakah ini?" Dani memperjelas pertanyaannya.
"Apakah ini gedung pemerintahan? Yang dibuat untuk penguasa negara atau semacamnya?" tanya Ranti dengan aktif mengemukakan pendapat nya.
"Bisa jadi begitu. Letak dari gedung ini terkira berada di kawasan luas yang dibuat seperti istana negara. Dan ada kemungkinan seperti itu. Lalu bagaimana dengan time hole itu sendiri?" Ahmad kembali bertanya.
"Yahh, seperti yang kita tahu, time hole sepertinya selalu dekat dengan tanah. Jadi kemungkinannya hanyalah di lantai satu. Kemungkinan time hole berada di lantai dua itu cukup, bahkan sangat kecil," jawab Ranti lagi.
"Kalau begitu, kita katakan saja bahwa time hole berada di lantai satu, apakah kita harus membuka seluruh gedung ini?" tanya Dian heran.
"Tidak. Kita harus fokus untuk mencari sesuatu sekarang. Jika tidak, tidak ada bedanya dengan yang tadi," sekarang Dani yang menjawab.
"Tapi, apa yang menjadi perbedaan antara gedung istana negara dengan rumah lainnya?" Ahmad kini menyudutkan jawaban. Mereka semua segera memikirkan sesuatu yang bisa saja terjadi.
"Tempat orang penting?"
"Banyak orang berkumpul disini?" satu persatu dari mereka mengemukakan pendapat mereka. Tapi tidak ada yang dirasa tepat untuk itu semua.
"Bagaimana dengan ruangan rahasia?" Dian kini berbicara. Semua perhatian pun kini tertuju padanya.
"Yah, begini! Kalau disini adalah tempat orang penting berkumpul, bukannya keselamatannya menjadi prioritas yang ada di dalam gedung ini? Dan jika memang ada, pasti di ruangan ruangan yang penting!" Dian kini semakin meninggikan kata katanya.
"Dengan kata lain, ada beberapa tempat tersembunyi yang bisa saja belum kami temukan?" Dani menggumam perlahan.
"Kau benar Dian! Kau sangat jenius!" teriak Ranti memuji Dian.
"Baiklah semuanya! Cari tempat tempat yang memungkinkan adanya ruangan tersembunyi! Dengan begini, kita bisa mempersempit pencarian! Pencarian, dilaksanakan!" teriak Ahmad Membakar semangat teman temannya.
***
Nadin melompat turun, menerjang maju sambil terus menembakkan senjata dua tangannya ke depan. Rickzan menerima itu semua dengan tangan kanannya, dan tangan kiri yang kosong dengan zirah memeganh sebuah perisai bersimbolik indah.
"Aku mendapatkanmu sekarang!" Rickzan mencapai Nadin, lalu segera melompat menghujamkan pukulan beruntun pada Nadin.
"Apakah kau lupa?" Nadin melesat, mengubah kedua senjatanya menjadi pedang. Kini Nadin membawa pedang di kedua tangannya, tapi itu semua berlangsung sangat cepat, ketika seketika Nadin berada di belakang Rickzan, mengayunkan pedangnya untuk mengakhiri perlawanan Rickzan.
"Senjatamu, berganti?!" kata Rickzan tajam sambil menggeser posisi tubuhnya. Sayang, serangan Nadin hanya terkena bagian bahu Rickzan, menghancurkan armornya. Terpaksa, Rickzan melompat mundur.
"Luar biasa! Dari segi persenjataan, kau kuakui menang. Sepertinya aku harus menggunakan persenjataan penuhku juga ya?!" Rickzan tertawa keras dan mengacungkan tangan kanannya.
__ADS_1
Dia mengubah ujung tangannya menjadi bentuk bilah panjang, dengan cepat membidik Nadin. Itu adalah senjata yang mampu menembak dengan kecepatan cahaya, dan itu secara langsung diarahkan kepada Nadin.
"Naah, Nadin! Sekarang, matilah!" Rickzan berteriak senang.