Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 26


__ADS_3

"Kita harus berjalan di bawah lapagan yang memiliki penerangan seperri ini?" jerit Dani yang lebih mirip seperti pernyataan kematian.


"Kita sudah susah susah bersembunyi, dan ini yang didapat? Bagus!!" Dani mendesah putus asa. Dia terduduk, dengan ekspresi bermasalah.


"Tidak! Masih ada harapan! Kau tahu, di dalam gedung di tengah sana, ada time hole! Dengan bisa mencapainya kita dapat bisa kembali!" Ranti menunjuk sebuah bangunan mirip gedung yang masih setengah utuh di ujung lapangan itu.


"Tapi, bagaimana kita bisa lewat ke sana tanpa diketahui, bukankah itu mustahil?" Dani bertanya, memperhatikan Ranti.


"Memang benar," Amy tidak bisa menyangkal hak tersebut.


"Dan juga, Rickzan sudah mengetahui hal ini dan berjaga jaga disana!" Dani yang sedari tadi mengawasi lingkungan mengemukakan hasilnya.


Mereka semua terdiam, berusaha untuk berfikir keras. Dani yang biasanya mudah putus asa kini bisa berpikir dengan tenang.


"Apa kita memutar saja?" tanya Ahmad sambil mengangkat tangan.


"Tidak. Itu akan memakan waktu. Jika kita melakukan itu, kita akan bertemu masalah baru, yaitu fajar. Dengan itu, Rickzan bisa meluluhlantakkan semua ini dengan kemampuannya!" Nadin menjelaskan dengan wajah bingung.


Mereka semua kembali terdiam, memikirkan segala cara yang mungkin untuk mereka lakukan. Apapun untuk mereka bisa pulang.


Dan kemudian, Dian yang sedari tadi diam menyadari sesuatu.


"Mungkin bukan masalah bagaimana kita menjadi tidak terlihat," Dian menyatakan pikirannya dengan takut takut.


"Tapi waktu yang membuat kita tidak terlihat," Dian melanjutkan dengan suara yang semakin memelan. Namun sepertinya mereka tidak mengerti apa yang ingin diucapkan Dian.


"Ahh! Maksudku, bagaimana jika kita menaruh umpan supaya Rickzan bisa fokus pada arah lain, selama itu kita berlari ke time hole dan mengaktifkannya. Seperti melempar batu, atau granat yang bisa membuat keributan!" kata Dian yakin.


"Dengan kata lain, membuat umpan, ya?" tanggap Dani.


"Aku tidak memikirkan hal sekejam itu," Dian membalas dengan wajah datar menghadap Dani. Semuanya memiliki ekspresi sulit sekarang.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain, bukan?" Amy sekarang memecah keheningan.


"Tapi, siapa?" Dian memberikan pertanyaan yang berat. Ini berarti misi pengalihan. Dengan kata lain, ini adalah misi bunuh diri. Pasti, tidak ada yang menginginkan itu, bukan?


Suasana menjadi kelam. Sedikitnya ada beberapa pilihan disini. Masing masing dari mereka takut, jika ini menjadi sesuatu seperri pengorbanan. Sulit untuk melakukan itu.


"Biar aku saja!" kata Ahmad yakin.


"Alasannya?!" Amy segera bertindak.

__ADS_1


"Aku yang sudah membawa mereka kemari. Aku setidaknya harus berguna untuk kita semua bisa kembali sekarang. Tidak ada yang lain yang cocok untuk misi ini!" kata Ahmad dengan tatapan tajam di matanya.


"Bukankah kita sudah membahasnya? Ini bukan kesalahan siapapun! Jika ada yang patut disalahkan, salahkan Rickzan. Bukan kau!" Ranti jelas jelas menolak ide tersebut.


"Dan juga Ahmad. Apa yang bisa kau lakukan untuk menahannya?" sambung Amy.


"Aku tahu pasti ada jalan!" Ahmad tetal ngotot untuk melakukannya.


"Tapi-"


"Biar aku saja!" Nadin memecah perdebatan diantara mereka, membuat mereka semua terdiam dengan taham menatap Nadin.


"Apa maksudmu?! Kakakmu yang laki laki saja aku tidak mengizinkannya begitu saja! Apa yang membuatmu berpikir bisa melakukan ini?!" Amy mengamuk, mendengar keputusan anaknya.


"Itu benar! Apa kau pikir kami akan membiarkannya?!" kini Arby yang sedari tadi terdiam sekarang buka suara.


"Tidak bisa! Kamu berada disini karena kakak! Setidaknya, biarkan kakakmu ini mengatasi kesalahannya! Jangan biarkan kakak menjadi seorang pengecut seperti ini!" Ahmad berteriak, memgang bahu adiknya


Suasana hening sesaat, menyisakan suara angin berhembus pelan. Nadin tidak menjawab, dan tidak merespons apapun. Adapun yang lain di sana hanya bergetar menatap ke bawah dengan tatapan keputus asaan.


"Sudah?" Nadin tersenyum perlahan.


"Sudah hanya itu cara kalian menahanku pergi?" tanya Nadin dengan kalimat menantang. Yang lainnya hanya berpandangan satu sama lain.


"Baiklah. Apa yang ingin kau katakan?" Ahmad bertanya dengan nada kesal, sambil menutup sebelah matanya.


"Alasanku. Ini adalah yang sangat mendasar, membuatku mengajukan diri. Pada dasarnya, Rickzan mengejar kita sampai sekarang ini, karena dia dendam kesumat denganku. Jadi sekeras apapun kak Ahmad menariknya, dia akan tetap mengejarku," semua terdiam mendengar itu.


Memang benar, bahwa itu yang ditargetkan Rickzan. Mereka semua sudah tidak bisa lagi berkata kata.


"Tapi, tapi!" Ahmad masih tidak bisa menerimanya.


"Dan juga kak Ahmad," Nadin berhenti sebentar, lalu mulai membuka pakaian yang kini dia pakai. Terlihat kaos hitam yang dia pakai, penuh dengan senjata senjata mutakhir buatan Nadin. Jika dilihat, seperti inilah Nadin yang sebenarnya.


"Jika kakak memiliki perlengkapan seperti ini, aku bisa mengalah dan mempersilahkan kakak menggantikanku." kink Nadin berkata dengan tajam.


Ahmad hanya terdiam melihat itu semua. Dia sedikit merasa kesal.


"Bagaimana? Apa ada pertanyaan lagi?" Nadin menutup penjelasannya dengan pertanyaan yang menyudutkan, yang merupakan ciri khas nya.


Mereka semua hanya terdiam, saling berpandangan. Mereka saling menunggu salah satu dari mereka memulai, karena memang tidak ada keberanian di sana.

__ADS_1


"Kalai itu Nadin, aku yakin kau bisa! Kami serahkan Rickzan padamu, dan sebagai gantinya, serahkan soal menemukan time hole pada kami! Bagaimana?!" Dina mengawali dengan tersenyum, mengepalkan tangannya.


"Dian? Terima kasih banyak! Aku akan berjuang!" Nadin terlihat terharu dengan itu, tersenyum perlahan.


"Ya! Kami bergantung padamu, Nadin! Aku percaya, jika itu kamu. Apa yang tidak bisa kami lalukan, akan selalu kamu lakukan!' Arby kini mengacungkan jempolnya.


"Ayah," Nadin sedikit menintikkan air mata.


"Ya! Kau itu jauh lebih jenius dari kami. Walau sulit mengakuinya, tapi itu adalah kenyataan! Aku akan mengandalkanmu, Nadin!" Ranti segera angkat bicara.


"Kalau itu dia, tidak mungkin terjadi hal buruk." Dani mengangkat kedua tangannya, mengedipkan satu matanya, pertanda persetujuan.


"Semuanya!" Nadin sedikit terharu.


"Bagaimana kak? Apa kau masih ingin menahanku?" kini Nadin beralih pada Ahmad yanh masih saja terdiam sedari tadi.


"Baiklah baiklah! Nadin, berhati hatilah. Kau tahu bukan, kakak tidak akan bisa memaafkan diri kakak sendiri jika terjadi sesuatu denganmu?" kata Ahmad mwngepalkan tangannya. Lalu, dia mengulurkan kepalan tangannya ke Nadin.


"Berjanjilah untuk kembali." Ahmad dengan tangan terulur, kini tersenyum.


"Yah! Itu akan menjadi hal yang mudah!' Nadin membalas kepalan tangan itu dengan tertawa. Semua tersenyum melihat itu, dimana dua orang dengan pengaruh besar bisa begitu akrab, karena memang mereka bersaudara.


"Baiklah! Rencana ini memang sederhana, tapi aku akan mengulur waktu! Sampai saat itu, kalian akan mencari time hole sesegera mungkin!" Nadin melompat, dan mulai membicarakan rencananya.


"Batas waktunya sekitar 20 menit! Setelah itu, matahari akan muncul, dan kemungkinan pulang kita berkurang 40%! Oleh karena itu, berusahalah untuk segera menemikannya sebelum fajar! Aku bisa menahan Rickzan dari awal, dan maksimal 10 menit setelah matahari terbit. Jadi ada kemungkinan kalian memiliki waktu 30 menit!" kini Nadin semakin tegas.


"Aki memberikan alat komunikasi pada kak Ahmad, yang mana kak Ahmad akan menjadi penghubung antara tim pencari dan aku."


"Ayah dan ibu, bisa berjaga jika kelihatannya aku sudah tidak mampu, maka ayah dan ibu akan masuk mendukungku! Dan tentu saja, tim pencari yang tediri kak Ranti, Dian, dan kak Dani harus bekerja cepat."


"Setelah tim pencari berhasil menemukan time hole, segera pasang time key dan aku akan segera mundur, dan ayah serta ibu mundur perlahan sambil menuju time hole!" mereka kini melingkar. Tidak ada lagi ekspresi takut di wajah merekam yang ada hanya tekad mereka yang kuat, dan keinginan mereka yang terpancar dari matanya.


"Ini adalah pertarungan terakhir. Jadi," Nadin menaruh tangannya di tengah lingkaran diikuti Dian dan Ranti yang segera paham maksud Nadin.


"Mari kita menangkan ini!" kata Nadin penuh semangat.


"Ya!"


"Mari menang dan pulang" Dani kini menyongsong dengan semangat. Suasana kini cukup bisa dibilang ricuh, tapi tetap menyenangkan.


"Baiklah, Rickzan. Ini adalah pertaruhan terakhirku. Permainan terakhirmu denganmu. Aku tahu kau juga mengetahuinya." Nadin menggumam perlahan.

__ADS_1


"Naah! Mari kita mulai, permainannya!"


__ADS_2