
PoV: Ahmad
Kembali lagi kulihat Nadin dengan wajah seserius itu. Aku mulai merasakan hal buruk. Dia berlaro membawa sebuah sobekan kertas, lebih mirip sehelai kertas koran menurutku, dan berlari dengan tergesa ke arahku.
“Kak! Artikel ini! Tolong jawab ini salah! Kita masih bisa kembali kan kak?!” tanyanya sambil menyodorkan kertas itu. Segera aku pun membacanya. Di sampingku, Ranti ikut membacanya.
“Penjara waktu. Ini merupakan proyek untuk member hukuman pada para penjahat internasional yang telah tertangkap. Mekanisme-nya adalah, ketika kita dikirimkan ke masa lalu tanpa mesin waktu ke masa depan, otomatis mereka tidak bisa kembali ke masa depan. Selain itu, kami juga mengambil ingatannya untuk mencegahnya melakukan kejahatan kejahatan cyber di masa lalu.” Baca ku pelan. Aku melihat ke arah Nadin, meminta maaf. Tapi aku tahu, di tidak akan menerimanya dengan mudah, dan dia pun menangis. Beruntungnya, ada Ranti yang bisa menggantikan posisi “kakak” ketika aku pun sebagai kakaknya juga terpuruk.
“Eh Din! Bangun! Kamu kenapa? Din?!” kata Ranti setengah berteriak membuatku menoleh kepadanya. Nadin pingsan! Aku kaget.
“Langsung dibawa ke dalam saja Ti!” kataku sambil segera mengangkat adikku ke dalam. Di dalam, aku melihat Dani dan sepupunya, yang belum tahu akan hal ini. Aku tidak mau, mereka menjadi panic. Apalagi melihat sifat Dani yang mudah putus asa, pasti akan membuatku lebih buruk.
Aku membiarkan Ranti bersama Nadin untuk beberapa saat.
***
Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Apakah menetap disini dan mencoba berbaur dengan zaman ini? Apakah ini takdirku, yang harus menghabiskan seluruh hidupku berada disini?
Jika ini adalah karmaku, kenapa mereka juga harus ikut bersamaku? Apa yang harus kulakukan? Walau disini ada Ranti yang masih bisa memberiku semangat, tapi semangat saja tidak cukup.
Kami kekurangan waktu, tenaga, pikiran dan juga persediaan. Dan tiba tiba Nadin menemukan artikel, yang mengatakan bahwa masa lalu dan mesin waktu merupakan penjara alami yang digunakan untuk menghukum seseorang, yang kejahatannya sudah tidak terhitung lagi. Apakah ini berarti ini hukumanku?
***
Kataku di depan ipad ku, yang otomatis mencatatnya. Kubuat ini menjadi harian ku, dan akan kusimpan. Siapa tahu diriku di masa depan mendapatkannya, dan mengubah semuanya. Tapi aku merasa tidak mungkin. Tahun berapa sekarang saja aku tidak tahu.
“Dia sekarang sedang tidur. Biarlah mungkin dia kelelahan.” Kata Ranti berdiri menceritakan keadaan Nadin
“Bagus lah kalau begitu. Kemarilah.” Kataku menyuruhnya duduk di sebelahku. Dia melihat ipad ku, dan memintanya. Dia hanya tersenyum. Seketika, aku mendengar ledakan, yang asalnya dari kota yang tadi Dani kunjungi. Banyak fasilitas yang berubah menjadi merah, karena pembakaran. Dari mana saja aku tidak menyadari hal ini?
__ADS_1
“Tahun berapa ini?” tanyaku kepada Ranti. Ranti mengambil sampel tanah, dan mencoba men-scannya dengan menggunakan ipad ku.
“2020.” Jawabnya singkat.
“Apa? Kamu tidak salah kan?” tanyaku memastikan.
“Ya. Dan kamu tahu apa yang terjadi di tahun ini?” tanyanya.
“Wabah virus, dan penyakit. Aku tidak terlalu mengkhawatirkan penyakit, karena mungkin kita sudah kebal akan penyakit itu. Tapi yang ku khawatirkan adalah kerusuhan, yang disebabkan penyakit ini. Penyakit ini melumpuhkan sector ekonomi, dan membuat angka kriminalitas menjadi tinggi.” Jelasku padanya. Dia juga terlihat kaget. Dan segera memalingkan wajah menuju kota itu.
Wajahnya menjadi serius. Dia pasti mengingat tahun ini. Karena ini sudah muncul di buku pengetahuan dasar di sejarah dunia.
“Benar. Tapi, kapan kamu akan memberitahukan semuanya pada Dani?” tiba tiba, Ranti bertanya akan hal itu, yang membuatku kembali terduduk. Cepat atau lambat, aku harus memberitahukan padanya. Mungkin aku lebih memilih pilihan pertama.
“Baiklah, aku akan beritahu dia.” aku segera memanggilnya keluar. Aku sedikitnya gugup memberitahukan ini pada Dani. Dan banyaknya, aku takut.
“Dani, aku minta maaf.” Kataku memulai.
“Kita sedang berada di tahun 2020, dimana ini menyimpang 200 tahun dari tujuanku.
“Apa?!”
“Dan sekarang mesin waktunya rusak. Dan aku belum menemukan cara apapun untuk kembali.” Jelasku. Hening beberapa saat, dan kurasakan kemudian tangannya mengenai wajahku, membuatku terjatuh dan dia pun memegangi kerah bajuku. Ranti mencoba melerai, tapi aku melarangnya.
“Jadi kita terjebak disini selamanya dan tidak ada jalan pulang? Sementara bahaya berada di sekeliling kita?” teriaknya. Aku hanya diam.
“Bagus!” teriaknya dan dia pun berdiri memegangi rambut dan kepalanya. Aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya sekarang. Dia melihat kembali ke arah kota itu, dan dia pun masuk sambil meninju dinding.
“Dan!” teriakku sebelum dia masuk. Dia hanya berhenti.
__ADS_1
“Jangan beritahu sepupumu.” Dan dia hanya berlalu, meninggalkanku dengan Ranti di luar. Rantii segera mengecek wajahku.
“Kamu gak apa apa kan?” katanya sambil mengecek wajahku.
“Aku tidak apa apa. Yang terpenting, Dani sudang mengetahuinya, dan aku setidaknya bebanku berkurang.” Kataku. Ranti memelukku, aku sedikit kaget.
“Katanya pelukan membuat beban seseorang berkurang,” katanya. Yaah, mungkin itu benar. Dan mungkin aku butuhkan itu.
“Sudah ayo masuk! Aku juga setres butuh istirahat!” kataku mengajaknnya untuk mengakhiri hari yang melelahkan ini.
Walau aku sudah berusaha tidur dari tadi, aku tetap saja tidak bisa tidur. Kucoba memiringkan tubuhku. Mungkin akhirnya aku tertidur juga. Di dalam mimpiku, aku bertemu dengan ayah, yang sedikit memarahiku tentang semua ini. Namun dia akhirnya, dia tersenyum dan mengusap rambutku.
“Aku tahu, kamu pasti akan menemukan jawabannya.” Katanya mengakhir mimpiku yang indah. Suara ledakan membangunkanku. Aku terbangun, dan kulihat gudang yang tinggal setengah. Kulihat kanan kiri, teman temanku segera terbangun dan aku mencari adikku. Adikku tidak ada! Kulihat sebuah lampu yangsangat terang menyorot ke arahku. Aku tidak tahu apa itu.
“Serahkan kunci waktu padaku atau kalian akan binasa.” Suara seseorang terdengar dari benda yang terbang tersebut. Tunggu, apa? Terbang?
“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan! Siapa kau?!” tanyaku mulai bangun, melihat wajahnya.
Sekilas kulihat wajahnya, namun dengan segera, adikku muncul, memegang ipad miliknya dan tiba tiba ipad itu berubah menjadi senjata. Aku sempat terpana. Benarkah ini adikku?
“Semuanya! Mundur!” teriaknya membuatku tersadar. Seketika dia berteriak dan mulai menyerang benda yang mirip pesawat itu.
Tanpa ragu, Nadin terus maju menembaki pesawat itu dan pintarnya, dia mengincar bagian mesinnya. Ketika akhirnya mesin itu meledak, dan membuat pemilik “pesawat” itu pergi.
“Aku akan kembali. Ketika aku kembali, kau harus siapkan apa yang aku inginkan. Jika tidak,” dia menjatuhkan sebuah benda, dimana benda itu memiliki timer 10 detik. Dan tawanya yang bengis meninggalkan kami dengan cepat.
“Semuanya! Keluar!” teriakku pada semuanya. 3..2..1.. dan akhirnya kulihat dari luar gudang, gudang itu menghilang seketika tanpa ada sisa sedikitpun Dani berlutut,dan meninju tanah, sedangkan Ranti terduduk diam memandangi gudang yang menghilang.
Sedangkan adikku, dia nampak tidak terlalu keberatan akan gudang itu. Bahkan dia malah terlihat tersenyum puas. Siapa dia? Apa yang dia maksud kunci waktu? Kurasa aku pernah melihat wajahnya. Wajahnya terlihat tidak asing bagiku. Tapi siapa dia?
__ADS_1
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Ranti padaku.
“Kita akan pulang!” sahut Nadin menyodorkan sebuah buku.