Five Days Or Die

Five Days Or Die
Chapter 33


__ADS_3

Cahaya putih menyelimuti mereka, sama seperti mereka pada saat pertama kali datang ke masa lalu. Da juga, merwka juga merasakan hal yang sama, tidak mengingat apapun.


Yang mereka ingat adalah, ketika Rickzan sampai dengan wajah kecewa menatap mereka. Setelah itu, samar samar pandangan mereka memutih digantikan tempat putih aneh yang kosong. Dan tentu saja, itu tidak mengenakkan.


Apapun itu, mereka sudah melewati beberapa bahaya sampai akhirnya berhasil membuka time hole. Walaupun itu menghasilkan beberapa hal, sekiranya rencana mereka berhasil.


Seperti biasa, Ahmad terbangun lebih dulu. Dan dengan segera dia mengajak sekelilingnya. Terlihat Ranti, Nadin, Dian, dan Dani yang masih terkapar di sekelilingnya.


Cuaca di sekitaran suka masih sedikit berkabut, mungkin karena efek time hole itu sendiri. Tapi yang pasti, mereka berada di tempat lain dan terkapar di atas rumput hijau.


Amat segera membangunkan teman-temannya, kalau kalau mereka kembali terjebak di perangkat mimpi lagi seperti sebelumnya.


"Ranti, Dani, Nadin! Bangunlah jangan tinggalkan aku sendiri!" Teriak Ahmad sangat sedikit bercanda.


"Bodoh! Kami belum mati! Tidak sebelum aku melihat Nadin menjadi penemu terhebat di dunia!" Teriak Ranti sambil mulai bangun.


"Ahh! Aku sudah melihat ayahku melambai-lambai dari seberang sungai lo!" Dani bangun sambil memegang kepalanya.


"Rusak kau! Ayahmu masih hidup bukan?!" Teriak Ahmad sambil membantu Dani berdiri.


"Eh?!"


"Kesampingkan tentang hal itu. Yang terpenting, apakah kita berhasil kembali?" Ranti ikut berdiri, pengertian mengawasi sekitar.


Segera mereka semua berdiri kecuali Nadin yang masih berlutut, tertunduk. Mereka semua dengan segera mengawasi keadaan sekitar. Mengidentifikasi setiap bagian-bagian yang mereka lihat. Apakah itu benar-benar dunia mereka yang sebenarnya.


"Benda apa ini?!" Ahmad seperti menyentuh sesuatu.


"Bukankah ini bangku taman?" Ranti segera menyusul Ahmad.


"Tolong aku!" Terdengar suara air berkecipak dari asal suara Dani. Tak urung, mereka pun segera berlari karenanya.


"Ada apa?" Teriak Ahmad sedikit panik. Sepertinya setiap kejadian yang ada disana membuat mereka menjadi semakin waspada setiap detik setiap incinya. Bahkan Dani yang dulu merupakan orang ceroboh, walaupun tetap ceroboh, tapi kini kewaspadaan dirinya semakin tinggi.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ahmad begitu sampai di tempat Dani berada.


Dia menemukan Dani sedang berada di dalam kolam yang sepertinya berisi dengan banyak ikan. Tidak cukup dalam jika itu bagi Dani, tapi cukup untuk membuat Dani sedikit mengambang disana.


"Mungkin, kau rindu berenang?" Rani dengan segera menanggapi jika dia sampai sana.


Terlihat Dani yang sedikit menggerutu dan berenang menepi. Tapi tetap saja pakaiannya basah kuyup.


"Aku menemukan sesuatu loh! Lihat! Bukankah itu air mancur? Aku juga sepertinya mengenal air mancur itu." Jelas Dani sambil naik ke daratan.


"Kita ada di taman. Taman kota di zaman kita." Sela Nadin dengan nada dingin. Tak lama kemudian, angin berhembus, cukup kuat untuk menerbangkan daun-daun. Itu juga meniup kabut tebal yang sebelumnya mengelilingi mereka.


Pemandangan di sekitar mereka mulai terlihat. Beberapa pohon yang sudah mulai langka, air mancur, dan juga ada tempat bermain. Selain itu, napas yang mereka tarik juga semakin berat. Itu menandakan kualitas udara di sini yang semakin memburuk.


"Apakah ini bukan mimpi?" Dani seperti siap berteriak kapanpun.


"Kita pulang!" Teriak mereka serempak, senang.


Mereka berteriak-teriak, lompat-lompat, dan saling berpelukan saat itu. Tak terbayangkan berapa senangnya mereka setelah melewati beberapa hal yang mengerikan di luar sana dan akhirnya kembali ke rumah.


Tapi bagi mereka, ini adalah keajaiban. Kemungkinan terulang kembali. Walaupun itu dapat terulang kembali, mereka pasti tidak ingin mengulanginya.


"Kita berhasil!" Dani menangis sambil berlutut. Sedangkan Dian yang sedari tadi diam, ternyata sedang melakukan sujud syukur. Mereka semua heboh, kecuali Nadin. Ahmad dengan cepat menyadari itu.


"Nadin, apakah?" Ahmad mendekati Nadin, mencoba menghiburnya. Suasana kembali berubah menjadi canggung dan kelabu.


"Apa-apaan kau kak? Jangan bilang, bawa kalian mengira aku sedih? Hahaha! Mana mungkin aku sedih hanya karena seperti ini! Apa kalian bodoh hah?!" Kata Nadin sambil berkacak pinggang. Semuanya terlihat tersenyum karena itu.


"Selain itu, bukankah kita harus segera pulang? Itu sih menurutku, karena aku masih punya beberapa hal yang ingin aku lakukan setelah sampai di sini. Jujur saja, Aku sudah lama tidak bertemu dengan mama Jean! Jujur aku merindukannya." Nadin kini menyilangkan tangannya di depan dada.


"Kukira kau benar. Aku juga belum ketemu ibuku sudah 5 hari." Dani mendengar itu kemudian mengangguk.


"Kalau begitu, kita seharusnya pulang kan?" Kata Ahmad mulai mencairkan suasana.


"Ya! Istirahatkan tubuh kalian! Kemungkinan kami akan mengundang kalian lagi nanti malam." Nadin menyeringai.


"Mengundang kami? Apa maksudnya?" Randy terlihat bingung. Sebenarnya bahkan Ahmad pun tidak tahu apa yang Nadin bicarakan.


"Yahh, tunggu saja ya! Ahmad juga pasti akan segera mengerti." Jawablah dengan pantun teka-teki.


"Baiklah! Sepertinya tidak baik untukku mengganggu mereka berdua bukan? Mari kita segera pulang Dian, kak Dani." Nadin tertawa sambil mengerjapkan matanya. Dani dan Dian juga langsung mengerti apa yang Nadin katakan.


Mereka berdua dengan segera pamit undur diri. Nanti pun dengan segera mengetahui hal itu. Wajahnya memerah dan dia segera berlari pulang, menyisakan Ahmad dan Nadin.

__ADS_1


"Strategi yang bagus untuk mengusir mereka, Nadin!" Ahmad mengacungkan jempolnya pada adik-adiknya.


"Baiklah. Bagaimana kalau kita juga segera pulang? Aku yakin Mama sudah menunggu kita." Jelas Nadin.


Sudah dapat dipastikan bahwa mereka kembali ke zaman mereka yang sebenarnya. Untuk waktunya, hampir tidak ada yang berubah. Hanya saja mereka kembali pada sore hari di hari yang sama. Dan sore hari itu merupakan sore hari yang berharga bagi mereka semua.


Tunggu, bagaimana dengan Amy dan Arby? Apa yang terjadi dengan mereka.


***


"Profesor! Sepertinya kau berhasil ya?" Rickzan melihat time hole mulai pergi dan perlahan mendekat. Arby hanya terdiam menunduk sambil di tangannya menggenggam sebuah sebuah tombol yang terhubung dengan bom berbahaya milik Nadin.


"Apa ini?!" Rickzan merasakan seluruh mekanisme zirahnya mati. Dia dengan segera menoleh ke arah Arby, meminta penjelasan.


"Bukan aku yang membuatnya!" Teriak Arby sambil memegang bom itu di tangannya. Rickzan juga melihat itu kemudian mengangguk dalam diam. Dia melepas seluruh zirah yang sudah mati dan berjalan pelan ke arah Arby.


"Dia benar-benar luar biasa bukan? Sampai-sampai menggunakan EMP dalam bom itu. Dia benar-benar tidak membiarkan siapapun lari ya?" Rickzan mendekat dan kemudian tertutup di depan Arby.


"Ah! Begitukah! EMP! Karena itulah tadi zirahmu mati dengan seketika ya! Aku bahkan perlu berpikir beberapa saat untuk mengetahuinya." Jawab Arby sambil ikut duduk.


"Baiklah. Dengan suasana begini, kita bisa ngobrol dengan nyaman bukan?" Amy ikut dalam lingkaran itu.


"Yaahh, Aku tahu aku pasti akan mati. Tidak ada gunanya aku berteriak-teriak atau apapun itu lagi. Bukankah lebih baik aku menunggu kematian sambil beristirahat?" Rickzan menyeringai.


"Ya. Kau benar. Hei Allah boleh aku menanyakan satu hal?" Tanya Arby.


"Tanyalah apapun. Lagi pula kita akan segera mati bersama bukan?"


"Oke. Kenapa kau sebegitunya mengajar Nadin? Apakah memiliki suatu keinginan dalam hidupmu? Kenapa kas begitu inginnya menghancurkan dunia, menghancurkan sistem waktu? Katakanlah kecuali apa yang kau katakan barusan tadi." Arby menatap tajam.


Suasana menjadi hening. Sedangkan Rickzan menarik nafas.


"Kau tahu bahwa ibuku sakit-sakitan? Dan aku yang menanggung semua biaya pengobatannya. Aku sudah berhasil mengobatinya, hanya saja dia membutuhkan suatu bahan terakhir untuk bisa terus hidup."


"Apapun itu, Aku berusaha mendapatkannya untuk kelangsungan hidupnya. Sampai akhirnya aku berhasil mendapatkannya. Tapi aku dihadang beberapa preman yang menghambat ku untuk sampai ke rumah sakit tepat waktu."


"Aku juga tidak tahu apa tujuan mereka. Tapi yang jelas mereka menggagalkan semua usahaku. Mereka menghancurkan hidupku. Karena aku terlambat untuk datang menyelamatkan ibuku. Siapa yang tidak ingin untuk menghancurkan mereka jika pada posisi seperti itu?"


"Lalu juga siapa yang tidak menyalahkan waktu ketika hanya beberapa menit kau kalah darinya? Jujur saja Aku muak dengan semua itu."


Amy menitikkan air mata di situ, sedangkan Arby tidak bisa berkata-kata. Suasana jadi menyedihkan saat itu. Walaupun Arby sudah bisa menebak sedikit dari awal mereka bertemu tapi tidak menyangka terjadinya akan menjadi separah ini.


"Tapi sekarang, lihatlah dia! Dia sangat pintar sampai ke tahap yang mengerikan. Jujur saja Aku kagum pada anakmu, profesor." Mungkin ini pertama kalinya Rickzan terlihat tersenyum dengan tulus.


"Ya! Aku sudah melihat bakatnya sejak muda. Dan aku terlalu bersemangat pembimbingnya walaupun dia masih jauh di bawah umur. Bukankah kau juga sama, Rickzan?" Tanya Arby.


"Aku? Tidak tidak. Aku hanyalah kucing yang kau pungut di pinggir jalan. Aku bukanlah anakmu atau apapun itu. Untuk kasarnya saja, Aku sebenarnya adalah peliharaanmu, kan? Peliharaanmu ini kau beri akal untuk melakukan semua ini."


"Jangan katakan hal-hal yang kejam seperti itu, Rickzan!" Amy angkat bicara.


"Yah, terserah kamu mau bilang apa. Yang pasti, Aku menganggapmu sebagai anakku. Aku menganggapmu sebagai keluargaku. Begitu juga dengan Amy. Tidakkah kau berpikir kenapa kami tidak kembali ke masa depan?" Semua terdiam mendengar perkataan Arby.


"Ya! Karena salah seorang anakku masih berada disini. Aku tidak bisa meninggalkannya. Bahkan kau sendiri yang juga bilang kan? Bapak kau kau masih menang dibandingkan Nadin. Itu berarti kau merupakan murid terbaik untuk saat ini. Bukankah ini menyenangkan?" Arby tersenyum.


"Keluarga kah? Itu adalah sebuah kata yang sudah lama hilang dari dalam kamus hidupku." Rickzan terkekeh.


"Selain itu, aku sedikit tidak terima dibilang menang oleh anak SMP sepertinya. Dia masih memiliki potensi yang lebih besar dari ku." Jawab Rickzan.


"Ya sepertinya kau benar." Arby menunduk.


"Bukankah menurutmu dia akan menjadi seperti ku? Jika dia merasakan, atau mengalami yang aku rasa, kemungkinan besar kita akan jadi sepertiku. Ketika dia menjadi sepertiku, Aku yakin tidak akan ada yang bisa menghentikannya." Rickzan tersenyum.


"Akan selalu ada orang-orang berbakat di luar sana, Rickzan!" Jawab Arby.


"Dan juga, Aku yakin dia tidak akan menjadi sepertimu. Tia memiliki teman-teman yang baik, kakak yang kuat, dan jiwa yang penuh semangat. Iya dia akan mudah terpengaruh hal-hal seperti itu." Amy kini menimpali.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau adalah kakaknya? Sebagai keluarga kau seharusnya tahu, anakku Rickzan!" Arby tersenyum menggurat, meledek Rickzan.


Rickzan menatap mereka semua. Terbayang beberapa tahun bersama mereka, yang pernah dialami.


"Kalian, kalian curang tahu! Kalian memanggil aku anakmu di saat-saat terakhir. Kalian curang! Kalian curang, ayah, ibu! Kalian curang!" Rickzan menangis menghadap dua sosok di depannya.


Suasana berubah menjadi haru. Rickzan sejatinya adalah seseorang yang kekurangan kasih sayang. Dan ketika sesuatu yang berharga darinya direnggut, tentu dia akan berubah tujuan hidupnya.


Sebuah sentuhan kecil dalam hatinya, serta kata-kata yang ingin dia dengarkan, dapat dengan mudah mengubah hatinya.


"Bukankah menyenangkan untuk bisa berakhir seperti ini? Kita mati sebagai keluarga, bukan sebagai musuh yang saling membenci."Arby mengangguk.

__ADS_1


"Hmm! Aku suka itu! Amy tersenyum senang, ketika timer pada bom buatan Nadin berhenti berdetik, menandakan ledakannya akan segera dimulai.


Ledakannya sangat besar bisa dibilang 5 kali bom atom biasa. Ledakan itu dapat membuat peta berubah dalam sekejap. Takkan bisa dibilang bisa menghancurkan kota kecil dalam 1 detik.


Ruang lingkupnya sangat luas, bisa mencapai 10 km. Selain itu, terdapat EMP yang dapat mematikan seluruh elektronik, membuat semua yang berada di dalam ruang lingkup itu tidak bisa kabur.


Dengan kata lain, Nadin sudah menciptakan sebuah benda pemusnah massal yang sangat luar biasa.


Kawasan sekitar, sebuah runtuhan kota yang tadinya masih membekas beberapa keruntuhan, menghilang menghasilkan sebuah kawah yang sangat besar. Begitu juga dengan Arby dan yang lainnya.


Pada akhirnya, mereka mencapai sebuah kesepakatan. Jika ditanya apakah ini happy ending atau sad ending, jawabannya ini adalah good ending.


***


"Mama! Nadin berteriak masuk, sambil memeluk ibunya, yang kini menggunakan apron dan membawa sebuah sendok sayur di tangan kanannya.


"Apa?! Apa kalian membuat sebuah kesalahan? Selain itu, kemana perginya teman temanmu, Ahmad? Aku sudah memasak banyak untuk kalian loh! Apa mereka sudah pergi?" Jean berturut turut bertanya.


"Ahh, ya. Mereka sudah pulang cukup lama." Jawab Ahmad.


"Bagaimana kalau kita adakan saja makan malam disini? Apa mama keberatan?" Saran Nadin.


"Kalau aku, tentu tidak keberatan." Jean mengangguk. Sepertinya Ahmad paham apa yang dimaksud oleh Nadin tadi. Dia sedikit tersenyum mendengar itu.


"Kalau begitu, aku akan menghubungi orang yang kuundang, dan kakak urus bagian kakak sendiri!" Teriak Nadin kembali ke kamar misteriusnya.


"Ya ya. Aku akan menghubungi mereka nanti. Sepertinya aku ingin merasakan perbedaan yang ada. Pertama tama, aku ingin mandi." Ahmad menggumam perlahan sambil berjalan ke kamar mandi.


Dia teringat sebuah iPad pemberian orang tuanya, yang sekarang sudah terlipat kecil nan rapi di sakunya.


"Sepertinya, aku harus memberitahukannya!"


***


Makan malam yang menyenangkan dengan Jean, Ahmad, Nadin, Ranti, Dani, dan Dian sudah berakhir. Itu adalah sebuah kebersamaan yang luar biasa bagaimanapun mereka mengatakannya. Rasanya seperi melepas semua beban yang ada, dan itu tentunya melegakan.


Ahmad juga berencana menyerahkan iPad itu pada Nadin malam ini, bersamaan dengan mereka semua agar mereka semua mendengarnya.


"Hei, teman teman! Bagaimana kalau setelah ini, kalian mampir ke kamarku sebentar? Aku ingin menunjukkan sesuatu." Kata Ahmad misterius.


"Huh ogah! Kamar kamu sama saja seperi kamarku, kan? Sama sama mirip kapal pecah!" Teriak Dani yang diikuti tawa semuanya.


"Tidak. Aku sudah merapikannnya. Jangan khawatir."


"Ah baiklah."


"Jadi, para perempuan sekalian, nanti mampir segera ke kamarku! Kami menunggu!" Kata Ahmad.


***


"Jadi ini kamar kak Ahmad?" Tanya Ranti pelan ketika memasuk ruangan.


"Kau tidak akan menemukan apapun disini, Ranti. Jangan khawatir. Atau mungkin kau sedikit penasaran?" Goda Dani pada Ranti.


"Diam!" Ranti yang mengubah mimik wajahnya menjadi mengerikan.


"Baiklah. Aku akan segera memulai saja. Terima kasih untuk kalian sudah bersedia datang ke rumahku, khususnya ke kamarku pada malam ini." Ahmad menunduk.


"Ahh, tidak! Itu bukanlah apa apa! Kita juga bersenang senang, kok!" Ranti salah tingkah. Semua tersenyum melihat tingkah Ranti.


"Oke, Ahmad! Langsung saja ke intinya!" Teriak Dani tidak sabar.


"Hmm. Kita disini pertama, menjalankan rasa syukur karena kita sudah berhasil melewati bencana itu, dan sebagian besar bisa dibilang itu merupakan salahku. Aku sangat b3sukur kita semua bisa kembali dengan selamat."


"Hei! Itu bukan salahmu!" Dani sedikit tidak terima.


"Terima kasih. Tapi sebagian dirikj tetap tidak bisa mengakuinya. Yahh, walaupun begitu, kita bisa selamat karena ada Nadin yang super cerdas mampu mengatur semua," Ahmad memberhentikan sebentar kalimatnya. Yang lain memberikan tepuk tangan.


"Lalu ada Ranti yang selalu menjadi penyemangat agar kita tidak jatuh,"


"Ada juga Dian yang sering memberikan jalan keluar di beberapa masalah," mengetahui itu, Dian sedikit malu malu.


"Dan juga, ada si absurd yang menyatukan kita semua!" Kata Ahmad.


"Ya ya terima kasih buat kalian semua! Aku tahu aku hebat, eh kok! Kok absurd sih?!" Dani yang sudah berdiri dan merasa bangga sedikit terkejut. Mereka semua tertawa.


"Aku disini ingin memberitahukan beberapa hal, teruatama ini." Ahmad menunjukkan iPad itu. Ketika semua terdiam.

__ADS_1


__ADS_2